The first 200 lines.
Kau ingin menjadi aktor?
Jika aku memerankan tokoh yang ditulis olehmu,
aku akan lebih sering bertemu denganmu, bukan?
Aku bukan mau merusak impianmu,
tetapi jangan terlalu berharap.
Sekarang aku punya kesempatan,
aku ingin mencobanya.
Kalau begitu, ayahmu yang mana?
SEBELUMNYA
Dia pikir dia siapa
beraninya mencampuri urusan kami?
Sebelum kau menyalahkan orang lain,
kenapa kau tidak bertanya pada dirimu
siapa yang paling
membuat ibumu tertekan.
Apa itu berarti…
Suami Na bukan Saen.
Aku baru tahu setelahnya bahwa dia mengencani Na.
Kau berpikir
bahwa aku mencuri Saen dari Na, ya?
Aku…
Itu…
Tak apa-apa.
Banyak orang berpikir seperti itu.
Namun, sebenarnya,
Na yang meninggalkan Saen.
Dia memilih untuk menikahi Sibmuen.
Dia meninggalkannya?
Dia tampak sangat mencintainya.
Kurasa aku tahu kenapa dia melakukannya.
Dia menghadapi banyak masalah
dengan rumah dan neneknya.
Saen terlalu sibuk bekerja.
Dia akhirnya beralih ke Sibmuen.
Dia orang militer yang bisa diandalkan.
Dia orang yang bisa Na andalkan.
Begitulah mereka menjadi dekat dan menikah.
Saat aku menikahi Saen,
usia Nut sekitar dua tahun.
Aku tak tahu cara menggambarkan perasaanku.
Seolah-olah dunia tiba-tiba terbalik.
Bawah menjadi atas.
Kiri menjadi kanan.
Seperti pohon
yang dahannya tumbuh ke tanah,
mengarahkan akarnya ke langit.
Bagaikan hujan
yang menetes terbalik ke langit.
Seperti kepompong yang berubah menjadi capung.
Dunia manusia berbeda dan jauh lebih rumit daripada duniaku.
Kebenaran satu orang mungkin bukan kebenaran orang lain.
Saat aku masih jadi boneka beruang, aku tak pernah tahu rasa sakit.
Namun, kini aku tahu.
Rasa sakit seperti inilah
yang membuat Bu Na ingin melupakan masa lalu.
Ayo makan dan minum obat, Nenek.
Nenek!
Nenek!
Nenek.
Ada apa, Na?
Aku tidak tahu. Tolong bantu dia, Sibmuen.
Terima kasih atas bantuanmu.
Tanpamu, entah apa yang akan terjadi.
Aku senang bisa membantu.
Untungnya, Saen menelepon dan bilang dia sibuk bekerja.
Dia memintaku memeriksa nenekmu,
jadi, aku tiba tepat waktu.
Dia bilang
bahwa dia ingin datang menemuinya setelah selesai bekerja,
tetapi dia bilang ada urusan lain.
Dia mungkin tidak bisa datang.
Kalau begitu, biar kutraktir makan malam untuk berterima kasih.
Aku bersikeras.
Hidangan ini sangat lezat. Ini hidangan rekomendasi mereka.
Yang ini sangat enak.
Benar.
Ini utangku. Ini cicilan pertama.
Aku akan melunasi
semua uang yang kau pinjamkan.
Kau tahu?
Siapa yang memberitahumu?
Tak penting siapa yang memberitahuku.
Ketahuilah bahwa aku tak akan memanfaatkanmu.
Namun, aku ingin kau memiliki uang ini.
Jangan dikembalikan.
Namun, aku harus membalas budimu.
Terima kasih…
kau sudah repot-repot.
Kau membayar hipotekku
dan biaya berobat nenekku.
Kau pasti muak membantuku.
Kau tak perlu melakukannya lagi.
Aku mengembalikan ini kepadamu.
Apa maksudmu?
Karena Sibmuen, ya?
Itu tak ada hubungannya dengannya.
Aku membuat keputusan ini sendiri.
Kemarin malam, kondisi Nenek memburuk.
Sibmuen berjanji kepadanya dia akan menjagaku.
Kurasa itu masuk akal.
Kami akan menikah, jadi, Nenek tidak perlu khawatir.
Dia datang.
Permisi.
Sampai jumpa.
Baik terpisah dalam hidup atau karena kematian, rasa sakitnya sama.
Karena siksaan dan rasa sakit inilah
manusia memilih untuk melupakan.
- Di mana kau? - Bu Na.
Saat kau menghadapi kesedihan terburuk seperti itu,
satu-satunya cara mengatasinya
adalah dengan melupakan dan menciptakan kenyataan baru.
Kenyataan tempat kau tidak akan terluka atau sedih lagi.
PUSAT PSIKIATRI DEWASA
Jangan khawatir.
Terima kasih, kalian berdua,
telah meyakinkan Ibu untuk periksa ke dokter.
Na bukan orang asing bagi kami. Kami senang bisa membantu.
Aku tidak tahu Ibu berhenti minum obat.
Ibu selalu pergi sendiri
untuk periksa ke dokter.
Namun, Ibu berbohong kepada dokter.
Jangan salahkan dirimu.
Karena kini kau sudah tahu,
kau bisa menjaga ibumu dengan lebih baik.
Kondisinya tidak seburuk sebelumnya.
Kurasa itu pertanda bagus.
Namun, aku masih tidak mengerti.
Kenapa Ibu tak mau menerima kebenarannya?
Sebagian kebenaran tidak mudah untuk diterima,
terutama yang meninggalkan bekas luka.
Kau pasti ingin menguburnya sedalam mungkin.
Orang yang kuat bisa menghadapi kebenaran.
Itu tak memengaruhi mereka.
Namun, bagi sebagian orang,
itu terlalu berat untuk ditanggung.
Untuk menerima kenyataan,
pertama, kau harus menerima bahwa kau telah terluka.
Ibumu mungkin punya bekas luka
yang tidak bisa dia hadapi sekarang.
Kau harus memberinya waktu.
Beri dia waktu, Nut.
Bertahanlah.
- Ibu. - Na.
Na.
Mampirlah ke rumah kami, Nut.
Ajaklah ibumu untuk perubahan suasana.
Akan kumasakkan makanan enak.
Kuterima tawaranmu.
Jangan sampai tak datang atau aku harus makan semuanya.
Kalau begitu, akan kuantar ibuku pulang.
Terima kasih.
Na.
Permisi.
Pak Saen?
- Kau… - Aku Sitha.
Minumlah kopinya.
Terima kasih.
Lama tidak bertemu.
Pasti sudah delapan atau sembilan tahun sejak Sibmuen meninggal.
Aku tidak sering datang ke sini. Hanya sesekali.
Aku ada urusan hari ini.
Aku barusan melihat Nut dan Na.
Apa Na sakit?
Ini penyakit lamanya.
Kambuh lagi?
Kudengar kondisinya membaik.
Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih sakit.
Nut baru tahu dia berhenti minum obat,
jadi, kondisinya memburuk.
Namun, dia kini periksa ke dokter. Itu akan membantu.
Nut menemukan seseorang untuk menjaganya.
Jika kau mencemaskannya, kunjungilah dia kapan-kapan.
Dia akan senang bertemu denganmu.
Ibu lapar?
Aku akan pesankan makanan.
Ibu bisa makan dan minum obat.
Ibu.
Aku harus kembali bekerja.
Hubungi aku jika butuh sesuatu.
Ibumu
mungkin punya bekas luka
yang tidak bisa dia hadapi sekarang.
Beri dia waktu, Nut.
Kau sudah memberi tahu Nut soal ini?
Dia tidak akan mau mendengarnya.
Kau tahu saat aku membicarakan Saen,
Nut selalu marah.
Terkadang aku berpikir apa dia marah karena tak memercayaiku…
atau karena tidak menyukaiku.
Semua yang kulakukan sepertinya salah.
Ibu.
Maafkan aku…
Meski dia belum siap melihat fotonya,
aku masih berpikir kau harus menyimpannya.
Dia mungkin ingin melihatnya kelak.
Sebelum kau mencemaskanku,
cemaskan dirimu dahulu.
Aku tahu apa yang terjadi
antara ibumu dan Pak Saen.
Jan menceritakan semuanya.
No comments yet. Be the first to leave one.