The first 200 lines.
Apa?
Maaf. Aku memasang alarm. Kembalilah tidur.
Baik.
Cepat selesaikan.
- Halo. - Halo.
Boleh aku pesan roti isi?
Aku membayangkan aku dan Jubjang
menikmati sarapan kami bersama.
- Ini dia. - Terima kasih.
Aku bergadang semalaman.
Aku bahkan membelikan sarapan untukmu.
Jika bukan kau,
aku tak akan lakukan ini, Sayang.
Hei.
Kenapa kau pulang cepat? Kupikir kau akan pulang nanti.
Sepatu siapa ini?
Aku kedatangan tamu.
Dia pria, bukan?
Hei, meskipun aku bukan pacarmu,
aku tetap tinggal di sini.
Bukankah berlebihan kau membawa pria ke rumah?
Aku tak menduga kejadian tak menyenangkan ini.
Siapa kau?
Siapa kau?
Begini…
Dia pengantar makanan.
Terima kasih banyak. Pergilah.
Baik.
Ada apa denganmu?
Kita bicara nanti.
Benar.
Dia mungkin bingung ada orang lain di rumahku hari ini.
Haruskah kita makan sekarang?
Aku pasti terlalu banyak menonton drama TV sampai terpikir melakukan hal itu.
Akan kukenalkan kalian.
Ini Arlan.
Dia adikku.
Siapa yang adikmu?
Kau bilang tidak punya adik?
Dia teman dekatku yang lebih muda. Bisa dibilang kami tetangga.
Ya.
Tetangga di rumah yang sama.
Kan adalah seniorku di tempat kerja.
Dia mabuk berat semalam.
Taksinya tak tahu harus ke mana, jadi, dia menghubungiku.
Jadi, kubiarkan dia tidur di sini.
- Dan anak ini… - Anak?
Dia baru kembali dari Amerika.
Dia tak akan lama di rumahku.
Kau tak pernah memberitahuku soal ini.
Ini masalah pribadi.
Apa dia harus memberitahumu?
Begini…
Tunggu.
Bau apa itu?
Astaga.
Astaga.
Astaga.
Begini…
Tahu, kau punya kemeja? Boleh kupinjam?
Tidak.
Tidak untuknya.
Baiklah.
Tidak apa-apa.
Bisa kututupi jaket.
Tapi…
Itu tidak akan tampak bagus.
Tidak apa-apa.
Hei.
Tunggu.
Hei.
Di mana dia tidur semalam?
Kau membiarkannya tidur di kamarku?
Dia tidur denganku. Ada masalah?
- Hei. - Apa?
Jangan bercanda.
Dia tidur di mana?
Di sofa.
Aku tak akan membawanya ke kamarmu.
Benar.
Tahu.
Kau punya kaus kaki yang bisa kupinjam?
Kaus kaki Kan belum kering.
Ya, aku punya.
Tapi tak akan kuberikan.
Maafkan aku.
Seharusnya kau bilang kau tinggal dengan seseorang.
Begini…
Kau mabuk berat semalam.
Bagaimana aku bisa bilang?
Kenapa kau harus minum banyak sekali?
Bukan apa-apa.
Ini bubur hangat. Cobalah.
- Astaga, tampak lezat. - Benar, bukan?
Terima kasih.
Turunkan harapanmu.
Rasanya tidak enak.
Dia juga tak bisa pekerjaan rumah tangga.
Apa?
Kenapa?
Aku tak boleh bilang begitu?
Tidak bisakah kau bicara dengan baik?
Aku sudah diam.
- Sebenarnya, ada banyak hal lain. - Cukup.
- Jai. - Ya?
Itu kakiku.
Apa?
Kan.
Maafkan aku, Kan.
Kau cepat sekali minta maaf jika bukan aku.
Arlan masih muda.
Dia selalu bicara omong kosong. Dia selalu bercanda.
Terima kasih atas kopinya.
Aku perlu bicara denganmu, Jubjang.
Aku akan menunggu di mobil.
Ya.
Apa yang ingin kau bicarakan?
Kau menceritakan soal ciuman kita kepadanya?
Itu bukan urusanmu.
Aku tak perlu menjelaskannya diriku.
Kau wanita yang tak menyadari hatinya sendiri.
Saat kau di dekatku dan jantungmu berdebar,
- kau bahkan merasa tidak nyaman. - Kan hanya senior.
Tidak lebih dari itu.
Pikirkan baik-baik.
Kau menyukainya atau tidak.
Tidak.
Terserah apa kau mau percaya.
Kenapa kau menatapku seperti itu?
Kau punya banyak pria, ya?
Astaga.
Sebenarnya ada pria lain yang kubawa pulang saat dia mabuk.
Kurasa
yang itu
yang paling pantas.
Yang mabuk?
Aku harus percaya atau tidak?
Halo, Kiss.
Halo…
Aku Maple.
Aku sudah lama membawa ini.
Aku ingin meminta tanda tanganmu, tapi tidak sempat.
Kau takut Najai akan melihat?
Tidak, aku hanya tidak sempat.
Terima kasih.
"Jalani hidupmu dengan gaya, Maple."
Tunggu sebentar.
Ini.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Itu merek Italia.
Merek ini sedang naik daun.
Ini dari Eropa. Belum bisa dibeli di sini.
Kurasa itu cocok untukmu.
Terima kasih.
Bosku datang. Aku harus pergi.
Kiss.
Di mana yang lain?
Mereka akan segera datang.
Kita ada rapat.
Kita akan membahas pilihan kita di rapat.
Pakaian kemarin?
Dia menginap di rumahku.
Aku pesan amerikano dan satu lagi dengan dua seloki kopi.
Dan satu lagi dengan dua seloki kopi.
Kenapa pesan lagi, Kan?
Untuk kali pertama, aku penasaran soal Kan.
Seperti apa dia
saat dia jatuh cinta?
Apa dia sering tertawa?
Mungkin begitu.
Senyum yang tak pernah diberikan kepadaku.
Aku yakin Kiss sudah melihatnya.
Terima kasih.
Apakah Kiss merasakan jantungnya berdebar sepertiku?
Astaga.
Kenapa ubanku banyak sekali?
Astaga.
Aku harus mulai menutupi ubanku.
Aku sudah cukup lama mengikuti karya Wassawan,
tapi kami baru punya kesempatan bicara,
jadi, tidak kukirimkan padamu.
Gaya Wassawan adalah gaya urban.
Tahun depan akan populer.
Aku yakin aku tidak salah soal ini.
Kami tahu soal trennya,
tapi kurasa
itu tak cocok untuk kami.
Aku ragu gaya ini akan cocok dengan pelanggan saluran belanja.
Bagaimana jika kita beralih ke gaya yang tampak
agak lebih sopan?
Mes.
Ini gaya yang akhirnya kami putuskan beberapa hari lalu.
Sederhana dan fokus pada detail.
Sesuatu yang bisa dipadupadankan.
Yang penting adalah bisa dipakai ke kantor
dan juga bisa dipakai saat keluar malam.
Maafkan aku.
Tidak akan ada yang memakai ini ke kelab.
Jika kau ingin aku menaruh namaku di pakaian ini,
No comments yet. Be the first to leave one.