The first 200 lines.
"Episode 43"
Syukurlah.
- Apa? - Apa?
Ini berita bagus.
Aku merasa sangat kesal karena TK itu
mencuri seorang desainer kompeten dari tanganku.
Kamu bisa bekerja di perusahaanku mulai sekarang. Ini luar biasa.
Kamu harus bekerja mulai besok.
Aku akan mempekerjakanmu dengan penawaran terbaik.
Astaga, itu ide bagus.
Kamu harus bekerja untuknya, Ji Young.
Kenapa Bibi seperti ini?
Apa?
Bukankah perusahaan itu tidak ada hubungannya denganmu.
Tentu saja. Perusahaan ini bisa berkembang berkat Ji Young.
Kamu menginspirasiku untuk membuat Petit Parole, mendesain produk,
dan kamu bahkan merancang koleksi premium kami.
- Apa lagi yang bisa aku minta? - Tepat sekali.
Tidak. Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku menolak.
Kamu tidak perlu membuat keputusan sekarang.
Dia benar.
Luangkan waktumu, dan pikirkanlah dengan positif.
Akan lebih baik jika Ji Young bisa pergi mencari udara segar
karena dia kurang sehat hari ini.
Aku baru saja akan jalan-jalan naik mobil.
Benarkah?
Ya, aku dahulu seorang pembalap mobil.
Aku terkadang menghilangkan stres dengan mengemudi.
Astaga, kamu serbabisa.
Ji Young, kamu mau ikut denganku?
Tidak usah.
- Bibi Ki Sook. - Astaga, kenapa tidak?
Dia bilang dia pengemudi yang hebat.
Kamu harus mencari udara segar.
Astaga, bisakah kamu tolong mengajaknya serta?
Dia membuatku tertekan dengan tampak sengsara.
- Tentu. - Tolong bawa dia.
- Bibi Ki Sook. - Astaga, pergilah saja.
Sampai jumpa.
Selamat bersenang-senang.
Sampai jumpa.
Bibi Ki Sook.
Bibi Ki Sook.
Ji Young, mobilku ada di sana.
Astaga, kamu sangat menakutkan.
Kenapa kamu terus bertindak sesuka hati?
Aku sudah memberitahumu bahwa kamu membuatku tidak nyaman.
Apa masalahnya?
Aku hanya ingin mengemudi karena merasa jenuh.
Apa itu salah?
Bahkan bibimu mengizinkanmu pergi.
Kamu berpikir berlebihan. Kita hanya jalan-jalan naik mobil.
Hanya karena kita pergi bersama bukan berarti kita berpacaran.
Astaga.
Aku hanya tidak ingin merasa bosan.
Kamu dapat menghiburku dengan mengobrol bersamaku.
Bagaimana perasaanmu? Kamu sudah merasa lebih baik, bukan?
Ya.
Kamu harus mencoba berteriak.
Berteriaklah lebih keras.
Lebih keras lagi.
"Pyeongyang, Imjingak, Gusan-dong"
Kita akan pergi ke mana?
Jangan khawatir. Kita tidak akan ke Pyeongyang. Kita hampir sampai.
Ini Paviliun Hwaseokjeong.
Kenapa kita di sini?
Dahulu kala,
seorang mantan raja mencoba kabur selama invasi Jepang
pada tahun 1592 dengan meminjam perahu untuk menyeberangi sungai.
Saat itu malam hari, jadi, gelap gulita.
Tapi dia tidak bisa menyalakan lampu karena hujan.
Tapi untungnya, Yulgok mengecat paviliun ini dengan minyak
setiap hari
karena dia tahu hal seperti ini akan terjadi.
Jadi, dia membakarnya
dan bisa menyeberangi sungai dengan terang benderang.
Tapi kenapa kita di sini?
Aku datang ke sini setiap kali aku mengalami kesulitan.
Ketika aku menemui jalan buntu dan frustrasi.
Lalu aku berdiri di sini dan memikirkan yang Yulgok lalui.
Aku yakin dia akan mengalami yang lebih buruk
ketika dia diusir dari istana.
Tapi dia tetap ke sini setiap hari untuk mengecat ini dengan minyak.
Tidak ada yang mengakuinya.
Dunia telah meninggalkannya.
Dan aku yakin dia marah dan kesal.
Tapi dia masih melakukan apa yang dia bisa
agar dia bisa melindungi raja.
Sehebat itulah dia.
Sejujurnya, seseorang dapat kesal dan membenci
ketika orang yang mereka sukai tidak membalas perasaannya.
Tapi tidak masalah apa orang itu mengakuimu atau tidak.
Tidak masalah jika orang itu menyukai atau membencimu.
Yang penting adalah
konsistensimu dalam menyayangi orang itu.
Aku hanya ingin memberitahumu bahwa itulah yang aku rasakan.
Kakek.
Ya, Tae Woong. Kemarilah, Cucuku sayang.
Tidak bisakah aku pergi menemui Bu Wendy?
- Tidak, kamu tidak bisa. - Kenapa tidak?
- Nenek. - Ya?
Tae Woong.
Bu Wendy berhenti bekerja di TK
karena dia melakukan kesalahan.
Aku masih menyukainya.
Kapan aku akan bertemu dengannya lagi?
Kamu tidak akan pernah bertemu dia lagi.
Astaga.
Dia makin menyukainya.
Tidak bisakah kita membiarkan Bu Wendy dikembalikan?
Aku mengerti dia memalsukan latar belakang pendidikannya,
tapi anak-anak sangat menyukainya.
- Diam! - Astaga.
Astaga, kamu hampir membuatku mati terkejut.
Apa kamu merasa lebih baik sekarang?
Ya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di TK itu.
Tapi lupakanlah saja.
Kamu selalu dapat bekerja di tempat lain.
Aku pernah diusir dari rumah,
bangkrut, dan bahkan bercerai.
Hidupku berantakan, tapi hidup terus berjalan.
Kamu perlu melatih pikiranmu seperti melatih tubuhmu
agar bisa menjadi lebih kuat.
Melatih pikiranmu?
Sekarang, pejamkan matamu dan santailah.
Aku akan mengantarmu pulang.
Apa mereka sedang berkencan?
Mereka pergi bersama, jadi, mereka akan melakukan sesuatu.
Ibu, itu luar biasa.
Astaga, jangan bergerak.
Kamu ingin mendandaniku seperti siapa?
Malaikat pencabut nyawa.
Dia harus bekerja di perusahaan itu.
Benar sekali. Aku tidak mengerti kenapa dia tidak bekerja di sana.
Kenapa dia tidak mau bekerja di sana?
- Astaga. - Maaf.
Apa dia takut bahwa dia mungkin akan menyukainya?
Ya, itu mungkin karena masa lalunya.
Dia takut Pak Shin mungkin mengajaknya kencan suatu hari nanti.
Masa lalu apa? Menjadi ibu pengganti?
Astaga, jangan pernah mengatakan itu.
Apa yang salah dengan itu?
Dia melakukan itu bukan karena mau. Dia tidak punya pilihan lain.
Hei, bagaimana perasaanmu tentang Ji Young?
Apa itu akan jadi masalah atau tidak?
Itu bukan masalah.
- Apa? - Apa?
Baik, mari berhenti membahas itu.
Omong-omong, aku sudah memutuskan.
Aku akan mulai berbisnis.
- Benarkah? - Benarkah?
Ya, aku akan buka restoran barbeku yang aku ceritakan tempo hari.
Aku akan memulai bisnis.
Aku tidak tahu kamu serius.
Apa yang kamu bicarakan?
Aku memikirkannya begitu lama setelah memutuskan melakukannya.
Bagaimana jika kamu menutup tokomu dan memulai bisnis ini bersamaku?
Pemilik tempatmu selalu berusaha menaikkan harga sewa.
Dan tidak banyak uang yang tersisa setelah kamu mengambil semua komisi.
Ayo.
Kamu harus pergi lebih dahulu.
Baik, sampai jumpa.
Ayo.
Astaga. Lihat dirimu, Cucuku sayang.
Apa kamu akan pergi ke sekolah barumu hari ini?
Kenapa kamu tidak menjawab? Apa kamu tidak mau pergi?
Sudah ibu bilang jangan seperti itu.
Ini karena kamu bekerja, bukannya fokus padanya.
Apa ini?
Kamu membuatnya stres.
Itu bukan salahnya.
Kamu seharusnya merawatnya dengan lebih baik.
Pastikan dia mendapatkan teman baru
dan menjadi dekat dengan para guru.
Baik, Ayah.
- Ayo pergi. - Sampai jumpa.
Baik, semoga harimu menyenangkan.
Pastikan kamu memeriksa apa Bu Wendy muncul lagi atau tidak.
Jika kamu biarkan dia mendekatinya, kamu akan langsung dipecat.
Ya, Bu Choi.
- Ada apa dengan dia? - Aku tidak tahu.
Jangan berdiri saja di sana. Bantu dia.
Berikan itu kepadaku, Ji Young. Biar aku saja.
Tidak apa-apa. Aku ingin mengerjakan semuanya hari ini.
Biarkan saja dia melakukannya.
Ji Young, kenapa bersih sekali?
Aku pikir aku tahu kenapa dia melakukan ini.
Aku juga.
Tapi kenapa tidak menyarankannya untuk jalan-jalan?
Aku akan jalan-jalan jika aku jadi dia.
Kamu tidak tahu betapa puasnya memanaskan cucian
dan menggantungnya di bawah sinar matahari.
Apa kamu tahu betapa puas rasanya mencuci piring sampai bersih?
Apa kamu tahu betapa menyenangkan rasanya
mengisap setiap debu di lantai?
Tidak, aku tidak tahu.
Dia mencoba menghibur diri.
- Benarkah itu? - Ya.
Astaga!
No comments yet. Be the first to leave one.