The first 179 lines.
SERIAL INI ADALAH FIKSI. TAK ADA KAITAN DENGAN ORANG ATAU PERISTIWA NYATA.
Restoran Tionghoa Gobancho, Ginza.
Hari ini, seperti biasa, dapur mereka luar biasa sibuk!
Hei, Akiyama!
Ikut tim wajan dan buat tumis daging sapi lada hitam sekarang!
Setelah Yaichi memberi perintah ini,
semua koki di dapur langsung terkejut!
Apa?
Tunggu sebentar, Kepala Koki!
Dia masih cuma staf magang!
Kalian seharusnya tidak sekaget itu.
Ini sederhana.
Ini membuktikan bahwa kemampuanku jauh lebih hebat daripada kalian semua!
Cepat kerjakan!
Kau akan memasak tumis itu untuk lima puluh orang.
Ini memasak untuk perjamuan. Kau bisa?
Baiklah.
Dia sudah pindah ke wajan secepat ini…
Akiyama, kau sungguh bisa menangani ini?
Mudah sekali.
Ini hanya menghitung lima porsi dikali sepuluh.
Dikali sepuluh?
Qing jiao niu rou si, tumis sapi lada hitam.
Ke dalam wajan panas tambahkan bawang prei, jahe,
rebung blansir minyak, irisan daging sapi tipis,
dan paprika tiga warna.
Untuk lima porsi, tambahkan satu sendok makan kecap asin,
satu sendok makan saus tiram,
lalu dua sendok makan gula, sake, dan kaldu ayam.
Lalu, cuma perlu
dikalikan sepuluh!
Lalu, tambahkan douchi cincang untuk menghasilkan rasa dan aroma terbaik.
Douchi, kedelai hitam fermentasi. Bumbu penting kuliner Tionghoa.
Mirip kedelai fermentasi Jepang, seperti hama natto.
Saatnya mencicipi.
Akiyama?
Tak apa. Rasanya agak kurang…
Akiyama! Sudah siap?
Cepat sajikan! Kenapa lama, Nak?
Hei…
Apa ini?
Dasar bodoh!
Kau mau sajikan masakan asal-asalan ini kepada tamu?
Apa lidahmu itu cuma pajangan?
Jadi, rasanya tidak enak?
Masakan Akiyama bisa tidak enak?
Kiriko! Kau ambil alih. Cepat, sekarang juga!
Baik.
Bodoh! Kau tak bisa langsung kali sepuluh.
Akiyama…
Cepat!
Baik!
Kerja bagus, Semuanya…
Aku tak bisa bergerak…
Aku lelah.
Hei, Okonogi.
Akiyama kabur ke mana?
Sebenarnya,
dia di luar, menangis.
Sungguh?
Dia menangis? Aku mau lihat itu!
Dia memang terlalu sombong dari awal masuk sini.
Itu bisa memberinya pelajaran.
Aku paham sekarang! Akiyama dan kakeknya hanya pernah memasak untuk satu sama lain,
jadi mungkin dia tak berpengalaman memasak dalam jumlah besar
Aku gagal…
Aku gagal.
Aku, Akiyama, gagal dalam masakanku…
Sialan!
Sialan!
Hei…
Akiyama?
Semuanya sudah pulang.
Akiyama, jangan terlalu mencemaskan itu.
Aku pun sering berbuat salah.
Jangan samakan aku denganmu.
Aku dari keluarga Akiyama.
Masih banyak yang tak kuketahui soal memasak.
Jadi, yang kukatakan mungkin tak akan menghiburmu, tapi…
Tapi, di Amerika,
ada yang bertanya kepada kasir tentang barang yang dijual.
"Jual atau sepatu alat dapur?" tanyanya.
Dan kasir itu menjawab,
"Sepatulah!"
Hanya bercanda!
Bagaimana?
Orang ini…
Tempo hari di apotek,
aku beli obat tidur, saat menyerahkan petugasnya bilang,
"Jangan diguncang, nanti bangun!"
Kau paham?
Orang ini…
Jadi, kau mau dengar lagi?
Kau… orang yang baik.
Kau mau bereskan dapur?
Akan lebih cepat jika dikerjakan bersama.
Tetap saja, kau sungguh keren, Akiyama.
Kau sudah pernah menangani wajan.
Semua marah karena tumis sayurku untuk makanan karyawan.
Kata mereka terlalu berair sampai tak bisa dimakan.
Terlalu berair? Berarti kau kurang panaskan…
Terlalu berair?
Tak bisa langsung dikali sepuluh!
Kata mereka terlalu berair sampai tak bisa dimakan.
-Airnya… -Ada apa?
Aku paham!
Akiyama?
Hei, ada apa denganmu?
Kunci memasak jumlah besar
adalah jumlah airnya!
Saat menumis banyak sayur sekaligus,
jika tak meninggikan suhu wajan, airnya tak akan bisa menguap.
Berarti, tak perlu menambahkan kaldu ayam dengan jumlah setara.
Cuma perlu tambahkan sedikit untuk sesuaikan rasa.
Itu dia!
Fokus dalam memasak untuk jamuan adalah perubahan akibat jumlah besar!
QIN JIAO NIU ROU SI TUMIS SAPI LADA HITAM
Ini lezat!
Lezat sekali, Akiyama-kun!
Aku bisa mencium aroma douchi-nya!
Benar, 'kan? Makanlah! Ini masih ada banyak!
Dia kenapa?
Akhirnya dia bisa tahu sendiri, ya?
-Aku bisa makan ini terus! -Benar?
Kau buat berapa banyak?
Aku membuat untuk lima puluh orang!
Apakah kita berdua bisa habiskan?
Pasti bisa! Ini masakan Akiyama!
METODE MEMASAK PERJAMUAN KIRIKO
Aku tahu ini mendadak, tapi boleh kupanggil Jan?
Hari libur.
Okonogi, yang ikut serta dalam tur motor Jan,
kini menyesal telah ikut dengannya.
Jauh sekali perjalanannya…
Ayo istirahat sebentar, Jan.
Baiklah, ayo berangkat.
Apa? Ke mana?
Ayo berburu makanan.
Tapi kita membawa kari dan nasi kacang merah instan.
Alasan utama kita kemari adalah untuk memasak!
Tapi…
Ini.
Tangkaplah ikan, burung, atau apa pun.
Burung puyuh.
Anggota keluarga burung pegar, dengan panjang sekitar 20 cm.
Konon saat tergemuk dan terlezatnya adalah sebelum bertelur.
Yang akan Jan masak, dia bahkan tak akan keluarkan darahnya
agar cita rasa dagingnya terasa sepenuhnya,
dengan metode Prancis, étouffée!
DI JEPANG MASA KINI, PERBURUANNYA DILARANG
Semoga ini cukup.
Lalu, tinggal mencari sayuran liar…
Kira-kira Okonogi dapat apa?
-Diam, jangan berontak! -Kau sedang apa?
Bagaimana? Lihatlah, Jan!
Ini ayam jantan yang besar! Dia berjalan di dekat sungai.
Dia pasti kabur dari peternakan terdekat dan menjadi liar.
Ini seharusnya cukup untuk makanan kita!
Maaf mengecewakanmu, Okonogi.
Itu tak bisa dimakan.
Ayam umbaran ini terlalu tua.
Dia cocok untuk kuah,
tapi dagingnya akan terlalu alot.
Lepaskan saja.
Tapi itu…
Jangan mengeluh.
Benar, kita tak bisa melepaskan ayam ini.
Kerjamu bagus, Okonogi.
Kini kita bisa membuat masakan ayam liar!
Kita punya sayuran liar berbumbu pasta doubanjiang pedas, sawi asin,
nasi kacang merah instan, ham,
burung puyuh yang kutangkap, tanpa sayap dan jeroan.
Jadi, kita akan masak apa dengan semua ini?
Muzujuanchun, puyuh panggang isi.
Ada metode Tionghoa, yaitu ayam dibungkus tanah liat untuk Ayam Pengemis,
dan metode Prancis croûte de sel, yaitu ayam ditimbun garam tebal.
Itu adalah teknik di balik ini.
Kreasi istimewa Akiyama, Muzujuanchun!
Pertama, letakkan puyuh di atas api,
No comments yet. Be the first to leave one.