The first 200 lines.
Silakan pilih.
Ya, terima kasih.
Omong-omong, aku akan memberi tahu rahasia.
Aku mengencani seseorang di kantor.
Jihye.
Itu dia. Ini pacarku.
Dia orang yang susah payah dipekerjakan timku.
Dia juga instruktur kebugaranku.
Begitu rupanya.
Halo. Aku Kim Sorim.
Ya. Senang bertemu denganmu.
Omong-omong, aku baru saja memberitahunya
bahwa kita berpacaran.
Benar. Tapi kurasa itu tak perlu.
Kalian pasangan serasi.
Aku sudah menyuruhmu menunggu.
Kau sengaja membawaku ke tempat payah ini
untuk mengatakan ini yang mampu kubeli
dan aku harus menerimanya.
Sekarang kau akan tinggal di tempat bagus.
Kerja bagus, Semuanya. / - Bagus.
Bagus. / - Bagus.
Biar kubawakan.
Ini. / - Terima kasih.
Taeju. Syuting selesai lebih cepat dari dugaanku.
Aku akan ke tempatmu hari ini.
Ini hangwa buatan ibuku.
Dia ingin kau memakannya.
Terima kasih. Aku akan sangat menikmati ini.
Jika kau tidak sibuk malam ini,
maukah kau datang ke rumah kami?
Ibuku ingin mengundangmu makan malam
sebelum dia kembali ke Amerika.
Astaga, aku sudah punya rencana hari ini.
Kurasa kita tidak punya pilihan.
Sangjun akan datang untuk menemui keluargaku.
Kami
berpacaran.
Aku bahagia untukmu.
Terima kasih.
Aku bohong jika bilang tidak merasa getir.
Tapi sebagai teman baikmu
dan sebagai penggemar Lee Sangjun,
aku turut bahagia untukmu.
Kalau begitu, semoga malammu menyenangkan.
Ya.
Hari itu.
Kurasa aku ceroboh.
Itu membebani pikiranku,
jadi, aku datang untuk minta maaf.
Saat aku pergi,
Taeju mampir.
Dia bilang akan pindah setelah mereka menikah.
Dan dia ingin mengunjungiku setiap hari.
Apa?
Rok merah dan atasan hijau.
Dia bahkan mau memakai hanbok pengantin baru.
Anak muda zaman sekarang
sering tinggal bersama sebelum menikah.
Dia mungkin akan pindah ke rumah Sangjun.
Sangjun ingin tinggal bersama keluargaku.
Karena dia putramu yang berharga,
jika dia tinggal bersama kami,
aku pasti akan memberinya makan dengan baik.
Sebenarnya, aku membeli panci presto baru.
Menurutmu Sangjun akan melakukan itu?
Dia akan segera mengunjungi keluargaku,
jadi, aku akan menanyakannya.
Kapan dia akan datang?
Astaga, tidak perlu membungkuk kepada kami.
Kuharap kita bisa akur, Nenek, Ayah, dan Ibu.
Kemari dan duduklah. / - Baiklah.
Ibumu tidak mengatakan apa pun?
Kudengar kalian berdua berdebat.
Taeju adalah
putri sulung kami yang istimewa.
Kau tahu maksudku, bukan?
Ya.
Bahkan saat dia cukup muda untuk menjadi bayi,
dia selalu harus mengalah
kepada adik-adiknya dan berusaha keras.
Ibu, jangan bilang begitu. Itu menyedihkan.
Aku tahu apa yang kau cemaskan.
Kau mau berpisah dengan keluargamu demi dia?
Tunggu. Jangan mengatakan hal seperti itu.
Ibu,
sama seperti Taeju, aku sulung di keluargaku,
dan aku bertanggung jawab atas keluargaku.
Aku tak bisa putus hubungan dengan mereka,
tapi aku akan jadi perisai yang melindungi Taeju.
Jika tidak mau menghadiri acara keluargaku,
dia tidak perlu datang.
Hei, aku tidak selemah itu.
Kurasa kau meremehkanku.
Itu baru putri ayah.
Jika kalian berdua menikah,
Sangjun akan tinggal di sini dua tahun pertama.
Sayang, kumohon.
Baiklah.
Aku tidak bercanda.
Lihat betapa suka memerintahnya ibu mertua.
Aku selalu menyukai Ayah sejak kecil.
Aku bisa melihat Taeju dan Ayah setiap hari.
Kenapa menunggu sampai pernikahan kami?
Bagaimana jika aku pindah sekarang?
Kedengarannya bagus.
Apa yang akan kau lakukan?
Sangjun! Tunggu. Hei!
Ini bagus sekali.
Hei, ayo bangun.
Aku tidak bisa berdiri. Aku butuh bantuanmu.
Bangun saja.
Astaga.
Tetaplah seperti ini untuk sementara, Taeju.
Ini nyaman sekali.
Bagaimana jika aku menginap di sini malam ini?
Aku hanya butuh selimut di lantai.
Kami tidak punya selimut lagi di sini.
Benarkah? / - Tidak.
Tidur saja di sini bersamaku.
Ranjangnya kecil, tapi tidak apa-apa, bukan?
Itu terdengar lebih baik.
Ini bagus. Aku suka ini.
Hei.
Halo.
Ibu sedang apa di sini?
Aku mengundang ibumu.
Tetap saja, setidaknya Ibu harus mengetuk.
Aku sudah mengetuk.
Kau yang tidak mendengarnya.
Ayo kita minum teh.
Kalian berdua juga harus ikut. / - Tentu.
Kita sudah hampir 20 tahun tidak bertemu.
Tapi kau belum berubah sama sekali, Bu Jang.
Itu tidak benar.
Sebenarnya, kau terlihat sama.
Astaga.
Rambutku rontok dan aku menua.
Omong-omong, menarik sekali melihat kehidupan.
Rasanya baru kemarin mereka masih kecil,
tapi sekarang mereka ingin menikah.
Taeju.
Kau bilang akan pindah ke rumah ibu Sangjun?
Dan menemui mereka dengan hanbok setiap hari.
Ya. Kapan lagi aku bisa memakai hanbok?
Kurasa ini akan cocok untukku.
Sangjun, kau berjanji akan tinggal bersama kami
selama dua tahun pertama setelah menikah.
Tidak, kau bahkan mau pindah mulai hari ini.
Astaga.
Sangjun hanya bercanda. Jangan konyol.
Sangjun, jawab aku.
Ya.
Itu yang kukatakan.
Sangjun hanya bercanda.
Sepertinya mereka sangat saling mencintai.
Aku tidak bercanda.
Apa?
Taeju selalu hidup seperti murid teladan,
dan aku selalu berhati-hati dan sabar
tanpa mendapatkan keinginanku.
Jadi, aku ingin mengikuti hatiku sekarang.
Lalu? Kau akan tinggal di sini mulai hari ini?
Ya. Aku akan tinggal di sini untuk sementara.
Sangjun, kau tinggallah di sini.
Dan Taeju, ikut denganku.
Apa? / - Taeju, kau akan
tinggal di rumahku.
Ibu.
Aku melakukan ini agar bisa bersama Taeju.
Dia bukan sandera. Kenapa tinggal dengan Ibu?
Tidak apa-apa.
Aku akan ikut denganmu.
Apa? Lihat dia.
Mari kita lakukan.
Aku akan tinggal di sini selama beberapa hari.
Lalu Taeju dan aku akan tinggal bersama Ibu.
Terima kasih atas tehnya.
Kau tak perlu mengantarku keluar.
Jaga dirimu.
Apa?
Bu Jang, kau pasti kecewa.
Tidak.
Aku tidak kecewa. Aku baik-baik saja.
Sikap mereka seperti remaja yang belum dewasa.
Aku akan mengantar Sangjun pulang nanti.
Tidak perlu.
Dia mampu menjaga dirinya sendiri.
Benar.
Jika kau tidak mengemudi ke sini, biar kuantar.
Tidak usah.
Aku memarkir mobilku di sana. Terima kasih.
Baiklah.
Astaga.
Apa? Permisi.
Bukankah kau kakak Bu Hyeonjeong?
Aku Kim Geonu. Kita bertemu di kafe.
Kau dokter itu.
Apa ada masalah?
Tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.