Human Planet

Human Planet

Download Indonesian Subtitle

Season 1

Release info

human planet s01e02 720p bluray x264-shortbrehd
A Commentary by ichangagah
IDFL Subscrew. ichansubmanga.blogspot.com. untuk episode 2

Tags

BluRay
x264
720p
720
HD
Published on: 2015-06-29
Downloads: 50
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Hanya satu makhluk yang bisa hidup mandiri di setiap habitat yang ada di bumi.

Makhluk itu adalah kita.

Di penjuru dunia, kita masih menggunakan kecerdikan

untuk bertahan di alam liar,

jauh dari cahaya perkotaan, berhadapan langsung dengan kehidupan alam.

Inilah Planet Manusia.

Alih bahasa: Insan IDFL Subscrew Member

Gurun adalah tempat terpanas dan terkering yang ada di Bumi.

Mencakup sepertiga permukaan daratan.

Beberapa ada yang tidak pernah merasakan hujan.

Kita bisa bertahan 2 bulan tanpa makanan...

namun hanya beberapa hari tanpa air.

Saat bati, kita menghabiskan 9 bulan dikelilingi cairan di rahim Ibu kita.

Namun kelahiran memaksa kita keluar dari dunia air yang mewah.

Sejak itu,

hidup setiap anak di gurun ditentukan oleh perjanalan pencarian air.

Namun entah bagaimana, di daratan yang kejam ini,

300 juta orang yang menakjubkan dapat bertahan hidup.

Ini adalah cerita hebat mereka.

Sahara adalah gurun terbesar di Bumi.

Sebesar Amerika,

namun kegersangannya dapat melepaskan badai pasir paling hebat di planet ini.

Angin kencang menerbangkan milyaran butir pasir,

menjadi tembok besar...

dengan tinggi mencapai 5.000 meter ke udara,

10 kali lipat tinggi Empire State Building,

mencakup area seluas Inggris.

Di Mali, Mamadou berumur 16 tahun bertarung dengan badai pasir ini.

Dia seorang gembala yang meninggalkan rumah 3 hari lalu

untuk mencari air bagi sapi-sapinya.

Sapi-sapi itu adalah hidupku.

Mereka menghidupi keluargaku.

Jika aku tidak menemukan air, sapi-sapiku bisa mati.

Tanggung jawab sangat besar pada anak remaja seperti dia.

Dia harus menghadapi kemarahan gurun sendirian,

namun bahkan akan ada tantangan lebih besar ke depannya.

Dia berlomba melawan binatang darat terbesar di Bumi...

Gajah Afrika.

Kawanan gurun ini juga sangat membutuhkan air

karena Mali sedang kekeringan.

Suhu saat ini 40 derajat Celsius.

Sebagian besar lubang air telah mengering.

Hanya satu tempat sejauh 80 km yang mungkin masih memiliki air...

Danau Banzena.

Dan inilah tempat yang dituju para gajah dan Mamadou.

Aku harus sampai ke danau...

sebelum gajah mendahului.

Jika mereka lebih dulu sampai, hanya lumpur yang tersisa bagi sapi-sapi.

Kalau Mamadou terus mempertahankan kecepatannya, dia akan sampai ke danau saat pagi hari.

Namun hanya 50 km di belakangnya adalah nomaden terhebat yang ada di gurun.

Betina dominan memimpin kawanannya,

mengikuti peta mental yang luar biasa dari seluruh sumber air

yang dapat ditemukan di area seluas 10.000 km2.

Pohon akasia memberikan mereka cukup energi untuk terus berjalan

namun mereka tidak boleh istirahat, siang dan malam.

Namun, bagi Mamadou, malam berarti dia tidak punya pilihan kecuali berhenti.

Bertemu gajah di kegelapan bisa berakibat fatal.

Sarapan cepat adalah sedikit susu berharga

yang didapatkan Mamadou dari sapi-sapinya.

Itu dapat mencegahnya mengalami dehidrasi.

Namun dia harus segera berangkat.

Kawanan gajah berjalan sepanjang malam.

Akhirnya ujung perjalanan terlihat bagi Mamadou.

Namun dia berjalan menuju masalah.

Bukan hanya karena dia didahului kawanan gajah sampai ke danau,

namun mereka juga menghalangi jalan ke sumber air.

Mamadou tahu gajah bisa menyerang,

sehingga dia berhati-hati tidak berada terlalu dekat.

Bukan pekerjaan mudah mencari jalan masuk.

Tiba-tiba seekor gajah menyerang sapinya.

Mamadou melawan, namun hanya bersenjatakan tongkat,

ini seperti pertempuran David dan Goliath.

Keberanian Mamadou membuat 50 gajah berpindah tempat.

Beruntung, kejadian seperti ini jarang sekali terjadi.

Kehausan membuat gajah-gajah marah...

sama seperti kami.

Akhirnya Mamadou mengarahkan ternaknya ke air.

Para gajah menyingkir dan mengambil tempat di bagian lain danau.

Pada akhirnya, mereka juga dapat kesempatan untuk minum...

dan bahkan bermain.

Butuh 2 bulan sebelum mungkin ada

hujan yang mengisi sumber-sumber air kembali,

sehingga kerja keras Mamadou akan terus berlanjut.

Tapi di salah satu bagian gurun,

persediaan air yang menipis memberikan rezeki yang mengejutkan.

Ratusan kilometer jauhnya, sepanjang lereng Bandiagara,

suhunya 40-derajat menyedot kehidupan

di sungai negara Dogon,

menyisakan hanya kolam terpencil

yang dipenuhi ikan yang terjebak.

Penduduk Dogon memilih momen ini sebagai festival gurun menangkap ikan.

Ribuan peserta berdatangan ke Danau Antogo,

termasuk Dialo, yang sudah 30 tahun mengikuti acara ini.

Baginya menangkap ikan ini masalah kebanggaan.

Semua orang disini menginginkan ikan

jadi akan banyak persaingan.

Saya akan berusaha mendapatkan satu atau dua ekor ikan tapi tidak ada yang dapat memastikan.

Saya akan sangat senang jika berhasil.

Pada hari lainnya, menangkap ikan sangat dilarang di tempat ini.

Dengan begini, tetua melindungi cadangan makanan penting

untuk musim paceklik.

Namun hari ini komunitas memiliki kesempatan untuk menangkap perlambang makanan terakhir.

Pinggiran kolam dipenuhi orang.

Susasananya tegang.

Dialo menemukan tempat yang bagus.

Namun sekarang dia harus menunggu karena Antogo punya peraturan tak tertulis.

Tetua upacara melafalkan doa untuk mengusir roh-roh jahat.

Dia menggunakan perangkap ikan, dipercaya untuk melindungi doa saat mereka mengucapkannya.

Ini kesempatan Dialo setahun sekali.

Bebas untuk semua segera berubah menjadi hiruk pikuk penangkapan ikan.

Mereka membenamkan perangkap ikan masing-masing untuk menangkap ikan.

Dialo dapat satu ekor, tapi tidak waktu untuk beramah tamah.

Hey! Ini tempatku.

Setelah hanya 15 menit, tidak ada yang tersisa,

dan kekacauan mereda.

Dialo berhasil namun kelelahan.

Pulang ke rumah, tangkapan ikannya menjadi makanan bagi keluarganya

sehingga mereka bisa bertahan sampai berakhirnya musim kemarau.

Saat kau menangkap ikan, kau merasakan pintu kebahagiaan terbuka

bagi dirimu dan keluargamu.

Jauh di timur Bandiagara,

dibutuhkan keterampilan navigasi luar biasa hanya untuk menemukan air.

Wanita suku Tubu ini harus melakukan perjalanan jauh melewati lautan pasir Sahara yang luas,

untuk mencari sumber air kecil berukuran hanya 1 meter persegi.

Hal ini bisa berarti antara hidup dan mati.

Mereka menyebut tempat ini Tenere - daratan tanpa apa-apa.

Tidak ada penanda, panas membakar, dan tidak menunjang kehidupan.

Foni seorang wanita suku Tubu yang bisa menemukan jalan menuju sumber air tanpa peta atau kompas.

Aku telah melakukan perjalanan ini sejak aku masih kecil.

Ini perjalanan paling berat di dunia.

Dia membawa putrinya, Shede, baru berumur 10 tahun.

Sumber air yang mereka cari masih harus ditempuh selama 3 hari perjalanan.

Ini perjalanan terberat yang akan mereka hadapi bersama.

Dua orang meninggal saat mereka tidak menemukan sumber airnya.

Kami berdoa pada Tuhan agar melindungi kami.

Mereka melakukan perjalanan jauh ini untuk makanan.

Mereka harus bepergian sejauh 240 km hanya untuk pergi ke pasar,

untuk melakukan barter unta dengan bahan makanan sebagai cadangan makanan sampai 6 bulan.

Rombongan ini hanya terdiri dari wanita dan anak-anak,

karena bagi suku Tubu wanita yang punya kemampuan navigator hebat.

Bagi mata yang tidak terlatih, bukit pasir hanyalah bukit pasir biasa.

Namun Foni bisa membedakan mana yang bisa diikuti, dimana tidak ada benda lain kecuali pasir.

Bukit yang lebih kecil bentuknya berubah-ubah, bergerak bersama angin,

menyebabkannya tidak aman dipijak.

Namun bukit yang lebih besar, setinggi lebih dari 60 meter, lebih stabil,

mengungkapkan tanda-tanda yang lebih terlihat.

Selama lebih dari ribuan tahun,

angin di gurun meniup gurun pasir menjadi pegunungan paralel yang panjang,

satu-satunya penunjuk bagi musafir.

Suku Tubu memperhatikan matahari dan garis pegunungan pasir untuk menentukan arah.

Kemudian mereka menghitung setiap pegunungan untuk mengetahui seberapa jauh mereka pergi.

Mereka telah berjalan 10 jam di bawah sinar matahari panas.

Mereka harus beristirahat.

Mereka membuat tenda dari satu helai kain, dan menghemat air mereka.

Untuk unta diberikan air yang dicampur oat, sementara para wanita minum teh manis.

Hey Foni, seberapa jauh perjalanan kita hari ini?

Kita telah melewati 33 gunung pasir.

Iya. Kuhitung dengan jariku.

Mereka bangun cepat, sebelum matahari semakin panas.

Cadangan air mereka hanya cukup sampai ke sumber air,

jadi ritme perjalanan mereka yang menjadi kuncinya.

Ahli dalam hal ini semakin cepat menghilang.

Saat ini hanya beberapa ratus wanita suku Tubu yang memiliki pengetahuan tersebut.

Foni meyakini bahwa, dengan mengajari Shede,

dia bisa meneruskannya ke generasi selanjutnya.

Shede, dengarkan. Untuk mencapai sumber air kau harus melewati 8 gunung pasir.

Saat kau sampai gunung pasir ke sembilan, kau akan lihat semak-semak.

Sumber air ada di belakang gunung ke sepuluh.

Saat malam datang,

Foni juga mengajari Shede cara membaca langit malam.

Lihatlah, itu bintang Utara.

Jika bintang Utara di belakang kita,

kita pasti akan menemukan sumber airnya.

Paling tidak, untuk saat ini, mereka tahu mereka berada di jalur yang benar.

Ini hari ketiga.

Hari ini mereka harus menemukan sumber airnya.

Saat berkemas, Foni memutuskan Shede telah siap memimpin arah.

Namun sumber air itu begitu tersembunyi

bahkan jika hanya berjarak beberapa ratus meter, dia bisa melewatkannya.

Shede memberikan arah yang tepat,

sejajar diantara pegunungan di depan dan matahari di sebelah timur.

Bagi anak-anak seumuran Shede, baru berumur 10 tahun,

menemukan jalan ke sekolah saja sudah cukup berat.

Namun Shede harus menemukan jalan sejauh 20 mil melintasi tempat paling suram di Bumi.

Aku akan ketakutan disini jika sendirian.

Namun dengan adanya kata-kata wejangan Ibunya terngiang di kepalanya,

dia terus maju.

Setelah perjalanan berat selama 12 jam, pegunungan ke sepuluh akhirnya terlihat.

Satu-satunya semak di pinggir gundukan pasir menandakan lokasi lembah sumber air.

Itu dia! Itu dia!

Sumber airnya!

Shede berhasil menemukan satu-satunya sumber air untuk 80 km sekelilingnya.

Dia membuat Ibunya bangga.

Akhirnya, Shede bisa memberikan untanya minum.

Hausnya terobati, dia bersihkan debu selama 3 hari.

Setelah mereka mendapatkan air, mereka bisa sampai ke pasar,

namun sampai usainya perjalanan masih membutuhkan waktu berminggu-minggu.

Tidak seluruh gurun suhunya panas.

Gurun Gobi di Mongolia merupakan gurun yang ekstrim.

Berada jauh di Utara garis Khatulistiwa,

More Indonesian subtitles for Human Planet

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left