The first 200 lines.
"Episode 90"
Na Ra, kita harus bicara.
Kita sudah selesai berbicara.
Kamu bisa meneken dokumen itu saja.
- Tidak bisa. - Choi Tae Pyung.
Kamu tidak mengerti?
Aku ingin meninggalkanmu.
Jadi, lupakan aku dan pergilah.
Bagaimana bisa kamu berubah secepat ini?
Aku memang pernah bilang bahwa hidupku itu milikku,
tapi aku membuang semua hal dalam hidupku demi kamu.
Melakukan ini hanya akan mempersulit hidupmu.
Kamu mau hidup dengan orang yang tidak menyayangimu?
- Apa? - Aku tidak bisa hidup
di tempat kumuh ini bersamamu lagi.
Aku ingin kamu melepaskanku.
Aku ingin mencari kebahagiaanku.
- Apa yang kamu lakukan? - Aku tidak bisa pergi seperti ini.
Aku tidak akan bercerai dua kali.
Kamu mirip mantan istrimu.
- Apa? - Dia melakukan ini
saat dahulu aku
memberikan surat cerai.
Katanya dia tidak bisa menceraikanmu.
Jangan bersikap kekanak-kanakan.
Akan kusiapkan dokumennya lagi.
Masuk. Duduklah.
Nenek ingin menemuiku?
Jika punya waktu besok,
kamu mau mengunjungi ayah Ji Seok bersama nenek?
Aku juga sudah memikirkan itu.
Tentu saja aku ikut.
Baiklah. Mari kita pergi besok.
Ibu juga ikut?
Tidak, hanya kita.
Baik.
Kenapa Nenek ingin menemuimu?
Dia mengajakku mengunjungi Ayah.
Aku mengambil cuti setengah hari.
Aku pasti ikut bersamamu jika tidak ada persidangan.
Benar juga.
Apa Ibu sibuk besok?
Nenek bilang kami hanya akan pergi berdua.
Nenek tidak pernah ke sana bersama Ibu.
- Kenapa tidak? - Aku sudah cerita, bukan?
Setelah kecelakaan itu, terkadang nenekku
menyalahkan ibuku atas kematian Ayah.
Nenek dendam terhadap Ibu.
Kalau begitu,
mereka tidak pernah datang bersama setelah kecelakaan itu?
Tidak pernah.
Melakukan ini hanya akan mempersulit hidupmu.
Kamu mau hidup dengan orang yang tidak menyayangimu?
Melakukan ini hanya akan mempersulit hidupmu.
Kamu mau hidup dengan pria yang tidak menyayangimu?
Aku tidak peduli.
Aku tidak akan menceraikanmu.
Kamu membuatku gila.
Aku sungguh menginginkan hidup baru.
Jika tidak bisa hidup sesuai keinginanku,
mana bisa aku menyebutnya hidupku?
Jika tidak mempertahankannya,
aku akan menyesal seumur hidup.
Yang Sook.
Apa aku
menyakitimu separah ini?
Begitukah?
Kenapa ini sangat menyakitkan?
Astaga.
- Bolehkah aku minta satu dolar? - Ada apa denganmu?
Satu dolar saja?
"'Bolehkah Kuminta Satu Dolar Saja?'"
Astaga, terima kasih!
Aku mendapatkan satu dolar!
Aku mendapatkan satu dolar. Aku mendapatkannya!
Astaga. Karma selalu terjadi.
Ada apa?
Pria itu
menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain,
tapi malah ditinggalkan olehnya.
Kuharap itu juga menimpa mantan suami Ibu.
Itu tidak akan terjadi.
Mereka saling tergila-gila.
Mereka rela menderita selama bisa bersama.
Ibu terdengar seperti Bibi.
Jangan membahasnya. Ibu tidak mau mendengarnya.
- Apa ini? - Tidak tahu.
Ini ada di depan pintu kita.
Kak Yang Sook.
Kakak pasti kehabisan pasta gigi.
Kakak juga kehabisan tisu toilet, bukan?
Pasar Swalayan Biru lebih murah.
Aku juga memasukkan
gula dan garam di sini.
Habiskan ini dahulu sebelum membeli lagi.
Selain itu, otak-otak di kulkas Kakak
akan segera kedaluwarsa.
Itu harus segera dikonsumsi.
Sulit dipercaya.
Kenapa dia memedulikan tanggal kedaluwarsa otak-otak milikku?
Kudengar Kakak sakit karena aku.
Kuharap sup ini akan memberi Kakak energi.
Aku berusaha keras membuatnya.
Jangan dibuang meskipun Kakak membenciku.
Astaga, aku membenci dia.
Aku punya pacar.
Kamu ingin aku meneleponnya?
Aku di sini.
Go Bong.
Tunggu apa lagi? Kenalkan aku sebagai pacarmu.
Lihat?
Ini pacarku.
Apa yang telah kulakukan?
Pak Min.
Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum berangkat bekerja.
Aku sudah menunggumu.
Wanita yang kemarin adalah mantan istrimu, bukan?
Ya.
Maaf kamu harus berpura-pura sebagai pacarku.
Apa kamu putus denganku
untuk kembali bersamanya?
Dia sudah menikah lagi.
Lalu kenapa dia bilang merindukanmu?
Aku tidak tahu
alasan dia melakukan itu.
Mau kuberi tahu?
Apa?
Kamu tahu alasannya?
Karena dia menganggapmu mudah didapatkan.
- Tidak mungkin. - Apa kamu
tergoda olehnya?
Tidak.
Aku sudah tidak punya perasaan lagi terhadapnya.
Bagus.
Aku memikirkannya semalaman.
- Lalu? - Aku tahu
cara menyingkirkannya.
Apa maksudmu?
- Sudah siap? - Ya.
Aku menyiapkan teh jelai panas.
- Go Ya, bawa ini. - Baik.
Kamu tidak ikut?
Aku?
Ya, siapa lagi?
Aku boleh ikut?
Kamu tidak perlu ikut jika sibuk.
Tapi seharusnya kamu ikut
dan mengenalkan menantumu.
Aku sungguh boleh ikut?
Lupakan saja jika tidak mau. Ayo pergi.
Tidak. Tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian.
Tidak akan lama.
Hei.
Ini menantumu.
Istrimu juga di sini.
Bagaimana menurutmu?
Kamu senang?
Kenapa Ibu melakukan ini?
Apa?
Ibu tidak pernah kemari bersamaku.
Ibu takut akan menyalahkanku di depan putra ibu.
Dahulu begitu.
Lalu kenapa?
Ibu malu.
Apa?
Sebenarnya, ibu melihatmu
berusaha menerima Go Ya beberapa hari lalu.
Dahulu kamu pernah menolaknya,
tapi sekarang kamu sudah menerimanya.
Meskipun lebih tua daripada kamu,
ibu belum bisa memaafkanmu.
Ibu merasa malu.
Ibu.
Selain itu, Go Ya juga memintanya.
Apa?
- Nenek. - Astaga.
Kenapa kemari pagi-pagi begini?
Aku melihat lampunya menyala.
Kamu menunggu nenek?
Ya.
Kenapa? Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?
Ini soal menemui Ayah.
Kenapa? Kamu tidak bisa?
Bukan begitu.
Bisakah Ibu ikut?
Apa? Itu...
Ibu pasti merasa agak sedih.
Ibu pasti juga ingin mengenalkanku kepada Ayah.
Aku juga akan merasa lebih nyaman
jika kalian berdua ikut bersamaku.
Dia pasti
berpikir semalaman
tentang cara menyampaikannya kepada ibu.
Ibu sadar telah bersikap tidak dewasa.
Ibu merasa malu kepada Go Ya.
Dia terlalu mencampuri urusan orang.
Seperti kamu yang telah bersikap baik kepadanya,
dia pasti ingin melakukan hal serupa kepadamu.
Itulah keluarga.
Maukah kamu memberikan tanganmu?
No comments yet. Be the first to leave one.