The first 200 lines.
Diterjemahkan oleh AngelTouch
Björling?
Suliotis?
Nyaris.
Tebaldi?
Benar!
Giliranku.
- Jangan lihat! - Tidak, kok.
Ayahmu mengintip?
Sungguh?
Oh, Tuhan!
Gigli!
Tentu! Tapi yang mana?
Belum pernah dengar.
Lagu baru?
Mungkin.
Jadi, sayang?
Händel.
Benar. Judulnya?
Entahlah.
Jadi?
Aku menyerah. Apa itu?
Aku unggul 3-2!
Apa sih itu?
Jauhkan tanganmu!
Dengar saja!
PERMAINAN KONYOL
- Itu curang! - Maaf?
Kalian curang sudah latihan.
Kami akan bermain besok pagi jam 10. Kalian mau ikut?
Ya, tentu.
Kami mau menaruh kapal dulu.
Boleh bantu kami? Sekitar...20 menit lagi?
Oke! Aku akan kesana 20 menit lagi.
Oke. Trims. Sampai nanti.
Ada apa dengannya?
Entahlah.
Dia nampak gusar. Hanya diam saja.
Dengan siapa kau janjian untuk bermain besok?
Istrinya.
Kemarin?
Kemarin lusa.
Lalu?
Tak ada apa-apa. Biasa saja.
Sissi tak ada disana.
Mungkin ada di dalam rumah. Atau di pantai.
Siapa dua pemuda itu?
Mana kutahu? Mungkin kerabatnya.
Mungkin putra kakaknya.
Jangan taruh disitu! Bawa barangmu ke atas!
Oke.
Sekarang!
Jangan taruh di pintu masuk, nanti orang bisa jatuh.
Di mobil masih banyak barang.
Dengar, tidak?
Iya!
Sekalian buka jendelanya. Supaya anginnya masuk.
Baik, ibu!
Hentikan, Rolfi! Hentikan!
Ayo, turun sana!
Aku mau bongkar barang!
Keluar!
- Georg? - Ya?
Dimana kotak yang ada makanannya?
Nanti kubawa.
Aku sedang bawa tongkat golf. Terakhir kutaruh di Rover.
Bawa sekarang! Makanannya pasti sudah panas!
Kotak pendingin ini tak ada gunanya.
Diamlah, aku bisa jatuh.
Pergilah ke nyonyamu.
Ada daging dingin juga di kotak lain.
Akan kuambil. Aku sedang buka jendela.
Tutup tirainya dari arah danau, supaya udaranya tak panas.
Hentikan. Nanti kuberikan. Mau kuatur dulu.
Bisa panggil si anjing? Dia tak membiarkanku menaruh makanannya.
Rolfi!
Ayo! Ikuti aku!
Botolnya juga, supaya tak panas malam nanti.
Diamlah, Rolfi!
Diam!
Mari masuk!
Maaf. Dia sedang lepas kendali.
Masuklah!
Terima kasih sudah datang. Sulit mengaturnya sendiri.
Tak masalah! Ini...
Paul. Senang bertemu denganmu.
Paul anak rekan bisnisku.
Senang bertemu denganmu. Terima kasih mau membantu.
Aku juga.
Maksudku, aku juga senang.
Tapi nampaknya dia kurang senang.
Bisa diam?
Dasar nakal!
Masuklah ke rumah, ayo!
- Kapan kalian kemari? - Minggu lalu.
Kau juga?
- Ya. - Tidak.
Mereka datang akhir pekan. Kami datang hari Jumat.
Halo Fred! Terima kasih mau kemari.
Apa kabarnya Eva?
Baik.
- Halo. - Halo nyonya.
Dimana Tropea?
Italia selatan. Tepat di ujung pulau.
- Tapi disana lebih panas. - Tidak juga.
Cuacanya dingin saat ayah di Italia tahun lalu,
sedangkan kau malah berenang disini, bukan?
Tapi kurang lengkap tanpa Sissi. Tanpa dia rasanya...
- Hati-hati! - Iya!
Kalau tidak pekerjaan kita akan sia-sia.
- Lihatlah, tak ada apa-apa! - Bagus.
Bisa bantu angkat tiangnya?
Awas talinya.
Tapi dia bilang akan berada disini selama liburan.
Dengar, nak, ayah tak tahu kenapa dia tak ada disini.
Mungkin dia pergi ke Tropea dengan teman sekolahnya.
Besok kita akan kesana dan bertanya pada ibunya.
Sekarang berhentilah merajuk...
Mengapa Paman Fred terlihat aneh?
Sudah kuduga!
Terakhir dia marah karena itu.
Lupakan saja.
Dia takkan berubah, kau hanya perlu memahami situasinya.
Benar!
Itu saja!
Bagus. Mereka sedang mengerjakan kapalnya.
Apa?
Jam 5 atau 5.30. Aku tak tahu jam disini,
soalnya jam di dapur mati. Harus beli baterai baru Senin nanti.
Apa?
Ya, itulah yang sedang kukerjakan.
Daging tipis...
Ya, ini konyol. Semuanya lumer, padahal kami butuh makanan.
Kemarilah!
Aku seperti orang bodoh. Kubekukan 3 pon daging sapi...
kini aku harus memakannya.
Tidak, aku tak bercanda. Kemarilah selama akhir pekan.
Apa? Dia pasti mau. Tunggu.
Kami butuh pisau.
Ibu mau pakai nanti. Beritahu ayah.
Maaf.
Bilang suamimu, kemasi laptopnya, naik mobil, lalu kemari.
Paling lama hanya 2 jam!
Dia takkan marah.
Oke. Pikirkanlah itu.
Setidaknya persediaan stik masih cukup untuk seminggu.
Dah, Fanny.
Oh, iya, telpon kami...
jika kalian mau kemari. Ya.
- Ada apa lagi? - Ada orang.
- Dimana? - Di pintu.
- Halo? - Halo.
Maaf mengganggu. Aku dari sebelah.
Kita sempat bertemu saat kalian berhenti di depan tadi.
Oh, ya.
Masuklah.
Cepatlah, kita akan makan 10 menit lagi!
Jadi, ada apa?
Yah...
Eva menyuruhku...
Maksudku Ny. Berlinger menyuruhku.
Dia sedang memasak...
tapi dia kehabisan telur. Dia pikir mungkin kau bisa bantu.
Tentu saja.
- Butuh berapa? - Empat.
Empat?
- Untuk apa? - Maaf?
Untuk apa?
Untuk apa telurnya?
Maksudku, dia sedang buat apa?
Entahlah.
Perlu kubungkus atau begini saja?
Sesukamu.
Tadi kau lewat mana?
Dari depan. Maksudku, lewat pantai.
Tapi kau tak basah sama sekali!
Ada lubang di pagar.
Fred tahu...
Maksudku, Tn. Berlinger tahu. Dia yang tunjukkan padaku.
Aku mengerti. Oke.
- Jadi mau dibungkus atau? - Tidak, tidak, begitu saja.
Terima kasih banyak.
Salam buat Eva. Saat bermain golf besok, kami nantikan kehadirannya!
Akan kuberitahu. Terima kasih sekali lagi.
Dan sampaikan terima kasih pada Fred dan temanmu...
- Sial! - Ada apa?
Itu bukan masalah. Tunggu.
Syukurlah kami baru datang...
aku harus berbelanja di desa, Senin besok.
Aku sangat memalukan.
Tak apa. Lagipula kami tak makan telur untuk sarapan.
Jadi ini bukan masalah besar.
Kau sangat membantu. Terima kasih.
Harusnya aku lebih hati-hati.
Kutaruh tangan kiriku...
- Tak perlu mengeluh begitu. - Kau sangat baik.
Bukan masalah.
Aku minta maaf.
Aku sangat ceroboh.
Aku merasa seolah aku punya 2 tangan kiri.
No comments yet. Be the first to leave one.