King the Land

King the Land (킹더랜드)

Download Indonesian Subtitle

Season 1

Release info

King the Land S01E14 1080p NF WEB-DL DDP2 0 H 264-Archie
A Commentary by Luh_Fil
NF Version

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
1080
Published on: 2023-07-30
Downloads: 90
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

KING THE LAND

Yang penting hatimu terasa tenteram.

Terima kasih…

telah membawaku sampai ke sini.

Ya.

Mereka sedang bersama.

Kurasa hasil fotonya lumayan.

Kau tenang saja.

Identitas informan pasti terlindungi.

EPISODE 14

Ini balsam harimau.

Baik dioleskan di bagian yang nyeri dan pegal.

Enak juga.

Pak Han, coba pakai ini.

Ini dari Won. Rasanya enak dan segar.

- Pak Komisaris. - Ya?

Para jurnalis hendak menerbitkan berita Pak Gu.

Silakan.

Tentu dia harus diberitakan.

Akhirnya akan ada jaringan hotel Korea yang mendunia.

Mana ada berita sebagus itu?

Bukan berita itu.

Ini berita asmara.

- Berita asmara? - Benar.

Ternyata Pak Han gerak cepat.

Tidak masalah.

Lagi pula, mereka akan segera menikah.

Bukan begitu, Pak.

Silakan lihat ini.

KENCAN RAHASIA KONGLOMERAT GENERASI KETIGA DENGAN ORANG BIASA

Mereka akan segera menyebarnya lewat internet dahulu.

Segera tangkal beritanya.

Jangan biarkan beritanya terbit dengan pasang

atau cabut iklan.

Baik, Pak.

Aku akan bayar dua kali lipat dari Ayah,

baik dengan pasang atau cabut iklan,

jadi, terbitkan beritanya.

Makanan kantin menjadi tidak enak setelah ganti vendor, ya?

Benar.

Padahal tadinya aku senang sekali

saat makan di kantin pegawai.

Kalian ke kantor untuk makan?

Mestinya kalian bersyukur sudah diberi kupon makan.

Coba kalau kalian harus beli sendiri.

Astaga!

Astaga, mengagetkan saja.

Kenapa? Ada apa?

Ada berita soal Pak Gu.

- Apa? - Memang berita apa sampai sekaget itu?

Astaga!

"Hubungan rahasia konglomerat generasi ketiga."

Judulnya provokatif sekali.

Pacarnya orang biasa.

Dia keren sekali. Tidak memedulikan status sosial.

Dia memang pria sejati.

Meski orang biasa,

dia pasti anak pebisnis kelas menengah.

Beda kelas dengan kita.

Meski begitu, apa kau tidak iri?

Panjat sosial instan.

- Setuju. - Benar.

Orang seperti kita mustahil memanjat pohon itu.

Kenapa harus iri?

Jangan dilihat.

Namun, kita tetap bisa bermimpi.

- Bukan begitu, Sa-rang? - Apa?

Kenapa tanya aku?

Memang aku tak boleh bertanya?

Kenapa kalian kaku sekali?

Sebentar. Omong-omong,

wanita yang diblur ini…

mirip Sa-rang, bukan?

Mirip apanya?

Tidak mirip sama sekali.

Tidak. Ada kesan mirip.

Benar. Gayanya mirip.

- Benar, rasanya mirip. - Ya, 'kan?

- Mirip, 'kan? - Gayanya.

- Jelas mirip Sa-rang. - Ya.

- Mirip juga. - Ini…

Benar mirip.

Itu bukan gambar tiga dimensi ajaib.

Wajahnya tidak jelas karena diblur.

Mana kelihatan mirip atau tidak?

- Begitu, ya? - Kurasa mirip.

Mana mungkin dia Sa-rang?

- Benar. - Mustahil.

- Sepertinya dia. - Mungkin.

Omong-omong, Sa-rang.

Kau mau ke mana?

Ke toilet.

Toilet sebelah sini.

Entah kenapa, hari ini aku ingin pergi ke toilet nun jauh di sana.

Itu tidak aneh.

- Memang tak masuk akal. - Tidak.

- Aku yakin benar. - Mana mungkin?

Kau sedang sibuk? Mau pergi?

Kau sudah lihat?

Ya, baru saja.

Kebetulan aku hendak menemuimu

karena khawatir.

Maaf. Ini gara-gara aku.

Memang kita salah?

Tidak sama sekali.

Benar.

Kita tidak salah. Kau tak perlu minta maaf.

Tetap saja. Kau masuk berita.

Kau tidak apa?

Ya.

Aku masih bingung karena sedang kalut.

Namun, aku kemari untuk memberitahumu aku tak apa dan jangan cemas.

Kau masih sempat mencemaskanku?

Tentu saja. Kau orang yang paling kucintai.

Bagus. Ke depannya pun kau tak perlu ragu menghampiriku

seperti sekarang bila terjadi sesuatu.

Kalau tak bisa, panggil aku.

Lantas kau akan segera menghampiriku?

Tentu saja.

Aku akan segera menghampirimu

kapan pun dan di mana pun.

Gawat, Pak Gu!

Ternyata di sini lebih gawat.

Rupanya kau di sini, Sa-rang.

Budayakan ketuk pintu. Dikira ini ruanganmu?

Bisa-bisanya kalian berduaan di sini saat genting begini.

Hanya aku yang kalang kabut.

- Baiklah. Keluar sebentar. - Tidak mau.

Aku tak bisa keluar. Situasinya benar-benar gawat.

Biar aku yang keluar.

Aku harus pergi karena masih jam kerja.

Permisi, Pak Yoo.

Maksudku, Pak No.

Terima kasih.

Duduk dahulu, Pak.

Kini nasi sudah menjadi bubur.

Jadi, kita harus mengatasi tragedi ini dengan arif.

Tragedi itu untuk musibah.

Ini fakta, bukan tragedi.

Lupakan soal itu.

Jangan biarkan wajah Sa-rang terekspos.

Aku tak masalah.

- Yang penting Sa-rang jangan. - Baik.

Tadi aku sudah menemui kepala Tim Humas

dan dia berjanji akan melakukan

segala cara agar beritanya tak berkelanjutan.

Jadi, kau tak perlu cemas soal itu.

Namun, masalahnya, bukan hanya itu.

Apa maksudmu?

Kira-kira kenapa berita itu bisa muncul tepat di saat seperti ini?

Bagaimanapun,

kurasa ini ulah Bu Direktur.

- No Sang-sik. - Ya.

Jangan asal bicara jika belum pasti.

Aku memberitahumu karena ada sesuatu yang membuatku yakin.

Dia sempat memanggilku

secara diam-diam

beberapa hari lalu.

Aku bisa membantumu naik

asal kau mau melaporkan segala hal tentang Pak Gu.

Maksudmu, dari mana sampai mana?

Semuanya.

Laporkan segala hal mulai dari pekerjaan

hingga privasi tanpa terkecuali.

Lantas,

kau bisa membantuku naik sampai setinggi apa?

Manajer umum bagaimana?

Menurutku, itu penawaran yang lumayan.

Manajer umum?

Itu sama sekali tidak cukup.

Apa?

Kupikir minimal kau akan memberi posisi direktur utama.

Posisi sekelas direktur utama belum cukup

untuk membuatku mengkhianati teman.

Apa pentingnya seorang teman?

Bagiku,

dia terlalu berharga untuk disebut tidak penting.

Aku anggap pembicaraan ini tak pernah ada.

Maafkan aku.

Dia berjanji memberi posisi manajer umum

jika mau melaporkan semua, termasuk privasi.

Namun, berhubung aku tidak goyah,

kurasa dia menyewa orang

untuk menyelidiki…

Kenapa tak kau terima tawarannya?

Aku juga heran. Mestinya kuterima.

Apa pentingnya kesetiakawanan?

Kenapa kau lepas kesempatan sebaik itu demi teman?

Itu dia. Aku salah perhitungan.

Aku sudah gila.

Dasar bodoh. Kenapa tak diambil?

Mestinya kau ambil kesempatan itu.

Aku sudah gila.

Terima kasih.

Apa?

Lupakan kalau tak dengar.

"Terima kasih." Aku dengar itu tadi.

Akut tak menyangka bisa menerima ucapan terima kasih darimu, Tuan Muda.

Cinta itu

memang mulia.

More Indonesian subtitles for King the Land

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left