The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
MADRID 77 HARI SEBELUM HARI H
Dia datang.
Ayo! Kita terlambat 15 menit.
Cepat!
Sebentar saja! Alisnya saja. / Tolong. Tak ada waktu.
Hei!
Di panggung.
Selama 2,5 tahun, banyak dari kalian menyebutku pahlawan.
Pahlawan! / Sangat berani!
Kalian salah. Aku bukan pahlawan.
Aku hanya orang biasa yang cukup berani
untuk menolak berlutut di hadapan teroris.
Itu sebabnya aku bisa berada di sini hari ini.
Harga diriku tetap utuh.
Sementara itu, para pengecut
masih bersembunyi di lubang mereka.
KEPULAUAN GUNA YALA
Beberapa orang menyukai penculik itu.
Tidak mungkin! / Percayalah. Mereka dianggap lucu.
Aku terus heran, apa kriminal itu lucu?
Tidak! / Tidak!
Bisakah teroris dianggap pahlawan?
Tidak!
Bagaimana dengan Profesor Robin Hood?
Tidak! / Tidak! Helsinki...
monster dari Balkan,
memasangkan peledak di dadaku selama 24 jam.
Bisakah dia menjadi idola?
Tidak! / Tidak!
Aku hanya berharap...
dia merasa bersalah atas perbuatannya setiap saat dalam hidup menyedihkannya.
LA PAMPA, ARGENTINA
Aku menyerang Denver,
memegang gunting tumpul.
Dia memegang M16.
Bunuh diri?
Mungkin, tapi sebagai hasilnya, sandera pertama bisa kabur.
Gantinya, dia ambil yang paling kucinta.
Mónica Gaztambide.
Lupakan dia! / Kekasihku!
Ya, aku juga melakukan kesalahan.
Aku juga orang yang tak setia.
Salah satu orang egois dan buruk.
Akibatnya,
aku kehilangan segalanya.
Saat ini, setiap pagi,
aku bangun dan pikirkan apa yang menimpa putraku.
JAWA, INDONESIA
Minggir, Bodoh!
Persetan kau! Sama halnya dengan pisang busukmu!
Maaf!
Aku mencintaimu!
Hidup...
Hidup akan hilang jika kau tak memutuskan
dan membiarkan dirimu berjalan tanpa tujuan.
Aku dulu sandera, tapi kita semua tersandera sesuatu.
Ya!
Untuk menghadapinya,
kau harus memutuskan.
Aku memutuskan!
Aku menghadapi masalahku! Ikuti aku!
Aku memutuskan!
Aku menghadapi masalahku!
Aku memutuskan! Aku menghadapi masalahku!
Aku memutuskan! Aku menghadapi masalahku!
Aku memutuskan! Aku menghadapi masalahku!
PANTAI GUNA YALA PULAU PELICAN
77 HARI SEBELUM HARI H
Namaku Tokyo.
Kau ingat aku?
Ini Karibia.
Selama dua tahun, hidupku adalah film romantis.
Kami cari makan sendiri.
Telanjang, liar...
Tapi dengan kemewahan.
Semua ini akan dihancurkan
untuk keputusan yang akan memasuki pikiranku sekarang.
Kita sudah di sini dua tahun.
Dua tahun di surga.
Surga itu indah saat hidupmu membosankan...
dan penuh kemacetan...
jadi, kau pergi ke sana sesekali.
Kau butuh udara segar, 'kan?
Aku tak bisa menawar,
benar?
Ini bertahan lama.
Rio...
Aku perlu keluar.
Aku butuh kericuhan.
Aku butuh orang.
Aku perlu tak tahu di mana aku besok.
Aku tahu maksudmu.
Aku juga pergi.
Petualangan akan bagus untuk kita.
Mungkin hanya singkat, tapi aku tak yakin.
Lebih baik berpikir selamanya.
Tokyo!
Tokyo!
Seandainya kita ingin bicara.
Ini telepon satelit. Aku beli di pasar gelap dengan Helsinki.
Rio... / Ini tak terdaftar.
Aktifkan setiap tiga hari pukul 18.00.
Jika ada yang butuh menelepon, aktifkan lima menit,
lalu matikan jika tak ada kontak.
Setuju?
Nomorku di belakang.
AKU MENCINTAIMU
Ayolah...
Pergi, sebentar lagi malam.
Kerusuhan?
Kerusuhan!
Aku bisa bersikap seperti gadis baik.
Tapi perlahan, sifat nakalku keluar,
dan pada akhirnya, ia memuncak.
Saat aku menjadi Sputnik,
tiga hari berlalu dengan cepat.
74 HARI SEBELUM HARI H
Berlalu sangat cepat hingga lupa satu-satunya hal terpenting.
MENCARI SATELIT
EUROPOL DEN HAAG
PENCARIAN SATELIT
TARGET DICEGAT
PULAU PELICAN
Terminal yang Anda tuju berada di luar jangkauan.
Tokyo, angkat telepon.
Sial, Tokyo, aktifkan.
Sial!
Terminal tak dikenal, terhubung dengan Aníbal Cortés.
Posisi Rio terkirim dari Pulau Guna Yala di Karibia
ke Europol dalam sekejap.
Dari Europol ke Pusat Intelijen Nasional dalam 50 detik.
Halo?
Semenit kemudian,
Prieto bangun.
Prieto. / Kolonel.
Europol menemukan Aníbal Cortés di pulau di Panama.
Hubungi Kepolisian Panama! Sekarang!
Lokasiku diketahui lebih cepat.
Telepon disadap.
Teleponnya aman,
tapi penjual dari Libya tidak.
Eagle kepada Fox 1, kami berangkat.
Halo, Rio.
Itu dia.
Halo, Tokyo.
Dipastikan. Itu Tokyo.
Polisi di perjalanan.
Maaf penundaannya.
Apa kabarmu?
Aku di sini. Tiga hari menyaksikan waktu berlalu di pulau ini.
Polisi ada di Cinta Costera.
Ayolah!
Aku tak tahan lagi. Aku tak tahan makanan Guna.
Dalam hidupku, aku hanya makan piza, burger, kentang goreng, sosis...
Itu yang kumau. Aku tak ingin bersama mereka!
Mereka tak tertawa meski dipaksa!
Polisi memasuki Chorrillo.
Ayo cepat!
Aku mau berpesta denganmu,
berdansa, dan mabuk sampai pupil kita terlihat seperti pupil rakun.
Itu yang kuinginkan, Tokyo!
Bahkan jika hanya kencan.
Kau ingin kencan?
Tentu saja.
Pilih satu kota.
Aku akan datang.
Rio de Janeiro.
Sial! / Apa?
Kapal patroli. / Apa?
Kapal patroli!
Lari! Mereka menemukan kita!
Kami akan sampai plaza.
Tim Alfa, lewat gang.
Berbalik. Kepung bangunan.
POLISI BUKAN TEMAN!
Tim Alfa melalui gang!
Terus! Maju!
Eagle kepada Fox 1, kami tak bisa lihat target.
Aman. Maju.
Cubeta, lewat gang Bodegón, itu jalan pintas.
Ayolah!
Cubeta, dia di dalam halaman.
Kami mengepungnya, Kolonel.
Kena kau, Jalang!
Bravo 2 di posisi.
Bravo 1 di posisi.
Letakkan senjata! Kau sudah dikepung.
Siap. / Maju!
Turunkan senjata! / Turunkan!
Tenang. Turunkan.
Negatif. Bukan dia.
Sial! / Wanita sialan.
Sebelah sana!
Cepat!
Ayo cepat!
Bersalah.
Bersalah.
Begitulah perasaanku
saat memikirkan setiap kebahagiaan yang kualami bersama Rio...
No comments yet. Be the first to leave one.