The first 200 lines.
Apa nama acaranya?
Cinta, Kenangan, dan Musik Boo Hye-ryung.
Halo? Kau tak bisa mendengarku?
Tidak, aku mendengarmu.
- Aku telepon lagi nanti. - Baik.
- Kalian sungguh sudah makan? - Tentu saja.
- Kalian bertengkar lagi? - Tidak.
Biarkan dia makan dengan tenang.
PARK HAE-RYUN
- Ini kacang-kacangan dan tomat ceri. - Terima kasih.
- U-ram. - Ya?
Tumbuh besarlah seperti sekarang. Kau harus tetap bersikap sopan.
- Aku berangkat. - Tak ada les hari ini, 'kan?
Ajak temanmu kemari. Nenek buatkan makanan enak.
- Sungguh? - Ya.
Tak perlu repot-repot.
Repot, apanya? Ibu suka anak-anak.
Ibu sudah menghubungi wanita itu?
Kami bertemu dua hari lalu.
- Kalian berdua? - Dia pergi tanpa sepengetahuan ayah.
- Bagaimana? - Dia biasa saja.
Berapa usianya?
Kau menginterogasiku?
Maafkan aku. Aku tak bisa bicara baik-baik.
Jika Ibu menjadi aku, apa tak penasaran?
Ibu tak menanyakannya,
tapi dia terlihat lebih tua.
Ibu tak kesal aku datang ke sini, 'kan?
Kau tak salah sama sekali.
Meski tak acuh, istri pasti marah melihat suaminya berselingkuh.
Meskipun dia anak kandungku.
Apa pekerjaannya?
Dia penerjemah.
Dia berjanji kepada ayah akan mengakhirinya.
Jadi, Ayah tak akan memindahkannya?
Soal itu, ayah akan memutuskannya setelah bertemu dia hari ini.
Tak perlu khawatir.
Katanya hubungan mereka tak seperti itu.
Mereka hanya saling mengenal, dan melakukan kesalahan sekali.
Sungguh.
Tapi Sa-hyeon bilang mencintainya.
Kalian juga dengar pengakuannya.
Dia hanya sedikit goyah karena wanita itu hamil.
Sa-hyeon sudah kembali seperti dulu
dan menyadari kenyataannya.
Ini kenyataannya.
Delapan bulan lagi, cucu kalian akan lahir dari hasil perselingkuhan.
Mau bagaimana lagi?
Kita tak bisa menghalangi anak itu untuk lahir.
Meski keadaan tak bisa dikembalikan seperti semula,
ibu akan sering mengunjunginya untuk memantau dan memastikan
mereka tak berhubungan lagi. Tak perlu khawatir.
Kami akan ke rumah dia hari ini.
Ada banyak kasus perselingkuhan dan perpecahan keluarga yang lebih parah.
Ini belum apa-apa.
Padahal dia pengacara ternama, tapi malah bertingkah.
Bahkan di luar negeri pun,
ada beberapa presiden yang terkena masalah anak di luar nikah.
Penegak hukum, politikus, bahkan pemimpin perusahaan.
Seperti yang kubilang.
Tanpa pangkat dan gelar, pria dan wanita sama saja.
Apa Ayah pernah melihat artikel
penegak hukum dan politikus wanita punya anak di luar nikah?
Apa pria melahirkan anak sendirian?
Ada wanita di baliknya.
Meski ciptaan Tuhan,
kita hanya binatang yang berperasaan.
Karena terbawa dan terseret perasaan, terjadilah masalah ini.
Tak mudah untuk hidup bermoral seperti ayah.
Dia pasti sudah bangun, tapi tak mencariku.
Jika aku hilang pun, dia tak akan peduli.
Mungkin dia mengharapkannya.
Dia pasti mengira kau pergi ke salon lebih awal.
Mau ibu beri tahu bahwa kau ke sini?
Tak perlu.
- Apa itu "tutup lubangmu"? - Lubang di sini maksudnya "mulut".
- Seperti moncong? - Lebih mirip botol.
Botol?
Benar. Sama dengan "diam".
Ayah dengar dari mana?
Anak-anak sekolahan yang lewat.
Aku memercayai kalian.
Tolong tuntaskan ini.
PARK HAE-RYUN
Aku terkejut sampai tak tahu harus bilang apa.
Meskipun kau sangat marah, bagaimana bisa mengatakan itu
kepada suami yang selama ini memberimu nafkah?
Apa kau sudah gila? Anak dan ibu sama saja.
Apa aku salah?
Apa aku pernah mengumpat kepadamu setelah kita menikah?
Manusia harus punya sopan santun dan etika.
Bisakah kau tak tampil di acara radio hari ini?
Bilang saja ada pekerjaan lain.
- Kenapa? - Kuberi tahu nanti.
Ada rapat sekarang.
Aku akan dicap tak profesional. Rumor beredar cepat di industri ini.
Tak bisa dibatalkan beberapa jam sebelum acara kecuali sangat mendesak.
SAYANGKU PARK HAE-RYUN
- Halo. - Aku sedang mandi tadi.
- Aku ada rapat sekarang. - Baik.
- Halo. - Silakan masuk.
- Boo Hye-ryung? - Ya.
Bagaimana kalian bisa bertemu?
Kebetulan bertemu di bar anggur.
Dia bersama wanita berumur, jadi, kuberikan anggur, tapi ditolak.
- Lalu? - Kubayar tagihan mereka.
Haruskah kubilang kau adikku?
Bahwa aku adik tirimu? Aku bercanda.
Aku membayarkan tagihannya karena senang bertemu rekan kerjamu.
Aku tak suka orang-orang membicarakanku.
Aku tahu sifatmu.
Baiklah. Sampai nanti.
- Selamat pagi. - Ya.
- Mau ke mana? Waktunya siaran. - Hanya sebentar.
Pintu menutup.
Kita harus membeli sesuatu.
Tak bawa apa-apa?
Ini dari siapa?
Mampir dulu ke toko buah.
- Apa ada di dekat sini? - Pasti ada di kompleks apartemen.
- Sudah kukirim langsung ke rumahnya. - Baik.
Seharusnya beri tahu aku.
Galak sekali.
Halo.
Ya. Apa sudah sampai?
Aku turun sekarang.
Untuk apa?
Bukakan pintu saja. Aku akan menekan bel.
Kau yang salah paham, kau yang marah.
Apa mengumpat tak cukup untuk meredakan amarahmu?
Pria lain akan merespons dengan pukulan.
Silakan.
- Di sini? - Aku tak masalah berkelahi denganmu.
Jangan bilang kau dulu adalah seorang perundung.
Memangnya kenapa?
Aku sudah terlalu tua, berbeda dengan Kim Dong-mi
yang diperhatikan oleh Pan Mun-ho.
Jangan berharap aku akan bersikap sopan kepadamu.
Halo.
Mau dikenalkan sebagai apa?
Namaku Song Won.
Halo.
- Tolong ambilkan air. - Baik.
- Apa Sa-hyeon telat? - Dia dalam perjalanan pulang.
Biarkan saja. Kenapa dibawa ke dalam?
Nanti berdebu.
Dia lebih bijaksana daripada perkiraanku.
Dia dididik dengan baik.
Kurasa kau harus ke rumah sakit.
Tak ada gunanya lagi ke rumah sakit.
Apa yang kau rasakan?
Kau mengirimiku banyak buah. Terima kasih.
Terima kasih juga untuk bunganya.
Buah paling mudah dimakan saat hamil.
- Terima kasih. - Tak perlu terlalu formal.
Apa kalian sudah makan siang?
Ya. Kami sudah makan sebelum ke sini.
Rumahmu tenang sekali.
Tak ada suara dari lantai atas?
Terkadang suara langkah kaki terdengar cukup keras.
Mungkin anak-anak datang berkunjung.
Namun, tak terlalu mengganggu.
Dia juga sangat pengertian.
Aku sudah dengar secara garis besar.
Aku juga sudah lihat hasil USG melalui Sa-hyeon.
Katanya kau kesulitan.
Aku masih bisa mengatasinya.
Kau pasti lemas. Kaki kami saja langsung lunglai jika tak makan sekali.
Kata orang kita harus menikmati apa yang tak bisa kita hindari.
Ini bukan sesuatu yang bisa dialami oleh semua orang.
Aku tak punya pilihan selain berpikir positif.
Meskipun sulit, aku tak terlalu memikirkannya.
Sa-hyeon telah melakukan kesalahan
yang menyebabkan ini semua terjadi.
Sebagai orang tua, kami tak berhak menentukan apa yang harus
dan tidak kau lakukan.
Aku sudah menyampaikan perasaan dan tekadku
kepada Bu So.
Meski begitu, kami tak bisa mengabaikanmu.
Aku tak asal mengatakannya.
Aku sangat berharap kalian tak merasa terbebani.
Kami tak terbebani. Memang sudah seharusnya.
Kami ingin membantu sebisanya.
Aku sudah lama menjadi penerjemah,
dan ada beberapa peninggalan dari orang tuaku juga.
Hidupku berkecukupan.
Apartemen ini milikmu?
Ya.
Apa kau tak membenci kami
atau Sa-hyeon?
Ini adalah kesalahanku.
Jangan menyalahkan diri sendiri
demi anak yang kau kandung.
Kita harus menyatukan pikiran dan hati kita.
Anak tak bersalah. Dia harus lahir dengan selamat.
Apa kata dokter?
Dari hasil pemeriksaannya, semuanya normal sampai saat ini.
Apa baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?
Yang paling penting adalah kesehatanmu.
- Ya. - Syukurlah.
No comments yet. Be the first to leave one.