The first 200 lines.
Kau ingin tahu
akan menjadi seperti apa…
saat kau tumbuh dewasa kelak?
Aku juga ingin tahu
kau akan menjadi orang seperti apa saat besar nanti.
Aku sangat ingin melihatnya.
Halo.
Halo?
- Halo. - Hai.
Ini untukmu.
Terima kasih.
- Duduklah. Akan kubuatkan teh. - Baiklah.
Halo.
Halo.
Kau Nona Kedsarin?
Kau tak sendirian, 'kan?
Benar.
Semua baik-baik saja?
Tolong jangan tanyakan apa pun sekarang.
Jawab saja dengan ya atau tidak.
Baiklah.
Orang yang bersamamu
baru saja memberimu bunga ungu, 'kan?
Bagaimana kau tahu?
Tolong jangan bertanya.
Aku polisi.
Cobalah bersikap senormal mungkin.
Orang yang bersamamu
tersangka kasus pembunuhan.
Aku akan tiba di rumahmu sepuluh menit lagi.
Jangan takut.
Lalu lintasnya sangat padat.
Kalau begitu, longgarkan.
Ini bukan saatnya bercanda.
Kau tampak stres.
Aku muak dengan kemacetan ini.
Hei, lihat!
- Itu Aye! - Hei. Aye!
- Aye! - Aye!
TANGGA SATU, LANTAI DELAPAN
Jangan bergerak!
Ini polisi.
Angkat tangan!
Ceritakan apa yang terjadi
jika kau tetap merasa tak bersalah.
Ini hanya kesalahpahaman.
Kau mengerti?
Jangan bergerak!
Ini polisi.
Angkat tangan!
Hanya itu yang terjadi.
Astaga, sungguh mengejutkan.
Doktor itu menyebalkan.
Untung Aye sabar menghadapinya.
Aku akan membenturkannya ke lantai jika jadi dia.
Namun, keterangan dari saksi di TKP
sesuai dengan pernyataan Tanwa
tentang waktunya.
Ini kali kedua
kau mendahului kami ke TKP.
Namun, kali ini,
kau bahkan sempat menghentikan si pelaku.
Kau tahu semuanya dan tak mau bicara.
Sungguh,
apa yang ingin kau lakukan?
Maaf atas kesalahpahamannya.
Tidak apa-apa.
Ada informasi tentang pria itu?
Hei.
- Apa urusanmu? - Fab.
- Lihat dia. - Apa masalahmu dengannya?
Aku memintanya menjadi konsultan dalam kasus ini.
Hei.
Periksa apakah pria yang pingsan itu
sudah siuman.
Ayo. Cepat.
Kau lamban sekali.
Bolehkah aku melihat wajah
polisi yang menyerangku?
UNIT INVESTIGASI KHUSUS TUJUH KEMENTERIAN KEHAKIMAN
Pak Wittaya Ramasawas.
Kau CEO Gold Light Communication Tbk.
Ayahmu mantan politikus terkemuka.
Kini, dia menjadi penasihat partai berkuasa.
Kau pemilik Rumah Sakit BPE
dan pemegang saham Grup Ekspor Jakkraporn.
Kau punya lima saudara,
dan kau adalah si bungsu.
Sepertinya kau merintis perusahaan baru di Filipina.
Apa itu benar?
Astaga.
Kau lebih mengenalku daripada diriku sendiri.
Sepertinya
banyak orang menggugatmu
atas penyerangan,
pemerkosaan,
dan percobaan pembunuhan.
Namun, anehnya,
semua orang yang melaporkanmu
akhirnya mencabut gugatannya.
Tentu saja.
Aku tak bersalah.
Aku tak bisa didakwa.
Sepertinya yacht -mu cukup banyak.
Ini yacht -mu?
Kau mau naik?
Kau punya lisensi berperahu,
jadi, kau pasti memahami sandi semafor.
Benar, 'kan?
Tentu saja.
Dalam dua kasus pembunuhan terakhir,
pelaku meninggalkan sandi semafor di TKP.
Apa hubungannya denganku?
Apa menurutmu
orang yang tahu sandi semafor sudah pasti pembunuhnya?
Maka semua pemilik lisensi berperahu bisa dituduh.
Jika kau akan menuduhku,
sebaiknya panggil bosmu untuk bicara denganku.
Dia ingin kau masuk, Pak.
Aku sungguh muak
dengan orang kaya sombong yang seenaknya.
Jika Nona Kedsarin memutuskan untuk menuntut,
tamat riwayatnya.
Bagaimana dengan interogasi Nona Kedsarin?
Anan sedang mencoba menemuinya di RS.
Ada hal lain, Pak?
Jika tak ada hal lain,
bisa lepaskan aku?
Jika tak bisa,
seseorang yang berwenang atas bosmu
akan membebaskanku.
Begitukah?
Kurasa kau tak tahu
bahwa Nona Kedsarin telah bersaksi.
Dia bilang kau mencoba menyerangnya.
Kau yakin…
dia bilang begitu?
Saat membohongi pria tak bersalah,
kau sudah memikirkan
ingin dimutasi ke mana?
Kau kenal kedua wanita ini?
Sial.
Dia cantik.
Keduanya cantik.
Namun, aku tak kenal.
Bagaimana bisa kau tak kenal?
Ada saksi yang melihatmu bersama mereka.
Kau tak ingat mereka?
Ada saksi?
Boleh aku menemui mereka?
Baik, Pak.
Dia sedang diinterogasi.
Begitu rupanya.
Benar.
Aku tak akan menuntut Pak Wittaya.
Kenapa kau tak mau menuntut?
Dia hampir membunuhmu.
Itu kesalahpahaman.
Ada yang bicara denganmu
sebelum aku tiba di sini?
Tidak ada.
Permisi.
Ada yang menjenguk pasien itu?
Hanya dokter.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Permisi.
Kau senggang, 'kan?
Buatkan aku kopi.
TERSANGKA PEMBUNUHAN WITTAYA RAMASAWAS
Apa yang kau gambar?
Rahasia.
- Katakan saja. - Tidak.
- Tidak, kau tak boleh melihatnya. - Kumohon, Tanwa.
- Tidak. - Ayolah.
- Kembalikan. - Tidak.
Hentikan.
Ini bukan Meena.
Ya, Anan?
Apa?
Baiklah.
Terima kasih.
Apa kata Anan?
Dia bilang Nona Kedsarin memutuskan tak menuntutnya.
- Dia bilang itu kesalahpahaman. - Apa?
Gila.
Apa langkah selanjutnya?
Aku ada ide.
Jika Wittaya pelaku dalam dua kasus pembunuhan terakhir,
carilah narkoba yang dia berikan kepada semua korbannya.
Kau yang di sana.
Kau tiba di TKP sebelum kami.
Kau melihat ada narkoba?
Aku pasti sudah bilang
jika melihatnya.
Namun, kalian takkan menemukan apa pun.
Kenapa?
Kalian sudah mengacaukan kasus ini.
Apa maksudmu?
Pelakunya sadar dia ketahuan
saat kau menelepon korban.
No comments yet. Be the first to leave one.