The first 200 lines.
Senin, 25 Desember, Jam 10
Senin, 25 Desember, Jam 10 Benar sekali.
Senin, 25 Desember, Jam 10 Tangki air apartemen.
Senin, 25 Desember, Jam 10 Ada orang mati di tangki air apartemen.
Belum diketahui apa itu bunuh diri atau bukan, sampai polisi menyelidikinya.
Sial.
Sial.
Tampilkan pesan berikutnya
Berbaliklah.
Namaku Jo Soon-woo.
Tugasku untuk konsultasi.
Aku kepala sekolahmu selama 2 tahun.
Joo ll-woo.
Usia 28 tahun.
Kau dikeluarkan dari SMA Sung Guk.
Kau tinggal di Apartemen Sung Guk Dong bersama nenek dan adikmu, kan?
Bagaimana nenekmu?
Karena kau di sini, nenekmu pasti sendirian.
Dia sudah meninggal.
Oh, begitu.
Turut sedih ya.
Jika tak ada yang dibicarakan lagi, kita selesaikan ini cepat.
Informasi pribadi
Ada yang mau kusampaikan.
Ini tentang adikmu, Joo Wo-loo.
Menurutmu saudaramu tidak mati karena kecelakaan.
Aku tahu kau merasa bersalah.
Nenekmu juga...
setuju kalau kasus ini adalah kecelakaan.
Kok bisa tahu?
Kau menghadiri pemakaman Wo-loo, kan?
Kau yang menangis saat itu.
Aku ikut serta dalam kegiatan sukarela.
Jadi aku ke apartemenmu tiap minggu.
Aku bertemu nenek Wo-loo dan Wo-loo.
Aku mengajar Wo-loo di panti sosial.
Lalu kau bisa ikut campur dalam urusanku?
Karena kau berikan mie instan ke keluargaku yang miskin?
Pokoknya,
aku cuma mau bantu keluargamu.
Membantu kami?
Dengan menyebarkan foto-foto orang miskin secara daring?
Baiklah...
terserah kau mau bilang apa diriku.
Jangan begitu.
Apa?
Kau kemari mau...
balaskan dendam Moon Ja-hoon, Baek Young-jun, Chae Nu-li dan Son-heon.
Benarkan?
Katanya kau mau balaskan dendam adikmu.
Mungkin kau merasa dirugikan atau penyelidikannya salah.
Polisi dan kejaksaan Korea tidak seperti yang kau pikirkan.
Orang tuamu dan Jaksa Moon Ja-hoon berteman.
Tapi dia tak bisa selesaikan kasus ini seperti yang dia mau.
Bagaimana bisa bajingan itu lolos dari ini?
Bajingan itu.
Jangan melebih-lebihkan.
Urus saja urusanmu sendiri.
Hari ini kita kedatangan anggota baru.
Kalian akan bersama selama 2 tahun.
Bersikap baiklah.
Joo ll-woo.
Joo ll-woo.
Duduk.
Mereka sangat mirip.
Moon Ja-hoon, bisa diam.
Kta mulai pelajaran hari ini.
Hentikan dia.
Bangsat.
Akan kubunuh kau.
Sial.
Lepaskan.
Sial.
Lepaskan.
Lepaskan, sialan.
Sialan.
Maju, brengsek.
Akan kubunuh kau.
Bangsat kau, Moon Ja-hoon.
Sialan kau, Baek Young-jun.
Sialan kau, Moon Ja-hoon.
Sial.
Kau akan mati.
Sial.
Kau akan mati, bangsat.
Bangsat.
Bagus sekali.
Berhasil.
Itu benar-benar...
Hei, itu si psikopat.
Kalian bukan pelajar tapi berandalan.
Kau kemari karena sudah berbuat salah.
Maaf, kita selesaikan dengan hukuman.
Guru membuat perintah sesuai aturan.
Siswa wajib mengikuti perintah guru.
Jadi ada dua karakter siswa.
Ada siswa yang mengikuti tata tertib dan melanggar tata tertib.
Jika kalian tahu sudah berbuat salah,
dan merangkak seperti anjing, aku tidak akan menghukummu.
Kenapa kau tidak melakukannya?
Aku tidak berbuat salah.
Mereka yang duluan.
Berdiri.
Kenapa kau memukulku?
Akan kutelpon polisi.
Coba saja.
Kau kira ini rumahmu?
Sialan.
Kelas Senior 1
Kelas Senior 1
Lepaskan.
Lepaskan.
Lepaskan.
Kekerasan itu tak boleh.
Karena kekerasan tak bisa menyelesaikan masalah.
Kekerasan itu akan menimbulkan korban luka yang parah...
sehingga korban bisa melakukan kekerasan juga.
Kekerasan di sekolah berawal dari kemarahan.
Biasanya,
yang jahat memilih orang yang bukan sasarannya demi melampiaskan amarahnya.
Hukumannya pasti berat.
Joo ll-woo dihajar sama si psiko itu.
Beraninya dia kemari?
Bodoh sekali.
Katakan.
Bangsat.
Kau tidak berbuat salah?
Han Chan-woo.
Tolong, hentikan.
Ini hari pertamanya.
Sudahlah, tolong hentikan.
Andaikan dia mau ikuti perintahku.
Dia harus tahu aturannya.
Dasar tidak berguna.
Ruanganmu harus dipisahkan.
Kau sama saja.
Karena itu sakit.
Sakit.
Namanya Joo Wo-loo.
Dia mengidap kelainan mental.
Otaknya sama dengan otak murid kelas 3 dan 4.
Tingkahnya memang aneh karena dia tidak normal.
Menurutmu dia mati karena kecelakaan?
Ya.
Apa?
Sial.
Kau tidak melihat wajahnya?
Apa cuma aku yang melihat ini?
Jelas kalau dia dipukuli oleh seseorang.
Jangan salahkan orang lain.
Kau harus jaga keluargamu.
Sialan, kau kira siapa dirimu?
Lepaskan.
Sudah berapa kali kau ke rumahku?
Saat kau tidak di rumah, nenekmu dan Wo-loo tidak makan.
Tenanglah.
Kita bicara di luar.
Wo-loo.
Wo-loo-ku begitu menderita.
Dia begitu menderita.
Dasar bodoh.
Kenapa senyum?
Kau cari apa?
Apa ada obat penghilang rasa sakit?
Hei, sudah siap?
Cepat, sialan.
Hei.
Cara Joo ll-woo memandang kita,
bukankah itu membuatmu takut?
Dia kayak orang mati.
Aku tak takut.
Son-heon.
Lihatlah baik-baik.
Oke, kuperhatikan.
Dulu orang bodoh takut menatap mataku.
Dia takut dan gemetar.
Dia bilang "Maafkan aku".
Lucu sekali.
Katanya Joo ll-woo dulu lahir di keluarga besar.
Dulu dia tinggal di apartemen mahal.
Apa dia terkenal?
Dia pasti yang membunuh si psiko itu.
Nak, kau lihat?
Kenapa kau tak jawab?
Brengsek.
Kenapa kau lakukan ini padaku?
Kau memukuli adik-ku sampai mati.
Bukan kau?
Aku bertemu dengannya hari itu.
Tapi bukan aku yang membunuhnya.
Beneran bukan aku.
Joo ll-woo.
Keluarlah.
Joo ll-woo.
Joo ll-woo.
Jangan membohongiku.
- Joo ll-woo. - Bukan aku.
- Buka pintunya. - Bukan aku yang melakukannya.
Aku akan membunuhmu.
Jangan bohong.
No comments yet. Be the first to leave one.