The first 199 lines.
Tunggu sebentar. Kurir!
- Lekas antarkan dan segera kembali. - Mana sisa berita ini?
- Morning Post. - Morning Post.
- Bagian berita? Sebentar. Aku akan menghubungkanmu. - Mohon tunggu sebentar.
Kalau ada yang mencariku, aku keluar ke gedung pengadilan.
- Morning Post. - Lift! Mau turun!
- Halo, Hildy. - Oh, hai, Skinny.
- Halo, Ruth. Halo, Maisie. - Halo, Hildy!
- Apa kabarmu? Katakan padaku, si penguasa segala bidangnya ada? - Ya, dia ada.
- Dalam suasana yang tak baik. - Pasti ada yang mencuri mahkota permatanya.
- Haruskah kami beritahukannya untukmu? - Jangan, jangan, aku sendiri yang ke sana.
Dianya ada, Bruce. Sebaiknya kau tunggu di sini. Aku kembali 10 menit lagi.
Bahkan 10 menit itu waktu yang lama untuk jauh-jauh darimu.
Apa tadi kau bilang?
- Itu... - Ayo.
Ayo katakan.
Aku bilang bahkan 10 menit itu waktu yang lama untuk jauh-jauh darimu.
Aku sudah dengar yang pertama. Aku suka. Itulah kenapa aku minta kau mengucapkannya lagi.
Aku bisa menahan keinginan itu sebentar. Tapi orang yang ingin kutemui ini keinginan itu hanya sangat sebentar.
Aku ingin sekali menemuinya sekali saja. Yakin kau tak mau aku ikut denganmu?
- Tidak, aku bisa mengatasinya. - Kalau keadaannya jadi runyam, ingatlah aku ada di sini.
Aku bisa menghadapinya, sayang.
- Halo, Jim. - Halo, Hildy.
- Apa kabarmu? - Hai, Hildy! Selamat datang kembali!
- Halo, Hildy. Bagaimana kabarmu? - Hai, Hildy.
Oh, halo, Beatrice. Bagaimana film "Advice to the Lovelornnya"?
- Bagus. Kucingku baru saja melahirkan bayi lagi. - Itu salahmu sendiri.
- Halo, Hildy. Senang melihatmu kembali. - Senang melihatmu.
- Hai, Tim. Mildred, dia masih di sini? - Oh, halo, Hildy.
Sedikit lagi di sekitar dagu, bos.
- Apa maumu? - Bekas istrimu ada di sini. Kau mau menemuinya?
Halo, Hildy.
- Halo, Walter. - Hai, Hildy.
Oh, halo, Louie. Bagaimana cara mengatur slot mesin kingnya?
Aku tidak melakukan itu lagi. Aku sudah pensiun. Kau paham maksudku?
- Hey, Walter. Halo, Hildy. - Aku sibuk, Duffy.
- Pergilah. Aku sibuk. - Kupikir kau harus tahu
- kalau gubernur belum menandatangani penangguhan hukuman mati itu. - Apa?
Besok pagi Earl Williams akan mati dan membuat si bodoh itu menghilang dari kita.
- Apa yang akan kau lakukan? - Hubungi gubernur di telepon.
- Aku tak bisa. - Kenapa tidak?
- Tak bisa menemukannya. Dia keluar memancing. - Berapa banyak tempat memancing di luar sana?
Sedikitnya dua... Atlantik dan Pasifik.
- Baiklah. Itu memudahkan, kan? - Oh, ya.
- Hubungi dia di telepon. - Lalu bilang padanya apa?
Diamlah, Duffy, dia sedang berpikir.
Bilang kalau dia menangguhkan hukuman mati Earl Williams, kita akan mendukungnya ke senator.
- Apa? - Bilang kalau Morning Post akan di belakang kail, pancing, dan ketenggelamannya.
- Tapi, kau tak bisa melakukannya, Walter! - Kenapa tidak?
Karena kita surat kabar yang demokratis selama lebih dari 20 tahun.
Baiklah, setelah kita dapat penangguhan hukuman mati itu, kita akan jadi demokratis lagi.
- Oh, Walter... - Ayo, Duffy! Pergilah!
- Ingatlah, Morning Post mengharapkan semua editornya mengerjakan tugasnya. - Baiklah, baiklah.
- Kau juga, Louie. Keluarlah dari sini. - Baik, bos.
Walter, kuperhatikan kau masih mengejarnya.
Ya. Pertama kalinya aku merasa dikhianati gubernur. Apa yang bisa aku bantu untukmu?
Keberatan kalau aku duduk?
Ada penghangat di dekat pintu untukmu sayang. Ini.
Aku loncat dari pintu itu sudah lama, Walter.
Bisa aku minta itu satu?
Terima kasih.
Dan korek.
Terima kasih.
- Berapa lama itu? - Berapa lama itu apa?
Kau tahu itu apa. Berapa lama itu sejak kita berjumpa satu sama lain?
Biar kuingat.
Aku habiskan enam minggu di Reno, kemudian Bermuda...
Kira-kira empat bulan, aku rasa. Terasa seperti kemarin bagiku.
Mungkin memang kemarin, Hildy.
Pernah menjumpaiku dalam mimpimu?
Tidak, tidak, ibu tidak bermimpi tentangmu lagi.
- Kau takkan kenal wanita yang dulu itu sekarang. - Ya, aku akan mengenalinya.
- Aku akan mengenalimu kapan saja, di mana saja... - Di mana saja, di mana-mana.
Kau mengatakannya lagi, Walter. Itu pidato yang kau sampaikan pada malam kau melamarku.
- Kuperhatikan kau masih mengingatnya. - Tentu saja aku mengingatnya.
Kalau aku tidak mengingatnya, aku tak mungkin menceraikanmu.
- Ya, salah satu keinginan yang sudah kau wujudkan, Hildy. - Mewujudkan apa?
Menceraikanku. Itu membuat seseorang kehilangan semua kepercayaan dirinya.
Memberinya...hampir memberinya anggapan yang tidak dia inginkan.
Sekarang dengar, nak, itulah untuk apa bercerai.
Omong kosong. Kau punya anggapan lama
kalau perceraian itu berlangsung selamanya, hingga kematian memisahkan kita.
Perceraian tidak berarti apa-apa sekarang ini, Hildy.
Hanya ocehan beberapa perkataan padamu oleh hakim.
Kita punya sesuatu di antara kita, tak ada yang bisa mengubahnya.
- Aku rasa kau benar dalam satu hal. - Tentu, aku benar.
- Aku menyukaimu, tahu. - Itulah dirimu.
Aku sering kali berharap kau bukan orang brengsek.
Dengan bahasa Latin, aku rasa. Kau mustinya menemui ibuku. Dia akan suka ungkapan itu.
Lantas kenapa kau janji untuk tidak menentang perceraiannya
dan berbuat segala hal yang bisa memupuskan segalanya?
Aku bermaksud membebaskanmu, Hildy, tapi kau tahu seperti apa itu.
Kau tak pernah mensyukurinya sampai kau kehilangannya.
Orang lamban, bodoh, besar sepertimu menyewa pesawat
dengan menuliskan, "Hildy, jangan tergesa-gesa. Ingatlah lesung pipiku. Walter."
Penundaan perceraian kita 20 menit selagi hakim keluar menunggunya.
Aku bukannya ingin sombong, tapi aku masih punya lesung pipi, dan di tempat yang sama.
Dengar, Hildy, aku hanya bersikap seperti suami yang tak ingin lihat rumah tangganya tercerai-berai.
- Rumah tangga apa? - Rumah tangga apa? Kau tak ingat rumah tangga yang aku janjikan padamu?
Tentu, aku ingat. Rumah tangga yang akan kita bina tepat setelah bulan madu.
Bulan madu itu.
Itu salahku? Aku mana tahu kalau tambang batu bara itu akan runtuh?
Aku berniat bersamamu dalam bulan madu kita, Hildy. Sungguh, aku begitu.
Yang aku tahu daripada dua minggu di Atlantic City bersama istriku,
aku habiskan dua minggu di tambang batu bara bersama John Kruptzky.
- Kau tidak menyangkalnya, kan, Walter? - Menyangkalnya? Aku bangga akan hal itu!
- Kita sudah menghebohkan dunia karena berita itu. - Seandainya kita begitu?
Bukan untuk itu aku menikah!
Oh, apa baiknya untuk... Dengar...sekarang dengar, Walter.
Tujuanku datang kemari untuk memberitahukanmu
kalau kau harus berhenti meneleponku 12 kali sehari, mengirimiku 20 telegram...
Aku buat telegram yang indah, kan? Semua orang bilang seperti itu.
- Kau mau dengar apa yang harus aku katakan? - Dengar, apa gunanya bertengkar, Hildy?
Aku beritahu apa yang harus kau lakukan. Kau kembalilah bekerja di surat kabar.
Kalau kita bisa jalin hubungan secara romantis, kita bisa nikah lagi.
- Apa? - Tentu saja. Aku tidak mengalami perasaan sakit hati.
Oh, Walter, kau hebat dalam hal menjijikkan semacam itu.
Sekarang tolong diam cukup lama buatku untuk beritahukan apa yang ingin aku katakan.
- Kita bisa makan siang... - Aku sudah ada janji makan siang.
- Batalkan. - Aku tak bisa batalkan.
- Lepaskan tanganmu dariku! Kau mau bertindak sebagai apa, osteopath? - Mudah marah, mudah marah.
Dengar, Walter, kau bukan lagi suamiku dan bukan lagi bosku.
- Dan kau tak bakal jadi bosku. - Apa itu kira-kira maksudnya?
- Seperti yang aku katakan. - Maksudmu kau takkan kembali ke surat kabar?
Kau benar, Mr. Burns, untuk pertama kalinya hari ini.
- Punya tawaran yang lebih baik, huh? - Yakinlah aku dapat tawaran yang lebih baik.
Baiklah, silakan. Terimalah. Bekerjalah untuk orang lain.
- Itu bentuk terima kasih yang aku terima! - Aku harap aku bisa berhenti bersikap kasar.
Kau siapa lima tahun yang lalu? Mahasiswi dari sekolah jurnalistik. Wanita udik berparas cantik!
Kau tak mungkin menerimaku kalau aku tidak berparas cantik.
Kenapa tidak? Kupikir itu akan ada wajah segar di sini di mana seseorang bisa memandangnya tanpa merasa takut.
- Dengar, Walter... - Dengar, aku yang menjadikanmu reporter hebat, Hildy.
Tapi kau tak bisa lebih bagus dari orang-orang di surat kabar yang lain, kau tahu itu, kita adalah tim!
Kau butuh aku, aku butuh kau, surat kabar butuh kita berdua!
- Terjual, orang Amerika! - Oh, baiklah, bicaralah.
Dengar, Walter, tolong.
Surat kabar harus terus berjalan tanpaku. Juga dirimu.
Tinggal temukan solusinya, Walter.
Itu akan ada solusinya kalau kau puas dengan hanya jadi editor dan reporter.
Tapi tidak denganmu. Kau harus menikahiku, menghancurkan semuanya.
Aku tidak puas....
- Aku rasa aku yang melamarmu? - Kau hampir bisa dikatakan seperti itu.
Bersikap genit padaku selama dua tahun sampai aku takluk. "Oh, Walter."
Aku tetap mengatakan aku mabuk pada malam aku melamarmu.
Kalau kau jadi pria, kau akan melupakannya. Tapi tidak denganmu.
- Dasar, kau... - Kau meleset.
Kau dulunya bisa melempar lebih bagus dari itu.
Halo. Ya. Apa?
Sweeney? Apa yang bisa aku bantu untukmu?
Apa? Tunggu sebentar. Aku bukan Sweeney. Aku Duffy.
Dengar, Sweeney, kau tak bisa berbuat seperti itu padaku! Tidak hari ini dan seterusnya!
Ada apa denganmu? Kau sinting?
Sungguh mengejutkan! Sekarang dengar, Sweeney, ini bukan saatnya...
Baiklah, aku rasa begitu.
Ya, bila kau harus melakukannya, kau harus melakukannya.
- Dia harus begitu. - Bagaimana menurutmu? Semuanya terjadi padaku.
365 hari setahun, dan hari ini harusnya jadi hari yang menyenangkan.
- Ada apa, Walter? - Sweeney.
- Tak becus? - Dia tak punya alasan untuk tidak melakukannya.
Satu-satunya orang di surat kabar yang bisa menyunting, sedang dia memilih hari ini untuk memiliki bayi!
Dia tidak melakukannya dengan sengaja, kan?
Aku tak peduli! Dia semestinya meliput perkara Earl Williams. Dan dia di mana?
Bolak-balik ke rumah sakit. Tak ada rasa hormat di kota ini?
- Kau tak punya orang lain? - Tidak.
Tidak, tak ada orang lain di surat kabar yang bisa menyunting.
Ini akan menghancurkanku.
Kecuali kalau... Hildy.
- Tidak. Itu tidak mungkin. Jangan merayuku. - Kau harus menolongku sekali ini saja.
- Keluarlah dari sini, Duffy. Aku sibuk! Sekarang dengar... - Simpan rayuanmu.
Ini bisa buat kita kembali bersama lagi, seperti kita dulu.
Itulah yang aku takutkan... "Kapan saja, di mana saja, di mana- mana!"
Ini lebih berarti dari apa saja yang pernah terjadi pada kita! Jangan lakukan ini untukku. Lakukan ini buat surat kabar.
- Enyahlah, orang egois. - Dengar, kalau kau tak mau melakukannya demi cinta, bagaimana dengan uang?
Lupakan tawaran yang lain. Aku naikkan bayaranmu $25 seminggu.
- Dengarkan aku, babun bodoh. - Aku jadikan $35, tidak satu sen lagi.
- Walter, kau mau mendengarkan? - Ya Tuhan!
- Berapa surat kabar yang lain yang bersedia menggajimu? - Tak ada surat kabar lain.
Kalau begitu kenaikannya batal. Kau kembali pada gaji lamamu. Bagaimana menurutmu?
- Cobalah merayuku... - Aku mau perlihatkanmu sesuatu.
- Aku sibuk. - Ini cincin. Lihat baik-baik.
Kau tahu ini apa? Ini cincin pertunangan.
Cincin pertunangan?
Aku sudah berusaha bilang padamu sekarang ini, tapi kau bakal mulai mengingatnya.
Aku mau menikah, Walter,
aku juga akan berada sejauh mungkin dari bisnis surat kabar semampuku.
- Apa? - Aku sudah selesai.
Menikahlah seperti yang kau mau, Hildy, tapi kau jangan tinggalkan bisnis surat kabar.
- Kenapa tidak? - Aku tahu itu, Hildy. Aku tahu berhenti itu apa artinya buatmu.
- Apa itu artinya? - Itu akan membunuhmu!
- Kau tak bisa menjualku karena itu, Walter Burns. - Siapa bilang aku tak bisa?
- Kau itu wartawan. - Itulah kenapa aku berhenti.
- Aku mau ke suatu tempat di mana aku bisa jadi wanita seutuhnya. - Maksudmu jadi pengkhianat.
- Pengkhianat? Pengkhianatan terhadap apa? - Pengkhianatan terhadap jurnalistik.
- Kau itu jurnalis, Hildy! - Jurnalis? Sekarang, apa itu artinya?
Mengintip melalui lubang kunci? Memburu kendaraan bermotor?
Membangunkan orang tengah malam, menanyakan apa Hitler akan menyulut peperangan selanjutnya?
Mencuri foto dari wanita tua?
Aku tahu semua tentang reporter, Walter.
Banyak wartawan sibuk ke sana kemari tanpa uang di saku mereka
No comments yet. Be the first to leave one.