The first 200 lines.
Sekolah ini telah menjadi rumahku hampir sepanjang hidupku.
Ini telah menjadi tempat perlindunganku.
Ini telah menjadi saksi semua perjuanganku,
rasa sakitku,
kebahagiaanku.
Itu sebabnya aku sedih meninggalkan tempat ini
dan aku sedih meninggalkan kalian.
NIKMATI PENSIUN ANDA DRA. LYDIA BERCASIO
Terima kasih telah bersabar denganku dan semua keanehanku.
Dan terima kasih telah menjadi kolega, teman,
dan keluarga bagiku.
Kalian dan semua kenangan yang kita buat di sini akan selalu ada di hatiku
dan kuharap itu akan selalu di hati kalian juga.
Aku sangat menyayangi kalian.
Meski terkadang aku menjadi pemarah, aku sangat menyayangi kalian semua.
Tapi belajar, serta mengajar,
adalah proses yang berkelanjutan.
Jadi, aku akan terus mengajar,
aku akan terus mencari ilmu,
dan aku akan terus belajar.
Setelah 60 tahun, aku berharap bisa mengajar lebih banyak
dan belajar lebih banyak dalam hidup.
Dan aku juga berharap
untuk lebih bisa menikmati hidup.
Terima kasih banyak untuk kalian semua.
Sudah cukup. Kalian membuatku menangis. Terima kasih banyak.
- Nikmati pensiun Anda, Bu. - Terima kasih.
- Kami akan rindu Ibu. - Terima kasih. Aku juga.
- Terima kasih. - Kami akan rindu Ibu.
- Aku juga. - Kami akan merindukan Anda, Bu.
Terkadang, tekanan di dada bukan berarti ada masalah jantung.
Dalam kasusmu, Lydia, itu karena lapar.
Kau harus makan. Kau tak bisa begitu saja bekerja seharian.
Tidak, aku cuma sangat sibuk beberapa hari terakhir ini
dan lupa memasukkan makan ke dalam jadwalku.
Maaf, Dokter.
Kini kau sudah pensiun, kuharap ada lebih banyak waktu untuk itu.
Oh, Dok. Aku tak yakin soal itu.
Pensiun bukan berarti aku tak punya kegiatan lain.
Hasil tes jantung dan darahmu normal.
Dan dengan hasil bagus ini,
kau bisa hidup 20 tahun lagi atau lebih,
apalagi dengan olahraga teratur dan diet yang tepat.
Wah, 20 tahun?
Apa lagi yang harus kulakukan selama itu?
Lakukan semua yang membuatmu bahagia.
Orang bahagia tidak hanya menikmati hidup.
Mereka cenderung hidup lebih lama juga.
Tapi jika aku terlalu bahagia,
aku bisa hidup sampai 150 tahun. Bukankah begitu?
Ya! Ini kuenya, Bu.
- Taruh saja di sini. - Di sini? Ini dia.
- Bu, pesanan Anda sudah datang. - Oke.
Juga, Bu, mereka butuh KTP lansia Anda.
- Di sana. - Untuk diskon.
Oke.
Ini. Aku baru dapat ini.
Ini pertama kali aku memakainya.
Lihat fotoku.
Apa aku terlihat seperti lansia?
Memang terlihat begitu, Bu.
Apa katamu?
Oh, maksud saya,
mirip anak SMA!
Anda seperti anak SMA! Saya tadi belum selesai bicara.
Oke, baiklah. Karena pujian murahanmu,
aku akan menambahkan 100 peso ke gajimu.
Genapkan 200, Bu.
- Hanya 100. Pergilah. - Baik, saya berikan ini kepada mereka.
Ibu, apa rencanamu?
Aku ingin terus mengajar.
Ibu masih mau bekerja? Ibu harus menikmati hidupmu.
Tapi aku menikmati saat mengajar.
Kenapa tak pergi berlibur? Ke Amerika atau Eropa.
Aku ikut, Oma Dia.
Kau tahu?
Aku lebih suka menulis buku daripada terbang ke luar negeri, Sayang.
Aku tahu. Ibu harus mencoba berkebun.
Aku mungkin akan mengadakan seminar gratis.
Kurasa aku akan melakukannya.
Oke, Ibu. Lakukan apa yang membuatmu bahagia.
Tapi Oma Dia, apa kau bahagia?
Tentu saja, Sayang. Aku bahagia melihat kalian berdua.
Ayo, makanannya enak. Ayo makan.
Ibu, aku bicara dengan Ayah.
Bagaimana kabarnya?
Ayah dan Lannie akan punya bayi. Jadi…
Mereka di AS, jadi Ayah ingin Lannie melahirkan di sana.
Ironi hidup, ya?
Orang yang selingkuh adalah orang yang berakhir bahagia.
Ibu, ayolah.
Aku hanya berpendapat.
Bagaimana kalau kita coba kue ini?
Benar, Leah?
- Ya. - Ini kuemu, Oma Dia.
Hanya sepotong kecil.
Ini dia!
- Hai, Bu Bercasio! - Hai!
- Kalian masih bersama. - Ya, Bu!
- Senang mengetahuinya. Baiklah. - Dah.
Semoga sukses. Dah. Sampai jumpa.
Jadi, ada "selamanya".
Di pertandingan bola basket?
- Ada "selama-lamanya". - Karena kau tampan.
Dan kau pandai main bola basket.
Wah.
Bahkan tong sampah punya pasangan?
Tapi ini menyenangkan. Ason, aku senang kau datang.
Kukira asam uratmu kambuh.
Kau mungkin lolos ke kompetisi "Terbaik dalam Asam Urat Berkepanjangan".
Mau bagaimana lagi? Makanan enak selalu buruk untukku.
Itu tidak benar, Ason.
Tidak semua makanan enak buruk untukmu.
Beberapa juga merupakan tanda cinta.
Tapi Deborah, hal terbaik dalam hidup adalah yang didapatkan secara gratis.
- Kau selalu ingin semuanya gratis. - Benar.
Begitu kau mencicipi masakanku, kau akan mendambakannya setiap hari.
- Bikin ketagihan? - Bikin hipertensi?
Itu bikin mendesah keenakan.
Itu bikin hipertensi.
Amat enak hingga kau akan lupa namamu.
Aku tak mau. Aku tak mau mengidap Alzheimer.
Aku bisa mati.
Jangan katakan itu. Itu bisa menjadi kenyataan.
- Aku tak mau itu. - Makanya.
Ayo ganti baju.
Aku tak ingin telat untuk pemutaran perdana.
- Kudengar filmnya bagus. - Ayo.
- Apa judulnya tadi? - ML.
TIKET
BIASA
SEKARANG DIPUTAR
Boleh aku minta? Aku ingin mengunyah sesuatu selama menonton film.
Aku yakin ini tak akan lama. Ini akan segera dimulai.
Bu, kau sedang mencari seseorang?
- Yang mana grupmu? - Grupku?
Aku tak punya grup.
Tunggu sebentar.
Kami melihatmu di taman tadi.
Bukan, itu pasti orang lain.
Tidak. Aku yakin itu kau.
Aku mungkin tua, tapi ingatanku masih tajam.
Dia orangnya.
Kau kenal seseorang di sini?
Tidak. Aku hanya lewat.
Kau beruntung, filmnya akan dimulai.
Kudengar itu sangat bagus.
Omong-omong, aku Deborah.
- Lydia. - Dan saya Norman.
Hei, para lansia!
Kita punya anggota baru. Ini Lydia.
- Hai, Lydia! - Ini Ason.
- Hai! Aku Ason. - Halo.
Kalian ikut MLM, ya?
Tidak. Dan jangan khawatir, kau tak perlu membayar apa pun.
Keanggotaan gratis?
Tunggu, apa kau lansia? Kau bawa KTP lansia-mu?
Aku baru beranjak 60 tahun.
Maka bergabunglah dengan kami.
Apa yang terjadi di sini? Kenapa aku melihat banyak warga lansia?
Pemutaran perdana hari Senin.
- Benar. - Pemutaran perdana hari Senin?
Para lansia bisa menonton film gratis setiap hari Senin.
Begitu, ya. Aku harus pergi.
Tapi kau di sini. Bergabunglah. Mereka akan segera buka.
- Ini bagus. - Bergabunglah.
- Ayo. Ini Ason. - Kemarilah.
- Dia akan memperkenalkanmu. - Ini Dorothy dan Joel.
Kita sudah dibolehkan masuk. Antreannya bergerak.
Pak Bobby datang. Pak Bobby!
Ini yang kita tonton?
Hai, Pak Bobby.
Aku tak sabar.
Oh tidak.
Lari lebih cepat. Bus akan berangkat.
Bagaimana mungkin?
Kau mengejar bus yang salah.
Kenapa kau ini?
Seharusnya kau bilang kau menyukainya.
Sekarang sudah terlambat.
Kasihan kau.
Kau bisa lakukan lebih baik.
Kalian memang ditakdirkan untuk bersama.
Memang ditakdirkan.
Terima kasih.
Aku tak terlalu banyak tidur karena filmnya sangat bagus.
Tunggu, Lydia!
- Ya? - Ada yang salah? Kau terburu-buru.
Aku kedinginan. Aku mudah kedinginan.
Kau masih kedinginan dengan jaket itu? Badanmu sudah tertutup.
- Dia benar. - Aku mudah kedinginan di bioskop.
Aku pamit, ya? Terima kasih sudah menemani.
Tunggu! Ayo makan dulu.
Terima kasih, tapi aku kenyang makan berondong jagung.
Apa? Berondong jagung?
Aku tak melihatmu membawa berondong jagung.
Aku membelinya saat kalian tidur.
- Kau bisa membaginya dengan kami. - Benar.
- Kau seharusnya bangunkan kami. - Kalian tidur.
- Aku pergi. - Dah.
No comments yet. Be the first to leave one.