The first 200 lines.
AMUDHA DAN RAHUL PENIKAHAN
DIBAYAR KE MAHARAJ G
RESEPSI PERNIKAHAN AMUDHA DAN RAHUL
Selamat menikah.
- Selamat. - Terima kasih.
- Hai. - Terima kasih.
Hai.
Selama seratus tahun, kedua mempelai Harus hidup dengan masyhur
Seperti sepasang burung kukuk di kebun Mereka harus bernyanyi berdua selamanya
Amudha, itu teman-teman kuliahku.
Terima kasih.
- Selamat! - Hai. Terima kasih.
- Selamat menikah! - Terima kasih.
Selamat!
Selamat!
- Selamat menikah! - Terima kasih.
Selamat menikah, Paman
- Paman. Apa kabar? - Hai! Selamat!
- Terima kasih. - Makan dulu.
Ayo, Fathima!
Kawan, izinkan kami bicara dua menit.
Tentu saja. Silakan.
Terima kasih. Ayo.
Pergilah!
Dasar Gen Z!
Jangan buat masalah, Agan.
Aku sudah tak cinta kau. Aku kini istri orang.
Pergilah.
Menikahlah dengan siapa pun. Terserah.
Katakan dulu alasanmu meninggalkanku.
Lantas?
Jangan bahas di sini.
Kau blok Facebook, Insta, dan WhatsApp-ku!
Kau ganti nomor!
Kau pindah dan menikah!
Bagaimana aku harus tanya?
Tunggu sampai anaknya lahir?
Agan!
Alasan!
- Agan. - Alasan!
- Agan! - Katakan alasannya!
Kau sulit dihadapi!
Stop!
Dia putuskan kalung pernikahannya!
Kenapa tak kau ikat dengan benar?
Kembang api bersahutan
Aku si raja hutan ini
Kembang api bersahutan
Aku si raja hutan ini
Apa pun kisahnya Akan sempurna bagiku
Amarahku akan membuatmu Kembali ke penciptamu
Kembali ke penciptamu
Aku tak sengaja!
Tak sengaja, Bu. Tak sengaja, Pak.
- Tak sengaja! - Stop, Berengsek!
- Maaf, tak sengaja! - Tangkap dia!
Dia ke sana! Kejar!
Kembang api bersahutan
Aku si raja hutan ini
Kembang api bersahutan
Aku akan meledak Jika kau menyentuhku
Tembak aku Maka tamatlah kau
Aku hanya bersantai Dan bergaya
Apa ada yang sengaja lakukan ini?
Bersiaplah Trikku akan menghabisimu
Tak sengaja!
Apa pun kisahnya Akan sempurna bagiku
Tak sengaja!
Amarahku akan membuatmu Kembali ke penciptamu
- Keluar, panggung kanan! - Kejar dia!
Keluar, panggung kiri!
Keluar, turun!
Tak sengaja!
Jika tertangkap, aku tak akan diampuni!
Kembang api bersahutan
Tanganku!
Kakiku!
Kakiku!
Kembang api bersahutan Trikku akan menghabisimu
Tembak aku Maka tamatlah kau
Stop! Kalian mau mengeroyokku?
Ayo satu lawan satu!
Berikan kalung pernikahannya!
Beri aku ruang dulu!
Aku hanya bersantai
Dengan gaya
Bersiaplah
- Trikku akan menghabisimu - Tak sengaja!
Tak sengaja!
Kau tak apa, Sayang?
Memutus kalungnya itu salah.
Tapi memukul wanita itu lebih salah!
Kau istri dia atau istriku?
Aku akan meledak Jika kau menyentuhku
Tembak aku Maka tamatlah kau
Aku hanya bersantai
Dengan gaya
Bersiaplah
Trikku akan menghabisimu
Kembang api bersahutan
Aku si raja hutan ini
Kembang api bersahutan
Tahan dia!
Pegang!
Kau memutus kalung pernikahannya!
Minggir!
Awas!
Sana!
Minggir!
- Bangun! - Tangkap dia!
- Kenapa ribut? - Ayo. Mundur!
Beraninya kau merusak kalung pernikahan!
Tunggu! Diam!
- Ayo! - Ikut.
Ayo!
Maaf, aku berlebihan.
Jika kau tak suka, ya sudah.
Tak peduli alasannya.
Astaga!
Selamat menikah.
Usir dia!
Minggi! Kami sudah menahan dia.
Bawa dia!
Pak? Agan?
Periksa ke dalam.
Tehmu, Pak.
Pak? Agan?
Tanya dia.
- Pak? Agan? - Tanya Inspektur di dalam.
Pak?
Agan?
Si pembuat onar di pernikahan?
Siapa kau?
Sepupunya.
Sepupunya?
Bawa ayahnya ke sini. Pergi!
Ayahnya sudah tiada, Pak.
Bawa ayahmu! Dia paman Agan, 'kan?
Ayahku sibuk, Pak.
Dia sibuk?
Apa dia pemungut pajak?
Menteri, Pak.
Aku tak paham.
Menteri Pengembangan Susu. Athiyamaan Azhagappan.
Apa katamu?
- Cepat keluarkan orang itu! - Baik!
Kenapa tak bilang dari tadi? Duduklah.
Tak apa-apa.
- Duduklah! - Tak apa. Berdiri saja.
Di mana kemejanya?
Robek saat berkelahi.
Tak ada kemeja lain?
Tak usah. Begini sejuk.
Apa-apaan?
Kenapa cemberut?
Aku tak sengaja merusak kalung pernikahannya.
Sekalian siram asam ke wajahnya.
Biar kau lebih tenang!
Wajar kau marah.
Maaf.
Kau berkelahi dengan tubuh begitu?
Apa kau bisa kalahkan sepuluh orang?
Seratus orang pun aku tahan.
Dasar tak tahu malu!
Kenapa belok kanan?
Lahir di desa kecil, banyak cobaan politik,
dia tetap meraung bagai singa.
Kita di ruang kerja Athiyamaan, Menteri Pengembangan Susu.
Selamat datang di tur rumah Menteri Athiyamaan.
Baik, Pak.
Kau tak pernah lupa masa lalu.
Ceritakan masa mudamu.
Kenapa harus bicara? Kutunjukkan saja.
- Selamat datang! Sehat? - Salam, Pak!
Salam!
- Sayap wanita Vellore! Salam! - Tunggu!
- Salam! - Dia akan kembali!
Astaga!
Engkau maha pemberi Ibu yang murah hati
Begitulah masa mudaku!
Dari menjual susu perahan, hingga jadi Menteri Pengembangan Susu!
SUSU M. ATHIYAMAAN
Baik. Bagaimana dengan sepeda itu?
Sepeda itu?
Permisi! Itu kendaraan yang mengantarku ke sini!
Kau membicarakannya dengan begitu santai.
Dulu aku jual susu naik ini, dengan rompi dan celana pendek!
"Susunya, Bu!"
"Susunya, Pak!"
"Susunya, Kak!"
Semuanya baik!
Tempat apa itu, Pak?
TUGU PERINGATAN KURALARASI
Adikku, Kuralarasi.
Dia dewi keluarga kami.
Dia yang pertama bisa membaca
di keluarga kami.
Semua itu sia-sia.
Dia jatuh ke sumur. Terlalu cepat tiada!
Turut berduka.
No comments yet. Be the first to leave one.