The first 167 lines.
Kencho, Shizuka-san,
apa kalian tahu "Mindfulness"?
Maksudmu fokus kepada saat-saat ini tanpa memikirkan masa lalu atau masa depan, 'kan?
Aku sudah berulang kali melatihnya dalam latihan bisnis.
Benar sekali, aku juga berharap
suatu saat nanti batinku bisa setenang itu.
Anu, Akira, terus terang saja.
Tanpa begini juga kau aslinya sudah mencapai
Mindfulness.
27. Mencoba yoga di atas papan selancar
27. Mencoba yoga di atas papan selancar
Yah, lancar, lancar!
Aku sudah menyelesaikan lima belas daftarku secepat ini!
Sebulan lagi kayanya bisa seratus, nih?
Kayanya kamu ingin dimakan zombie setelah itu, ya?
Jaraknya berapa lama lagi?
Kira-kira satu jam lagi.
Itu pun kalau tidak ada halangan, kan?
Kalian kira sudah berapa hari kita meninggalkan Tokyo?
Yang penting sampai disana saat musim panas!
Apa itu?
Ada penyintas?
Bannya bocor tergelincir!
Yosha, saatnya kostum hiuku unjuk gigi!
Hah? Kamu mau menerobos mereka?
Lah, sudah dipakai.
Sudah cukup, para zombie!
Takkan kubiarkan kalian sesukanya lagi!
Pahlawan super, Akiraiger...
Apa ini? Drama sejarah?
Keren!
Danke schon.
Hamba ucapkan terima kasih telah datang membantu.
Nama hamba Beatrix Amerhauser.
Orang asing?
Cewek?
Kok kalian kagetnya bagian itu, sih?
Peresetan penuh ledakan kegilaan
Bermatoformosis menjadi kehidupan klasik
Pada zaman dahulu-dahulu kala
Umat manusia hanya makan, tidur, seru-seruan
Penderitaan tiada henti, dipaksa kerja bagai kuda
Sudah jadi tradisi yang sering muncul di berita pagi
bangun pagi lagi-lagi yak makan burger
Bodohnya aku bermimpi hal supranatural akan mengubah situasi nirkuasa
Sekali dalam hidupku ingin kumenari-nari jingkrak-jingkrak
Karena manusia pasti akan bertemu ajalnya
Sia-sia jika galau terus-terusan
Menari-nari hinga pagi-pagi
Putar ulang dan mulailah hal-hal baru
Lakukan semua yang diinginkan
Setiap malam selalu
Terus bersenang-senang hingga bosan
Kau datang jauh-jauh dari Jerman karena mengagumi Jepang?
Yah!
Kebudayaan Jepang benar-benar menakjubkan.
Kyoto, Gunung Fuji, upacara minum teh, merangkai bunga.
Aku sangat suka negara ini, jadi aku banyak mempelajarinya.
Makanya kau serba Jepang?
Tapi ini bagus untuk menghadapi zombie,sih.
Ruang pendingin?
Ikan?
Aku harus mengantarkan ikan-ikan itu.
Tapi...
Sekarang aku sudah enggak bisa lagi.
Aku punya permintaan kepada kalian, para pemberani.
Maukah kalian mengatarkan ikan-ikan ini bersamaku ke Takasaki?
Kita bisa memutar lewat Takasaki, sih.
Tapi kalau makanan ini untuk penyintas, kita harus bantu, 'kan?
Tapi dari risiko di tengah jalan ....
Kenapa kau bersikeras ingin ke sana?
Sejak aku pertama kali mengenal kebudayaan Jepang dari TV,
aku berkeinginan untuk pergi ke Jepang.
Saat akhirnya uang tabunganku sudah cukup,
dan aku sampai di Narita pada pagi hari itu,
malah sudah terjadi pandemi itu.
Aku tak pernah melihat lagi keindahan Jepang yang kukagumi ....
Namun, aku ingin merasakan langsung sendiri kebudayaan Jepang yang telah lama kukagumi.
Akhirnya aku telah menemukannya ....
Koki sushi terakhir yang masih bertahan!
Sushi?
Koki itu berjanji akan menghidangkan sushi enak setruk asalkan aku antarkan ikan-ikan ini!
Dia cuma ngidam sushi!
Beatrix-san.
Aku telah memahami kecintaanmu terhadap kebudayaan Jepang.
Ikan-ikan itu ...
7. makan puas di warung sushi tradisional
... mari kita antarkan ke Takasaki dengan segenap nyawa kita!
Dia juga cuma ngidam sushi!
. Danke schön.
Kamu benar-benar sosok prajurit sejati!
Ayo bergegas, teman-teman!
Kesegaran ikan-ikannya nanti semakin berkurang!
Yay! Banzai! Yay! Banzai!
Sekarang saatnya kita tunjukkan keramahan kita!
Warung sushinya ada di dalam gang di tengah Ginza.
Warung di tengah gang, ya? Wangi-wangi warung kuno!
Wangi-wangi warung terkenal!
Namun, terakhir kali aku menghubunginya adalah tiga hari lalu.
Semoga saja kokinya masih selamat.
Hei, hei, mereka ada berapa banyak, sih?
Ayo maju, Beatrix-san.
Iya, Akira-san.
Yah, semangat kalian sih bagus, tapi memang kalian punya rencana?
Nihil!
Otak mereka cuma main asal terobos, ya?
Rencana pasti akan muncul kapanpun.
Hidup di dunia tidaklah sendirian.
Kalau memang niat, ayo kita makan sushi yang enak bersama-sama.
Kali ini niruin Romansa Tiga Kerajaan.
Hei, sebelah sini, zombie!
Makan nih bokong!
Tangkaplah kalau bisa!
Sebelah sini!
Sekarang, Akira!
Beatrix-san!
Serahkan pada hamba.
Shizuka-san!
Aku sudah kumpulkan semuanya.
Apa kau sudah siap?
Tentu.
Tidak ada celah lagi.
Waktunya telah tiba.
Sekarang, nyalakan apinya!
Baik!
Panggang jadi sate!
Lah, kok masih banyak banget?
Buruan nyalain apinya!
Ba-Baik!
Eh?
Korek apinya susah nyala ....
Buruan!
Ini gawat.
Kalau dibiarin, para zombie bisa melumat mobil kita!
Masa ... berarti ikan-ikan kita ....
Jumlah mereka terlalu banyak.
Ini sudah berakhir.
Keraguan ...
... hanyalah alasan untuk menghindar.
Ini bukan masalah bisa atau tidak.
Tapi tentang semangat pantang menyerah dalam hatimu!
Dia cuma ngidam sushi.
Ketimbang tidak bisa makan sushi setelah sejauh ini,
mending jadi zombie sekalian!
Beatrix-san ....
Hamba telah menunjukkan aib hamba.
Hamba tidak akan ragu lagi.
Ayo maju, Akira-san!
Iya!
A-Akira-san!
Serahkan padaku!
Sialan, mereka tak ada habisnya.
Akira-san, jika terus begini ....
Itu kan ....
Walkaman punyaku.
Ini aku beginikan.
Anu, ini mau untuk apa?
Kita tak tahu apa yang akan terjadi, jadi harus tetap siapkan rencana B.
Jadi ini ....
Lihat zombienya!
Mereka terpancing pergi.
Aku enggan melakukannya karena menimbulkan banyak kerugian.
Tapi tak ada cara lain.
Waktunya telah tiba lagi.
Bakar!
Yosha!
Malam ini makan sushi sepuasnya!
No comments yet. Be the first to leave one.