The first 200 lines.
Tolong! Tolong! Tolong! Tolong!
Tolong! Tolong! Tolong!
Jangan!
Tolong!
Kumohon! Hentikan!
Jangan!
Kumohon jangan!
Jangan!
Kumohon, jangan!
Hentikan. Kumohon jangan!
-Letakkan! Letakkan! -Lepaskan aku! Hentikan!
-Jangan! -Ayo!
Diam! Diam!
Siapa kau brengsek?
Kematian.
Kumohon... kumohon...
Kumohon jangan... Jangan tembak.
Kumohon jangan!
Sedang kerja keras, ya?
-Hai, Erica. -Ini rancanganmu untuk pusat seni yang baru?
-Kau pasti bangga melihat gedung hasil rancanganmu. -Memang.
-Aku buat gambar baru. -Coba kulihat.
-Kau baik-baik saja? -Tentu. Bagaimana menurutmu?
-Lumayan juga. -Benarkah?
Ya. Tidak hebat. Tapi bagus sekali.
Sebentar.
-Halo? -Bagaimana semuanya?
Baik. Erica ada disini.
-Terima kasih telah meluangkan waktu bersamanya. -Ia menyenangkan.
Sangat berbakat. Aku jadi ingat...
-Artikel yang kau tulis tentang penyiksaan istri, bagus sekali. -Kau suka?
-Membuatmu marah? -Tentu.
-Jadi makan malam di rumah? -Tentu. Aku berangkat jam 18.00.
-Pulang jam 22.30. -22.30?
-23.00. -Ibu! Itu Randy. Aku pergi dulu.
-Kubilang jangan lewat 23.00. -Baik. Jika aku jadi kalian, hanya berdua di rumah...
Lebih baik di rumah daripada ke bioskop.
Oh, ya? Pergilah.
Sampai jumpa.
-Apa kabar? -Baik.
Kaukira aku yayasan amal? Jika belum bayar, tak bisa.
-Ayolah, JoJo. Aku butuh... -Dia tak ada uang. Pergilah.
-Halo semua. -Apa kabar?
-Lihat dia. Ayo kita mengobrol. -Aku segera menyusul.
-Kita harus bicarakan bisnis. -Terima kasih.
-Aku akan bersama Erica. -Kalian ada rencana apa malam ini?
Ada paket khusus untukmu. Sesuai janjiku.
-Kau pasti suka. -Terima kasih.
Ini hanya cukup untukmu. Jangan bilang pada pacarmu.
Tentu.
Filmnya mulai jam 20.30.
Film berdurasi 2 jam. Kita bisa pulang sebelum Erica.
-Bagus. -Apa pendapatmu tentang Randy?
Ia berprestasi di sekolah. Ia baik. Kenapa?
Aku mencemaskan Erica. Ia sudah seperti anakku sendiri.
Manis sekali. Ia juga begitu terhadapmu. Ia mencintaimu.
-Ayo pergi, nanti terlambat. -Kau tak bisa menghindar semudah itu.
Sudah 2 tahun kita bersama, dan...
Kau mau ada ikatan.
Ya, benar.
Halo. Ya.
Ya Tuhan!
-Randy, ada apa? -Ny. Sheldon? Aku Dr. Rosenblatt.
-Anakku kenapa? -Ia overdosis.
-Itu konyol. Ia tak pakai narkoba! -Malam ini ia pakai.
-Kode biru di kamar 6. -Dokter, denyutnya berhenti.
-Kau beri Narcain dengan glukosa? -4 Ampere. Tidak ada respon.
-Kalian tak boleh masuk. Tunggu diluar. -Alice, kita kejutkan dia.
Semuanya menjauh. Siap!
Teruskan. Jangan berhenti. Naikkan jadi 300 Watt.
Semuanya menjauh. Siap!
Teruskan. Ia masih belum stabil.
Beri 75mg lidocaine dan kejutkan lagi. Cepat!
-Pupilnya melebar. -Jangan berhenti. Coba kulihat.
Dia sudah meninggal.
Ny. Sheldon...
Aku turut berduka.
Brengsek kau!
Lepaskan aku! Pergi!
Itu bukan salahku. Mungkin obatku terlalu kuat baginya.
Omong kosong!
Kau membunuhnya!
-Tidak, tak ada yang memaksanya. Itu keinginannya. -Kita lihat apa pendapat polisi.
-Apa maksudmu? -Pikirkan sendiri. Kau yang berikan paket itu padanya.
Aku akan laporkan pada polisi semua yang kuketahui!
Perhatikan kata-kataku. Polisi! Kau akan mati seperti dia!
Selamat jalan, bung!
Hey!
Tetap di mobil! Tolong matikan listriknya!
Matikan listriknya!
-Apa yang terjadi? -JoJo seorang pengedar.
Ia ribut dengan Randy, menusuknya, lalu ia ditembak pengedar lain.
-Kenapa? -Entah. Mereka tak perlu alasan.
Sersan Reiner, anak ini melihat penembaknya.
-Bukan wajahnya, tapi mobilnya. -Ya?
-Ya. Mobil Tornado biru. -Plat nomornya?
-3 Nomor terakhirnya 226. -Kau yakin hanya ingat itu?
-Kau yang detektif, bukan aku. -Ayo.
Anak yang ramah.
-Ayo bermain jadi detektif. -Baiklah.
-Halo? -Tn. Kersey?
-Ya. -Sudah dapat pesanku?
-Siapa ini? -Kita harus bertemu untuk bicarakan hal yang menguntungkan kita berdua.
Aku tak akan pergi sebelum tahu siapa kau dan apa maumu.
Jika menolak, kulaporkan semua yang kuketahui pada polisi.
Dan aku tahu banyak. Mengerti?
Bagus. Lihatlah ke jendela, ada limosin parkir di luar.
Aku tak sabar ingin bertemu kau.
Ini Tn. Kersey.
Selamat malam, Tn. Kersey.
Atau harus kusebut Pembantai Penjahat?
Jika ini pemerasan, kau buang-buang waktuku.
Rumahmu bernilai lebih dari penghasilanku seumur hidup.
-Kau tahu siapa aku? -Haruskah aku tahu?
Nama Nathan White ada artinya bagimu?
Kau pemilik koran itu.
Aku tak mengincar uangmu.
Melainkan keahlianmu yang profesional.
Aku ingin kau membunuh seseorang.
Istriku tewas kecelakaan mobil 10 tahu lalu.
Putriku Lisa menjadi tujuan hidupku.
Tahun lalu ia mulai kuliah dan segalanya berjalan dengan baik.
Tiba-tiba segalanya berubah. Nilai- nilainya merosot, ia berhenti kuliah.
Ternyata ia mulai memakai narkoba.
3 bulan lalu...
...ia tewas karena...
Aku tahu tentang putri kawanmu Tn. Kersey.
Aku juga tahu kau tembak pengedar yang memberinya narkoba.
...tapi bagaimana dengan orang-orang dibelakangnya?
Berapa anak lagi yang akan mereka hancurkan...
...sebelum kita bilang, "Cukup", Tn. Kersey? Berapa?
Aku beli banyak informasi tentang pengedar-pengedar terbesar di Los Angeles.
Kuberi uang, senjata, nama, apapun yang kauinginkan.
Semua pembunuh. Mulai dari pengedar kecil hingga bos terbesar.
Semua yang berkaitan dengan narkoba layak mati.
Mereka harus dihentikan, Kersey.
Aku perlu pikirkan beberapa hari.
Saat Michael wafat, Erica baru berusia 5 tahun.
Aku berjanji pada Erica.
...apapun yang terjadi, ia akan selalu kudahulukan. Aku mengecewakannya.
Aku terlalu sibuk bekerja hingga tak sadar apa yang terjadi.
Hentikan sekarang juga! Aku tahu perasaanmu karena pernah kurasakan.
Kau merasa bersalah tapi itu tak benar. Bukan salahmu Erica tewas...
...tapi karena narkoba terkutuk itu.
Aku begitu marah!
Aku merasa tak berdaya. Aku ingin lakukan sesuatu.
Aku tak tahu harus bagaimana.
Kau penulis, tulislah.
Agar orang tahu tentang narkoba. Galilah terus tentang itu.
-Kau mau tulis tentang apa? -Narkoba.
-Oh, Karen, setiap... -Aku memang terlibat secara pribadi, karena itu aku harus lakukan.
Aku ingin tahu kenapa ia tewas, dan salah siapa.
Masalahnya tak ada yang peduli. Semua orang pakai narkoba.
Bukan hanya preman, kaya miskin, dokter, pengacara, sekretaris.
Ini gaya hidup baru di Amerika. Mereka tak akan mau baca. Mereka sudah tahu dan tak peduli.
-Kita buat mereka peduli. -Sudahlah, Karen.
Pat, ini penting bagiku.
Baiklah, tapi selalu lapor padaku.
Aku tak mau kau celaka. OK?
Baiklah.
-Kau yakin mau lakukan ini? -Ya.
Kuharap kau tak segera mual.
-Kau dari koran mana? -Tribune.
-Kau cuma mau lihat yang berkaitan dengan narkoba, kan? -Benar.
Pria 18 tahun.
Tewas saat pipa pemanas meledak di wajahnya.
Mau lihat mayatnya?
Pria 19 tahun. Rampok toko minuman demi uang untuk beli narkoba.
Gadis berumur 17 tahun.
Tewas karena serangan jantung akibat pakai kokain terus menerus.
Gadis 13 tahun. Jual diri untuk menunjang kecanduannya.
-Salah seorang pelanggannya menggorok lehernya. -13 tahun?
Ya, Tuhan...
Semua masih anak-anak!
Bagus, ini untukmu.
Bersenang-senanglah malam ini. Jika perlu lagi, kembali padaku.
Halo, halo.
Tampaknya kau mau berpesta.
Kau datang ke tempat yang tepat. Aku punya barang terbaik.
Aku tak mau itu, tapi informasi.
Rem yang di kiri!
-Informasi apa? -Pelaku, barang, dan pimpinannya.
-Untuk apa itu? -Memang penting?
-Kau bukan polisi, pasti wartawan. -Jika tak mau, kucari orang lain.
Aku tak bilang tak tertarik. Informasi yang kauminta itu bernilai sangat besar.
-Sangat besar. -Berapa?
Ini terakhir kali kita bertemu di rumahku. Mulai kini kita harus sangat hati-hati.
Ada 2 kelompok pengedar di LA.
Satu dipimpin Ed Zacharias, Lainnya dipimpin dua bersaudara, Jack dan Tony Romero.
Mereka kendalikan 90% narkoba di California Selatan. Kau percaya?
Pengedar yang kautembak itu anak buah Ed Zacharias.
Ini semua informasi tentang mereka. Foto, biografi, semuanya.
Tahu lalu, Jack dan Tony memasuki wilayah Zacharias, perang timbul.
Zacharias segera mendamaikan.
Tapi sumbu sudah tersulut dan terbakar semakin pendek.
-Akan kutangani ini dengan caraku. Kau jangan ikut campur. -Baiklah.
Aku butuh beberapa hal. Katamu kau bisa menyediakan senjata?
Bicaralah dengan orang ini. Ia akan berikan semua yang kauminta.
-Detektif Gruer, telepon di saluran dua. -Kau tak akan percaya ini.
Aku bicara dengan tim forensik. Pelaku pembunuh Jojo diperiksa.
No comments yet. Be the first to leave one.