The first 200 lines.
Halo, Bu.
Ya...
"Episode 43"
Ya...
Aku mau menemui Bu Kang.
Dia di sini?
Ya.
Tapi kamu tampak amat berbeda hari ini.
Kamu yang datang kali terakhir, bukan?
Ya, apa kabar?
Ya, tentu saja. Kami baik-baik saja.
Mi Ri.
Mi Ri, bangun.
Mi Ri, dia datang.
Anak buahmu yang kamu bawa pulang kali terakhir.
Dia datang mau menemuimu dan sedang ada di luar.
Ada apa di antara kalian?
Apa ada yang tidak beres?
Ibu, aku harus bergegas keluar sebentar.
Mi Ri, hei.
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Dia tampak agak berbeda.
Mi Ri!
Bu Kang.
Mi Ri, kamu keluar.
Kamu mau secangkir kopi atau semacamnya?
Hei, Mi Ri.
Maaf, aku pamit dahulu.
Aku akan datang dan berkunjung lagi lain kali.
- Tunggu... - Tapi...
Kak, apa yang sebenarnya terjadi?
Astaga.
- Bu Kang. - Bu Kang?
Aku bukan bosmu.
Kamu tidak punya bos di mana pun.
Aku tahu.
Aku membuat kesalahan besar.
Serta aku tidak punya alasan untuk itu.
Tapi tolong dengarkan dahulu.
Tolong beri aku kesempatan.
Kesempatan apa?
Kesempatan bagiku untuk mengubah pikiranmu.
Sikap,
nyali, martabat, kepercayaan diri yang tidak seperti anak baru lain,
serta kedermawanan dan ketenangan yang tidak terduga.
Aku selalu ingin tahu itu dari mana. Kenapa?
Itu hal-hal
yang tidak bisa dimiliki orang yang gigih sepertiku.
Tapi kini aku paham.
Kamu punya orang tua kaya.
Kamu dari Grup HS.
Kamu tahu kamu mampu melakukan segalanya.
Jika mau, kamu bisa punya segalanya.
Itukah alasanmu
bermain-main dengan bosmu,
seorang wanita?
- Bu Kang! - Kenapa kamu
tidak mengungkapkan siapa dirimu sejak awal?
"Aku bukan sekadar anak baru."
"Aku penerus Grup HS."
"Aku punya kekuasaan dan uang."
"Pada akhirnya Grup HS akan menjadi milikku."
"Aku akan menjadi pimpinan yang berikutnya,
jadi, mari bersenang-senang."
"Aku akan memastikan kariermu."
Aku sungguh mencintaimu.
Sampai sekarang pun begitu.
Aku tulus soal pernikahan kita.
Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.
Aku tidak peduli
aku anak pimpinan atau seorang penerus.
Aku mau memberi tahu kebenarannya
saat aku akhirnya bisa menjadi pasanganmu.
Tapi kurasa aku salah.
Aku sudah berpikir ribuan kali
bahwa aku harus memberitahumu.
Aku menyesal tidak memberitahumu.
Aku sungguh menyesal.
Jangan.
Kamu tidak berbuat salah.
Kamu bertindak dengan caramu.
Aku yang terlena dengan hal itu.
Aku yang tertipu dan terayu
oleh hal tidak berwujud seperti cinta dan pernikahan.
Jadi, kumohon
tinggalkan aku sampai aku bangkit kembali...
Tidak, bahkan setelah aku bangkit,
jangan pernah tunjukkan wajahmu.
Aku tidak bisa melakukan itu.
Aku akan mengurusmu.
Siapa kamu sampai mengurusku?
Han Tae Ju, biar kuperingatkan.
Jangan membuatku sengsara lagi!
Jangan bilang apa-apa dan pergilah.
Bu Kang.
Aku tidak akan menyalahkanmu.
Tapi
di antara semua orang yang kutemui dalam hidupku,
kamu
bedebah terburuk.
Bu Kang.
Bu Kang.
Hei.
Mi Ri, ada apa?
Paman, saat orang dari perusahaan
datang mencariku, bilang saja aku tidak ada.
Paman harus tahu ada apa.
Jadi, paman bisa bilang kamu ada atau tidak.
Ada apa dengannya?
Tetaplah di sini.
Kamu, Mi Ri!
Kemari dan duduklah.
Katakan ada apa.
Aku
keluar dari perusahaan.
Kenapa?
Bukan apa-apa.
Promosiku ditarik, jadi, aku marah.
Bagaimana dengan pria itu?
Tamu yang katamu mau kamu bawa ke rumah.
Bukankah dia pria itu?
Benar.
Lalu?
Aku keluar dari perusahaan.
Jadi, kurasa
aku harus mengakhiri hubunganku dengannya.
Jangan konyol.
Jika mau mengakhiri hubungannya dengannya hanya karena
kamu keluar perusahaan, kenapa mengundangnya ke rumah?
Apa kamu segegabah itu?
Maaf.
Aku sungguh minta maaf.
Bukankah katamu
kamu mau
memberi tahu semuanya saat terjadi sesuatu?
Ada sesuatu
yang tidak kamu katakan, bukan?
Tidak, itu semuanya.
Sungguh?
Ya.
- Selamat datang. - Tolong depositkan ini untukku.
- Deposit, Bu? - Ya.
Cucu Anda amat menggemaskan.
Dia tidak menggemaskan sama sekali.
Dia membuatku tersiksa.
Aku merasa tulangku meleleh.
Menantuku selalu menatapku tajam
agar aku mengasuh cucuku.
Aku melakukan ini karena tidak punya pilihan.
Tapi sungguh ini melelahkan.
Tulangku sakit semua.
Setidaknya kalian masih muda.
Astaga.
Kenapa Anda marah kepada kami, Bu?
Kalian semua sama saja.
Aku tahu kalian membuat orang tua kalian
mengasuh anak kalian saat melahirkan nanti.
Anak muda zaman sekarang amat egois.
Aku lebih baik mengidap Alzheimer
daripada harus mengasuh cucuku.
Jika aku berbuat gila,
mereka tidak akan memintaku mengasuh anak mereka.
Bu,
Anda pasti amat stres.
Duduklah di sana.
Akan kuselesaikan segalanya dan kubawakan untuk Anda.
Astaga, cucu Anda tetap manis.
Jika dia manis, kamu saja yang mengasuhnya.
Berhentilah bercanda.
Aku membesarkan tiga anak seorang diri.
Da Bin di sini?
Ya.
Dia sedang mencuci tangannya.
Sungguh?
Mari bicara sebentar.
Tidak.
Aku tidak mau bicara apa-apa denganmu.
Jangan begitu.
Duduklah.
Ayolah.
Ada apa?
Kamu mau lulus dari pernikahan?
Atau kamu mau bercerai?
Maaf.
Apa katamu?
Kubilang maaf.
Ya,
entah aku bersalah atau tidak,
memang benar
aku membuatmu dan anak-anak malu.
Jadi, maaf.
Aku tidak percaya ini.
Kamu baru saja meminta maaf?
Ya.
Berapa kali aku harus mengulanginya?
Aneh sekali.
Serta
aku berhenti
dari klub golf dan tembikar.
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.