The first 200 lines.
=Pacarku Pianis=
=Episode 1=
Pelan-pelan!
Mereka telah datang.
Mu Liunian, Luo Zijia!
Sepanjang liburan tidak bertemu,
masih belum ditangkap ayah kau untuk ke Amerika?
Musik kalah ahli denganku, berkendara kalah ahli denganku.
Kau hanya tersedia kecerdasan saja.
Aku beri tahu kau, aku tidak nyaman dengan mobil baruku.
Tunggu mobil-mobilku selesai diperbaiki,
kau lihat saja aku pasti menyaingi kau.
Aroma parfum murahan di badan kau sampai aku bisa menciumnya.
Hei...
Pohon tua seperti kau, kapan berbunga?
Sampai kemampuan musik kau melampauiku, aku pasti berbunga.
Kau...
Wah, Dewi...
Maukah kau jadi pacarku hari ini?
Hei!
Ini kopiku.
Baiklah.
Siapa sih mereka berdua?
Sombong sekali sih?
Kau tidak tahu?
Dua lelaki pujaan Xing Chen, tidak tahu?
Siswa nomor satu dan dua, yaitu Mu Liunian, Luo Zijia.
Mu Liunian?
Kak Liunian.
Siswa cantik berambut panjang ini adalah teman sekamarku, Luo Xi.
Keahliannya bermain biola.
Saat ini, dendam terhadap mantannya yang selingkuh
sudah memuncak hingga sangat emosional.
Kurang ajar!
Kawan!
Dia adalah Xiaoying, gadis yang suka kebudayaan 2D.
Kelihatannya polos, tapi hatinya busuk.
- Manusia lebih menakutkan dari setan. - Keahliannya bermain selo.
Dia... Aku rasa kau jangan melepasnya,
harus membuatnya jera, semangat!
Di dunia ini
ternyata hanya ada dua hal yang tak dapat dikendalikan.
Yang pertama sakit gigi, satu lagi yaitu cinta.
Tapi saat gigiku sakit bisa cari dokter.
Tapi saat cintaku bermasalah,
aku harus mencari siapa?
Apakah kau sungguh bodoh?
Kalau yang ini...
Ucapannya keras tapi hati lembut.
Khusus untuk menyadarkan gadis yang dilema cinta.
Ahli masalah percintaan.
- Lagipula di dunia ini paling tampan - Wang Chun.
dan juga yang baik pada kau, sangatlah banyak.
Kalau aku sendiri...
adalah bidadari yang cantik, bijaksana,
terampil, baik hati dan masih banyak lainnya.
- Luo Xi, - Yang Chumo.
Jangan marah lagi.
Siapa yang saat muda tak pernah jatuh cinta dengan pria brengsek?
Apa kau sendiri paham yang dimaksud cinta?
Cinta.
Dengar-dengar kalian pindahan baru.
Ibuku menyuruhku mengirim beberapa kue.
Halo!
Mari pahami Konser Mu Liunian.
Terima kasih!
(Konser Musik Mu Liunian Orkes Piano Tunggal)
Halo, Ibu.
Chumo, Sudah dapat gaji bulan ini?
Di tempat kau ramai sekali.
Kau sedang di mana?
Ah, aku di bandara, banyak sekali penggemar di sini.
Aku bilang, sudah terima gaji belum?
Waktunya bayar sewa rumah,
- uangnya tidak cukup. - Aduh, aku sekarang mau wawancara.
Kalau aku tidak wawancara pekerjaan yang bagus, dapat gaji dari mana?
Tidak bisakah kau berhenti jadi penggemar artis?
Kalau senggang kunjungi toko.
Aduh, jaringan bermasalah tidak terdengar jelas,
- Sudah, sudah. - Ei, ei, ibu...
Aiya, sudah siang, mau terlambat ini.
Hei, seseorang di sini? hey anyone here
Kau, kau. you you
Kau mau bertanding denganku sekarang? you wanna battle me now
Seseorang... kau, kau. anyone you you
- Dia sudah naik. - Dia siapa?
Memang dia bisa?
Sungguh berani.
Wah, luar biasa. wow that was amazing
Aku tidak pernah bertemu yang sehebat kau. I've never seen such a genius like you
Terima kasih banyak. Thank you very much
Terima kasih.
Mu Liunian...
Kau masihkan ingat denganku?
Kau siapa?
Aku, Yang Chumo.
Kau, kau tidak ingat?
Sudah lupa.
Masa sih?
Kita sering main bersama saat kecil.
Kau juga mengajariku mengerjakan tugas.
Kau sedikit pun tidak ingat?
Masa iya?
Iya ada.
Aku beri tahu kau,
aku sekarang juga belajar di Xing Chen.
Kita berdua satu alumni.
Kebetulan sekali?
Tidak mungkin?
Kau ingat-ingat lagi.
Sudah ingat?
Aku beri tahu kau,
aku tidak ingat sama sekali.
Halo!
Apakah kau pianis yang akan wawancara hari ini?
Halo, iya saya.
Saat ini suasananya mendukung,
kau bisa main satu lagu?
Tidak masalah.
Kak Liunian.
Ada apa dengan kau?
Aku sakit kepala karena mendengar permainan musik kau yang jelek.
Aku tahu permainan yang tadi jelek,
tapi beberapa tahun ini aku selalu berlatih dengan sungguh-sungguh.
- Maka dari itu aku diterima Xing Chen. - Sungguh-sungguh?
Permainan lagu tadi yang kau maksud?
Kalau begitu lupakan saja.
Aku hari ini karena gugup,
jadi lepas kontrol.
Tapi kau tidak ingat?
Kau bilang, kalau aku jadi mahir main piano,
kau akan menyukaiku,
jadi aku selalu...
Jadi sekarang kau merasa sudah cukup mahir?
Aku...
Kalau tidak cukup mahir,
kita lebih baik tidak saling kenal.
Jadi kau daritadi sengaja pura-pura tidak kenal, benar, kan?
Aku rasa tiap orang
boleh memilih yang disukai,
tidak perlu terpaksa memilih yang tidak disukai.
Maaf.
Oh ya,
kalau kau tidak suka bermain piano,
tidak kerja keras dan korbankan waktu,
saranku lebih baik menyerah di awal.
Dengarkan aku baik-baik.
Kau boleh terus berpura-pura tidak mengenalku.
Tapi jangan remehkan sikapku pada musik.
Mohon maaf.
Kau lihat cara pria tadi bermain,
sangat membanggakan kami,
kau?
Suasana yang begitu bagus,
kau rusak begitu saja.
Restoran kami tidak mampu menerima kau.
Segeralah pergi.
Bos.
Aduh, sejujurnya
kemampuann kau ini,
pergi dan banyaklah berlatih lagi.
Jangan memalukan.
Karena permainan kau, pelanggan kabur.
Kau ini mau merusak restoran kami?
Aku hari ini sangat gugup,
apalagi lagu tadi sangat susah sekali,
atau kau
beri aku daftar beberapa lagu,
aku akan berlatih beberapa waktu, pasti bisa memainkan dengan baik.
- Kesempatan... - Aku mohon...
diberikan bagi mereka yang siap.
Kau, belum siap,
pergilah sana.
Halo, halo!
Tuan,
Apakah Anda berminat kerja paruh waktu di restoran kami?
Aku beri kau gaji dua kali lipat.
Oh, tiga kali lipat juga boleh.
Mohon maaf,
aku masih ada urusan.
Hei, hei, hei.
Aduh, sana sana sana.
Aku minta maaf.
Aku putus cinta,
tapi kenapa kau malah lebih sedih dariku?
Aku kehilangan pekerjaan.
Apalagi hari ini aku bertemu dengan pria yang aku sukai waktu kecil,
dan dia melihat keadaan terburukku.
Aku simpati pada kau satu detik.
Hei.
Memangnya apa yang terjadi?
Saat aku kecil
pernah menyukai seorang pria.
Dia sangat tampan,
permainan pianonya sangat bagus,
prestasi akademik juga bagus.
Tapi kemudian dia pindah.
Aku kira tak akan bertemu dengannya lagi.
Siapa sangka hari ini bertemu lagi
dengannya saat wawancara.
No comments yet. Be the first to leave one.