The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Aku selalu meyakini kesetiaan.
Setia kepada keluarga.
Setia kepada saudaraku.
Keluar dari rumahku.
Keluar dari rumahku sekarang! Kalian berdua.
Kau hampir mencabut penisku.
Dasar jalang…
KEPOLISIAN NASIONAL
Aku harus apa?
Kau wanita terhormat.
Buat mereka menunggu.
Dia bisa menghancurkan bukti.
Dobrak pintunya.
Aku tahu kau di dalam, Macarena.
Buka pintunya!
Ambil posisi.
Satu, dua…
Berhenti.
Selamat malam, Komisaris.
Maaf, aku sedang mandi. Ada apa?
Selamat malam, Ny. Medina.
Kau tersangka penyuapan polisi.
Kami butuh kerja samamu.
Tentu.
Beri aku waktu sepuluh menit,
aku akan ikut ke kantor polisi.
Aku yakin ini semua salah paham.
Aku yakin.
Selalu begitu.
- Geledah rumahnya. Cepat. - Ayo, Semuanya.
Area ini sudah kuperiksa.
Periksa lantai atas.
Kamar mandi.
Kami akan periksa basemen.
Akan ada apa di bawah?
Aku tak tahu.
Aku tak pernah turun ke sana. Mungkin berantakan.
Permisi.
Permisi, tolong jangan injak karpet itu.
Ini pusaka keluarga.
Terima kasih.
Komisaris?
Jika kau butuh bantuan dariku…
Ya, di kantor polisi.
Jika kau begitu ingin membantu, kau bisa pulang besok.
- Besok? - Besok.
Tentu saja. Aku mau mengungkap semua ini.
Hati-hati.
Kau kedinginan?
Kini kau mencemaskanku?
- Diam. Apa kau gila? - Gila?
Dua hari, aku terjebak di lubang itu, menghadapi lelucon polisi itu,
dan mendengarkanmu bercinta seperti aman saja!
Aku harus mengisap penis bajingan ini
selagi kau menawar harga nyawaku.
Berapa hargaku, Leonardo? Lima juta? Tiga juta? Lima ratus euro?
Hargamu tentu bukan tujuh juta. Untuk jari kelingkingmu pun tak cukup.
Apa yang kau lakukan, Rania?
Lihat ada apa.
Bagus.
Anjing ini mengendus sesuatu!
Baiklah, ayo pergi.
SEBUAH LANGKAH BESAR
- Kita hebat tadi. - Setuju.
DERMAGA SATU
Kita menari seperti orang bebas.
Itulah arti impian, itu motivasi murni.
Kita dapat berapa?
Kita akan segera buka Inferno.
Apa itu celengan kita?
Darío?
Tatapan itu.
Mementingkan dirimu, serius, sendirian melawan dunia.
Seperti saat di penjara sebelum tendangan penalti.
Melawan Bolinga?
Bajingan itu menguasai seluruh gawang.
Kita bertaruh permen, ingat?
Aku ingat sorakanmu saat mencetak gol.
Aku melihatmu tersenyum.
Tempo hari, aku membelinya.
Entah apa yang berubah, tapi…
kini aku tak akan bertaruh untuk itu.
- Pria itu masalah. - Kau tak kenal dia.
- Kalian bertemu di penjara. - Aku pun di sana.
Dia menyelinap ke kapalmu. Apa yang dia cari?
Untuk tak merasa kesepian.
Kau tahu sulitnya setelah sepuluh tahun dipenjara?
Sepuluh tahun?
Apa dia menerobos lampu lalu lintas?
Dia temanku, Iván.
Aku berutang budi.
Baiklah.
Namun, jangan libatkan aku.
Aku yang bawa ini.
Terima kasih.
Butuh waktu untuk temukan Bintang Kutub.
Pengembara.
Benar. Pengembara. Aku ingat katamu.
Selama dua pekan, aku tak bertujuan atau tahu harus apa.
Tinggallah di sini.
Tidak, aku tak mau menumpang.
Kau dengar Iván, 'kan?
Temanmu?
Tidak.
Namun, aku sering lihat tatapan itu.
Beri aku dua hari. Aku akan cari pekerjaan dan pergi.
Pasti ada solusinya.
Aku bersamamu.
Bersulang.
Rania?
Ini Darío.
Kau bisa menari?
Tidak.
Kau bugar.
Namun, sudah ada banyak pria tampan.
Beri dua pekan. Kau akan tahu Darío spesial.
Dia akan menghasilkan uang melebihi kami semua.
Dua pekan?
Dia jadi pelayan selama dua pekan sampai bisa menari.
Urusanmu?
Kau bereskan.
Tujuh! Ambil posisi.
Berbaris.
PANGGILAN MASUK - LEO
Jadi, kesimpulannya,
MedinaCon, melalui beragam anak perusahaan,
membayar 150.000 euro ke pompa bensin.
Pemilik pompa bensinnya adalah…
María Josefa Zapata.
Bibi Josefa.
Bisnis Bibi Josefa lancar untuk lansia 90 tahun, bukan?
Layanan apa yang dia berikan?
- Itu… - Tidak.
Aku bertanya kepada dia.
Mencuci, beri malam, dan keringkan.
Kami punya tarif tetap.
Itu sebabnya aneh bahwa jumlahnya berbeda-beda
dan itu bukan pembayaran bulanan.
Lucunya, itu bersamaan dengan kejadian spesifik.
Kematian Philip Norman.
Ledakan di Inferno.
- Komisaris, aku tak suka sindiran itu. - Aku juga tidak.
Aku masih tak tahu apa untungmu dari pekerjaan itu.
Yang kutahu adalah Bibi Josefa
mencuci semuanya kecuali mobilmu, Macarena.
Bibi Josefa? Usianya 90 tahun.
- Panggilan, Komisaris. - Terima kasih, Campos.
Kita belum selesai.
Dengarkan aku, Berengsek.
- Kau mau aku terbunuh… - Jaga mulut.
Aku tahu komisaris itu bersih
dan tak akan pernah menguping kita
tanpa izin yang benar,
tapi polisi terbaik pun bisa tergelincir.
Astaga.
Dia tak sengaja meninggalkan ponselnya.
Akan kumatikan karena kita selalu mengeluhkan tagihannya.
Sudah.
Sekarang, curahkan isi hatimu, Sayang.
Kau tahu siapa Joker?
Aku suka melihatmu tersenyum.
Aku punya teman yang sama gilanya,
dan dia akan mengambil pisau
dan dia akan menggambar senyum itu
di wajahmu selamanya.
Kau, dan teman barumu.
Tetaplah waspada.
Ayo lanjutkan.
Macarena mampu melakukan hampir semua hal.
Namun, memasang bom? Tidak.
Kulaporkan dia karena aku cemburu.
Aku menyakitimu kemarin.
Aku sangat ingin bersamamu,
tapi aku tidak…
Kita tak bisa.
Aku bisa.
Berhenti membual. Kita terlalu saling memahami.
Katamu itu demi kebaikanku, kubilang aku tak butuh dilindungi…
Saat bingung harus berkata apa, kau menatapku dengan intens.
Kita terlalu saling mengenal.
Benar.
Ayo, jongkok. Jangan malas.
Aku berpikir
saat aku disergap di rumah sakit…
Pasti ada kamera keamanan.
Entah apakah kau siap melihatnya.
Aku siap.
Kirimkan semuanya.
Kau sedang apa?
Membuat risotto.
Seperti yang di Palazzo. Kau ingat?
Jika ini seperti yang di Palazzo, aku bisa makan sepanci penuh.
Apa kau takut, Dik?
Aku merasa
seperti di penjara.
Sebenarnya…
aku memikirkanmu.
Dik…
Penjara menjadikanku kuat.
No comments yet. Be the first to leave one.