Sokola Rimba

Sokola Rimba

Download Indonesian Subtitle

Release info

Sokola Rimba (2013) NF WEB-DL 480p & 720p
A Commentary by RAWZA
Non HI

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
720p
720
480p
480
Published on: 2019-04-15
Downloads: 114
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Aku tidak pernah ragu dengan kekayaan Indonesia.

Tujuh belas ribu pulau

dan hampir 110 juta hektar hutan tropis

dari Aceh hingga Papua.

Semua memberi kehidupan bagi kita.

Untukku.

Aku bekerja di sebuah lembaga di kawasan Taman Nasional Bukit 12.

Seluas 65 ribu hektar

di Jambi,

Sumatera bagian selatan.

Hutan yang dilindungi oleh aturan hukum,

idealnya, tidak akan tersentuh manusia.

Hukum dan kerja lembagaku bermanfaat besar

bagi keberadaan hutan di sini.

Sudah dua tahun aku bekerja di tempat ini.

Tapi aku masih bertanya,

apa arti ini semua bagi mereka yang terlahir di dalamnya?

Orang rimba.

Kawan,

mau kami tolong?

- Ya, Kawan? - Mau dibantu bawakan barangmu?

- Tidak perlu. - Baiklah.

Aku hanya ingin beristirahat.

- Baik. - Baiklah.

Ibu Guru, ini empedu tanah untukmu.

Ibu Guru,

kau hampir mati di tepi sungai.

Anak dari Makekal Hilir

datang memberi tahu kami.

Siapa anak yang menyelamatkanku?

Kalau benar dia datang dari hilir,

dia berjalan jauh sekali untuk bisa sampai ke sini.

J.

Ini huruf J.

Tarik garis ke bawah.

Coba tulis J.

Tulis J.

Seperti ini.

Coba lihat.

Aduh, Nengkabau!

Potong saja aku dengan parang jika kau nakal begini!

Kemari!

Dua puluh.

Dua puluh.

Dikurangi tujuh?

- Tiga belas. - Tiga belas!

Tiga belas dikali 2?

Dua puluh empat.

- Dua... - 26.

26, betul. 26 dibagi dua lagi?

- Tiga belas! - Dua puluh empat.

- Betul. 42... - 42.

...dibagi dua?

- 21. - 21.

Ya, hebat! 46...

- Ini untuk Ibu Guru. - Astaga.

Terima kasih.

A, B, C, D, E,

F, G, H, I, J.

A, B, C, D, E, F...

Ibu Guru,

kenapa mesin gergaji itu memotong pohon kami terus-menerus?

Kenapa?

Mungkin karena mereka memang butuh banyak kayu.

Kalau kami pakai parang supaya mengambilnya sedikit.

Ibu Guru, kalau kami sudah pintar,

kami bisa menahan orang luar mengambil kayu.

Tentu saja. Kita belajar matematika saja.

Mau?

Bukan.

Satu, dua, tiga, empat lima, enam, tujuh.

Jadi, berapa?

- Tujuh. - Betul.

Bu,

Katanya ada yang melahirkan?

Ya, Ibu Besuling yang sedang melahirkan.

Begitu rupanya. Jauhkah tempat melahirkannya?

Dekat sini tempat melahirkannya.

Benarkah?

Kau yang kemarin membantu Ibu Guru?

Kau dari rombong mana?

Kalau mau belajar, datanglah.

Siapa nama kau?

Siapa nama Tumenggung kau?

Aku dari Makekal Hilir.

Nama Tumenggungku, Belaman Badai.

Namaku Nyungsang Bungo.

Penyakit Hilir telah datang ke sini.

Payah sekali kau, Beindah.

Ini ada sepuluh garis.

Aku ambil tiga di ujung, coba kau hitung kembali,

berapa kalau kuambil tiga dari sepuluh?

Satu, dua, tiga,

empat, lima, enam, tujuh.

- Ya, hebat! - Hebat.

Ini sepuluh kurang tiga, coba kau hitung lagi berapa?

Ini sepuluh kurang tiga, coba hitung lagi berapa?

Enam!

Raja penyakit!

Payah sekali!

Ibu Guru, anak ini payah sekali.

Ini ada sepuluh biji karet, ya.

Lantas, kuambil tiga. Berapa sisanya?

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Betul!

- Hebat! - Hebat!

Lihat sini, Beindah.

Tadi kita sudah coba hitung bersama.

- Sekarang coba hitung sendiri. - Ya.

Sepuluh.

Sepuluh...

dikurangi tiga.

Sepuluh... Delapan!

Ya, ampun... Payahnya!

Raja penyakit! Payahnya anak ini!

Sudah beberapa kali Bungo datang diam-diam...

memperhatikanku dari kejauhan.

Kini, dia tidak muncul lagi.

Dia seperti ingin mendekat,

tetapi di saat yang sama, aku melihat jelas kecurigaannya.

Bungo pasti datang dari rombong orang rimba yang masih tertutup.

Bang, bisa aku berbicara sebentar?

Ya?

Abang ingat aku dahulu pernah mengajukan proposal

untuk mengajar ke hilir Sungai Makekal?

Ya, tetapi kau dahulu pernah sampai di sana.

Ya, Bang. Namun, ketika itu hanya menemani tim kesehatan, belum sempat mengajar.

- Begitu, ya. - Bang, aku langsung ke Gustav

- untuk urus-urus... - Tunggu dahulu, Butet.

Anggaran kita masih perlu dijaga.

Kau fokus saja dahulu kepada anak-anak di hulu.

Rasanya rombongan yang bisa dibantu masih cukup banyak.

Baru ingat.

Liputan dua pekan lalu sudah mendapat respons di Jakarta.

Semuanya positif.

Nanti kita akan mengkliping,

dan jadikan bagian dari laporan perkembangan kerja kita di sini.

Semuanya akan kita kirim ke penderma.

Ya, satu lagi. Kau ingat...

Doktor Astrid Hilde?

Perempuan dari Swedia yang kita bantu saat melakukan penelitian di sini,

yang juga membantu pelaporan kerja kita dan kau sunting hasil terjemahannya.

Dia tidak lagi bagian dari proyek kita.

Jadi, jangan berbagi data apa pun dengannya.

Ya?

Dia tidak akan kembali lagi ke sini.

Jika parlemen berhasil

menurunkan Anda dari kursi presiden,

apa artinya bagi Indonesia?

Aku tahu persis bahwa parlemen akan gagal melakukannya.

Mencoba untuk menurunkanku dari kursi kepresidenan

akan sangat berbahaya

bagi proses demokrasi negara kami.

Terima kasih atas waktu Anda.

Liputan itu berlebihan.

Seolah-olah kita yang paling tahu dan paling benar.

Yang di surat kabar kemarin?

Sejujurnya, aku masih marah dengan Bahar, Dit.

Untuk apa kita menunjukkan semua hal ini ke luar?

Malu aku pada Tumenggung, Dit.

Untuk liputan ini, anak-anak harus berpura-pura baca dan tulis sampai malam.

Padahal mereka sudah mengantuk.

Tapi, Kak. Cobalah dipikir.

Kita bisa jalan memang karena pendanaan.

Begini...

Kak Butet masuk hutan

harus naik motor dahulu.

Tiga jam baru sampai batas.

Sehabis itu kita harus tinggal di dalam

minimal 15 hari.

Logistik kita nanti siapa yang bayar?

Kak, jadi beli obat?

Dit, bukankah itu Doktor Astrid?

Itu!

Baru saja ribut dengan Bang Bahar.

Kupikir dia sudah pulang.

Berita internasional.

Diperkirakan setidaknya 200 buruh tambang

tewas dilanda banjir ketika berada di dalam tambang.

Kecelakaan tersebut sebenarnya terjadi dua pekan lalu.

Namun, baru kini diumumkan beritanya.

Aku tidak dapat menahan keingintahuanku...

tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh Bungo.

Begitu jauh jarak yang dia tempuh

untuk melihat tempatku mengajar di hulu.

Aku harus mencari cara untuk dapat menemuinya.

Ya, mereka sudah tahu, misalnya

ada dua huruf baru.

Itu mereka sudah bisa langsung.

Contohnya Nike atau Ndrea.

Mereka sudah bisa belajar berhitung.

Baru kuberikan angka satu sampai sepuluh.

Terus...

Misalnya ada berapa kelompok? Contohnya, ada sepuluh kelompok.

Satu kelompok bisa sekitar 20 orang.

- Bisa, Bang. - Atau kau cek dahulu,

mana yang paling efektif. Nanti kita bicarakan lagi.

- Jadi, bisa buat kelompok kecil? - Ya.

Sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, sepuluh hari ketiga.

Lalu, kau periksa tiap sepuluh hari.

Sokola Rimba subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left