The first 157 lines.
Balada Romansa Pendekar Pedang Era Meiji
Kenshin Sang Pengembara
Kenshin Sang Pengembara
B-Baik, kami kalah.
Kau kuat.
Sudah, ampuni kami!
Tanpa kau minta pun, aku sudah malas!
Kalian terlalu lemah.
Dasar, pertarungannya membosankan sekali.
Apa tidak ada yang kuat di sini?
Jalan Kejahatan Kemunculan Sanosuke Sang Petarung
Satu, dua, tiga kentang, empat...
Kak Kaoru jago.
Jago, jago.
Masih hebat, `kan?
Setiap perempuan itu punya kelebihan meskipun jelek juga, ya?
Kenapa sih?
Tadi aku itu memujimu, tahu!
Yahiko, kau tidak akan pernah ditaksir perempuan kalau seperti itu.
Cerewet!
Aku yakin kau gak akan pernah dapat laki-laki yang mau menikahimu!
Apa kau bilang?
Tunggu!
Hei, Yahiko!
Baiklah, sepertinya aku harus menyiapkan makan siang.
Kenshin, menu hari ini apa?
Menunya apa, ya?
Gobo dan....
Ah, terung yang kupetik kemarin pasti sudah bisa dimakan.
Cih, gak asyik.
Apa gak bisa sesekali jajan yang enak?
Kau ini kan cuma numpang, kenapa billang begitu?
Kalau dipikir-pikir, uangnya dari mana, coba?
Benar juga sih.
Dojo miskin kayak gini gak bisa menghasilkan apa-apa.
Minggir sebentar.
Di mana, ya?
Pasti ada di sini.
Ngapain coba si Kaoru?
K-Kepalamu terbentur, ya?
Aku baru ingat!
Ini!
Kakekku yang buat ini.
Oret-oretan?
Ini lukisan, tahu!
Oh, gerakan kuas indah itu, kalau tidak salah punya....
Kakek itu seniman lukis yang juga terkenal sebagai pendekar pedang.
Kalau aku jual ini, sepertinya bisa dapat uang.
Ah, terima kasih, Kakek.
Nah! Ayo kita ke warung daging rebus lagi. Kita pesta-pesta!
Kita semua pesta!
Daging rebus!
Kau hebat, Kaoru!
Kelebihanmu tambah satu!
Ayo!
Jepang nomor satu!
Dasar, kau ini tidak sabaran.
Yee!
Daging rebus!
Yee! Daging rebus!
Daging Rebus Akabeko
Selamat datang!
Yahiko, makan cepat-cepat itu tidak bagus, lo.
Aku tahu, kok.
Tuh, apa aku bilang?
Kau ini suka cari gara-gara saja.
Bahkan Yahiko tidak sebanding dengan Kaoru.
Sama sekali tidak!
Demokrasi tidak akan pernah terwujud dengan melakukan itu!
Harus lebih keras!
Tapi itu berarti kita akan menekan Dr. Itagaki sampai mati!
Ya!
Penguasa daerah, Ohkubo, bahkan mengutus Saigou!
Aku tidak takut Ohkubo!
Kalau bisa mati terhormat, Pak Dokter juga bisa!
Jangan bodoh!
Apa bagusnya roman seperti itu?
Betul!
Kalau Dr. Itagaki mati, kebebasan juga mati!
Sepertinya mereka pejuang demokrasi.
Apa itu?
Saat ini, ada kelompok kecil yang mengendalikan seluruh kepemerintahan.
Tapi ada gerakan...
...yang ingin melibatkan banyak orang secara politik.
Kedengarannya bagus, tapi melihat mereka aku jadi tidak yakin.
Buatku, mereka cuma pemabuk saja.
Ucapan Yahiko benar.
Kenshin!
Kau tidak apa-apa?
Kak Ken?
Tidak apa-apa?
Apa yang kaubilang?
Coba katakan lagi!
Ya!
Kapan pun akan kukatakan!
Gerakan demokrasi yang bagus sekali!
Kau itu bodoh!
Habis melempar barang ke orang lain, kenapa malah ribut?!
Jangan bahas itu dulu, minta maaf sana!
Berisik!
Anak bocah tidak boleh membalas ucapan pejuang demokrasi!
Masih butuh 100 tahun lagi!
Masa bodo dengan bocah atau dewasa!
Aku bilang minta maaf sana, dasar pemabuk!
Siapa yang kausebut pemabuk?
Kami ini berjuang demi demokrasi!
Berisik!
Kalau sampai terlempar, berarti mabuk!
Kurang ajar!
Permisi....
Kami tidak ingin ada keributan.
Apa?
Diam!
Perempuan menyingkir saja!
Mbak Tae!
Hoi, hoi. Demokrasi ada untuk mereka yang lemah, `kan?
Terus barusan itu apa?
Kebebasan membuat keributan dengan beralasan mabuk?
Apa maksudmu?!
Kau tidak apa-apa?
Ah, iya.
Kau mau mengajak berkelahi?
Benar juga.
Tidak akan menyakitkan bagi orang lemah.
Apa?
Biasanya orang-orang mengajakku berkelahi.
Tapi aku benci menyiksa orang lemah, atau melihat orang melakukan itu.
Apalagi orang munafik yang bicara soal kebebasan, keadilan, dan kesetaraan.
Orang seperti itu buat aku muak.
Apa kau bilang?
Ayo keluar!
Keluar!
Rasanya ada yang tidak beres.
Apa sebaiknya kita lerai saja?
Mereka sendiri yang mau. Tidak apa-apa, `kan?
Meski kau menangis, tidak ada mapun.
Pertama, aku ingin lihat seberapa kuat kau.
Keluarkan semua kekuatanmu.
Kurang ajar!
Rasakan!
Curang!
Dia menyembunyikan belati!
Jangan cengeng!
Belati memang diciptakan untuk disembunyikan!
Yang mereka bilang itu benar.
Tapi...
...tidak ada artinya.
Meski pakai belati, cuma segini saja?
Tanganku!
Ini tidak ada artinya.
Kalau aku bersungguh-sungguh, aku bisa menyiksa orang lemah.
Aku lawan kau dengan satu jari saja.
Pertarunganku membosankan.
Satu sentilan di kening?
Aku sudah sabar dengan mabuknya kalian.
Tapi kalau kau keluarkan itu di sini, tidak ada ampun.
Demokrasi itu baik-baik saja.
No comments yet. Be the first to leave one.