The first 200 lines.
- Akhirnya sudah ada yang muncul. - Siapa kau?
Musuh yang melewati air ketakutan saat mendengar namaku di medan perang.
Jangan kaget.
Prajurit Bayaran Shinigami. Namaku Ushiuchibo.
IBLIS DARI FABEL JEPANG
YANG BERBURU HEWAN DENGAN RACUN MEMATIKAN
Apa itu?
Cuma keparat yang suka berburu iblis Joseon.
- Tak sesuai dengan tampangnya. - Siapa pun kau, duduk sana.
Dewa gunung Joseon sedang nongkrong.
Kenapa bentuk kepalanya seperti itu?
Beraninya kalian merendahkanku.
Kalian menghirup kabut racun mematikan.
Kau mau mati?
Kaulah yang sedikit lagi mati!
Hanya aku yang bisa menetralkan racunnya.
Kudengar ada seorang pengendali racun, jadi rupanya itu kau?
- Kau juga meracuni sumur di Gyeongseong. - Rupanya kau sudah tahu reputasiku.
Serahkan harta karunnya, maka akan kuampuni nyawa mereka.
Jangan konyol.
Kenapa…
Umur kalian paling lama satu jam.
Darah kalian akan terkuras, dan kalian akan mati kesakitan.
- Jangan harap, Pecundang! - Bagaimana?
- Mau kauserahkan untuk menolong mereka? - Ambillah.
Jangan, Yeon! Jangan beri dia itu!
Mau bagaimana lagi?
Untuk menangkap kelinci, masuklah ke liangnya.
- Kelinci? - Nih.
Begitu saja?
Obat penawarnya.
Berikan.
Kalau dipikir-pikir, cara termudah untuk mendapat penawarnya…
Adalah dengan kekerasan.
Selama berabad-abad, kami menyebutnya "kelinci dan anjing".
Ya ampun. Maaf deh.
Kami sulit memercayai orang.
- Mau dimulai sekarang? - Ya.
- Astaga. Kau membawa semuanya? - Mau kuiris, kucabik, atau kukuliti?
- Kita cincang saja deh. - Jangan. Nanti dia matinya terlalu cepat.
Aku tak suka mukanya, jadi kita rombak dagu dan hidungnya.
Nah, jadi lebih ganteng.
Bedebah kurang ajar!
- Setuju. - Oke!
Akan kupatahkan tulangmu satu per satu sampai kami mendapat penawarnya.
Ushiuchibo ke mana?
EPISODE SEPULUH Subtitle by Amazon, Resync by surya_27895 for NEXT ver.
Aku mendengar suara.
Itu suara Ushiuchibo.
Ada seseorang di sampingnya.
Berandal itu mau membawa kabur harta karun itu!
Dasar keparat egois.
Biar kuperiksa.
Yuki, tunggu aku!
Mau ganti giliran?
Aku bahkan belum memulainya.
Hei.
- Aku dewa gunung terkuat. - Betul.
Aku sulit memukul sambil mengurangi tenaga.
Dewa gunung yang negaranya sedang dijajah…
tak pantas banyak bicara.
Aku akan memukulmu tiga kali.
Serahkan obat penawarnya kalau mau kepalamu utuh.
Terserah saja.
Lagi pula, kalian semua akan mati hari ini.
Kau tertawa?
Hong-joo.
Awas!
Tubuhku tak bisa bergerak.
Ini adalah jurusnya.
Minggir.
- Pukulan pertama. - Tunggu!
Pukulan kedua.
Bos!
Pukulan ketiga.
Dia mati. Seharusnya jangan kaubunuh.
Dia memancing emosiku.
Sekarang tinggal tiga.
Sejak awal kau tahu dia meludahkan racun saat terpojok, 'kan?
Ya.
Kenapa tak bilang?
Sejak awal kalian hanya tertarik pada harta karunku.
Dasar berengsek.
Kita harus keluar dari sini.
- Prajurit bayaran pasti akan datang. - Kita akan bunuh mereka.
Lihatlah kondisi kita.
Ayo keluar dan cari cara untuk menetralkan racunnya. Ayo.
Tunggu!
Hanya aku yang tak terekspos racun.
Tolong aku! Tolong! Di sini!
Tuan Lee Rang!
Sini, kalian! Bos!
Hati-hati! Mereka kuat menahan tebasan pedang!
Hei, bawa Ny. Bos ke kamar dahulu!
Cepat, naik! Jangan hiraukan aku!
Kemari! Matilah!
- Cepat! Kita juga harus pergi! - Mati, Kalian!
Astaga! Dasar…
Cepat!
Aku takut. Sumpah, aku takut!
Apa pun yang terjadi malam ini, jangan terlibat.
Menjauhlah, Bangsat!
- Jae-yoo! - Teman sekamar memang yang terbaik!
Tolong aku!
- Bagaimana ini? - Apa maksudmu "bagaimana"?
Tolong buka pintunya!
Dia bisa mati di luar!
Hei! Kau sudah gila?
Ada orang di dalam?
- Jangan pernah keluar dari kamar. - Kau mau ke mana?
Menjemput yang lain.
Biarkan aku ikut.
Aku segera kembali.
Tidak!
Yoo-hee!
Ini tidak mungkin!
Ushiuchibo mati?
Dewa gunung Joseon sekuat ini?
Wah. Makin kukenal, makin kusuka dia.
Jangan konyol! Ushiuchibo paling lemah di antara kita!
Aku penasaran ke mana rubah ekor sembilan tampan itu pergi.
Apakah ke barat?
Yuki, jangan bertindak sendirian!
- Aku hanya mau melihat-lihat! - Yuki!
Sial. Di mana mereka?
Hong-joo, bertahanlah. Ya?
Ini perasaanku saja, atau kita memang sudah lewat sini tadi?
Hutan apa sih ini?
Hutan dari lukisan di Kamar 404.
Ada yang bisa menggunakan jimat ilusi.
Di antara mereka ada yang sehebat itu?
Mungkin dia bosnya.
- Dia kenapa? - Itu efek racunnya.
Penglihatanku juga sudah mulai rabun.
Hei, kau baik-baik saja?
Singkirkan tanganmu itu.
Oh, jadi mau pakai kaki saja? Hei, kau baik-baik saja?
Hei, Moo-yeong! Hei!
Yeon.
Racunnya lebih mematikan dari dugaanku.
Tidak. Kau tak boleh pingsan di sini.
Sebentar.
Aku benar-benar tak suka ini.
Kau juga prajurit bayaran?
- Dia pacarmu? - Dia temanku. Kenapa?
Oh, jadi bukan pacar? Untung saja.
Aku Yuki.
Sebentar.
Apa itu?
- Kau suka manusia salju? - Apa?
Karena Yuki selalu memberi kekasihnya manusia salju.
Wah, imutnya!
Ini bentuk cintaku.
- Hei! - Minggir!
Dasar genit. Dia milikku!
Dasar jalang! Yuki akan memilikinya!
- Mau berantem? - Yang menang mendapatkannya.
Hei, jangan saling memperebutkan diriku.
- Diam! - Diam!
- Hei, cukup. - Gak adil!
Kau yang tak adil. Dia sudah menghirup banyak racun.
Yuki!
- Yuki! - Itu suara Oogama.
- Aku harus pergi. - Kenapa?
Padahal ini peluangmu untuk merebut harta karun itu.
Memang. Tapi bos tak suka kalau aku bertindak sendiri.
Begitu.
Kalau begitu, di mana bosmu itu?
Kau akan bertemu dengannya.
Yeon! Tangkap dia!
Es.
Aduh!
Sialan.
Duh, hampir saja!
- Kau tahu soal diriku? - Ya.
Aku tahu rumor tentang dirimu. Iblis bayaran yang seperti es krim.
Nama asliku adalah Yuki-onna.
PUTRI SALJU, ROH SALJU DARI FABEL JEPANG
Yuki-onna, mau bersepakat denganku?
Bersepakat?
Kau…
- Kau mencari harta karun ini, 'kan? - Itu…
- Itu untuk Yuki? - Tunggu dahulu.
Aku akan memberimu satu harta karun kalau kau memberiku obat penawarnya.
- Hentikan! Jika terjadi sesuatu padamu… - Aku tak peduli.
Cukup.
Aku akan mati.
Kau tak akan mati.
Bagaimana jika aku berubah jadi monster dan tak mengenalimu lagi, Rang?
Itu tak akan terjadi.
Ada yang ingin kutanyakan.
Kenapa kau menyelamatkanku saat itu?
Saat kali pertama kau datang ke kelab.
Hari itu…
Aku merasa sangat menderita.
Aku sempat berpikir untuk mati.
Namun, aku melihatmu di panggung.
Kau menyanyikan lagu dan tak ada yang menyimaknya…
dengan wajah bahagia.
Entah kenapa, saat mendengarmu bernyanyi…
No comments yet. Be the first to leave one.