The first 200 lines.
Akhirnya
aku bisa menangkap bedebah ini.
Sampaikan salamku bila kau bertemu Bos Besar.
Jeong Gu-won.
Do Do-hee.
Siapa kau?
Aku…
pengawal dari pengawal itu!
Jangan mendekat.
Sial. Pengisian daya memang selalu jadi masalah.
Jangan mendekat.
Tangkap dia!
Jeong Gu-won!
Apa kau…
bisa menari tango?
Tango?
Kepercayaan terhadap pasangan adalah hal terpenting saat menari tango.
Ini bukan waktunya menari tango.
Hajar dia!
Awas pisau di belakang!
Keparat! Kenapa kalian semua mendadak menari?
Kendalikan diri kalian!
Apa-apaan ini?
"Peraturan pertama dalam mengawal."
"Mata selalu tertuju padanya."
"Peraturan kedua." "Dilarang menjauh darinya."
"Peraturan ketiga."
"Jangan pernah…
jatuh hati kepadanya."
Kau kenapa?
Kau baik-baik saja?
Aku baru ingat. Tadi aku lapor polisi.
Kita tinggalkan tempat ini dahulu.
Jeong Gu-won!
Jeong Gu…
Jeong Gu-won!
Pintu menutup.
Apa yang sesungguhnya terjadi?
EPISODE 5 HANYA KAU
TEATER SEONWOL
Kenapa? Kau terluka?
Hei, bawakan kotak P3K.
- Coba lihat. - Ada yang mau membunuhku?
Kenapa pedangnya tajam sekali?
Coba lihat.
Tampaknya kau begitu menghayati tarian.
Saking menghayati, kau sampai tersayat pedang palsu yang tumpul ini.
Terima kasih.
Rawat pedang yang becus.
Rawat pedang yang becus!
Ini dia. Bisa pakai ini.
Tidak perlu. Aku bisa sendiri.
Acara di depan mata, tetapi Pak Jeong tampak tak peduli.
Kendati begitu, aku selalu menemanimu.
- Aku saja belum cukup? - Tentu saja.
Ya, tentu saja.
Jangan-jangan ada sesuatu antara Pak Jeong dengan Do Do-hee.
- Apa? - Dia belum pulang dan bersamaan seharian.
Tidak mungkin. Kau tahu sendiri dia cuek sekali.
Kau saja sudah mengejarnya selama 20 tahun lebih,
- tapi dia bergeming… - Kau ini…
Rasanya dia pernah tak bergeming…
Intinya, hati Pak Jeong itu ibarat es krim yang jauh di bagian bawah pembeku
dan sudah terlupakan selama 200 tahun.
Selain keras membeku, hatinya sudah tak berfungsi dengan baik.
Pasti ada alasan mengapa pria setampan dia tak pernah berpacaran selama 200…
Tak pernah berpacaran selama 200 tahun.
Namun, aku tetap merasa terganggu.
Firasatku jelek soal wanita itu.
Serius, tidak ada cara lain selain jadi pengawal?
Untuk saat ini, itu jalan terbaik.
Mau istirahat dahulu?
Tidak usah. Ini tak seberapa. Aku tak ada waktu.
Kita mulai lagi.
Ada yang tidak beres.
Jatuh cinta kepada manusia remeh?
Jangan-jangan…
gara-gara tato?
Aku tak habis pikir…
Kenapa dia serasa jijik melihatku?
Waktu itu dia yang bersikeras ingin bergandengan.
Kenapa kini memperlakukanku bagai tak kasatmata?
Masa aku harus diperlakukan begitu?
Memang hanya aku yang berdebar?
Dia juga berdebar.
Lantas kenapa mendadak dingin sekali?
Dari panas mendadak dingin.
Memang dia es Amerikano panas atau apa?
Mau Amerikano panas atau dingin, tak ada urusannya denganku.
Aku tak perlu memedulikannya.
Aku sudah cukup memelas.
KENCAN BUTA
Tidak. Aku harus mencari tahu
perasaannya terhadapku itu panas atau dingin.
TEATER SEONWOL
Bukan main.
Ini kali terakhir aku memelas.
Bukan aku yang tak beres.
Ini cuma efek samping karena kekuatanku menghilang.
Andai dia tanya alasanku kemari,
aku jawab saja, "Siapa orang-orang tadi?
Saking penasaran, aku sampai tak bisa tidur."
Aku mendadak menemuinya malam-malam begini.
Bila tertarik kepadaku, dia akan merasa senang.
Bila tidak, dia pasti akan marah dan tidak senang.
Satu detik saja cukup
sebab tatapan di satu detik pertama mustahil berbohong.
Siapa kau?
Aku yang mestinya tanya siapa dirimu. Kau pencuri?
Kurasa penampilanmu yang lebih cocok disebut pencuri.
Penampilanmu juga tak biasa.
Do Do-hee?
- Kau kenal aku? - Kau tak kenal aku?
Masa dia tak kenal bintang sepertiku?
Tampaknya bintang itu aku, bukan kau.
Pergi sekarang juga.
Hanya pihak terkait yang boleh masuk pukul sebegini.
Aku tak bisa pergi sebab aku pun pihak terkait.
Pihak terkait dari mana?
Aku berkaitan khusus dengan presdir teater ini.
Jeong Gu-won?
Lampunya menyala semua.
Ke mana dia?
Kurasa dia bukan tipe yang suka membaca.
Pasti hanya pajangan.
Apa dia kolektor jam kuno?
Namun, bentuknya sama semua.
Angkanya…
Dia memang tidak lazim.
Menyentuh barang orang itu tidak sopan.
Memang itu buku harianmu? Ketus sekali.
Lambang salib…
Dasar mesum.
Apa-apaan? Kenapa kau buka baju?
Kau tak berlatih?
Berlatih tidak penting sekarang.
Sayang,
sudah kubilang jangan berbuka-bukaan di depan wanita lain.
- "Sayang"? - Kalau begini,
wanita bisa terus mengejarmu walau kau sudah tak mengacuhkannya.
Sama seperti lalat.
Berhenti melantur dan lakukan tugasmu.
Kau selalu sok ketus saat ada orang, padahal tak begitu saat sedang berdua.
Menggemaskan.
Kutunggu di teater. Ada yang ingin kudiskusikan.
Maksud pihak terkait itu orang yang memiliki hubungan layaknya kami.
Siapa dia?
Bukan urusanmu.
Tadi kami hampir saling membunuh.
Aku ingin tahu siapa yang hampir kubunuh.
Kau kemari sendirian malam-malam begini untuk mengorek privasiku?
Tidak.
Aku hanya tidak enak hati sebab tadi…
kau pergi begitu saja.
Aku hanya malas berlama-lama bersamamu.
Namun, kau malah kemari…
dan menggangguku.
Apa aku berbuat salah?
- Tidak. - Lalu kenapa sikapmu begini?
Rasanya aku tak wajib ramah kepadamu.
Kau masih ingin bicara?
Tampaknya aku keliru.
Maaf mengganggumu.
Do Do-hee, khayalanmu luar biasa.
Pak Park, Do-hee baru keluar.
Tolong pastikan dia selamat sampai rumah.
Periksa barang di loker nomor 17.
Tampaknya pengaruh obat baik.
Cukup dipantau saja.
Tidak ada masalah lain?
Masalah tidak ada,
tapi aku membunuh orang.
Begitu?
Apa?
Aku hanya memastikan kau menyimak.
Dasar gila.
- Mari minum. - Ya.
Kukira kau tidak kuat minum-minum.
Aku mengendalikan diri, bukan tak kuat.
Kau pasti kewalahan mengendalikan banyak hal.
Terima kasih sudah bergerak cepat terkait masalah tim audit.
Kestabilan perusahaan adalah yang terpenting.
Maka itu, kekosongan posisi Ibu harus segera diisi.
Kali ini kalian juga harus turun tangan.
Kami agak sulit mendukungmu terang-terangan
karena surat wasiat mendiang Bu Komisaris tersebar di media dan semua orang
mendukungnya sebagai komisaris wanita termuda
di perusahaan besar.
Do-hee sudah seperti adikku, tapi aku bisa banyak belajar darinya.
Dia pasti bisa menjadi teladan yang baik bagi dunia.
Namun,
andai anomali sepertinya terus bermunculan,
dunia mungkin akan kacau balau.
Hidup zaman sekarang tidak mudah.
Orang bisa bungkam soal kecurangan, tapi tidak dengan ketidakadilan.
Kini orang sensitif soal perwarisan jabatan,
apalagi kepada keluarga sedarah.
Kami bisa apa selain menyegani para pemegang saham?
Kalian belum paham maksudku.
Biar kuberi tahu.
No comments yet. Be the first to leave one.