The first 200 lines.
"Episode 105"
Tae Pung, pulanglah dengan kakek.
Astaga. Bukankah itu Pimpinan Song?
Astaga!
Bukankah dia pekerja paruh waktu di toko kue yang arogan itu?
Sayang! Dae Ryook!
Dae Ryook! Jin Gook!
- Halo, Bu Oh. - Halo.
Halo, Pak Yang dan Sekretaris Hong.
Senang berjumpa dengan kalian.
Sampai jumpa.
Aku tidak menduga akan melihatmu di sini.
Itu tadi Pimpinan Song, bukan?
Ya, ada apa?
Tapi kenapa Pimpinan Song
naik mobil bersama pekerja paruh waktu toko kue?
Apa maksudmu? Pekerja paruh waktu toko kue apa?
Pria yang naik mobil bersama Pak Song
bekerja di toko kue.
Dia bekerja di toko kue Pak Kang.
Aku tidak paham maksudmu.
Kenapa cucu Pak Song bekerja di sana?
Apa?
Dia cucu Pimpinan Song?
Itu tidak masuk akal.
Tidak. Aku yakin itu dia.
Dia bekerja di toko kue Pak Kang.
Dae Ryook.
Kamu tahu ibu tidak berbohong. Ibu tidak salah orang.
Bukankah dia pekerja paruh waktu yang bekerja di toko kue?
Ibu benar.
Apa?
Itu aneh.
Kenapa cucu Pak Song bekerja di sana?
Itu toko kue yang amat kecil.
Jangan meributkannya. Itu bukan persoalan besar.
Tapi itu terlalu aneh.
Dia sering ke rumah Pak Kang
dan menonton film dengan Do Ran juga.
Kurasa itu karena dia cucu Pimpinan Song.
Apa?
Kamu meminta Pak Kang agar Do Ran dan Dae Ryook rujuk,
tapi dia menolak.
Kurasa itu karena dia cucu Pimpinan Song.
Ini sangat tidak menyenangkan.
Sayang. Akankah perusahaan kita bangkrut
jika mereka tidak berinvestasi pada kita?
Jangan terima investasi mereka.
Itu hanya akan melukai harga diri kita.
Apa maksudmu?
Kita bukan anak-anak yang bermain rumah-rumahan.
Jangan tidak masuk akal begitu.
Aku harus keluar untuk urusan lain.
Baik.
Dae Ryook.
Apa yang akan kamu lakukan sekarang?
Do Ran mengencani cucu Pimpinan Song,
tapi kamu mencampakkan So Young, tiket lotremu.
Apa yang akan kamu lakukan kini?
Sudah kubilang.
Aku akan hidup melajang seumur hidupku.
Astaga.
Dia masih belum sadar.
Sudah pasti belum.
Kenapa kamu harus selalu membahasnya setiap kali ada Dae Ryook?
Karena itu mengesalkan.
Kenapa kamu kemari?
Kamu ada urusan?
Aku tidak butuh alasan spesial untuk datang kemari.
Aku kemari
untuk makan siang denganmu selagi aku di luar.
Kamu kira aku ada waktu luang?
Aku ada rapat.
Pergilah. Aku sibuk menyiapkannya.
Ada apa?
Pekerja paruh waktu itu cucu Pimpinan Song?
"Direktur Lee Tae Pung"
Kenapa kamu mau menemuiku?
Untuk menanyakan sesuatu.
Kamu cucu Pimpinan Song
dan direktur perusahaan investasi.
Kenapa kamu bekerja paruh waktu di toko kue?
Apa ada alasan khusus?
Kenapa kamu penasaran soal itu?
Ini pribadi.
Maaf menanyakan ini,
tapi apa kamu menyukai Do Ran?
Ya.
Aku menyukai Do Ran.
Itulah alasan aku bekerja di sana.
Do Ran adalah istriku.
Istri? Tidak.
Kalian sudah bercerai.
Kami tidak bercerai selamanya.
Kami hanya berpisah demi kebaikan masing-masing.
Pak Wang.
Kurasa kamu salah.
Kalian memang bercerai.
Do Ran juga sudah melupakanmu.
Lantas, kamu yang salah.
Hubunganku dan Do Ran belum berakhir.
Kamu pasti tahu,
tapi kami dipaksa bercerai
karena masalah ayahnya.
Karena kini namanya sudah dibersihkan,
kami akan rujuk. Jadi...
Pak Wang.
Aku tidak paham kenapa aku harus mendengarkan ini.
Aku juga tidak paham kenapa kamu mengungkit ini
padahal kalian sudah bercerai.
Aku pergi dahulu.
Lepaskan aku!
Beraninya kamu menggoda suamiku.
Beraninya kamu meninggikan suaramu di hadapanku.
Itu tidak merugikanmu.
Aku tidak meminta uang atau bercerai.
Kenapa kamu ribut denganku?
Kamu tidak bisa dipercaya.
Betapa tidak tahu malu.
Lepaskan! Astaga.
Bagaimana denganmu?
Kamu membuat suamimu kesepian dan muak denganmu.
Aku baru saja makan
dan menonton film dengannya. Itu saja.
Kamu seharusnya berterima kasih kepadaku.
Apa?
Astaga.
Aku akan membunuhmu.
Kemari.
Astaga.
- Kamu... - Astaga.
Beraninya kamu memukulku.
Kamu sudah gila?
Mati kamu.
Kamu salah orang.
Tamat riwayatmu.
- Tunggu, berhenti! - Astaga.
Da Ya.
Kak. Kakak iparku di sini...
Apa yang kamu lakukan?
Bagaimana bisa kamu memukulinya seperti ini? Memangnya kamu preman?
Melihat bagaimana dia memanggilmu,
kamu pasti kakak iparnya,
tapi kamu tetap harus bicara dengan sopan.
Aku tidak memukulinya.
Dia yang datang dan memukuliku dahulu.
Karena aku punya alasan.
Kamu merayu suamiku.
Kamu tukang selingkuh.
Benarkah itu?
Ya.
Wanita jalang itu menggoda suamiku.
Mereka berfoto bersama di stan berfoto.
Apa lagi yang kalian lakukan bersama?
Mengakulah.
Astaga, apa yang kamu lakukan?
Kamu kira kamu mau ke mana?
Kamu berfoto dengan suami orang lain,
jadi, sudah sewajarnya
kamu meminta maaf dan tidak akan melakukannya lagi.
Apa maksudmu? Yang benar saja.
Kamu kira ini lucu?
Minta maaflah sekarang.
Tidak bisa begini. Berapa nomor telepon orang tuamu?
Orang tuamu harus tahu
apa yang kamu lakukan terhadap suami orang lain.
Kamu tidak mau memberitahuku? Di mana ponselmu?
Baik. Aku tidak akan melakukannya lagi.
Ucapkan dengan sopan.
"Aku tidak akan mengencani suami orang lain lagi."
Aku tidak akan mengencani suami orang lain lagi.
Maaf.
Pergilah sekarang.
Kak.
Kak.
Kamu baik-baik saja?
Kenapa Kakak amat andal berkelahi?
- Apa? - Kakak selalu seandal ini?
Kakak keren sekali.
Baiklah, mari bercerai.
Aku bisa menoleransi semuanya
selain perselingkuhan.
Aku tidak pernah meminta perceraian.
Kakak dengar dia?
Dia yang langsung membahasnya.
Dia tidak pernah memberiku kebebasan.
Dia menyesakkanku.
Maksudmu,
kamu merasa hebat dengan berselingkuh darinya?
Bukan itu maksudku.
Serta kenapa kamu pengecut sekali?
Kamu beralasan
seolah-olah kamu berselingkuh darinya
karena dia yang salah
dan dia membuatmu sesak.
Itu pengecut.
Bukan itu maksudku.
Alasan apa lagi kali ini?
Kamu menikahinya,
jadi, jangan menghancurkan kepercayaannya.
No comments yet. Be the first to leave one.