The first 200 lines.
Aku menelepon karena ingin minta maaf padamu.
Minta maaf?
Ya, aku sudah banyak merepotkanmu.
Apa ini? Kenapa kamu serius begini?
Aku sudah tidak bisa membantu apa-apa dalam memajukan Kelas D.
Aku baru saja kehilangan alasan kenapa aku butuh.
Lalu, kamu ingin diam saja dari sekarang?
Ya.
Aku ingin agar Horikita dan Hirata yang mengurus sisanya.
Baiklah.
Artinya aku sudah bebas, ya?
Bisa dibilang begitu.
Maka dari itu, telepon ini
adalah terakhir kali aku menghubungimu.
Selamat pagi.
Ya.
Pagi, Kiyotaka.
Selamat pagi.
Wajahmu itu selalu saja murung.
Maaf.
Wajahku selalu begini.
Apa isi usulan Hirata?
Bagaimana jika acara belajar bersama dijadikan rutin, tidak hanya sebelum ujian?
Hah?
Lah? Lah?
Ada apa ini?
Ini Kelas D!
Ryuen, apa ada perlu?
Apa ada larangan untuk mengunjungi kelas seangkatan?
Kenapa kalian ketakutan sekali?
Umumnya memang demikian.
Namun, mungkin ada masalah jika mengikuti aturan sekolah.
Sebelumnya aku hanya terlalu apatis.
Ishizaki.
Tampaknya Ryuen mau unjuk gigi.
Mau lihat, tidak?
Yang lebih penting, mau apa mereka dengan Koenji?
Sepertinya barusan akan jadi masalah.
Aku sependapat.
Kiyotaka, apa kamu mau ikut lihat keadaannya?
Mereka terlalu main jumlah.
Mungkin saja mereka punya niat tidak baik.
Benar juga.
Tidak ada jaminan apa-apa meski akan ada banyak saksi.
Aku akan pergi.
Bisa gawat jika tidak ramai-ramai.
Sebaiknya kamu tinggal saja di kelas.
Jika siswa yang heboh seperti Ike atau Yamauchi juga ikut
keadaannya pasti akan lebih mudah jadi ribut.
Kamu benar.
Baiklah, jangan sampai terlalu berlebihan.
Iya.
Tunggu!
Tunggu?
Tunggu siapa?
Kami tidak punya niat apa-apa, bisa kalian lihat sendiri.
Ada apa ini?
Aku tidak tahu kenapa aku harus dikepung begini.
Kamu harus ikut dengan kami.
Anak sableng.
Anak sableng?
Kamu menyebutku begitu?
Siapa lagi selain kamu?
Meski ucapanmu menyakitkan, tapi akan kuacuhkan.
Aku masih berbesar hati.
Namun, sayangnya, aku sudah punya janji kencan.
Apa bisa kita segera mulai dan persingkat?
Maaf, tapi kita harus tunda urusanmu.
Kamu ini badung sekali.
Padahal cermin ini lumayan mahal.
Maaf, tanganku kelepasan.
Cukup! Ryuen!
Diam saja, Suzune.
Aku sedang main dengan Koenji.
Kukira ada apa...
Ternyata ada kumpulan orang-orang yang tidak biasa.
Sakayanagi, ya?
Kamu muncul seakan tahu waktu.
Aku hanya kebetulan lewat.
Tidak usah bercanda.
Apa kalian sedang konsultasi mengenai pesta natal?
Jangan ikut campur.
Sekarang belum giliranmu.
Tapi tidak perlu begitu juga.
Apa aku tidak bisa jadi teman kalian?
Jangan ikut campur kalau tidak mau pergi.
Aku tidak keberatan jika makin ramai, tapi kapan diskusi kita bisa lanjut?
Jika tidak ada lagi, maka aku harus pamit.
Ya maaf.
Langsung ke pokok bahasan saja.
Melihat keadaan saat ini,
tampaknya ada seseorang yang menjegalmu dari Kelas D.
Saat ini, kamu sedang mencari siapa orangnya.
Tepat sekali.
Jika demikian, maka aku tidak bisa membantu.
Karena aku tidak tertarik dengan masa depan kelas mana pun.
Lagi pula dalam ujian selama ini, aku tidak punya niat mencapai apa pun.
Begitu juga seterusnya.
Apa kamu tertarik dengan orang sepertiku?
Bicaramu melantur.
Lalu apa alasan tindakanmu saat dalam ujian istimewa di kapal?
Kebohonganmu ketahuan.
Aku hanya buang-buang waktu.
Aku tetap tidak punya niat membantu orang-orang yang merepotkan.
Artinya, tidak ada bukti pasti kamu tidak berpartisipasi dalam ujian lain.
Tidak ada bukti kalau kamu tidak mengendalikan Kelas D.
Benar, bukan?
Kamu benar.
Namun, jika kamu menyimpulkan bahwa aku orangnya,
artinya otakmu kurang main.
Atau bisa disebut tolol.
Kamu benar.
Namun jika kamu jujur, artinya kamu bukan orang penting.
"Yes".
Aku senang jika kamu bisa pengertian, Bocah Naga.
Bagaimana jika aku menyimpan dendam lalu memaksamu dengan kekerasan?
Pertanyaanmu sungguh tidak masuk akal.
Kamu tidak mungkin melakukannya.
Ironisnya, aku bisa saja rusuh di tempat yang tidak tepat.
Aku paham risikonya.
Begitu rupanya.
Maka akan kuberi jawaban.
Seandainya jalan ini yang akan kamu pilih,
maka demi melindungi harga diriku,
aku akan meng-KO siapa saja yang mendekat.
Kamu yakin bisa menang sendirian?
Justru lebih sulit mencari alasan sebaliknya.
Kamu ini...
sepertinya manusia yang gila sepertiku, hanya saja dalam arah yang berbeda.
Aku senang jika kesalahpahaman ini telah terurai.
Beri tahu aku satu hal, Koenji.
Siapa dalangnya jika bukan dirimu?
Apa ada di antara gerombolan berwajah tolol ini?
Aku tidak akan merusak kesenanganmu.
Apa aku boleh mengganggu sedikit?
Aku dengar kabar kalau Bocah Naga sedang mencari orang pintar di Kelas D.
Apa benar?
Sudah kubilang diam, Sakayanagi.
Jika kamu memanggilku begitu lagi, akan kubunuh kau.
Kamu tidak suka?
Padahal namanya indah.
Bocah Naga...
Apa kamu terpelatuk?
Sudah kubilang, panggil aku begitu lagi, aku akan membunuhmu.
Hentikan!
Tindakanmu ini pelanggaran berat!
Memangnya ada pelanggaran apa, Hashimoto?
Tidak ada, aku jatuh sendiri.
Demikian katanya.
Ada yang aneh dengan kalian semua.
Maaf, Ryuen.
Sepertinya bercandaanku keterlaluan.
Tidak apa-apa mereka dibiarkan pergi?
Aku tidak akan membiarkannya kabur jika dia orang yang kucari.
Padahal aku merasa dia mencurigakan.
Pemikirannya sulit ditebak.
Ada kemungkinan juga kalau dia sudah bohong.
Pemikiranku dan dia tidak cocok.
Apa dia nampak seperti seseorang yang bekerja sama dengan Horikita?
Memang sulit dibayangkan.
Lalu kenapa kamu mengincar Koenji?
Hei!
Bagaimana pendapat kalian tentang Koenji?
Kami tidak tahu kalian bicara apa sejak tadi!
Tidak jelas!
Orang bodoh jangan ikut-ikut.
Apa katamu?!
Ryuen, tindakanmu terlalu tidak wajar sampai sulit kupahami.
Artinya tindakanku benar.
Berkat hari ini calon-calonku sudah mengerucut, Suzune.
Tentang siapa yang bersembunyi di belakangmu.
Aku tidak tahu apa rencanamu.
Tapi lain kali, apa bisa kamu tidak mendekati teman sekelasku lagi?
Terserah padaku ingin mendekati siapa.
Tidak ada larangannya.
Tapi, permainan ini akan segera usai.
Nantikan saja finalnya.
Tampaknya Ichinose dan Sakayanagi mulai tertarik padaku.
Aku masih bisa kabur dan sembunyi di tahap ini.
Jika ada masalah sisa...
hanya Ryuen.
Ternyata dia tidak menunjukkan barang sebatang hidungnya.
Mengecoh adalah langkah pertama dalam berburu musang.
Kamu bisa jantan juga.
Jadi kamu mau menyerah?
Tidak, akan kuhancurkan dia apa pun caranya.
Meski dia tidak menampakkan diri, namun kita sudah cukup memojokkannya.
Perburuan akan berlanjut.
Kita sudah menempelkan pion pada siswa Kelas D
yang wajib diawasi setelah Paper Shuffle.
Semuanya demi menanamkan perasaan gelisah dan tekanan pada seluruh siswa Kelas D.
Selama dua minggu ini mereka sudah merasakannya.
Ternyata dia tetap bersembunyi di balik Suzune.
Lalu, apa rencanamu?
Aku sedang menikmati suasana
sampai-sampai hatiku tergirang-girang.
Tidak jauh berbeda dari saat merasakan cinta pertama.
Aku harus segera tahu apa rencanamu.
Kamu penasaran?
Kamu yang minta aku menemani.
No comments yet. Be the first to leave one.