The first 200 lines.
Gunung Everest...
Dua puluh sembilan ribu kaki...
Titik tertinggi dibumi...
Mempesona dan mematikan.
Pada tahun 1920-an, menaklukkan gunung ini
adalah tantangan terbesar yang tersisa pada masa emas petualangan.
Everest adalah batas dari langit,
dimana banyak yang percaya tidak ada manusia yang bisa bertahan.
Tapi tidak untuk George Mallory.
"Everest adalah pencapaian terbesar bagi manusia...
The Wildest Dream (Mimpi Terliar)."
George Mallory bermimpi menjadi orang pertama yang mendaki Everest.
Pada 8 June 1924,
mengenakan gabardine dan sepatu boot hobnailed,
dia bersama rekan pendakinya, Sandy Irvine,
terlihat terakhir kali 800 kaki dibawah puncak.
Awan menyelimuti...
Mereka tidak pernah terlihat muncul lagi.
Banyak yang percaya hampir 30 tahun sebelum Everest secara resmi didaki,
George Mallory adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya dipuncak dunia.
75 tahun setelah Mallory dan Irvine menghilang,
pendaki gunung Conrad Anker ambil bagian dalam sebuah ekspedisi
mencari jasad mereka di ketinggian Everest.
Conrad, silahkan masuk.
Aku dibawah 26,7 - ganti.
Anker tersesat sendiri.
Conrad, jalurmu berada dibawah zona pencarian.
Kau harus ketempat lebih tinggi - ganti.
Saya penasaran.
Saya berhenti, berbalik...
disana ada sesuatu berwarna putih.
Itu bukanlah salju; itu adalah benda -
cahaya dengan warna yang menarik, seperti marmer.
Ketika saya mendekat, saya sadar ini adalah jasad
dari salah satu pelopor pendaki inggris,
yang membeku dilereng gunung.
Untuk sesaat saya berfikir...
mungkin saya bisa saja terus berjalan dan merahasiakannya sendiri.
Tapi kemudian, itu adalah tujuan kami kesana.
Grup berkumpul.
Grup berkumpul segera - ganti.
Sini, Tunggu! Ini adalah George Mallory!
Oh, Tuhan! Oh, Tuhan
Kau lihat itu? George Mallory.
Oh, Tuhan!
George Mallory dan Saya -
kami telah terpisahkan 75 tahun lamanya.
Bibi saya menelpon dan berkata dengan suara pelan ditelpon:
"Suzie, mereka telah menemukan jasad ayah bibi digunung Everest."
Saya merasa heran,
Saya sangat terkejut.
Saya sangat bersemangat untuk mencari tahu
dimana kakek dulu berada dan bagaimana dia meninggal.
Dia punya bekas luka dikaki kanannya, diatas pergelangan kaki -
Membawa kematian di Everest.
Lengannya dijulurkan seperti hendak berusaha
menggalikan jari-jarinya ke dalam gunung..
Dia terlihat terakhir kali diatas lereng,
Mengarah ke barat menuju puncak.
Tapi saya menemukannya jauh kearah timur.
Jadi Mallory dalam perjalanan pulang,
mungkin kembali dari puncak sendirian.
Kacamata anti sinar mataharinya, penting untuk menghalau cahaya silau dari salju,
ada didalam sakunya.
Berarti hari mulai gelap.
Dia dan Irvine terikat satu sama lain dengan tali katun yang tipis.
Mereka kelelahan, benar-benar lemah, tak ada tenaga tersisa,
Pikiran tidak berjalan dengan jernih.
Mallory menyilangkan kaki kirinya diatas kaki kanannya yang patah,
untuk mengurangi rasa sakit.
Hanya beberapa menit saja,
15 menit terakhir,
sebelum dia tewas.
Apakah Mallory mencapai puncak
hampir tiga dekade sebelum pendakian resmi pertama?
Kami menemukan banyak benda dijasadnya...
Dokumen dan surat-surat yang sangat terjaga selama 75 tahun kemudian.
Jam tangannya, berhenti diangka 10 lebih 5.
Kacamata yang berada didalam rompinya.
Sebuah altimeter - bagian depannya rusak dan bagian gagangnya hilang.
Tapi satu benda yang sangat penting telah hilang:
Foto dari istrinya Ruth,
yang dia janjikan untuk ditinggalkan dipuncak.
Fotonya hilang
karena Mallory telah mencapai puncak dan meletakkannya disana -
tanda cintanya yang besar kepada Ruth?
Dia terlihat terakhir kali sekitar 800 kaki dibawah puncak,
didekat area yang terkenal sulit: Second Step (langkah kedua).
Jika Mallory berhasil mencapai puncak pada 1924,
berarti dia dan Irvine telah melewati jurang yang curam ini,
pada ketinggian 28,000 kaki.
Tidak pernah ada konfirmasi adanya pendaki bebas yang mendaki Second Step.
Setiap orang yang mendakinya hari ini
menggunakan tangga besi yang dibaut ke dinding batu
oleh pendaki Cina pada tahun 1975.
Saya ingin kembali ke Everest
untuk mencoba dan mendaki Second Step,
dibawah kondisi yang sama seperti yang dihadapi Mallory.
Itu adalah pendakian yang murni, ketika Mallory dan Irvine melakukannya.
Tidak ada yang pernah kesana.
Akan menjadi sebuah prestasi pendakian yang luar biasa
jika mereka berhasil melakukannya.
Petualangan, bahaya...
Ada sebagian orang yang tumbuh didalamnya,
yang mencarinya,
mereka ingin mencapai batas kemampuan mereka.
Mallory adalah salah satunya.
Mallory tumbuh besar di Cheshire, Inggris utara.
Dia melakukan pendakian pertamanya di Mobberley, kampung halamannya.
Ayah Mallory adalah seorang pendeta digereja ini.
Dan disini pula tempat pelarian Mallory muda
dan memanjat ke puncak gereja - pada usia 7 tahun.
Anda bayangkan saja...
Mendaki, adalah hasrat didalam hidupnya.
Saya sebenarnya berfikir bahwa orang yang mendaki
diikat dengan cara agak sedikit berbeda dari kebanyakan kita.
Kakek saya tidak merasa takut akan ketinggian,
bahaya atau semacamnya.
Beliau mempunyai cara mendaki yang tidak sama dengan orang lain.
Lengan dan kakinya akan berjalan dengan mudah dipegunungan
dan beliau akan mulai berjalan melewatinya seperti ombak.
Usia 19, Mallory masuk ke University of Cambridge
pada masa pergolakan kultur yang hebat.
Ketika Mallory tiba di Cambridge pada tahun 1905
dia masuk kedalam lingkungan ini dan dipenuhi oleh ide-ide,
kegembiraan, kecerdasan, seksual, sosial, perkumpulan rahasia.
Dia terlihat jelas mempunyai karisma yang luar biasa,
daya tariknya hadir terpancar dimatanya,
pandangan mata abu-abu.
"Pikiranku berada dalam pemberontakan yang konstan.
Aku yakin akan tetap seperti itu."
Dia adalah seorang pemimpi...
Dan dia berada di Cambridge pada masa hayalan yang besar dan kuat.
Dan akhirnya mimpinya itu tertuju kepada Everest.
Ini adalah masa keemasan dari eksplorasi.
Mallory bersama orang dari seluruh dunia
penjelajah dari America, Norwegia, dan Inggris
berlomba menjadi yang pertama ke kutub utara dan selatan.
Pada tahun 1912, Kapten Scott, petualang Inggris legendaris,
tewas dalam percobaannya menjadi orang pertama ke kutub selatan.
Mallory adalah diantara yang terinspirasi dari tragedi ini.
Kerajaan Inggris sedang dalam keadaan lemah pada saat ini.
Mereka sedang mencari cara untuk memperkuat dirinya.
Jadi, perhatian sudah pasti tertuju ke Everest sebagai kemungkinan terakhir -
Kutub ketiga.
Para penyurvey telah menghitung bahwa Everest adalah gunung tertinggi didunia.
Tapi tidak ada orang barat yang pernah menempuh jarak 40 mile.
Mallory menjadi terobsesi oleh gunung yang bahkan tidak pernah dia lihat.
"Everest adalah gunung tertinggi didunia.
Tidak ada orang yang pernah mencapai puncaknya.
"Keberadaannya adalah tantangan bagi manusia yang berhasrat menaklukkan alam semesta."
Mallory tidak hanya terpesona oleh Everest...
Dia juga jatuh cinta dengan gadis 21 tahun, Ruth Turner.
Sejak dari awal, mereka saling mengirimi surat.
"Sayangku,"
Aku rindu padamu.
Aku akan mencium bibirmu dan memandang matamu.
dan kau, kau, mendekatlah padaku dan bersamaku,
"kokoh dan agung penuh kasih dan tawa."
"Aku tak bisa menemukan kata-kata yang pasti
untuk mengungkapkan perasaanku padamu.
Apa yang sebenarnya kuinginkan adalah mengenalmu
dan mencintaimu lebih dan lebih.
"Terkasih dan tersayang, cintamu Ruth."
George dan nenek saya Ruth saling jatuh cinta pada 1914.
Mereka berdua adalah idealis,
melihat semangat yang sama satu sama lain.
Mereka menikah tiga hari sebelum dimulainya Perang Dunia 1..
Mallory masuk militer dan berhadapan langsung
dengan kematian sekali lagi,
bertempur di Somme,
pertempuran paling berdarah yang dikenal manusia.
"Tidak ada perhitungan dengan kematian disini.
Hidup hadir sebagai hadiah buatku."
Mallory menyaksikan pembantaian massa di perang dunia 1.
Rekannya sesama prajurit, ada yang berjarak 6 kaki saja,
Tewas karena granat Jerman.
Dia tahu betapa rapuhnya hidup ini.
Dan mengetahui hal ini, dia ingin menjalaninya sampai batasnya.
Dia ingin tantangan penghabisan.
Dan pada tahun 20-an, adalah Gunung Everest.
Ketika perang telah usai,
Perkumpulan Geograpik Kerajaan di London
merencanakan ekspedisi pertama ke Everest.
Mereka membutuhkan Mallory untuk keahlian mendaki terbaiknya;
Dia membutuhkan dukungan mereka untuk merealisasikan obsesinya.
Ketika Mallory menjalankan ekspedisi pertama pada tahun 1921,
dia menuju Everest melewati Tibet dari sebelah utara.
Pemerintah Nepal menolak memberikan ijin masuk lewat sisi selatan yang lebih mudah
yang digunakan ketika Everest pertama kali secara resmi didaki tahun 1953.
Setelah perjalanan selama 8 minggu,
Mallory akhirnya mengarahkan matanya ke gunung
yang selama ini menghantuinya.
"Seperti penciptaan terliar dari sebuah mimpi - Everest!"
Raksasa yang bergelombang...
Gigi putih yang sangat banyak...
Bebatuan besar yang tertutup salju.
Dari sudut pandang seorang pendaki gunung,
"tidak ada lagi pemandangan yang bisa dibayangkan."
Ketika pertama kali dia melihat Everest,
No comments yet. Be the first to leave one.