The first 200 lines.
Kamu anggap dirimu manusia?
Kamu.
Aku akan membunuhmu sekarang juga.
Kemari.
Jalang!
Lepaskan.
Lepaskan aku.
Akankah kamu mau melepaskan jika menjadi aku?
Kamu membuat putriku amat menderita.
Aku akan mencabut semua rambutmu hari ini.
Kamu lebih baik menjadi biksu saja.
Lepaskan!
"Episode 55"
Astaga.
Kamu cukup kuat.
Apa karena kamu makan makanan enak dan hidup bahagia?
Kamu mengabaikan putrimu dan menikmati hidup sejahtera.
Apa itu menjadikanmu lebih kuat?
Jalang.
Kakak masih keras kepala.
Kamu benar. Aku keras kepala. Kenapa?
Tapi aku lebih baik darimu.
Bagaimana bisa manusia sekejam itu?
Kamu tahu putrimu berkencan dengan siapa selama ini.
Bagaimana bisa kamu berpura-pura tidak tahu?
Putrimu akan terjatuh dari tebing.
Bagaimana bisa kamu duduk diam dan membiarkan itu terjadi?
Aku sudah berusaha semampuku!
Kamu seharusnya berusaha lebih keras.
Walaupun harus berdarah dan terluka,
kamu seharusnya menghentikan mereka.
Walaupun terjatuh dari tebing,
kamu seharusnya menyelamatkan putrimu.
Kamu...
Kamu bahkan tidak pantas menjadi seorang ibu.
Kamu tidak berhak dipanggil ibu
oleh siapa pun.
Baik oleh Tae Ju ataupun Mi Ri.
Seumur hidupmu, sampai kamu mati...
Tidak, bahkan setelah kamu mati.
Kamu akan selalu menjadi jalang busuk.
Baik.
Aku memang terlahir
sebagai jalang busuk.
Aku mau menyintas.
Aku mau menyintas alih-alih putriku.
Jadi, aku tidak memberitahunya bahwa Tae Ju putraku.
Aku cemas dia akan menuruniku.
Alih-alih kakak yang terlalu berempati,
aku takut dia akan memanfaatkan itu untuk mencelaku
guna membalas dendam.
Aku takut sampai tidak memberitahunya!
Apa itu membuat Kakak senang?
Kamu seharusnya datang mencarinya 20 tahun lalu.
Lantas,
kamu pasti sudah tahu aku tidak mengirim Mi Ri ke Amerika.
Jika datang 10 tahun lalu,
kamu bisa mencegahnya mendaftar ke perusahaan itu.
Serta jika datang lima tahun lalu...
Tidak, bahkan setahun lalu,
dia tidak akan mengencani pria itu.
Jadi?
Yang penting adalah
dia tidak menuruniku.
Apa itu?
Dia tumbuh di keluarga yang penuh cinta.
Dia sudah menjadi wanita yang hebat.
Dia tumbuh dengan baik.
Setidaknya dia tidak berniat
menjual jiwanya untuk uang.
Dia tumbuh amat sopan dan berpendidikan.
Astaga.
Kamu membuang putrimu
dan kini berbicara tanpa berpikir.
Kumohon
berhentilah bilang aku membuangnya.
Kamu memang membuangnya!
Aku tidak membuangnya di jalan
atau di pedalaman pegunungan.
Aku hanya meninggalkannya di rumah Kakak.
Aku berkali-kali meminta bantuan Kakak.
Aku meminta Kakak membantuku
mengurus Mi Ri.
Aku sudah memintamu datang dan tinggal dengan kami.
Aku menyuruhmu tinggal dengan kami.
Kita sama-sama tidak bersuami.
Salah satu suami kita sudah tiada
dan yang satunya pecandu alkohol.
Betapa bagusnya
jika kita tinggal bersama
bersama anak-anak kita?
Kakak sungguh percaya
kita bisa mengirim anak-anak ke universitas
jika tinggal dan mengelola restoran bersama?
Hei.
Aku mengirim ketiga anakku ke universitas.
Salah satunya sudah menikah.
Aku berhasil mencari nafkah tanpa banyak kesulitan.
Itu alasan yang buruk, Jalang.
Kamu sudah datang.
Aku tersentuh.
Aku tidak menyangka kamu akan mengundangku ke rumahmu lagi.
Apa beratmu turun?
- Kamu banyak pikiran? - Tidak, aku baik-baik saja.
Kamu mau minum kopi?
Kudengar ayahku memanggilmu sebelum menemui ibumu.
Kenapa tidak memberitahuku?
Tidak ada alasan.
Kudengar dia juga menyuruhmu untuk menikah.
Benar.
Ini kopimu.
Kamu sungguh tidak usah memedulikan perkataan ayahku.
Anggap saja dia merestui pernikahan ini.
Hanya itu yang perlu kamu ketahui.
Kita berjanji saling memberi tahu
jika ada masalah atau persoalan.
Berhentilah memendam semuanya.
Itu membuatku sedih.
Aku tahu keluargaku tidak biasa.
Maaf.
Tidak apa-apa.
Tidak perlu meminta maaf, Tae Ju.
- Aku... - Mari
pikirkan diri kita saja
dan ikuti perasaan kita seperti yang sudah kita rencanakan.
Katamu kamu mau bilang sesuatu.
Benar.
Ada yang mau kusampaikan.
Ada apa? Silakan.
Sebelum itu,
aku mau kamu tahu
bahwa aku tulus mencintaimu
sepenuh hatiku.
Aku juga mencintaimu.
Melebihi siapa pun.
Aku tidak bercanda, Tae Ju.
Aku juga tidak bercanda.
Omong-omong,
jika wajahmu seserius itu
untuk bilang kamu tidak bisa menikahiku,
jangan bilang.
Aku bisa menunggu sampai kamu siap.
Tapi jangan bilang kamu tidak pernah bisa menikahiku
atau kamu mau meninggalkanku.
Jangan.
Bukan begitu.
Bukan itu.
Awalnya,
aku menolak lamaranmu.
Kamu ingat kenapa?
Ya.
Katamu kamu takut
dengan masa lalu.
Benar.
Ini
soal masa lalu yang kusebutkan.
Yang akan kukatakan
mungkin
bisa membuatmu kewalahan.
Lantas,
bisakah aku bilang sesuatu lebih dahulu?
Saat seseorang datang,
masa lalu, masa kini, dan masa depan datang bersamanya.
Apa pun masa lalumu,
aku hanya membutuhkanmu.
Dari saat kamu datang ke kehidupanku,
aku siap
menerima kamu seluruhnya.
Tae Ju.
Sebenarnya,
aku juga takut menikah.
Ini soal membuat janji bersama seumur hidup.
"Apa artinya bersama seumur hidup kita?"
"Jika salah satu dari kita tiada,
akankah janjinya teringkari?"
"Cinta, pernikahan, dan keluarga kita."
"Akankah semuanya berakhir?"
Aku banyak memikirkan itu saat masih kecil.
Sudah kubilang
ibu kandungku meninggal saat aku masih amat kecil.
Aku beruntung terlahir dalam keluarga kaya.
Aku disayangi dan dicintai seiring bertumbuh dewasa.
Tapi aku tidak tahu cara mencintai.
Saat ibuku meninggal, ayahku mengencani banyak wanita.
Aku tidak paham dan tidak bisa menerimanya.
Untungnya,
aku bertemu dengan Bu Jeon, ibuku saat ini.
Dia mengajariku cara mencintai.
Tubuh dan pikiranku sehat berkat dia.
Jadi, aku bisa menerima apa pun yang akan kamu katakan.
Tolong jangan bilang kamu akan meninggalkanku.
Jangan bilang kamu tidak bisa menikahiku.
Aku tidak masalah dengan yang lain.
Aku akan mendengarkanmu.
Seperti yang kubilang,
aku amat mencintaimu.
Aku mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini.
Ada apa?
Katakan kepadaku.
Kamu tidak merindukan anakmu?
No comments yet. Be the first to leave one.