The first 200 lines.
Pasien kecelakaan. Luka parah bagian dada dan perut.
Kemungkinan cedera internal.
Tekanan darah turun 80/50.
Detak jantung 130.
- Ke ruang trauma, Dokter Roy siap. - Baik.
KEAMANAN
Hati-hati.
Jangan sampai seperti itu.
Memang kau tahu dia kenapa?
Hanya mengingatkan.
- Pak. - Pagi.
Hai, Pak.
Lagi pula, kenapa kau suka sekali menemaniku?
- Aku sayang kamu. - Tidak mungkin.
Kau pasti minta naik gaji, 'kan?
Kau sudah tahu.
- Pagi, Pak Bimo. - Halo, Suster.
Hari ini ada jadwal hemodialisis?
Ya, Suster. Bukan saya.
Tapi Pak Bimo pengantar setia.
Memang.
Pak, saya juga mau selalu diantar oleh Pak Bimo.
Suster bisa saja. Ya.
Luar biasa, penggemarmu semakin banyak.
Pengantar setia.
Apanya!
Pengantar setia.
Halo!
Hai, apa kabar, Bang?
Kita ke lantai tiga sekarang.
Ada apa di lantai 3?
Di sana kamar pasien.
Jadi, nanti kita menyanyi di situ.
Baik.
Ini lantai tiga.
Pertama kita akan bertemu Siska dulu.
Setelah itu, kita bernyanyi untuknya.
Pagi, Sam.
Pagi, Bu Ruri.
- Pagi, Semua. - Pagi, Bu.
Ada anggota baru, ya?
Ya, Bu.
Bagaimana? Sudah bisa harmonisasi?
Masih belajar, Bu.
Perlu saya ajari?
Dari G, ke E, ke L, baru ke O.
Baiklah, maaf Bu, kami permisi dulu. Mau ke ruangan Siska.
- Belum selesai. - Mari, Bu.
- Permisi, Bu. - Ya.
Silakan, Sam.
Lita, kenapa Sam seperti itu kepadaku?
Ini dia, Siska.
Pagi, Siska.
Paduan suara izin masuk.
Baiklah. Ayo.
- Hai, Siska. - Hai.
Apa kabar?
Ayo, yang belum berkenalan. Ini Siska.
Kenapa belum ada perawat, Mas?
Sebentar lagi, Mas, sedang ganti sif.
Permisi.
- Terima kasih, Mas. - Sama-sama.
Kenapa galak sekali?
Mirip Kakak, 'kan?
Mirip.
- Pagi, Gigi. - Ini dia.
Pagi, Sus.
- Pagi, Sus. - Sudah waktunya terapi.
Ayo, waktunya terapi.
Baiklah.
Ya.
Sudah, No. Tidak perlu menemaniku.
Sudah ada suster.
Lalu aku ngapain di sini?
Tidur.
Makan?
Kalau tidak, kau tunggu di kantin.
Tidak ngantuk dan sudah makan. Kenapa ke kantin?
Ayo, Sus.
Permisi.
Martha!
Martha!
Martha!
Ada apa lagi?
Masa aku mau makan sedikit saja tidak boleh?
Apa, roti?
Ya, Inang. Aku ingin makan sedikit.
Kau dari mana?
Dari lantai atas.
Habis menelepon Markus.
Di sana sinyalnya paling bagus.
Lalu, mana roti untukku?
Sudah aku makan!
Yah, Martha.
Kau tahu penyakit diabetesmu?
Kalau aku biarkan, bagaimana akibatnya?
Aku mau roti, Martha.
Redakanlah amarahmu.
Tinggalkanlah kemarahanmu.
Jangan sampai marahmu menimbulkan kejahatan.
Jangan menceramahiku kalau kau akan pergi!
Tidak ada yang akan pergi.
Marahmu tidak akan menyembuhkan penyakitmu, Pak.
Kemarilah.
Pergi saja yang jauh, Martha. Pergi!
Keluar dari kamar ini!
Tinggalkan aku!
Pergi!
Martha!
- Ini pulpennya. - Terima kasih.
Martha!
Suster.
- Permisi, Bu. - Ya.
Kira.
Maaf, Ibu telat.
Ibu tertidur di tempat kerja,
jadi tidak sempat pulang ganti baju.
Sudah makan?
Masih marah soal seragamnya?
Ibu mau semua orang tahu Ibu bekerja di karaoke plus-plus.
Masalah seragam lagi.
Ibu sudah bilang
kalau orang tahu ini seragam karaoke plus-plus,
berarti dia pelanggan.
Kalau pelanggan, dia pasti tahu Ibu resepsionis, bukan pemandu karaoke.
Lihat, hujan.
Untung Ibu sudah sampai.
Suster sudah beri tahu jadwal kemoterapi?
Nanti Ibu tanyakan.
Biar Ibu bisa menemani Kira.
Setelah cuci darah, memang benar makan ini!
Habiskan.
Tentu.
Mantap, ini membuat kesehatanku
bertambah seribu kali lipat!
Aku belum makan seharian.
Benar-benar enak!
Aku bahagia!
Hei!
Aman.
Daff!
Daff!
Daff!
Mbak!
Punyamu, ya?
- Terima kasih, Kak. - Sama-sama.
Tetap semangat, ya!
Sam.
Hai, Kira.
Tadi kau bertemu ibuku?
Tante Sania langsung pergi setelah menerima telepon.
Oh, begitu ya?
Kira, sekarang kita ke kamar.
Sus, kita ke taman dulu.
Denganku saja.
Tidak usah, Sam. Aku sedang ingin sendiri.
Oh, ya sudah.
Baiklah, kita ke taman. Tapi hanya 15 menit, ya?
Ya, Sus.
- Permisi, Sam. - Ya, Sus.
- Dah, Kira. - Dah, Sam.
Halo.
Kau tidak apa-apa?
Tidak apa-apa.
Memangnya boleh
pasien berkeliaran sendirian?
Aku meminta suster pergi.
Aku minta waktu 15 menit untuk sendirian.
Berarti aku mengganggu.
Lumayan.
Lima belas menit
untuk sendirian dan menangis?
Kau pasti penjaga pasien.
Memang kenapa?
Tidak mengerti rasanya jadi orang sakit.
Maafโฆ
Maksudku bukan begitu.
Kenapa serius sekali?
Apa maksudnya?
Suaramu bagus.
Suara tertawaku?
Nyanyianmu.
Jadi, terus saja bernyanyi.
Tidak perlu bicara, apalagi tertawa.
Seingatku, aku hanya bersenandung.
Dari mana tahu kalau suaraku bagus?
Bersenandung, tapi membuatku tersentuh.
Apaan, sih, Kira?
Suster!
Tolong!
- Sam! - Ada apa?
Tolong!
- Sus! - Sus!
Ada apa, Pak?
Pingsan, Suster. Tadi pagi baru cuci darah.
Pasien dr. Mujiyanti.
- Pujiyanti, Goblok. - Oh, ya.
Ya, Pujiyanti!
Sam, terima kasih.
Martha.
No comments yet. Be the first to leave one.