The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Aku mencemaskan masa depan kalian.
Tolong jangan percaya Mümtaz.
Aziz Somuncuoğlu.
MATİLDA
KELAB ISTANBUL MATİLDA ASEO (TUKANG CUCI)
THE CLUB
Ini sangat sulit, Tuan.
Memecat mereka mudah,
tapi mencari orang Turki yang mau bekerja di sini sulit.
Akan makin sulit jika tak ditangani, Çelebi.
Di Istanbul tak ada? Coba Ankara.
- Coba Izmir. - Tuan, aku sudah cari ke mana-mana.
Tapi sulit mencari tenaga ahli.
Ada teknisi lebih cakap dari Agop, tapi dia juga bukan Muslim.
Yervan.
Dia pelayan yang cakap. Pekerja keras.
Stelyo terbaik di Istanbul…
Kita tak punya waktu.
Mulai dari yang paling tak kita butuhkan.
Baik. Tentu.
Tuan, boleh aku bertanya?
Kenapa non-Muslim?
Negara ini berubah.
Non-Muslim harus menerimanya.
Kudoakan mereka yang terbaik.
Apa pun keputusan mereka,
kita harus dukung.
Selamat, Matilda.
Mordo anak yang hebat.
Putrimu sangat beruntung.
Terima kasih.
Aku senang kau juga sudah bebas.
Tn. Selim, bisa tanda tangani ini? Tolong tanda tangani untukku.
Baik. Sebentar.
Jika boleh, Tn. Selim. Terima kasih.
- Tuan… - Pelan-pelan.
Kumohon, Tn. Selim.
Dia bilang akan mampir.
Tn. Selim, boleh kami berfoto denganmu?
- Ya, Tuan. Kumohon. - Tentu. Ayo.
Lihat mereka. Seolah dia Elvis Presley.
Tersenyumlah.
Permisi, aku mau berpose dengan calon pengantin kita juga.
Terima kasih.
Selamat, Sayang.
Aku di sini agar tak ada yang mengira Matilda-ku sendirian.
Tersenyumlah.
Itu ayah pengantin pria?
Ya.
Kenapa murung?
Diam!
Ayahku pasti senang sekali.
Aku tak akan menikah hanya agar dia tetap menderita.
Tn. Selim, maukah bernyanyi untuk kami?
Ya, Tuan! Bernyanyilah untuk kami.
Baiklah.
Kau tahu "Seni Düşünürken"?
Biarkan lagu ini menjadi hadiahku untuk pasangan muda ini.
Itu malam musim dingin yang dingin
Saat aku berpikir di kamarku
Saat air mata kesedihan
Tiba-tiba memenuhi mataku
Telah lama kumerindukan
Cintamu dan setiap bagian dirimu
Mustahil untuk melupakan
Dirimu, Sayangku
Andai kau tahu betapa bahagianya aku
Saat bersamamu
Aku merasa di puncak dunia
Setiap memelukmu
Saat kulihat dia
Seakan waktu terhenti
Seperti ada kupu-kupu Menari di dalam perutku
Jantungku terpanah
Ah, ah, ah, ah, ah, ah
Mari kita berjumpa
Dan bercerita, ah, ah, ah
Dia manusia bebas Di negeri Seribu Satu Malam
Tak ada sayap untuk membantunya terbang
Dia harus bagaimana?
Dia memakai mahkotanya setiap pagi
Tak pernah lupa
Dia selalu bersinar
Selalu tampak luar biasa
Dia akan menggapai awan
Dia akan menyentuh bintang
Bintang-bintang
Bintang-bintang
THR untuk kru.
Aku lepas Yani malam ini.
Aku menugaskan Hacı, anak baru, sebagai murid Agop.
Setelah Hacı cukup mampu, Agop akan pergi.
Tak ada meja kosong.
Tak ada yang beranjak saat kau tampil.
Tak ada yang ke kamar mandi.
"Selim Songür membuat mereka kencing di celana!"
Kau cantik saat tersenyum.
Mungkin karena kau jarang tersenyum?
Selamat hari raya.
- Untukku? - Ya.
- Aku tak memberimu apa-apa. - Tak apa.
Aku hanya ingin.
Kita melupakan tradisi saat tak punya keluarga.
Kami sudah lama tak berjumpa.
Karena aku bukan insinyur.
"Jika kau seniman sejati, kau sudah ada di radio,"
katanya.
Tapi… Sudahlah.
- Kau yang membuatnya? - Ya.
Kau membuatku sangat bahagia.
Hati-hati. Aku mulai terikat denganmu.
Bagaimana aku?
Luar biasa.
Selamat hari raya, Tn. Orhan.
Selamat hari raya.
- Pak Yani? - Ya?
Tn. Çelebi memanggil kita.
Hei, Tn. Orhan. Apa kau membuka tempat baru?
Tadi kau bilang kau punya inovasi.
Aku akan membuka tempat terbesar di dunia.
Tempat yang menarik bagi seluruh negeri.
Kurasa kau terlalu banyak minum.
Tawaran dari radio. Acara langsung.
Acaranya?
Begitu orang mendengar suaramu…
Aku tak akan seperti ini jika hanya suara, Tn. Orhan.
Kita bisa berdiskusi saat stasiun TV memberi penawaran.
Sampai jumpa.
Halo?
Halo, Ayah. Apa kabar? Aku mau ucapkan selamat…
Kenapa tiap malam kau ambil bunganya?
Perintah Tn. Çelebi. Anggrek tahan lama.
Kami jual lagi di kios.
Ini.
Kami sayang Tn. Orhan, tapi…
Jujur saja, aku mengharapkan THR.
Bonus ada di dalam situ.
Aku pasti bekerja di tempat lain.
Tempat ini penuh sesak setiap malam.
Jika ada yang ingin dikatakan, silakan.
Selamat hari raya.
- Yani. - Selamat hari raya, Tn. Çelebi.
Selamat hari raya. Kau dapat lebih.
- Kenapa? - Kompensasimu ada di sana.
Kompensasi?
Kompensasi.
Lalu?
"Jika kau hidupku, apa gunanya?"
Lalu?
Itu. Dia katakan itu dua kali.
Tiga kali. Hafalkan.
Untuk menjadi teknisi,
kau harus tahu lagunya seperti musisi.
Aku akan pensiun.
Kau harus tahu ini, Nak.
Dia akan belajar, Agop.
Beri dia waktu.
Aku mendedikasikan hidupku untuk pekerjaan ini.
Aku bahkan melayani Atatürk.
Siapa yang akan memberiku pekerjaan? Aku sudah tua.
Ada apa, Yani?
Dia memecatku.
Dia menemukan seseorang yang lebih muda.
Dia pasti menemukan bocah naif yang bisa dia perah.
Sayangku, Tasula.
Teganya dia memecatmu. Dasar berengsek.
Tak apa-apa.
Tak apa-apa, Sayang.
Terima kasih.
Kau pasti akan dapat pekerjaan.
Terima kasih.
- Turut prihatin. - Terima kasih.
Aku juga prihatin, tapi jangan terlalu sedih.
Dia akan temukan pekerjaan.
Tisu?
Tidak.
Bahtiyar?
Hari ini, lembur.
Bersihkan ruanganku.
Bahtiyar.
Ajak seseorang.
Siapa tahu?
Dia mungkin berpikir dia belum cukup mencuri upah kita
dan menyalahkanmu.
Berhenti menatap.
Sudah mau tutup!
Nanti saja pamitannya.
Sebaiknya kau cepat menghafal lagu-lagu itu, Hacı.
BIOSKOP LÜKS
Ayo naik taksi.
Kenapa? Kita bukan gula. Tak akan mencair.
Rasanya menyenangkan.
Ayolah.
Raşel, nanti kau flu.
Ayo naik taksi saja.
Hei!
Kemarilah.
Ayo.
Kemari.
No comments yet. Be the first to leave one.