The first 200 lines.
- Maaf. - Tunggu!
Kamu!
Siapa kamu?
Kamu...
Bu Kang.
Bu Kang.
Bu Kang!
Ini aneh.
Kenapa penjualan menurun selagi aku pergi?
Kakak tidak di sini
dan para penggemar Kakak
seperti Pak Jung dari toko buah,
Pak Park dari toko daging,
dan Pimpinan Kim dari pasar
tidak datang.
Aku bingung bagaimana mereka tahu Kakak tidak ada.
Hei.
Apa kamu menutup restoran
dan bermain bersama grup musikmu selagi kakak pergi?
Tentu saja tidak.
Aku tidak akan melakukan itu.
Sekali lagi kamu bermain bersama grup musikmu,
kamu tahu apa yang akan kakak lakukan terhadap jari-jarimu.
Akan kakak patahkan semuanya.
Paham.
Lalu kenapa tidak ada sisa lauk?
Penjualan menurun,
jadi, kenapa tidak ada lauk?
Lauknya masih banyak sebelum kakak pergi.
Tapi kini habis semua. Apa ini masuk akal?
Itu?
Aku mengemaskan beberapa untuk Min Ho.
Kakak tahu, dia tinggal sendiri di asrama siswa,
jadi, kuberikan kepadanya.
Kamu tinggal sendiri?
Ya.
Kamu tiba di kantor dengan selamat?
Ya, Bu.
Aku minum kopi sebelum buka.
Kamu sudah memberikan hadiah ibu ke semua orang?
- Rasanya nyaman. - Benar, bukan?
Sakit.
Semua orang menyukainya.
- Terima kasih. - Terima kasih, Bu.
Bu, terima kasih.
Aku juga. Aku menyukainya.
Apa yang mereka katakan?
Mereka berterima kasih kepada Ibu.
Omong-omong, mampirlah kemari dalam perjalanan pulang.
Ibu membuatkan lauk hari ini.
Kemarilah dan ambil.
Ibu pergi dua hari dan kulkas kosong.
Kenapa kamu tidak menjawab?
Aku tidak bisa pergi hari ini.
Kenapa? Kamu lembur?
Bukan begitu.
Ibu mertuaku mengamuk jika tidak kutemui tepat waktu.
Astaga.
Mengasuh beberapa hari bukan masalah besar.
Serahkan Da Bin untuk ibu asuh
setelah pekan ini.
Aku tidak bisa melakukan itu.
Ibu mertuaku bilang dia akan mengasuh Da Bin.
Itu seperti menarik kata-kata.
Bagaimana jika dia berpikir aku tidak mengacuhkannya?
Hei.
Ibu tahu yang dia pikirkan.
Dia kesulitan sekarang.
Ya, aku setuju.
Dia akan senang sekali
saat kamu bilang ibu akan mengurus Da Bin lagi.
Kemarilah dengan Jin Soo akhir pekan ini.
Mari makan malam bersama.
Bolehkah aku pergi dengannya?
Ibu bisa apa? Dia menantu ibu.
Dia juga putra ibu.
Ibu tidak bisa memutus hubungan dengannya karena insiden itu.
Baiklah. Aku akan bicara dengannya.
- Ibu. - Apa?
Haruskah aku ke sana
setelah menidurkan Da Bin?
Baiklah kalau begitu.
Akan ibu suruh pamanmu mengantarmu pulang.
Ide bagus.
Astaga, Ibu yang terbaik.
Lihat kamu.
Mi Sun.
Ada apa, Bu?
Kamu sebaiknya tidak melawan ibumu lagi
atau tamat riwayatmu, paham?
Ayolah.
Aku sayang Ibu.
Jangan membuat ibu tertawa.
Sampai jumpa nanti.
Sampai jumpa.
Dasar berandal.
Jangan berpura-pura baik kepada ibumu
jika kamu bahkan tidak tahan sepekan.
Ada apa, Bu?
Ini soal Mi Ri. Dia tidak mengangkat teleponnya.
Mi Ri?
Kurasa dia sedang rapat.
Dia tidak pernah mengabaikan telepon Ibu dengan sengaja.
Ibu tahu.
Dia selalu menelepon ibu sekitar pukul sebegini,
tapi dia belum menelepon hari ini.
Ini aneh.
"Pusat Tugas"
- Halo. - Hai.
Apa itu?
Ini?
Ini diantarkan untuk Bu Jeon.
Begitu rupanya.
"Latar Belakang Keluarga"
"Sertifikat dan Pengalaman"
"Kang Mi Ri"
"Ibu, Park Sun Ja"
Kurasa Bu Kang juga menua.
Dia sakit setelah acara besar
belakangan ini.
Aku tahu dia akan sakit.
Ketika bekerja,
dia mencurahkan seluruh tenaganya.
Aneh jika dia tidak sakit.
Aku tidak pernah melihat siapa pun bekerja sekeras dia.
Itulah alasan dia menjadi manajer umum termuda.
Ada kabar penting.
Ji Soo, jangan berisik di kantor.
Ada apa? Apa skandal?
Siapa yang berkencan dengan siapa?
Bu Kang menyerahkan surat pengunduran diri.
- Apa? - Apa?
Tidak mungkin.
Untuk apa Mi Ri melakukannya?
Aku yakin itu rumor.
Itu benar. Aku mendengarnya
dari Tim Personel.
Direktur Park menolak pengunduran dirinya.
Dia menyimpan suratnya.
Kenapa tiba-tiba?
Kenapa dia melakukan itu?
Aku akan mencari tahu,
jadi, jangan membuat keributan dan berfokuslah bekerja.
Apa yang harus kita lakukan?
Itu tidak mungkin. Mustahil.
Tidak mungkin, bukan, Tae Ju?
Mi Ri...
Kenapa menyerahkannya kepadaku?
Aku bertekad
untuk menuntaskan privasi dan berfokus menulis.
Tolong jaga sampai aku selesai bekerja mulai sekarang.
Aku sudah mematikannya sejak kemarin.
Kamu itu anak SMP dalam masa pubertas atau apa?
Aku bukan orang tuamu.
Kamu harus mengurusnya sendiri.
Katamu kamu tidak bisa memercayaiku saat itu.
Aku berusaha berfokus dan menulis.
Kamu tidak senang?
Bagaimana dengan orang yang datang kemari
karena kamu tidak bisa dihubungi?
Maksudku, pacarmu
yang amat menyayangimu.
Mari kita lihat.
"50 panggilan tidak terjawab"
"Kamu di mana, Mi Hye?"
Mi Hye. Mi Hye!
Pak Bang.
Peter, apa Mi Hye masih hidup?
Mi Hye baik-baik saja? Dia tidak terluka, bukan?
Apa maksudmu?
Tenanglah dahulu.
Katanya dia pergi bekerja pagi ini,
tapi aku tidak bisa menghubunginya.
Mungkin dia kecelakaan.
Apa?
Mi Hye!
Kenapa tidak mengangkat teleponmu?
Aku cemas.
Ikuti aku.
Ada apa?
Dia menuntaskan privasinya.
Apa?
Sebentar saja, Mi Hye. Tunggu.
Ada apa?
Mulai sekarang, jangan kemari lagi.
Serta untuk sementara, jangan hubungi aku.
Paham?
Kenapa aku harus melakukan itu?
Karena aku harus menulis.
Bukan hanya kamu yang penulis. Aku juga menulis.
Ya, aku tahu itu.
Tapi kamu andal. Kamu bisa berkonsentrasi
dan sudah menjadi penulis naskah terkenal.
Tapi aku tidak andal.
Aku tidak bisa berkonsentrasi.
Pikiranku pecah dan fokusku buyar.
Baik, Mi Hye.
Tapi jika tidak bisa menghubungi ponselmu,
atau tidak tahu kamu di mana dan sedang apa,
aku tidak bisa tenang.
No comments yet. Be the first to leave one.