The first 200 lines.
RAYUAN & CAMILAN
Gavin! Gavin!
Ayo... Ya, kau harus tidur.
Gavin! Gavin!
Gavin!
Itu Gavin.
Aku Claire. Dan aku tidak akan punya anak.
Aku memutuskan itu setelah video di kelas kesehatan sekolah.
Video dari era 70-an itu.
Ada wanita menjerit seperti akan dibunuh.
Keringat menetes di wajahnya.
Sementara suaminya menepuk keningnya dengan handuk.
Dan berkata ia hebat.
Lalu kamera turun ke adegan horor di antara kakinya.
Saat gadis lain di sekitarku berkata, "Aw..."
ketika bayinya menangis, aku menatap mereka jijik.
Apa yang salah dengan kalian?
Aku tidak akan punya anak.
Aku tidak akan punya anak.
Jadi, Claire, kau sudah memilih jurusan?
Aku tidak akan punya anak.
Aku tidak akan punya anak.
Sayangnya, tidak ada yang bilang pada diriku yang 20 tahun
bahwa ia dan mantranya akan hamil.
Ya, itu dia.
Di dalam kepalaku, menyesap Merlot khayalan,
berlagak paling tahu segalanya.
Dan... itu aku.
Usiaku 25. Putraku Gavin 4 setengah tahun.
Dan diriku yang 20 tahun yang bodoh itu
akan menerima pelajaran besar
dari pepatah yang kira-kira berbunyi,
saat kau membuat rencana, Tuhan tertawa. Karena Tuhan memang berengsek.
Secara teknis, Dia segalanya,
jadi tidak apa-apa kusebut begitu. Tuhan itu berengsek.
Tuhan adalah pohon indah.
Tuhan adalah pesta asrama di semester terakhir tahun keduaku
di Universitas Ohio
yang dimasuki diriku yang 20 tahun bersama sahabatnya, Liz.
Kenapa aku dan Liz masuk ke rumah persaudaraan ini?
Karena kami punya misi. Misiku. Untuk akhirnya...
melepas keperawanan bodoh yang menyebalkan ini.
Dan aku tahu tempat ini bukan satu-satunya tempat
untuk menemukan pria bernafsu, tapi aku tidak mau hubungan,
dan aku tidak mau gangguan.
Jadi kupakai cara cepat Liz,
yang katanya bisa kami temukan di sini.
Hei, bagaimana dengan dia? Manis. Giginya bagus.
Astaga, Liz, dia bukan kuda.
Kau bisa menungganginya semalaman jika caramu tepat.
Baik, dua target menatap kita dari belakang.
Baik...
Kalau kau bersin, payudaramu bisa keluar,
jadi simpan dulu sebelum melukai mata orang.
"Aku bukan dokter kandungan, tapi boleh kulihat."
Itu terdengar siap diajak tidur!
Sial, Liz.
Halo, para wanita.
Hai! Ini Claire...
Dan kau?
Aku? Bukan. Maaf. Maksudku kausmu.
Ya Tuhan. Aku bisa melepasnya.
Dia tampan. Aku ingin menampar wajahku sendiri
karena menyebut pria tampan, tapi itu benar.
Aku ingin membingkainya dan menaruhnya di nakas
dengan cara yang tidak menyeramkan atau seperti Hannibal Lecter.
Dia tidak ingin berada di sini, sama sepertiku.
Aku bisa memperkenalkan diri dan bilang dia belahan jiwaku.
Lihat! Ups...
Maaf! Gadis tidak diundang.
Astaga, ada apa denganmu, Heather?
Apa kau baru mengutip film Heathers?
Itu film favoritku.
Aku sangat naksir Winona sebelum kasus mengutil itu.
Namaku bukan Heather.
Winona... Wah.
Aku memang suka gadis unik, cerdas, dan berambut gelap.
Aromamu seperti cokelat.
Kenapa kau memanggilku Heather?
Aku selalu begitu...
Dia tahu namaku Nikki.
Nikki?
Halo?
Nikki! Suaramu membuat telingaku sakit dan merusak mabukku.
Kau mau... main beer pong atau semacamnya?
Aku ingin merogoh celanaku,
mengambil keperawananku, membungkusnya dengan pita.
Atau memasukkannya ke tas hadiah dari Target dan memberikannya padamu...
Sial, jangan katakan keras-keras.
Beer pong... Boleh.
Baiklah.
Aku tidak mengira malam ini akan terasa menyenangkan.
Menikmatinya adalah bonus kecil yang tidak kuduga.
Tidak, biarkan. Aku bisa.
Ya Tuhan. Ini benar-benar terjadi.
Ya! Jawabanku ya!
Kau baik-baik saja?
- Kau baik-baik saja? - Aku baik.
Lepas celanamu.
Ritsleting!
Baik, siap, siap... Whoa!
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Aku ingin itu berlangsung selamanya.
Aku melihat bintang. Aku orgasme 3 kali malam itu
dan itu pengalaman paling luar biasa dalam hidupku... Ya, tidak.
Rasanya sakit sekali, canggung, dan kacau.
Rasanya seperti tugas juri telanjang.
Dan satu-satunya "bintang" yang kulihat ada di balik kelopak mataku
saat aku memikirkan tempat bahagia.
Tapi jujur saja.
Dia semanis dan selembut yang ia bisa.
Dalam keadaan itu.
Tapi itu sempurna. Dia sempurna.
Dan begitulah aku meninggalkannya.
Setelah urusan keperawananku selesai,
aku bisa lebih fokus pada kuliah dan karierku.
Dan Liz akan berhenti melihat pesta seperti pasar daging.
Kami bahkan tidak saling memberi nama.
Itu terjadi, dan semua berjalan sesuai rencana.
Hamil - Tidak Hamil
Sampai itu...
Buka satu lagi!
- Claire... - Lakukan saja, jalang!
Sayang, aku minta maaf.
Apa yang harus kulakukan, Liz?
Apa yang kulakukan?
Mari memanggang.
Memanggang? Apa? Mesin waktu?
Kita ke toko dan membuat manisan terkenalmumu. Aku bantu.
Camilan renyah Major McGillicutty
tidak akan mengubah apa pun!
Untuk dijual. Di kampus. Mengumpulkan beberapa ratus dolar.
Lalu aku sadar.
Meski bazar kue untuk aborsi mungkin berhasil.
Meski aku ingin semua ini hilang.
Meski aku mendukung hak wanita untuk memilih.
Keenggananku melahirkan anak
bukan karena aku membenci manusia kecil.
Kadang kusalahkan cara ibuku membesarkanku.
Ibu, anak jahat di ayunan memukulku.
Claire, jangan bohong dan pura-pura jadi korban!
Pergi minta maaf padanya.
Bu, boleh aku beli tas baru?
Tentu, sayang, cari uang receh dulu dari pantat bebek!
Beli huruf vokal!
Kau mau ke mana?
Hanya 40 menit dari sini, Sayang. Kita akan bertemu.
Ayahmu tidak pernah mengajakku pergi.
Kau akan mengerti saat punya anak.
Ibu butuh hidup.
Dah.
Tidak masalah. Ada adopsi.
Meninggalkannya di teras orang seperti Benjamin Button.
Sungguh, pilihannya banyak.
Dan aku memilih mendefinisikan ulang
arti kata "ibu" bagiku.
Aku akan berpikir... "Oh, sial. Itu aku."
Kalau begitu, kita cari dia.
Siapa yang menyuruh pria merenggut keperawanannya,
lalu tidak menanyakan namanya?
Oh, ya, aku ingat sekarang.
Terima kasih.
Itu jadi misi baru selama 2 bulan berikutnya.
Pendiam, misterius, lebih mirip Edward daripada Jacob.
Apa?
Tapi aku tahu harus berbuat apa setelah itu selesai.
Dan di situlah hidup yang kurencanakan resmi mengucap selamat tinggal.
Selamat tinggal, beasiswa tersayangku.
Dan halo... Butler, Ohio... Lagi.
Halo, semua yang kutinggalkan.
Halo, hal yang ibu tinggalkan.
Halo, kebalikan dari maksud orang
saat bilang ingin "melihat dunia".
Halo, Wiggly Pig, aku merindukanmu. Bercanda.
Ya...
Halo, hidup lewat cerita Liz saat ia menyelesaikan
gelar bisnis kecil yang dulu kami ambil bersama
dan bercerita tentang hubungannya dengan Jim,
yang kini pindah ke apartemen yang dulu kami bagi.
Aku harus pergi, aku sayang kau!
Baik, sampai nanti!
Halo, ulang tahun ke-21 yang selalu kubayangkan begini...
Aku mabuk, para bajingan!
Tapi kenyataannya begini...
Kalian bajingan!
Setidaknya aku tidak akan lupa ulang tahunnya.
Halo, Ayah.
- Ibu tunggal. Hormati. - Baik, Kakek.
Selamat tinggal, kencan.
Apa?
Ya Tuhan!
Halo, merangkai kukis dan manisan untuk tetangga
alih-alih membuka toko manisan impianku.
Halo, kembali ke pekerjaan SMA-ku
sebagai pelayan di Foster's Family Bar and Grill tercinta.
Halo, pelanggan lama yang sama,
yang terdengar begitu tulus saat memberi selamat
karena aku naik jadi bartender setelah akhirnya dewasa.
Halo, pulang dengan tahu Gavin belum cukup lancar bicara
untuk memahami kalimat "Ibu lelah."
No comments yet. Be the first to leave one.