The first 200 lines.
Kkeok Jeong, apa kau baik-baik saja?
Jika bertemu dengannya lagi, aku takkan melepaskannya.
Aigoo, apa ini?
Bukan hanya satu, tapi kenapa kalian bertiga terluka?
Padahal tidak pernah begini sebelumnya.
Orang macam apa dia?
B***ngan yang seperti hantu.
Ini pertama kalinya aku bertemu orang seperti itu.
Kenapa Pencuri Kuda belum kembali juga?
Apa dia masih bersama si wanita cantik?
Oh, itu Ayah dan Tabib eonni.
Ya.
Ayah!
Diamlah!
Aku tidak bisa terus melihatmu jungkir balik untuk pria itu.
Benar. Bagaimana?
Maafkan hamba.
Ketika hamba tiba,
Anak buah Jang Hong Dal sudah mati.
Apa? Lalu...
Untungnya, tidak ada mayat Jang Hong Dal dan tabib Da In.
Mereka pasti berhasil bersembunyi.
Ini ditemukan menancap pada tubuhnya.
Senjata yang sama yang melukai Inspektur Lee Jeong Hwan.
Lalu, surat itu sudah jatuh ketangan Istana Pusat?
Hamba akan mengawasi Istana Pusat.
Oke.
Jangan sampai lengah untuk mengawasi pamanku dan Gim Chi Yong.
Baik, Yang Mulia.
Jadi...
Kau tidak menemukan surat itu?
Kalau bandit,
Dia mengambil surat itu.
Bagaimana bisa orang rendahan dari Rumah Sakit Kerajaan,
membuatku kesulitan setiap saat!
Bagaimana bisa?
Yang Mulia, kumohon tenanglah.
Surat itu
Bagaimana caranya kau dapatkan kembali?
Kalau surat itu sudah ditangan Choe Won,
tinggal masalah waktu saja surat itu untuk jatuh ketangan Putra Mahkota.
Mulai sekarang, orang yang keluar-masuk Istana Timur harus diawasi.
Walaupun harus melakukan pemeriksaan,
surat itu tidak boleh jatuh ketangan Putra Mahkota.
Maafkan aku. Karena aku, kau terluka seperti ini.
Aku hanya membela diriku.
Ajussi.
Kalau kau terus jahat pada ayahku,
Aku akan mengadukanmu pada So Baek seong.
Kau mungkin tampan, tapi pikiranmu sangat sempit.
Rang. Kau tidak boleh bicara begitu. Itu kasar.
Yang kasar itu tuan muda yang nakal.
Ya kan, Bocah Cerdas?
Rang.
Mulai sekarang kau harus berbicara yang sopan. Mengerti?
Bagus. Putriku sangat baik.
Berikan aku pengobatan juga.
Oh ya, haruskah aku buka baju?
Apa?
Apa yang ingin kau lakukan? Kau tahu ini dimana?
Lalu, gimana?
Aku terluka. Aku butuh pengobatan juga.
Makanya, kemarilah.
Akan kuberi air liur.
Tidak mau, Aku ingin Pencuri Kuda...
Da In saja yang mengobatimu.
Aku inginnya kau yang mengobatiku.
Akan lebih pantas kalau Da In saja.
Benar. Tentu saja bisa. Dia adalah tabib wanita.
Wanita cantik itu pasti sedang tidak ingin mengobatiku.
Pencuri Kuda saja yang mengobatiku.
- Tidak! - Tidak!
Karena kau adalah putriku,
tidak ada momen, yang aku tidak bahagia saat bersamamu.
Putriku.
Ijinkan aku menyentuh wajahmu.
So Baek terluka. Kumohon obatilah dia.
Tidak, Aku ingin kau saja...
Dia akan mengobatimu dengan baik.
Aku mengandalkanmu.
Tunggu.
Biar aku lihat.
Dimana kau terluka?
Itu... disini.
Benar. Kau harus kuat seperti itu.
Sudah kubilang aku baik-baik saja. Kenapa aku harus melepas bajuku?
Kalau orang yang tidak tahu, pasti akan salah paham padaku.
Apa kau tidak pernah berpikir?
Walaupun begitu, ada waktunya untuk itu.
Demi luka parah dan daging tidak berguna yang terus berkeringat...
Apa? Daging yang tidak berguna?
Ini bukan daging biasa.
Ini hanya daging biasa.
Sakit.
Ini juga tidak berguna.
Lupakan. Aku jadi semakin marah karena kau.
Kau benar-benar mudah sekali marah.
Aku mengerti.
Kalau itu keinginanmu,
Aku akan berpikir sembari mengelapmu.
Apa itu?
Bukan apa-apa.
Kau mengangis karena aku?
Kenapa aku harus menangis karena mu?
Aku kira aku akan segera bebas, tapi, itu tidak terjadi.
Jangan khawatir.
Walaupun, aku terluka seperti ini agar kau bebas, tapi, aku belum mati.
Ini.
Pakai ini untuk menghapus air matamu.
Apa katamu?
Kenapa kau menangis? Ini hanya sedikit terlambat.
Bagaimana caranya aku memberikan ini pada Yang Mulia?
Kali ini aku tidak bisa memberikannya pada Iblis Merah.
Karena ini, dia hampir mati.
Karena emosinya begitu,
karena sering kehilangan ini, dia pasti semakin mengungkap surat ini.
Tuanku, apa kau baik-baik saja?
Kalau kau kembali lebih cepat...
Benar. Apa kau menemukan saudagar Jang?
Itu...
Katanya dia tiba-tiba pergi ke China setelah berkemas...
Apa?
Tapi anehnya...
Aku bertanya di pelabuhan.
Saudagar Jang dan orang-orangnya tidak naik kapal itu.
Benarkah?
Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mereka.
Putri si bandit itu menanyakan keberadaan saudagar Jang?
Ya.
Maka aku bilang padanya kalau saudagar Jang akan pergi ke China?
Lalu...
Choe Won pasti tahu dimana keberadaan saudagar Jang.
Dimana sarang bandit itu?
Ya?
Aku tidak bisa melakukan itu...
Kalau aku memberitahumu, aku akan dibunuh si Palu Besi Yangju.
Lebih baik memberikanku surat akan segera kusampaikan.
Apa yang kau lakukan?
Demi keselamatan Yang Mulia, Putra Mahkota,
diperintahkan bagi siapapun yang memasuki Istana Timur harus diperiksa.
Diperiksa?
Siapa yang memberikan perintah?
Berhenti!
Apa ini perintah Ibu Ratu?
Melihat gerak-geriknya,
Sepertinya Yang Mulia, Ratu tidak memiliki surat itu.
Hati-hati.
Kau sekarang jadi sasarannya juga.
Sasaran...
Berikan ini pada mereka.
Yang Mulia, aku pergi dulu ada hal penting yang harus kulakukan.
Dia diseret pergi?
Ya, oleh pria yang lumayan tampan.
Beberapa saat yang lalu...
Itu pasti orang yang meleparkan pisau padaku.
Dia pasti pergi kesarang bandit.
Dimana sarang bandit?
Iblis Merah pasti ingin menemuiku.
Maka, dia akan menemui penadah.
Ayah.
Rang, bagaimana?
Jangan khawatir, buang air besarnya lancar.
Tapi, kemana tabib eonni pergi?
Huh?
Aku tidak bisa menemukannya dimanapun.
Dia pasti sangat sedih.
Ajussi selalu sedih,
karena aku tidak memanggilnya ayah.
Karena ayah kandungku yang dituduh penjahat ketika aku masih kecil,
aku tidak bisa memanggilnya ayah.
Sampai saat terakhir dia pergi...
Aku tidak memanggilnya ayah.
Ayah angkatmu,
memintaku untuk menjagamu,
dan memberikan surat ini.
Kalau kau sedih begini,
bagaimana aku bisa mengahadapinya?
Aku baik-baik saja sekarang.
Jadi... apa yang akan kau lakukan dengan surat ini?
Sekarang kau adalah Hong Da In yang penuh semangat.
Karena sekarang Yang Mulia, Ratu tidak bisa mendapatkan surat ini,
maka, dia pasti akan mengawasi Putra Mahkota.
Lalu, bagaimana caranya kau menyerahkan ini pada Putra Mahkota?
Maka dari itu,
bukankah Yang Mulia, Raja selalu pergi ke pemandian air panas setiap tahun?
Ya.
Lalu kenapa?
Ayo kembali dulu.
Kita diluar benteng gunung. Disini berbahaya.
Setiap Raja pergi ke pemandian air panas, Ratu ikut juga, kan?
Lalu saat Ratu sedang tidak mengawasi pada hari itu,
Aku akan menemui Putra Mahkota.
Bagaimana menurutmu?
Itu, itu...
Selama aku mengantarmu ke benteng gunung Heukseokgok, kau akan membebaskanku, kan?
Kau akan membiarkanku hidup, kan?
Baiklah. Disana. Disana.
Kenapa hanya kalian berdua yang kembali?
So Baek dan anakmu pergi mencari kalian.
Apa? Rang?
No comments yet. Be the first to leave one.