The first 200 lines.
[Nama, bisnis, tempat, dan insiden yang disebutkan hanyalah fiksi.]
Woo-yeon.
Lakukanlah. Jelaskan, buat alasan, apa pun.
Aku akan percaya semuanya, meski itu bohong.
Seharusnya kau dengar saat aku ingin menjelaskan.
Itu sebabnya aku mengejarmu.
Jika kau melakukannya,
apa itu akan menarik perkataanmu?
Apa perasaanku akan menghilang?
Jadi, mari bicara.
Lepaskan dahulu.
Jangan ikut campur. Kau tidak berhak.
Aku tidak butuh hak. Woo-yeon tidak mau bicara.
Katamu kesempatan yang hilang menjadi penyesalan, bukan?
Teruslah menyesalinya.
Apa masalahmu? Ada yang ingin kau katakan kepadaku?
Bahkan mengatakan suka akan sakit jika dikatakan dengan tidak tulus.
Sampai kapan kau akan mengikutiku?
Kau membuatku tidak nyaman.
Itu intinya.
Agar perhatianmu terlalu teralihkan untuk mengingat kata-kata kosongnya.
Tidak bisakah aku mengambil kesempatan
saat dia kalah?
Kenapa kau menginginkan kesempatan orang lain?
Disebut kesempatan hanya jika dia memilikinya.
Apa yang kau miliki
bukanlah kesempatan.
Percuma aku bersemangat.
Kupikir itu kesempatan.
Kau juga harus berhenti.
Berhentilah datang.
Aku tidak tahu cara berhenti.
Kita bertemu terlalu cepat dan tiba-tiba putus.
Hatiku belum memahami situasinya.
Jadi, kumohon
beri aku waktu.
Aku hanya bisa
berdiri di depanmu
seolah aku sedang dihukum.
Bagaimana aku bisa menghukummu?
Apa kau masih dihukum?
Mungkin.
Akulah yang dihukum.
Masuklah.
Aku akan pergi.
- Kenapa Ayah di sini? - Dasar berandal.
Bagaimana kau bisa menyapa ayahmu dengan "Kenapa Ayah di sini?"
Aku tidak senang bertemu dengan Ayah.
Ayah sangat terluka.
Kau punya alkohol?
Ini bukan bar.
Apa yang terjadi antara kau dan gadis itu?
Sepertinya tidak berjalan lancar.
Bagaimana dengan Ayah? Ada apa dengan Ibu?
Pria itu bukan kekasihnya.
Itu bukan kencan.
Kau berbicara dengan ayah, bukan?
Siapa lagi?
Kau terdengar seperti berbicara sendiri.
Sepertinya kau ingin memercayainya.
Percayalah yang kau inginkan.
Jika itu yang ingin kau percaya.
Jangan biarkan kesalahpahaman menyiksamu.
Jika kau menyukai seseorang, dengarkan semua perkataan mereka.
Percayalah pada mereka.
Agar kau tidak akan menyesal nantinya.
Ayah menyesal?
Itu
keahlian ayah.
Apa itu menurun?
Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau belajar?
Aku akan belajar saat diperlukan. Kakak bukan ibuku.
- Ibu. - Hati-hati.
Jika ibu tidak ada, kakakmu adalah ibumu.
Tidak, dia hanya kakakku.
Selain itu, Ibu akan ada di sini.
Kau pikir ibu akan hidup selamanya?
Kau pikir hanya kau yang bertambah tua?
Ibu menua.
Ya, Ibu harus menua.
Biarkan kami melihat Ibu menjadi wanita tua setelah hidup lama.
Cheol-su, bukankah ini saatnya membayar biaya lesmu?
Kenapa mereka tidak menagih kakak?
Sebentar lagi.
Aku pergi.
- Sampai jumpa. - Baik, Sayang. Belajarlah dengan giat.
Jangan membuatku muntah.
- Hyun-jae. - Lama tidak bertemu, Cheol-su.
- Kau mau ke mana? - Ke perpustakaan.
Tunggu.
Aku bukan anak kecil. Sampai jumpa.
Berandal itu.
Dia sudah dewasa.
Ibu baik-baik saja?
Ya. Senang sekali bertemu menantuku.
Kami bahkan belum menikah dan semua orang menganggapnya suamiku.
Aku menyukainya. Ada apa?
Pergi dan belikan sesuatu untuk Hyun-jae minum.
Tidak perlu.
Aku pesan es americano.
Baiklah.
Ini.
- Hyun-jae. - Ya. Silakan.
Itu pasti sulit.
Ada perawat yang merawat pasien di bangsal ini, tidak membutuhkan wali.
Aku lebih baik daripada dugaanmu.
Maaf aku tidak bisa membantumu dengan beban itu.
Maaf aku selalu kesulitan.
Katakan hal lain selain "Maafkan aku."
Aku mencintaimu.
Aku lebih mencintaimu.
Anakku yang malang sedang sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Andai aku bisa sakit menggantikanmu.
Astaga. Kuharap putriku lekas sembuh.
- Itu menyakiti hatiku. - Ibuku
meninggal saat aku masih sangat muda.
Aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya dengan benar.
Tapi belakangan ini,
aku rindu ibuku meski tidak ingat wajahnya.
Kalau dipikir-pikir,
tidak ada banyak momen
saat aku merindukan ibuku.
Tapi pada saat itu,
aku sangat putus asa.
Pasti.
Aku mengkhawatirkan anak-anakku.
Aku bahkan tidak begitu ingat ibuku,
tapi aku sangat merindukannya.
Aku merasa kasihan pada putriku.
Saat dia sakit,
siapa yang akan mendampinginya?
Tidak.
[pekerja paruh waktu baru akan datang besok.]
Aku membenci diriku karena bersikap seperti ini.
Kenapa sulit sekali?
Mari bertemu.
Kenapa kau memintaku datang?
Lalu kenapa kau muncul?
Untuk membicarakan hal lain.
Aku ingin Woo-yeon bahagia lebih dari siapa pun.
Aku tidak keberatan dia tidak bersamaku. Tidak penting siapa orangnya.
Kecuali
dirimu.
Memang kau siapa bisa memutuskan?
Jika kau menyakitinya sekali, kau bisa menyakitinya lagi.
Jika dia terluka sebelumnya, dia akan terluka lagi
karena dia akan terbiasa terluka.
Kau tahu apa tentangku dan Woo-yeon?
Aku tahu wajahnya setelah terluka karenamu.
Aku tahu wajah sedih yang dia buat di belakangmu,
aku tahu wajahnya yang sakit setelah berpaling darimu.
Aku juga melihat
wajahnya saat dia menunggumu terlepas dari semua itu.
Jadi kau tidak baik untuknya.
Apa Hyun-jae sudah pergi?
Ya.
Pastikan kau berpegangan pada tangannya
dan jangan lepaskan.
Dia anak yang baik.
Aku juga tahu itu.
Kau harus segera menikah.
Aku akan mengurusnya.
Ibu tahu.
Kau selalu pandai mengurus semuanya sendiri.
Ibu tidak pernah melakukan apa pun untukmu.
Meski aku tidak suka perkataan Ibu,
aku akan membiarkannya karena Ibu sedang sakit.
Ibu tidak sedang menyindir.
Maaf ibu membiarkanmu tumbuh begitu mandiri.
Maaf ibu meninggalkanmu sendiri.
Itu sebabnya Ibu harus cepat sembuh.
Jangan tinggalkan aku sendiri mulai sekarang.
Ibu mau tidur.
Kau harus pergi.
Sepertinya kemalangan ini
tidak akan berakhir.
Apa ini? Apa ini hari minum sendiri?
Kenapa kau duduk di sana?
Aku sengaja duduk menjauh darimu.
Sekalian saja suruh aku pergi.
Jangan pergi dan duduk di depanku.
Woo-yeon dan Jin-ju cepat menyuruhku pergi.
Kenapa kau menyuruhku duduk?
Kau pikir aku menyuruhmu duduk karena menyukaimu?
Secara objektif,
aku tidak melakukan kesalahan kepadamu atau Jin-ju.
Tapi kami melihat semuanya.
Kami melihat Woo-yeon sepuluh tahun.
Kami melihat emosinya terlalu lama dan itu berbekas kepada kami.
Kenapa menyuruhku duduk jika kau juga tidak menyukaiku?
Tidak apa-apa. Aku senang bertemu denganmu.
Aku tidak merasa disambut,
tapi pasti hanya firasat.
Kau terlihat seolah dunia akan runtuh.
Katakan saja. Terlihat lebih serius saat kau bicara dengan bahasa tubuh.
Kau tahu Rapunzel?
Ya. Yang berambut panjang, bukan?
Kau tahu di mana dia tinggal?
Di menara?
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.