The first 166 lines.
(Kesukaran adalah langkah pertama untuk menemukan kebenaran)
Sudo!
Horikita?
Kelas D akan kehilangan kesempatan menang tanpamu.
Bukannya sudah tidak ada harapan?
Ya...
Padahal sudah kugendong sendiri...
Sudo, aku tahu kamu serius menghadapi Olimpiade sekolah ini.
Tapi ada banyak hal yang perlu kamu pikirkan lagi.
Apa kamu bisa biarkan aku sendiri, Horikita?
Aku sedang sangat kesal.
Kamu selalu saja kekanakan.
Sifatmu ini akan sulit diterima dalam masyarakat—
Banyak omong!
Sifatmu ini bermasalah.
Bisa-bisanya dia berceramah.
Hentikan!
Aku bisa muntah mendengar ceramahmu!
Aku mengira Olimpiade ini akan mudah dimenangkan, jika aku atletis!
Tapi aku tidak bisa apa-apa, jika ada beban di lomba beregu.
Aku bisa lihat kalau kamu benci ketika kalah dalam bidang keahlianmu.
Tapi apa cuma itu?
Mungkin karena aku juga ingin diperhatikan dan dihormati.
Aku ingin membalas mereka yang sudah merendahkanku.
Norak, 'kan?
Aku sampah yang terlahir dari keluarga sampah.
Aku tidak mengira akan jadi seperti mereka,
tapi aku semakin mirip dengan orang tuaku.
Cara berpikirmu salah.
Perubahan seseorang tidak bisa disalahkan pada orang lain,
tapi harus dipilih oleh dirinya sendiri.
Keadaannya tidak akan sesulit ini jika sang adik yang genius memang genius.
Apa maksudmu?
Kamu belum menjadi apa-apa. Kamu yang menentukan perubahanmu.
Hah?
Kamu punya bakat besar dalam bidang olahraga.
Tapi saat ini kamu masih rendahan karena mencoba kabur dari kenyataan.
Jika kamu ingin terus bersembunyi, aku akan benar-benar menyebutmu sampah.
Terserah padamu saja.
Aku sudah tidak peduli.
Tidak lama lagi, istirahat siang akan selesai.
Para siswa diharapkan berkumpul di lapangan.
Kembalilah, Horikita.
Aku tidak akan kembali sampai kamu ikut.
Akan kutunggu kamu kembali.
Terserah.
Kushida, bisa bantu mengikat ikat kepalaku?
Oke.
Sulit dipercaya kalau Horikita pergi mencari Sudo.
Kushida...
Sebentar, ya.
Aku masih mengikat—
Aku tahu kamu orangnya,
pengkhianat yang telah membocorkan daftar peserta Kelas D ke Kelas C.
Kenapa kamu begitu, Ayanokoji?
Kamu bicara apa tiba-tiba?
Jahat sekali bercandamu.
Aku melihatmu memotret daftar peserta lewat ponsel.
Aku hanya mendokumentasikan supaya tidak lupa.
Tapi ada larangan memotret.
Masa iya?
Maaf, aku lupa.
Apa karena itu kamu mencurigaiku?
Maaf, tapi aku sudah yakin.
Jika tidak, kita tidak akan jadi bulan-bulanan Kelas C.
Ayanokoji...
Seandainya benar aku yang membocorkan informasi kelas dan ada larangan memotret,
berarti kamu sudah menduga kalau daftar peserta akan bocor.
Kenapa daftar pesertanya tidak diganti?
Karena percuma, tidak ada gunanya jika ada pengkhianat di Kelas D.
Apa maksudmu?
Siswa Kelas D pasti bisa memastikan kembali, jika daftar itu ditulis ulang kapan saja.
Bagaimana jika daftar peserta disembunyikan
lalu diserahkan sebelum batas waktu, orang yang berniat jahat tidak akan punya waktu.
Tapi mungkin peserta lain akan kesulitan jika demikian.
Jadi tidak bisa.
Tapi bukan aku pelakunya—
Apa sebaiknya kupastikan pada Bu Chabashira?
Apakah ada siswa yang ingin melihat daftar peserta yang telah diserahkan?
Kamu memang bukan orang biasa, Ayanokoji.
Apa boleh buat jika ketahuan.
Kamu benar.
Aku sudah membocorkan informasi daftar peserta.
Kamu mengaku?
Iya.
Tapi sepertinya Ayanokoji tidak bilang pada siapa-siapa.
Apa kamu ingat dengan seragam yang ada sidik jarinya?
Aku memang tidak bisa menuduhmu di depan, hanya bisa memastikan di belakang.
Seperti ujian di kapal, ini juga karena kamu mengaku pada Ryuen kalau kamu seorang VIP.
Lalu kamu meminta imbalan pada Ryuen.
Imbalan?
Memangnya kamu tahu sampai sejauh mana aku rela mengkhianati kelas ini?
Aku yakin sama seperti saat kamu meminta bantuanku dulu.
Oh, begitu.
Aku mengerti.
Sepertinya Ayanokoji sudah tahu semuanya.
Termasuk kalau aku ingin agar Horikita Suzune dikeluarkan dari sekolah.
Hanya saja, aku tidak bisa mengerti apa alasanmu mengincar Horikita.
Aku akan membuat Horikita dikeluarkan.
Niatku ini tidak akan bisa diubah.
Apa kamu rela mengorbankan Kelas D untuk tujuan ini?
Entahlah.
Lagi pula aku tidak peduli jika tidak bisa maju Kelas A.
Selama Horikita dikeluarkan, aku sudah puas.
Oh...
Tapi jangan salah sangka.
Aku akan berjuang bersama teman kelas D
dan bertekad maju ke Kelas A, setelah Horikita dikeluarkan.
Aku bisa menjanjikan hal itu.
Tapi mungkin ada satu hal yang berubah dalam rencanaku.
Aku baru memutuskan kalau kamu masuk
ke daftar orang yang ingin kukeluarkan dari sekolah.
Menuju Kelas A bersama teman-teman bisa setelah menyingkirkan kalian berdua.
Ternyata masih ada.
Ya.
Tunggu, Sudo.
Kamu mau ke mana?
Aku mau kembali ke kamar.
Sudo, aku sudah berpikir selama satu jam ini.
Aku manusia seperti apa, dan kamu manusia seperti apa.
Lalu aku berkesimpulan.
Kalau kita ini sama.
Kita tidak sama.
Kamu tahu mengenai Ketua OSIS.
Si anak murung itu?
Dia adalah kakakku.
Kami memiliki hubungan yang sangat jauh dari kata kakak-adik.
Penyebabnya adalah kekurangan bakatku sampai kakakku yang berbakat jadi membenciku.
Selain pintar, aku yakin kamu jago olahraga.
Semuanya adalah bidang yang jelas berada dalam kemampuannya.
Aku mengacuhkan sekitarku agar bisa mengejar Kakak.
Namun, hasilnya
aku jadi sendirian, hingga aku tidak peduli lagi.
Seandainya aku berbakat, aku percaya Kakak akan mengakuiku.
Aku masih sempat memikirkan alasan egois dalam Olimpiade ini.
Aku sempat berharap Kakak akan memperhatikanku jika aku sering beraksi.
Berjuang untuk kelas adalah alasan nomor kesekian.
Tapi akhirnya aku sadar.
Aku tidak berbakat, jalan pilihanku juga sudah salah.
Aku tidak bisa sendiri, tapi mungkin aku bisa mendekati puncak bersama kawan.
Aku tidak akan menyerah.
Aku akan berusaha menjadi manusia yang tidak tahu malu agar Kakak mau mengakuiku.
Jika kamu hendak melangkah ke jalan yang salah lagi,
aku akan menjemputmu dan tidak akan meninggalkanmu lagi.
Maka dari itu, sampai kita lulus nanti, tolong bantu aku.
Aku berjanji akan membantumu sekuat tenagaku.
Sebelum ini aku kira kamu tidak akan pernah bersikap begini.
Kenapa kata-katamu terasa berat?
Akan kukatakan sekali lagi.
Sudo Ken, aku mohon bantuanmu.
Horikita...
Sial!
Baiklah, aku akan membantu.
Baru pertama kali aku merasa ada yang mengakuiku di luar lapangan basket.
Aku ingin menjawab perasaanmu!
Maafkan aku!
Aku sudah melukai Hirata karena kesal sampai kelas kehilangan semangat.
Kelas D yang hampir kalah ini pun adalah tanggung jawabku.
Sudo...
Akan kukerahkan seluruh kekuatanku di lomba terakhir.
Tentu saja, kami percaya pada Sudo.
Apa boleh aku minta digantikan?
Dengan kondisi kakiku, aku tidak akan menang.
Benar juga.
Kushida, apa kamu bisa?
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.