The first 160 lines.
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
- -
Kalau mau diangkat, silakan, Kak.
Tidak apa-apa, nanti saja.
- Kau kelihatan sangat cantik. - Ini baru temanku!
- Kau terlihat sangat berbeda! - Cantiknya!
Kau kelihatan sangat cantik.
- Warna itu terlihat bagus untukmu. - Aku sampai terkejut!
Wah!
Aku hampir tak mengenalimu!
Kau penata rias yang hebat.
Cantik seperti Ibu, 'kan?
Tentu saja cantik seperti ibunya.
- Bu, aku permisi sebentar. - Ya. Silakan.
Yu.
Aku minta maaf soal obrolan kita semalam.
Tidak mudah bagiku untuk berhenti dari pekerjaanku.
Kau marah karena kau menyayangiku, 'kan?
Aku melakukan semua ini untuk alasan yang sama.
Karena aku menyayangimu.
Aku ingin kau menjalani kehidupan yang lebih baik.
Kenapa aku menjadi alasanmu?
- -
Wah.
- Cantiknya! - Sudah selesai.
Terima kasih.
Lisa, sayang. Sudah selesai?
- Ya. - Ayo.
Satu hal yang perlu kau ketahui.
Aku sangat bangga kepadamu.
Pokoknya,
aku akan selalu ada
sampai kau mendapatkan semua yang kau cita-citakan.
Jam berapa mau dijemput?
Seharusnya tidak lama.
Nanti kukabari.
Ras.
Sudah.
Man.
Ya?
Terima kasih.
Hei.
Kau makin cantik.
Terima kasih.
Kau pasti lelah. Kau baik-baik saja?
Ayo. Mari kita duduk.
Omong-omong, maaf karena aku terus meneleponmu.
Ya…
Aku punya kejutan untukmu.
Masih ingat dengan toko ini?
Safir biru. Safir biru?
Desmond, kita tak bisa bertemu lagi.
- Ini yang terakhir. - Apakah karena aku terus menelepon?
Baiklah, tunggu. Dengarkan aku.
Aku tak tahu kesalahan apa yang kulakukan.
Apa aku membeli cincin yang salah?
Apa yang kau harapkan dariku?
Apakah kau serius?
Ras.
Aku tak peduli dengan reputasiku di depan teman atau keluargaku.
Bahkan istri dan anak-anakku.
- Aku tak peduli lagi dengan mereka. - Bukan itu yang kumau.
Aku mau pergi.
- Desmond! Lepaskan aku! - Kemarilah!
- - Jangan menakutiku!
- Cari dulu calonnya. - Aku mau.
- Ini, lihat! Ini tipeku. - Ya.
- - Ras. Laras.
- Halo? - Ras.
- -
- -
- -
- -
Pelacur!
Jika aku tak bisa memilikimu,
tak ada seorang pun yang bisa!
- -
- -
Ada apa ini?
Di sana.
Tolong dia.
- -
Mas.
Di mana Mbak Laras?
- Bagaimana keadaannya? - Yu.
Laras masih di ruang operasi.
Kau bilang kau akan menjaganya. Kenapa ini terjadi?
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter,
selain 24 tulang patah,
batang otak pasien juga mati.
Dalam kondisi vegetatif ini,
hanya keajaiban yang membuat pasien tetap selamat.
Masih ada harapan, 'kan, Dok?
Kita lihat perkembangannya.
Terima kasih, Dok.
Sebentar.
Ada sesuatu yang perlu diketahui keluarganya.
Mas Arman.
Ayo ikut dengarkan.
Adakah penjelasan soal ini?
Aku tidak punya pengetahuan untuk ini.
Dua minggu sejak kasus percobaan…
- Sus. - Ya?
- Pasien atas nama Larasati Dewi. - Baik, tunggu sebentar.
…L, berprofesi sebagai PSK, telah menyeret nama seorang politisi.
Mbak Ayu, jadi, ini totalnya, dan ini hasil CT scan.
Polisi menetapkan DS sebagai tersangka
dan sedang dalam proses…
Hei!
Semuanya ada di sini.
Ya.
- Terima kasih, Mbak. - Terima kasih, Sus.
Ya, Mbak. Sama-sama.
Makan dulu. Ya?
Seharian belum makan apa-apa, 'kan?
Ini.
Jadi…
apa rencanamu ke depannya?
Tidak tahu.
Tapi aku yakin Mbak Laras bisa sembuh.
Ini hanya masalah waktu.
Ya, tapi…
Jangan lupa untuk memikirkan cara membayar tagihannya.
Maukah kau mencoba alternatif lain?
Kita bawa Laras ke kampung,
lalu kita carikan orang pintar.
Mbak Laras sudah di tempat yang benar.
Bagaimana kau ini?
Benar.
Tapi kau harus lihat kenyataannya.
Tabunganmu sudah mau habis, 'kan?
Hei.
Makanlah dulu. Ya?
- Sus. - Ada apa dengannya, Dok?
- Buka. - Kenapa, Dok?
Ya Tuhan.
Ada apa ini?
- Tenang. - Tenang.
- Mbak Laras! - Dok!
- Laras. - Apa yang terjadi?
Baringkan dia. Pelan-pelan.
Mbak Laras.
Mbak.
- -
Suster?
Mbak.
Kau benar.
Kita harus cari cara lain.
Kita bawa Mbak Laras pulang.
Ya, Yu. Sudah tahu mau bertemu siapa?
Belum.
Tapi di kampung ada kenalan yang sering membantu kami.
Namanya Pak Damar.
Mungkin dia kenal seseorang yang bisa mengerti masalah ini.
Siapa itu?
Ini sangat menyebalkan.
Aduh.
Mas Seno, siapa itu?
Baiklah.
- Bisa, Mas? - Bisa.
No comments yet. Be the first to leave one.