The first 200 lines.
Pada akhirnya tidak ada yang dikeluarkan dari kelas mana pun akibat Paper Shuffle.
Bukankah bagus?
Aku juga tidak senang meski ada yang dikeluarkan dari kelas lain.
Lebih baik jika kita bisa akrab dengan kelas lain.
Tapi jadi sulit karena sistem sekolah.
Begitu, lah.
Jika kita tidak mengalahkan kelas lain, maka kita yang kalah.
Benar juga.
Apa?
Ketua Kelas A dan Kelas B bisa akur?
Kukira mereka berdua rival.
Mungkin sudah tabiat Ichinose bisa berteman dengan siapa saja.
Kalau aku, mungkin aku tidak cocok dengannya.
Kamu benci Ichinose?
Tidak sampai sebegitunya.
Rasanya dia terlalu sempurna sampai terasa terlalu ideal.
Kalau tidak punya kekurangan, dia jadi tidak punya pesona.
Manusia teladan sempurna memang terkesan menakutkan.
Tapi menurutku, sebaiknya ada orang seperti dia.
Jika kita maju ke Kelas C, maka Ichinose akan jadi lawan kita.
Tidak perlu terlalu dekat dengannya.
Kesampingkan itu, sebentar lagi Natal.
Natal.
Bukan berarti harus dirayakan.
Tidak bisa begitu.
Pasangan di sekolah juga makin bertambah.
Kiyotaka, apa kamu punya rencana di malam Natal?
Aku?
Waduh, Airi...
Mau ajak-ajak?
Bukan begitu!
Berani, ya...
Bukan begitu maksudku...
Aku cuma penasaran apa rencananya.
Ternyata benar, ya?
Iya.
Selain itu, ya...
Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Kamu dibuntuti siswa Kelas C?
Sekarang aku harus bagaimana?
Aku yakin mereka tidak akan nekat bertindak lebih jauh.
Cukup acuhkan mereka.
Oke, aku paham.
Omong-omong,
aku ingin tanya karena kebetulan, bagaimana dengan hal yang kuminta?
Kamu ingin tahu tentang seseorang yang mengawasimu saat belajar bersama, 'kan?
Sesuai pesanmu, memang ada.
Tapi dia bukan dari Kelas C.
Kalau tidak salah, dia dari Kelas A.
Kelas A?
Ya, akan kukirim foto yang berhasil kuambil.
Tapi kenapa kamu diincar Kelas A?
Lah?
Dasar menyebalkan!
Kelas A...
Suruhan Sakayanagi, ya.
Sialan...
Apa-apaan siswa Kelas C?
Memangnya kenapa?
Pagi-pagi sudah menantang berkelahi di lorong.
Tapi kamu tidak menyerang mereka, 'kan?
Tidak.
Aku sudah mengabaikan mereka.
Aku adalah pria yang dapat dipegang kata-katanya!
Hebat juga dia bisa menahan diri.
Mungkin akhirnya dia jadi manusia biasa.
Selain itu, sepertinya gerak-gerik Kelas C makin aktif.
Kudengar ada siswa lain yang juga diganggu.
Kita sudah merenggut banyak poin dari Kelas C berkat Paper Shuffle.
Itu sudah bisa jadi alasan ketidaksabaran mereka.
Kira-kira apa tujuan mereka kali ini?
Kamu pasti sudah tahu.
Ryuen sedang menggeledah mencari sang dalang di Kelas D.
Intinya mencarimu, ya?
Ryuen sudah tidak percaya kalau aku sang dalang.
Kenapa bisa yakin begitu?
Karena tidak seperti siswa lain, tidak ada yang menyenggolku.
Aku paham.
Lalu, apa kamu punya rencana?
Tidak ada.
Kamu ini kadang-kadang...
Sepertinya kamu tidak mau mengatakan apa-apa.
Apa benar kamu akan membantuku
dalam memajukan kelas ini menuju Kelas A?
Ya, selama aku butuh.
Apa ini?
Hari ini harus kukembalikan.
Apa kamu bisa kembalikan buku ini ke perpustakaan?
Kenapa aku?
Kamu pernah bilang ingin baca, 'kan?
Lebih baik kalau kamu sekalian meminjamnya setelah dikembalikan.
Kalau tidak mau, aku akan ke perpustakaan sendiri untuk mengembalikan buku ini.
Tapi entah kapan kamu akan dapat giliran dikunjungi buku langka ini.
Jika kamu bersedia mengorbankan sedikit waktu untuk jalan ke perpustakaan—
Baiklah, akan kuterima dengan senang hati.
Terima kasih.
Terserah mau kapan, yang penting kembalikan hari ini.
Kalau aku sampai dapat denda keterlambatan, aku akan—
Aku paham.
Kalau tidak salah...
kamu Ayanokoji dari Kelas D?
Ya.
Sebelum itu, ini.
Terima kasih.
Kamu suka karya Emily Brontë?
Ya.
Tidak juga, aku hanya melihat kalau bukunya ada di rak kategori yang tidak tepat,
makanya ingin kukembalikan ke tempat semestinya.
Oh, begitu.
Apa itu...
"Selamat Jalan, Yang Terkasih" karya Raymond Chandler?
Ya.
Buku ini memang mahakarya.
Apa kamu pernah baca karya Dorothy L. Sayers?
Tidak, sepertinya belum sempat.
Kalau begitu...
aku rekomendasikan jilid pertama dari serial Lord Peter.
Maaf, aku kira kamu sedang mencari buku untuk dipinjam.
Apa aku sudah mengganggu?
Tidak, kalau begini akan sekalian kupinjam.
Baguslah.
Aku tidak punya teman untuk membahas buku di Kelas C.
Apa kamu yakin?
Bukankah kelasmu sedang kelabakan mencari seseorang di Kelas D?
Apa aku tidak mencurigakan?
Tenang saja.
Sejak awal, aku tidak tertarik menyulut konflik.
Oh, begitu.
Bagiku, akan lebih baik jika kita bisa berteman.
Sepertinya aku terlibat perkenalan aneh lagi.
Rupanya kamu di sini, Ayanokoji.
Apa ada perlu denganku?
Ikut denganku.
Ada yang perlu kita bahas.
Maaf, aku sudah ada janji dengan temanku.
Sayang sekali, kamu tidak berhak menolak.
Bahasan kita sangat amat genting.
Ruang tamu?
Ada seseorang datang menjengukmu.
Menjengukku?
Saya sudah menjemput putra Anda.
Saya mohon pamit.
Akhirnya kamu tiba, Kiyotaka.
Akhirnya kita bertemu lagi setelah satu setengah tahun.
Bagaimana kalau kita duduk dulu?
Tapi, aku tidak ingin bicara lama-lama sampai harus duduk.
Karena ulahmu, satu orang telah meninggal.
Apa kamu ingat dengan Matsuo, si pelayan?
Dia yang telah menceritakan keberadaan sekolah ini padamu.
Dan membantumu lepas dari cengkeramanku.
Sebagai ganjarannya, dia telah diberhentikan.
Lalu?
Bulan lalu, dia bunuh diri dengan membakar dirinya.
Putra semata wayangnya pasti sedang tersesat di jalanan.
Itulah akibat karena telah melanggar perintahku hingga membantumu masuk ke sekolah ini.
Sepertinya kamu tidak tertarik meski penyelamatmu telah meninggal.
Kamu tidak mengira aku akan merasa menyesal, 'kan?
Kiyotaka, sebenarnya apa yang telah membuatmu bertekad masuk ke sekolah ini?
Seingatku, kamu mungkin akan memberikan pendidikan terbaik untuk kami.
Maka dari itu, aku jadi ingin memahami dunia yang kamu abaikan karena tidak menarik.
Tidak ada jalan lain di dunia ini selain jalan yang kubangun.
Aku yang akan memilih jalanku sendiri.
Aku tidak ingin buang-buang waktu lagi.
Tanda tangani ini, Kiyotaka.
Tapi tidak ada alasan kenapa aku harus keluar dari sekolah.
Ini perintah.
Perintahmu hanya mutlak
di dalam White Room.
White Room sudah kembali beroperasi.
Lalu, buat apa terpaku padaku?
Tidak ada anak berbakat sepertimu lagi.
Kamu adalah kepemilikanku yang paling sempurna.
Kamu bahkan tidak ingin menyebutku anakmu meski hanya pura-pura.
Kebohongan sepele semacam itu
tidak mungkin membuatmu bergeming.
Benar juga.
Ini peringatan terakhir.
Tanda tangani surat pengunduran diri ini.
Kamu tidak berhak menolak.
Permisi.
Lama tidak bersua, Profesor Ayanokoji.
Sakayanagi, ya?
Wajahmu mengingatkanku banyak hal.
Sudah delapan tahun
sejak saya berhenti menjadi sekretaris Anda,
lalu meneruskan posisi ayah saya sebagai kepala yayasan di sini.
Sakayanagi?
Ini pertama kalinya kita bertemu, ya, Nak Kiyotaka.
Salam kenal.
Saya sudah mendengar dari Kepala Sekolah.
Anda ingin agar dia mengundurkan diri dari sekolah ini, benar?
Benar.
Pihak sekolah wajib memenuhi permintaan ini jika datang dari orang tua siswa.
Anda salah.
Setidaknya di sekolah ini, pilihan mandiri siswa adalah prioritas utama.
Maksudmu, akan ada masalah?
Apa maksud Anda?
Aku sudah tahu kalau ujian wawancara masuk sekolah ini hanya hiasan.
Jadi kenapa Kiyotaka yang seharusnya tidak memenuhi syarat
No comments yet. Be the first to leave one.