The first 200 lines.
Ya, aku mengerti.
Seperti yang kubilang, kita sudah membahas ini minggu lalu.
Sebentar.
Ya, aku masih dengar.
Ya.
0153...
Baik.
Aku akan mengabarimu, aku sudah mencatat dan akan mengurusnya.
Baik. Terima kasih.
-Maaf, aku terlambat. -Tidak apa-apa.
Pak Liebenwerda sudah menjelaskan bagian yang penting.
Bagus, jadi kalian tahu apa yang terjadi.
Ya, tapi kami bilang kami tidak tahu apa-apa.
Kalian mungkin tidak tahu pasti, tapi apa kalian punya petunjuk?
Apa kalian melihat hal yang tidak biasa baru-baru ini?
Murid yang bertingkah aneh?
Aku tahu kalian merasa tak nyaman.
Dan bukan hanya untuk kalian.
Tapi, tempatkan diri kalian di posisi korban.
Kita harus menghentikan ini.
Dan kalian berdua adalah perwakilan kelas.
Tapi, kami mau bilang apa kalau kami sama sekali tak tahu?
Lukas?
Tidak terpikirkan seorang pun?
Seseorang dengan ponsel pintar baru, pakaian mahal, atau uang yang banyak?
Aku tidak mau membahasnya.
Kalau begitu tidak perlu, Lukas.
Benar. Kita tidak perlu membahasnya.
Perhatikan ini.
Aku akan mengambil pena, menunjuk, dan yang perlu kalian lakukan hanyalah
mengangguk jika kalian punya kecurigaan.
Pak Liebenwerda?
Tentu saja, kalian tidak perlu melakukannya jika tidak mau.
Paham?
Tapi, sebaiknya kita lanjutkan. Kita hampir selesai.
Anak ini?
Dia?
Terima kasih, Lukas.
Baiklah.
Aku mau mengingatkan untuk merahasiakan percakapan ini.
Paham?
Paham.
-Paham? -Paham, Pak.
THE TEACHERS' LOUNGE
Semuanya.
Selamat pagi, selamat, selamat, selamat pagi, pagi
Selamat pagi, selamat, selamat, selamat pagi, pagi
Perlihatkan buku kalian.
Perlihatkan buku catatan kalian.
Baik. Keluarkan PR kalian. Aku akan berkeliling.
Untuk sementara, lihatlah latihan ini dalam diam.
Bagus.
Ya, bagus.
Ali.
Coba periksa lagi soal kedua.
Bisakah kau menjelaskan padanya?
Kau butuh penyebut yang sama supaya bisa menambahkannya.
Benar.
Hei!
Baiklah.
Siapa yang mau mengerjakan latihan?
Apa 0,999 sama dengan 1?
-Hatice? -Sebenarnya tidak sama.
Sebenarnya?
Kalau begitu, maju
-dan tunjukkan kepada kami alasannya. -Jika 0,999 dikurangi dari 1,
masih ada sisa
sebesar 0,000 dan 1.
Jadi, menurutmu ada angka antara 0,999 dan 1?
Ya.
Jadi, apakah ini buktinya atau hanya asumsi?
Baik.
Oskar mau mencoba. Terima kasih, Hatice.
Baiklah, 0,111
sama dengan sepersembilan.
Dan sembilan kali sepersembilan
sama dengan 1.
Jadi 0,999
sama dengan 1.
-Bagaimana menurut kalian? -Aku tidak mengerti.
Pasti ada angka antara 0,9 dan 1,0.
Terima kasih, Oskar.
Ada yang tidak mengerti?
Baiklah, ini memang rumit,
tapi hal yang penting untuk dipahami
adalah bahwa bukti memerlukan kesimpulan yang disusun langkah demi langkah.
Kita akan bahas itu nanti. jangan khawatir. Masuklah.
Maaf mengganggu.
Izinkan aku berbicara.
Halo, semuanya.
Kami harus menyela sebentar.
-Pak Dudek? -Bisakah murid perempuan berdiri?
-Kenapa? -Silakan berdiri.
-Berdiri saja. -Lalu?
Tinggalkan ruang kelas.
Ayo, keluarlah.
Tunggu di luar.
Lakukan.
-Kalian akan segera masuk lagi. -Jangan pergi jauh.
Tutup pintunya.
Baiklah. Kalian semua, dengarkan.
Kami mau melihat dompet kalian.
Keluarkan, letakkan di meja dan maju ke depan.
-Apa ini diizinkan? -Sukarela saja.
Tapi, kalian tak perlu takut jika tidak menyembunyikan sesuatu.
Dompet di atas meja, lalu maju ke depan.
Apa ini?
Bukankah kau ada saat mereka ditanyai?
Siapa yang duduk di sini?
Oskar duduk di sana.
Oskar, di mana dompetmu?
-Aku tidak punya dompet. -Kau tidak perlu menunjukkannya.
Aku bilang aku tidak punya.
Dan yang ini?
Semuanya, kursi siapa ini?
Ibu Nowak?
Itu kursi Ali.
Ali, tolong ikut aku.
Ayo.
Aku memberinya uang pagi ini supaya dia bisa membeli hadiah.
Untuk sepupunya.
Bolehkah aku bertanya apa yang akan dia beli?
Sepertinya gim komputer.
Benar?
Ya, untuk gim komputer.
Baiklah, Ali.
Bapak dan Ibu Yilmaz, aku pikir sudah jelas.
Mari kita lupakan hal ini.
Kenapa kau bisa curiga?
-Maaf? -Kenapa kau mencurigai Ali, anakku?
-Dia memegang uang yang banyak. -Jadi?
Bagaimana jika seorang ibu suka memasukkan uang ke saku anaknya?
Betul.
-Ibu Yilmaz... -Membawa uang bukanlah kejahatan.
Benar.
Kami punya kebijakan tanpa toleransi,
artinya kami harus menyelidiki segala hal, sekecil apa pun itu.
Bagaimana jadinya tanggapan murid lain terhadap anakku?
Kau tahu bagaimana anak-anak.
Jangan khawatir, Ibu Yilmaz. Kami akan memperbaikinya.
-Memperbaikinya? -Ya, betul.
Kita beruntung kecurigaannya terbukti salah,
atau ini akan jadi jauh lebih buruk.
Maaf, kau dipanggil ke sekolah karenanya.
Ya, kami minta maaf.
Bolehkah kalian berbicara bahasa Jerman?
Berbicara bahasa Jerman?
Baiklah.
Anakku sama sekali tidak mencuri.
Jika dia melakukannya, aku akan mematahkan kakinya.
Ibu Nowak? Rencana guru pengganti ada di kotak suratmu.
-Ibu Holbach izin sampai minggu depan. -Aku melihatnya, terima kasih.
Tidak ada yang digeledah. Itu bersifat sukarela.
Itu bukan sukarela. Kau tahu betul.
Seharusnya ada peringatan lebih dulu.
Apa kalian belum saling memanggil nama depan?
Aku paham kau marah, tapi kau tidak tahu sudah berapa lama hal ini berlangsung.
Ada orang yang mencuri semua yang bisa dicuri tanpa sebab.
Kita perlu bertindak saat punya kesempatan.
Apa pensil itu pernah muncul kembali?
-Tidak. -Contoh yang bagus, seribu pensil.
Siapa yang butuh seribu pensil?
Menurutku ini dimulai saat kita menyewa perusahaan pembersih yang baru.
-Maaf, tapi... -Hati-hati kalau berbicara, Vanessa.
Bagaimana kalau kita menyewa detektif swasta?
Wah, ada pria di halaman sekolah yang merokok pipa dalam cerita detektif!
-Seperti di toko. -Aku pergi.
Kita perlu bertindak. Benar begitu, Pak Liebenwerda?
Pada hitungan ketiga, angkat tangan dan kaki kalian.
-Bersama-sama? -Ya.
Satu, dua, tiga!
Mereka yang mampu atau mau, bisa menggoyang kaki dan tangannya.
Ayo, Enno!
Cara menggiring yang bagus.
Kalian berdua baik-baik saja?
Bagus, Vera!
Oper. Ya. Sangat bagus.
Hei!
Hei, semuanya!
Jadilah pemain sportif.
Ali, bangun. Bentrok bisa terjadi.
Aku sudah muak. Luise dan Jieun bertindak sesukanya.
-Mereka pergi. -Ya, di mana mereka?
Tenanglah dan terus bermain, Ali.
Tidak seburuk itu. Ayo.
Jenny, bisakah kau mencari Jieun dan Luise?
Kalau begitu, kami tak bisa bermain lagi.
Bagus, Lukas.
Ruben, kemarilah. Jadilah wasit dan aku akan segera kembali.
Jieun.
Luise.
-Apa kalian akan masuk kembali? -Maaf. Kami mencari udara segar.
Luise, tunjukkan apa yang kau sembunyikan di kakimu.
-Tidak ada apa-apa. -Kemarilah. Tunjukkan padaku.
-Kalian merokok? -Bukan kami.
Jadi, kenapa ada korek api?
Untuk menghirup heroin.
-Jieun, tidak lucu. -Menurutku lucu.
Kalian bilang sedang sakit. Aku sudah percaya...
Kami cuma mencari udara segar.
No comments yet. Be the first to leave one.