The first 200 lines.
TELL ME THAT YOU LOVE ME
TOKOH, LOKASI, ORGANISASI, DAN PERISTIWA DI DRAMA INI FIKSI
"Rasanya selalu seperti festival."
Kau merasa paling nyaman bernapas
saat bahkan tak sadar kau sedang bernapas.
Begitu kau sadar sedang bernapas…
"Masuk lewat hidung, keluar lewat mulut."
"Berapa detik jarak antar tarikan napas?"
Hal paling alami dan termudah dilakukan mulai terasa
tidak nyaman
dan sulit.
Begitu pula untuk keluarga.
Ibu hanyalah ibu,
dan Ayah hanyalah ayah.
Wajar kami tak saling banyak memikirkan.
Rasa itulah yang ternyaman.
Kau mulai merasa tak nyaman…
saat menyadari hal-hal yang selalu
kau remehkan
bisa direbut.
Bahkan keluarga yang ada di dekatmu seperti udara…
bisa tiba-tiba terasa asing dan membuatmu kesulitan.
Jadi, saat seseorang yang bisa bicara
dan orang yang tak bisa mendengar bertemu,
itu tak akan mudah.
Dan aku yakin
hal itu benar.
Tapi saat itu,
keheningan yang begitu kutakutkan
hingga aku bahkan lupa
untuk bernapas…
Kau akan tampil dengan baik.
Aku percaya padamu.
Dunianya yang sunyi…
terasa nyaman.
Sudah lima tahun sejak aku pindah ke lingkungan ini.
Tapi aku belum benar-benar melihat sekeliling.
Dia datang!
Itu dia!
Astaga, kau hebat sekali!
Kau sangat keren.
Kau tampil dengan baik.
Aku sangat tersentuh.
Kerja bagus hari ini dan terima kasih banyak.
Kerja bagus!
- Jung Moeun! - Jung Moeun!
- Terima kasih. - Terima kasih.
Terima kasih.
Terima kasih
sudah datang.
Aku terburu-buru datang,
jadi, tak bisa menyiapkan bunga.
Bunga?
Aku menikmati penampilannya.
Terima kasih.
Selama penampilannya,
aku menyadari
kenapa merasa
seperti ditenangkan
meski
kita tak bisa
lancar berkomunikasi.
Seperti sekarang, setiap kali aku mengatakan sesuatu,
kau berusaha keras
tak melewatkan
satu kata pun.
Kau
pendengar yang baik.
Mengetahui
kau menontonku di teater itu,
aku merasa tenang. Itu menyenangkan.
Rasanya seperti
kau mendengarkan hatiku,
bukan suaraku.
Jadi, aku merasa nyaman
saat bersamamu.
Bagiku, kau adalah
orang yang nyaman.
Naskah sandiwara hari ini…
Bisa perlihatkan kepadaku?
BISA PERLIHATKAN NASKAHNYA?
Tentu.
SUTRADARA HAEDEUN
Mereka meneleponku.
Kurasa aku harus pergi.
Ya, Pak Sutradara. Aku akan ke sana.
EPISODE 5, SALAM
TELL ME THAT YOU LOVE ME
Sampai jumpa.
Hei, Jinwoo.
Kau terlambat.
Aku pergi menonton sandiwara.
Sandiwara?
Seorang kenalanku tampil di sana.
Mau minuman?
Teh dingin.
Teh dingin?
Ide bagus.
Baiklah, silakan duduk.
Astaga.
Siapa yang memesan teh di bar? Bahkan tak ada di menu.
Itu bagus.
Tapi aku tak yakin memilikinya.
Ternyata ada.
Lucu sekali ada di sini.
Baiklah.
Terima kasih.
Dahulu terkadang kau bertanya kepadaku
apa yang ingin kulakukan jika bisa mendengar untuk satu hari.
Ya, aku menanyakan itu.
Tapi kau bilang sudah terbiasa,
jadi, kau tak benar-benar berharap bisa mendengar.
Pernah suatu kali, sudah lama sekali,
kau bilang ingin mendengarkan sebuah lagu.
Benarkah?
Ya.
Tepat sebelum aku menjalani wajib militer…
Letter of a Private. Ingat?
Aku begitu menyukai lagu itu,
dan kubilang mendengar suaranya saja membuatku ingin menangis.
Lalu kau menjadi penasaran.
Suara yang membuatmu menangis?
Apa itu?
Tunggu. Kau tak ingat?
Lagu itu.
Aku menangis selama seminggu
setelah mendengarkannya.
Selama sebulan.
Apa? Sungguh? Aku menangis sebulan?
Baiklah. Katakan saja begitu.
Baiklah, ada apa dengan itu?
Saat melihat sandiwara itu, aku berharap bisa mendengar untuk kali pertama.
Jadi, aku teringat saat kau memberiku pertanyaan itu.
Benar, aku memahamimu.
Itu lagu yang sangat bagus. Sungguh.
Hari saat aku
Meninggalkan rumah
Naik kereta ke kamp pelatihan
Saat aku…
Aku menyanyikannya.
Berpamitan kepada orang tuaku
Astaga, kenapa aku begitu sedih pada "berpamitan kepada orang tua"?
Mungkin karena aku tak punya orang tua.
Jika bisa mendengarkannya,
kau akan menangis tersedu-sedu.
Kau tahu?
Moeun!
Bagaimana tadi? Berjalan lancar?
Aku tidak yakin.
Kau tak menangis karena lupa dialog, 'kan?
Aku hampir menangis.
Astaga. Aku tak bisa…
Tunggu.
Kau bilang kepada Pak Cha
soal itu?
Ya.
Aku bertemu dengannya setelah kita bicara di telepon.
Sudah kuduga.
Dia datang.
Dia datang?
Ya.
Tapi…
Sebenarnya, aku menyesal memberitahunya.
Maksudku, dia tak bisa mendengarmu
menyebutkan dialogmu.
Itu tak akan menyenangkan.
Benar.
Tapi tetap saja,
dia datang.
Benar, bukan?
Astaga.
Aku sungguh berniat berhenti bekerja dan berlari ke teater itu.
Aku akan sangat mengganggu jika datang.
Ayolah.
Jika kau di sana,
itu akan jauh lebih baik.
- Tapi… - "Tapi"?
Kau tak boleh berhenti bekerja.
Hei.
Pokoknya, selamat.
Kerja bagus, Moeun.
Kau hebat.
Terima kasih.
"Kau akan tampil baik."
"Aku percaya padamu."
Hai.
Kalian dari mana saja, tampak semesra ini?
Mesra apanya?
Anak-anak kami datang dari Seoul.
Jadi, begitu. Nikmati hari kalian.
- Sampai nanti. - Dah.
Sulit kupercaya.
Apa?
- Maksudku… - Masuklah. Sekarang.
Bagaimana kau bisa menyempatkan waktu?
Kau selalu menggerutu bahwa kau sibuk.
Ada yang harus kukatakan.
Ada sesuatu? Apa itu?
Nanti saja.
Modam, kemarilah makan buah.
No comments yet. Be the first to leave one.