Release info

너를 닮은-사람-Reflection-of-You-E03-NEXT-NF
너를 닮은-사람-Reflection-of-You-E03-WEB-DL-NF
A Commentary by Anangkaswandi
Episode 3 "Kisah Pribadiku"

Tags

other
Published on: 2021-10-20
Downloads: 15
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Semua karakter tempat kejadian dalam drama ini sepenuhnya fiksi"

Setiap kisah memiliki awal.

Kisahku dimulai…

Tidak.

Apa maksudmu?

Kenapa kau berpikir begitu?

Kisahku dimulai…

darimu.

EPISODE 3 KISAH PRIBADIKU

GOETHE-INSTITUT

Dari mana asalmu?

- Dari mana asalmu? - Dari mana asalmu?

Aku dari Korea.

- Aku dari Korea. - Aku dari Korea.

Dari mana asalmu?

Aku dari Korea.

Bagus. Sekarang, cari pasangan belajar,

kemudian, berlatih bersama.

"…terlalu besar."

Aku sudah tiga kali ikut kelas ini.

Begitu, ya.

Kau hanya belum terbiasa dengan bahasa Jerman. Butuh waktu beradaptasi.

Ya.

Kenapa belajar bahasa Jerman?

Sepertinya keluarga suamiku tidak akan paham bahasa Jerman.

Begitu.

Meski percuma. Aku juga tidak paham bahasa Jerman.

Aku malu.

Harus malu agar belajar.

Orang yang sok tahu tidak bisa belajar.

Itu punyaku. Punyaku.

Tapi kenapa sesulit itu?

Jabatan pemimpin masih di tangan ayah.

Walau ibu pemilik sebenarnya, ibu harus tunjukkan dokumen kelola.

Jika itu diwarisi,

rapat direksi harus akui tak ada masalah pada pengelolaan Taerim sepuluh tahun ini.

Rapat direksi bergantung pada ayah.

Lebih baik dokter yang jadi kepala rumah sakit daripada orang manajemen…

Sampai kapan pendapat ayah tuamu valid?

Yang terpenting membuat badan hukum untuk sekolah.

Itu pendapatmu?

Ada tempat yang cocok?

Akademi Gyeongseon dekat rumah sakit.

Kau yang jawab.

Pendirinya generasi ketiga. Dia tak berniat mengelola sekolah.

Jika kita memberi bantuan finansial, dia akan jamin jabatanmu sebagai ketua.

Lantas, bisa diambil alih lewat yayasan kita?

Tidak bisa lewat yayasan medis.

Sistemnya afiliasi.

Jika badan hukum Akademi Gyeongseon dinamakan Taerim…

Muridnya?

Tahun lalu, lebih dari 2.000 keluarga masuk ke daerah itu.

Jadi, jumlahnya akan tetap stabil.

Memangnya mengambil alih sekolah semudah itu?

Aku berencana menyumbang

saham rumah sakit senilai 12 miliar won ke badan hukum.

Untuk pajak, itu cara terbaik.

Pajak?

Perampok keji itu.

Apa yang negara lakukan untukku?

Aku yang membelinya. Kenapa mengambil uangku?

Bagaimana aku bisa hidup setelah mereka ambil semuanya?

Astaga.

Ini sangat menyebalkan!

Di mana pengurus rumah?

- Aku pecat. - Kenapa lagi?

Sudah tidak ada Li-sa. Lebih baik biarkan pengangguran bekerja.

Halo, Bu!

- Li-sa, anakku! - Ya.

- Pukul berapa di sana? - Satu, dua,

- tiga. - Enam.

Li-sa sudah makan?

- Ada berapa? - Belum, Ibu.

- Seratus. - Baiklah.

- Cepat kemari. - Baiklah.

Ini giliranku.

- Tahun baru! - Tahun baru!

- Tahun baru! Hore! - Li-sa.

Siapa pemenangnya?

- Aku pemenangnya! - Aku!

- Bukan, aku! - Aku!

- LIhat. - Lihat ini!

- Hore! - Hei!

Aku harus pergi, Bu. Dah!

Li-sa, jangan lupa makan.

Besok ibu akan agak terlambat…

St. Christina? Di Inggris?

Astaga, anakmu sekolah di sana?

Ya. Kau tahu?

Tidak.

Tapi dari namanya seperti sekolah yang sangat mahal dan bagus. Benar, 'kan?

Tidak tahu. Mertuaku memilihnya.

PELUKIS SEDANG MELUKIS LUKISAN

Cantiknya.

Apa?

Aku iri denganmu yang bersemangat.

Astaga. Untuk apa iri karena itu? Melakukan hobi itu paling seru.

Kau jurusan seni, ‘kan?

Ya. Kampusku di bawah Namsan.

Begitu. Keren sekali.

Waktu kecil aku juga suka melukis.

Melukis di jurnalku saat malam dengan senter.

Kak Hui-ju, kau punya foto anakmu?

Ada.

Jika suka melukis, lukislah apa pun yang kau suka.

- Terima kasih untuk ini. - Ya.

Bagaimana dengan makan malam Ibu?

Terima ini.

Apa ini?

Kau ingat semua hal. Kenapa selalu lupa ulang tahun pernikahan kita?

Benar. Maaf.

Tidak suka? Atau kau perlu yang lain?

Aku rasa tidak cukup hanya berterima kasih.

- Ada apa? - Sepertinya aku gila.

Aku sangat senang. Sungguh.

Sekarang aku senang.

Tapi ke depannya kau akan lebih sibuk.

Li-sa juga tidak ada.

Aku merasa tidak berguna.

Kenapa bicara begitu?

Mungkin karena aku punya banyak waktu.

- Kalau begitu, pikirkanlah. - Apa?

Lakukan yang kau inginkan di waktu luangmu.

Hei.

Krayon konte dan arang sering dipakai.

Tapi pensil paling bagus untuk pemula.

Ini, pensil 4B.

- Sering lihat di kelas seni, 'kan? - Ya.

Bagus untuk arsir, melukis akurat, dan mengontrol tebal tipis,

tapi mudah menempel, jadi, berhati-hatilah saat membuat sketsa dasar

Untuk membuat sketsa, pensil 2B lebih bagus.

Ini lebih kuat. Bagus untuk membuat garis tebal.

Dan…

pensil 6B sulit dipakai orang yang tak berpengalaman.

Anggap saja ada warna pada pensil.

Aku berpikir apa boleh belajar melukis di umur segini.

Sepertinya ini pilihan yang benar.

Sekalipun terlambat memulai, lakukan yang lama.

Berhenti di tengah jalan walau mulai lebih awal itu sama saja.

Baiklah.

- Astaga, ini bagus! - Benar, 'kan?

Kak Hui-ju, bicaralah santai.

Ya, aku coba.

Hari ini aku berhenti les.

Terima kasih banyak, Kak Hui-ju.

Kelas ujian masuk itu berat.

Hanya diajari tekniknya saja.

Teknik?

Ada yang ikut demi nilai. Ada yang ikut karena tak ada pekerjaan.

Murid seperti itu bisa mahir melukis setelah dilatih beberapa tahun.

Terkadang ada yang menjadi jago. Saat itu, aku merasa bersalah.

Kenapa? Bukankah itu baik?

Mereka belajar bertahun-tahun dan bisa melukis.

Mereka menjadi terus berusaha.

Akhirnya, mereka kalah dari orang berbakat. Waktu terbuang.

Begitu rupanya. Ini pesan dari murid berbakat

yang bersantai.

Kuku kakekku sampai rusak

untuk mendukungku.

Aku tak akan mulai jika tidak bisa.

Percaya dirimu bagus.

Pasti banyak kesulitan.

Tidak sulit. Ini menyenangkan.

Aku sederhana. Kalau suka, aku jatuh begitu saja.

HANNAH

- Ya? - Kak Hui-ju, maaf.

Kenapa? Ada apa?

Kakekku terluka. Pelajaran hari ini…

Itu nanti saja.

Di mana? Parah?

Aku juga tidak tahu.

Aku harus pergi.

Di mana kau? Aku antar…

Tidak perlu. Seniorku akan menggantikanku.

Apa?

Seniorku akan mengajarimu hari ini.

Bukan begitu. Pelajaran bisa diganti lain kali.

Dia sudah datang?

Kak Hui-ju, beberapa hari saja. Aku akan hubungi lagi.

Hannah…

Awalan semua cerita ini…

Kau penyebabnya.

Aku tak punya tujuan apa pun, Kak.

Bagaimana aku bisa percaya?

Kau menyerahkan posisi guru tetap, datang ke sekolah suamiku,

dan mengganggu anakku.

Aku tidak tahu. Sungguh.

Setelah tahu, aku hanya ingin minta maaf.

Permintaan maafmu itu membuatku tak nyaman.

Datang dan bicara seenaknya itu hanya alasan.

Maaf jika kau merasa begitu.

Mendengarmu meminta maaf…

Kau seharusnya meminta maaf pada Li-sa, bukan aku.

Aku sudah bilang, Li-sa belum bisa menerima.

Yang kau lakukan sekarang kekerasan.

Berita SMA Taerim menjadi SMA seni sudah ada sejak tahun lalu.

Jika aku diakui di SMP Seni Taerim,

aku bisa masuk ke SMA Seni Taerim.

Jadi, kuserahkan posisi guru tetap di sana dan masuk ke sini.

Tak ada maksud lain.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left