The first 200 lines.
"Ayam Goreng Ddobong"
Nenek.
Cepatlah dan beri aku segelas bir yang menyegarkan.
Astaga.
Kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu pulang saja.
Kenapa kamu datang ke sini?
Ayolah.
Aku tidak bisa tidur tanpa segelas bir belakangan ini.
Astaga.
Kenapa Nenek terdengar sangat tertekan?
Menurutmu kenapa?
Kemarin
hari ulang tahun ayahmu.
Kamu mungkin tidak ingat wajahnya, ya?
Wajah Ayah?
Tentu saja aku ingat. Mana mungkin aku lupa?
Setiap kali aku makan ini, aku teringat kepadanya.
Sudah lama waktu berlalu,
tapi masih terasa seperti kali pertama aku memakannya.
"Ayo"
"Mari kita pergi ke hutan"
"Mari kita pergi ke hutan"
"Untuk mengambil potongan bulan"
- Ayah! - Pil Seung!
Ayah, aku sudah menunggumu.
Benarkah?
Tapi kamu menunggu ayah atau ayam ini?
Ayam.
Kamu sangat menyukai ayam?
Ini.
Ini yang terbaik!
Ibu pasti menunggu. Ayo masuk.
Jika ayahmu masih hidup,
dia akan berusia 60 tahun.
Astaga, dia mempelajari kedokteran sekian lama.
Dia meninggal di usia yang sangat muda.
Nenek masih tidak bisa memaafkan
pengemudi tabrak lari itu, bukan?
Bagaimana menurutmu?
Mereka melewati garis tengah dan menabrak mobil putraku.
Bagaimana bisa nenek memaafkan mereka?
Jika bisa menangkap mereka,
akan nenek habisi mereka.
Nenek! Bagaimana ini?
Ada apa?
Dong Joo.
Dia masuk rumah sakit.
- Apa? - Dia ditabrak motor.
- Apa? - Aku akan pergi.
Kami melakukan CPR sesegera mungkin.
Kami menduga ada cedera kepala.
Ibu!
Kalian berdua dalam masalah besar! Ibu tidak akan bersikap lunak!
Berhenti!
Bagaimana?
Dia dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.
Kecelakaan itu tidak terekam CCTV, bukan?
Jangan khawatir, Bu.
Terima kasih.
Kita harus
memiliki hubungan yang buruk meski sudah menjadi keluarga.
Hanya itu alasanmu membuatku bertindak sejauh ini.
Bahu Ibu kaku.
Sudah cukup.
Kamu pasti lelah setelah bekerja seharian.
Ada yang sakit di tempat lain? Mau kupijat kaki Ibu?
Kenapa kamu tiba-tiba memperlakukan ibu seperti pasien?
Ibu baik-baik saja.
Manis.
Kenapa kamu tiba-tiba memberi ibu cokelat?
Itu anti-inflamasi,
jadi, itu meredakan kelelahan kronis.
Joon Ki, ibu baik-baik saja.
Aku hanya teringat saat masih kecil.
Ibu akan membawakanku secangkir cokelat saat aku belajar.
Ibu akan terus mengawasiku.
Itu sudah 20 tahun lalu.
Benar. Bagaimana perasaanmu
saat melihat anak-anak itu? Mereka menggemaskan, bukan?
Kuharap ibu bisa memiliki cucu seperti itu.
Ibu menantikannya?
Tentu saja. Ibu tidak akan hidup untuk waktu yang lama.
Maksud ibu, ibu bisa beristirahat dengan tenang
begitu aku melihatmu dan Sabina memiliki keluarga bahagia.
Astaga. Senang melihat kalian bersama.
Aku senang kamu di sini.
Biarkan aku bersikap seperti ibu mertua yang jahat.
Kapan kamu akan mengizinkanku menjadi nenek?
Dia jatuh cinta dengan kedua anak itu.
Begitu rupanya.
Mereka manis.
Jadi, kapan?
Ya, Bu. Kami akan melakukan yang terbaik.
Lihatlah dirimu.
Permisi.
Siapa yang meneleponnya semalam ini?
- Bagaimana hasilnya? - Mereka baru saja melakukannya.
Melakukannya?
Jangan bilang...
Dia tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi,
jadi, kamu bisa tidur dengan tenang sekarang, ya?
Ya, Dong Joo.
Jangan membenciku.
Aku memberimu banyak peringatan, tapi kamu...
Kamu yang menyebabkan ini semua.
Permisi. Kami mencari pasien darurat.
Namanya Eun Dong Joo.
Dia dibawa kemari beberapa saat lalu karena kecelakaan motor.
Mereka sedang memeriksanya, jadi, tetaplah di ruang tunggu.
Bagaimana keadaannya?
Tidak serius, bukan?
Kami belum tahu pasti.
Gawat.
Ini. Makanlah.
Apa ini?
Telan saja.
Minum obat ini
saat kamu terkejut. Minum ini.
Nenek, aku tidak mau ini.
Jantungku masih berdebar.
Justru itulah,
kamu harus memaksakan diri
untuk minum ini.
Kamu pasti sangat terkejut.
Sa Rang, menurutlah pada Nenek.
- Ini, berikan kepadanya. - Ini.
Mari minum.
Telan.
Telan.
Gadis pintar.
Dia sangat takut sampai menangis dan bahkan muntah.
Pengendara motor sialan itu...
Kamu tahu?
Kamu juga harus minum. Ini.
Ini.
Hei, kemasi barang-barang mereka.
- Ayo bawa mereka ke rumah kita. - Baiklah.
Nenek.
Apa Kak Dong Joo mati?
Tidak, dia hanya terluka.
Mereka merawatnya di rumah sakit.
Kamu yakin?
Tentu saja.
Maka aku akan tetap di sini.
Apa?
Kami akan menunggunya.
Dia bilang
keluarga tidak pernah berpisah.
Kami akan tunggu di sini
sampai dia pulih dan kembali.
Mid Eum, ayo bicara di luar sebentar.
Kamu bilang pengendara motor itu tampak mencurigakan?
Ya.
Aku melihatnya setelah keluar dari mobil.
Rasanya ada yang mengawasi kami, jadi, aku melihat sekeliling.
Dia bersembunyi di kegelapan dan melihat kami.
Kamu yakin dia yang menabrak Dong Joo?
Aku yakin.
Dia memakai helm yang sama.
Ada pola unik.
Bisakah kamu menggambarnya dengan ingatanmu?
Ini.
Baiklah.
Kumohon.
Tolong selamatkan Dong Joo.
Jika Engkau mengabulkannya,
aku berjanji akan bersikap baik.
Sungguh.
Wali Eun Dong Joo ada di sini?
Bagaimana keadaannya?
Untungnya, lukanya tidak parah.
Tapi pindai CT menunjukkan pendarahan di otaknya,
jadi, kami khawatir.
Pendarahan?
Apa dia mengalami gegar otak setelah kepalanya terbentur?
Apa dia perlu dioperasi?
Kami harus mengawasinya mulai sekarang.
Malam ini akan menjadi penentunya.
Apa artinya ini?
Apa artinya dia bisa sadar dan bisa tidak?
Kurasa,
dia belum
sadar,
"Ayo"
"Mari kita pergi ke hutan"
Ibu, angkat aku.
Baiklah, itu dia.
Pelan-pelan.
Di sana.
Anak pintar!
Aku menangkapnya!
Sabina.
Sabina!
Sabina!
Ibu di mana?
Ibu!
Ibu di mana?
Ibu.
Pelan-pelan. Itu dia.
Ambil. Anak pintar!
No comments yet. Be the first to leave one.