The first 200 lines.
Sebelumnya di "Aftermath"...
Siapa yang sanggup berjalan di atas gunung meletus?
Menurutmu kau akan mati dalam waktu dekat?
Tidak.
Kau tak boleh menembak orang.
Di mana Dana? Di mana Dana? Dana!
Oh, terkutuk.
Oh, terkutuk. Tidak.
Jangan sekarang.
Jangan sekarang!
- Dad, Dad! - Dana!
Kau bisa mendengarku? Dad, Matt, aku di sini!
Ikuti arah suaraku!
Dad, Matt, Brianna!
Ikuti arah suaraku! Kau mendengarku?
- Di mana kalian? - Berjalanlah ke arahku!
- Aku tak bisa melihat kalian! - Mendekatlah, ayolah!
Lewat sini!
Oh, Tuhan. Oh, tidak. Ayolah!
Sebelah sini! Berjalanlah ke arahku!
Tolong! Tolong aku!
- Sekarang! Masuklah! - Dad!
- Tak bisa kutahan! - Jangan ditahan!
Dad, menjauh dari pintu!
Matt, cepat berikan maskernya.
- Dana! - Pintunya menutup.
- Kita tak bisa menahannya! - Dana!
- Dana! - Sedang apa kau?
- Dad! Masuklah. - Kalian harus bekerjasama.
Dad! Kembali!
Oke.
Kita harus temukan jalan keluar.
- Kita tak boleh keluar. - Apa maumu?
Melamun di sini bersama perkakas daur ulang?
Tidak. Kita diam di sini hingga Dad temukan Dana.
Selama udaranya cukup untuk bernapas.
Ventilasinya mengarah keluar.
Udara di luar beracun.
Dan dad membawa maskernya.
Ayo!
Tidak!
Ayolah!
Dana!
Dana, teriaklah! Dana!
Di mana kau?
Dana!
Di mana kau? Dana!
Ayolah. Kumohon.
Kumohon, kumohon, kumohon jangan.
Teriaklah!
Kumohon. Dad, Dad, ayolah.
Kumohon, Mom. Mom, bantu aku.
Dana, aku memegangmu. Tidak apa.
- Tidak apa. - Dad.
- Aku memegangmu. Aku memegangmu. - Dad!
Kau harus kenakan masker, oke?
Tidak. Bantu aku membukanya.
- Tidak, aku tak bisa... - Ya, kau bisa!
Aku tak bisa! Bantu aku membuka pintu!
- Tidak... - Udaranya beracun.
Aku tahu tentang silikat, Dad.
Aku tak bisa kenakan itu.
- Kenapa tidak? - Karena itu membuatku
- merasa sesak, oke? - Sial.
Jika kau tidak kenakan ini, kau bisa mati.
Aku tahu. Aku cuma... aku tak bisa. Tidak!
- Kemarilah. - Tidak, Dad, jangan! Aku tak bisa melakukannya.
- Yeah. Kau bisa. - Tidak, Dad.
Jangan. Jangan memaksaku, kumohon.
Tidak. Lepaskan. Lepaskan!
Lihat aku. Bernapaslah perlahan.
Baiklah. Baiklah.
Bernapaslah perlahan agar kau tidak merasa mual.
Bagus, gadis pintar. Gadis pintar.
Gadis pintar. Bagus.
Baiklah kau sehat.
Gadis pintar.
Menunduk. Menunduk. Cepatlah.
Oh, Tuhan. Makhluk itu menghampiri kita!
Jangan buat gesekan.
Berhati-hatilah.
Tenanglah, tenang.
Ayolah!
Ooh.
Matt masih di luar.
- Sudah jelas makhluk itu mendarat. - Dia datang.
Well, dia tak bisa masuk kemari.
Kusaksikan makhluk itu mengangkut kuda, oke.
Jika dia ingin masuk kemari, dia bisa.
Apa yang kau lakukan?
- Aku mencari dokumentasi. - Untuk apa?
Untuk bunker. Mencari cara membuka pintu.
Kita tak boleh membuka pintunya. Harus tetap tertutup.
- Dad dan Dana ada di luar. - Dengarkan aku.
Oke, bersikap panik takkan membantu.
Oke, mungkin Dad sudah temukan Dana,
lalu mereka sembunyi, seperti hal cerdas yang biasa dilakukan.
Matt, menjauhlah dari pintu sialan itu!
- Dad bilang harus bekerjasama. - Dan kita akan temukan mereka.
Dengarkan aku. Matt!
- Apa? - Hentikan tindakanmu.
Mulailah berpikir.
Terkutuk!
Halo?
Hei! Lampu senter, kau mendengarku?
- Aku di sini! - Oh, syukurlah.
Kau bisa bergerak?
Ya, menurutku kau berada di bawahku.
- Bisa kucoba turun ke sana... - Jangan, tak perlu.
Astaga, jangan... itu akan membuat gesekan.
- Aku tahu. - Baik.
Siapa namamu?
Bailor. Colin Bailor.
Aku tadi berada di atas gunung.
Kami tahu akan ada peningkatan aktivitas seismik,
- Tapi kami tidak... - Colin, diamlah.
Oke.
Amati sekitarmu. Seperti apa medannya?
Ada pijakan. Batunya... kelihatan kokoh.
- Aku takkan pergi kemanapun. - Baiklah, aku datang.
Kau tidak repot mencarikan tali, bukan?
Ini hari keberuntunganmu.
Oke. Ikat ujung tali lainnya.
Sudah kulakukan.
Bagus. Bertahanlah, dude.
Panjatlah.
Ohh!
- Tunggu. - Kau bisa! Kau bisa!
Kenapa kau ini, lemah syahwat?
- Angkat aku! - Cepat!
- Angkat aku! - Tarik!
- Ayo. Kau bisa! - Aku tak bisa! Aku tak bisa!
Kau berhasil! Ya, ya.
Oh, oh.
Wha... Ugh! Kau berhasil.
- Siapa kau? - Aku ahli gunung berapi.
Aku sedang mempelajari gunung Rainier.
Di tengah terjadinya bencana?
Gunung berapi pada umumnya bencana dahsyat.
Aku pasti tergelincir. Aku tak tahu sejauh mana.
Aku tak tahu.
Bagaimana kau bisa berakhir di sini?
Bukan urusanmu.
- Buka mulutmu. - Apa?
Buka mulutmu.
Biar kulihat bagian bawah lidahmu.
Eh.
Maaf telah memaksamu.
Oke.
Kurasa aku bisa membawa kita keluar.
Aku tahu gua ini.
Sepakat? Kau dan aku?
- Oke. Tetap kenakan maskermu. - Tidak. Jangan.
Tak ada abu yang masuk kemari, dan aku bisa mati jika terus mengenakannya.
Makhluk itu sangat dekat. Sangat dekat.
Dia sangat dekat.
Tidak, dia dalam kesulitan.
Aku tidak berpikiran saat ini dia mempedulikan kita.
Ambil napas. Ya, buang.
Ambil nafas dan buang. Bagus.
Baiklah. kau kenakan lagi maskernya, oke?
Tidak, aku menelan beberapa abu.
Aku merasa seperti akan muntah.
Muntah bukan hal yang buruk.
Muntahkan saja.
Dia bergerak menjauh.
- Tidak, dia sedang sekarat. - Bagus. Semoga saja.
Oke. Ayo kenakan maskernya.
Ayolah.
- Tidak. - Ayolah.
Tidak.
Kita akan menyalakan api.
Kita akan apa?
Kita nyalakan api,
menguras oksigen,
dan pintu akan terbuka.
Ya, buka pintu untuk monster di luar.
Apa kau sudah kehilangan otakmu?
Kau bilang berpikir. Aku berpikir.
Matt, jangan membakar apapun.
Bagus. Memang kontol.
Bree, jika kita tidak keluar, Dad dan Dana akan segera mati,
dan kita mungkin mati perlahan. Percayalah.
Jadi api ini akan menguras oksigen dan membukakan pintu?
Kita harap begitu.
Ini omong kosong yang sia-sia.
Ini pasti berhasil.
- Kita tak bisa tinggalkan mereka di luar sana. - Yeah.
Kami sedang memeriksa instrumen di gunung ini.
Kami tentukan dengan koin.
Aku bisa saja dengan mudah berada di lereng barat.
- Siapa "kita?" - Ada kelompok kami.
Aku tak tahu apa yang terjadi pada yang lainnya.
Francine dan aku tergelincir ketika lahar menggenang.
Oh.
Oh, Tuhan.
Itu si Francine.
- Aku minta maaf. - Dia wanita yang baik.
Dia ilmuwan yang pas-pasan, tapi dia gadis yang hebat.
- Dia layak dapat yang lebih baik. - Yeah.
No comments yet. Be the first to leave one.