The first 200 lines.
GEREJA PERSATUAN MOUNT WATSONIA SELAMAT TAHUN BARU 2010
Halo?
Ebony?
Ebony tak di rumah.
Ebony ada di Bali.
Siapa ini?
Ini Nikola.
Kol!
Kol Denic?
Denic.
Kau sudah dewasa.
Kau baik, Sayang?
Ini waktu menelepon yang tak lazim.
Aku tahu.
Aku baru memikirkan dia.
Sayang, aku…
Aku bukan memikirkan dia. Ini…
Maafkan aku.
Baik.
Baik.
Sialan!
Sialan.
Permisi!
Permisi! Hai!
Hai! Maaf mengganggumu!
Kau punya 40 sen?
- Kau punya 40 sen? - Baik.
Hanya 40 sen?
- Terima kasih banyak. - Tak masalah.
Terima kasih!
Baik.
Sialan!
Kubilang jangan masuk!
Ini pacarmu!
Jangan lama-lama, aku sedang mengunduh!
- Apa? Ada apa? - Apa-apaan, Kol?
Aku coba menelepon berulang kali.
Karena teleponnya dipakai Ivo untuk internet.
Ada apa? Kau di mana?
Tolong jangan membentakku!
Untuk apa membentakmu?
Ebony, kau di mana?
Aku tak tahu!
Apa maksudmu tak tahu?
Kami akan ke pantai, ke kapal ayah dari orang ini,
dan orang ini,
dia akan ambil kapalnya dan Tari makan speed tapi aku…
Aku hanya makan sedikit sekali.
Bahkan tak sebaris. Separuh baris. Cuma setrip.
Aku tak apa-apa, aku ingat, aku santai,
dia mau ambil kapal, orang ini dari Saint Basil.
Orang dari mana?
- Aku bersumpah… - Aku tak bisa mendengarmu?
Saint Basil!
Ayahnya punya perahu. Tolong dengarkan.
Dia suka meraba, mungkin,
tapi bukan hidung belang, jadi kupikir, "Ya, tak apa."
Maksudku, aku bagai biarawati sepanjang sekolah,
Wansajah dan Tari murahan…
Kau sudah sarapan? Nanti dingin…
Aku sama sekali tak paham ceritamu!
Aku tahu, aku cuma…
Aku tak ingin kau berpikir dia sembarang orang.
Ya, dia agak lebih tua, tapi dia tak setua itu.
Dia memakai pelat latihan itu… Kami tak bisa temukan kapal ayahnya,
dan kami ada di pantai, lalu…
Lalu aku tak ingat.
Ebony, kau tidak jelas!
Aku tak tahu harus apa. Katakan apa maumu!
Aku tahu, aku cuma…
Tasku hilang, dan sepatuku. Salah satunya juga hilang.
Dan…
Kol, gaunku? Untuk ke Balai Kota?
Ada di tempat Tari.
Kau harus jemput aku, Kol. Kau harus jemput aku.
Aku harus menjemputmu?
Aku harus ke Balai Kota. Dalam waktu kurang dari dua jam, seperti kau!
Astaga, Kol! Apa kau tak mendengarkan?
Aku tak tahu aku di mana!
Kau harus ke tempat Tari untuk ambil gaunku
lalu kau jemput aku. Apa kau paham?
Tak ada waktu. Kita harus langsung ke sana!
- Langsung ke sana! - Bagaimana caraku menjemputmu?
Entahlah! Ibumu atau semacamnya. Minta dia mengantarkan kita.
Ibuku baru pulang dari sif malam.
Dia tak akan mau…
Tunggu.
Kau sebenarnya di mana?
- Apa nama pantainya? - Aku perlu internetnya!
Enyah!
Apa?
Apa tak ada tanda? Apa nama pantainya?
Ada papan nama jalan.
Ambil peta. Ada nama jalannya.
- Aku di Allenby Street. - Allenby?
Allenby, Bodoh! Cepat!
Allenby Street. A-L-L.
Astaga, aku sangat kedinginan!
Ada Allenby Street di Reservoir, di Canterbury,
di Altona, di Coburg. Yang mana?
Yang mana ada pantainya?
Mungkin Altona?
Tapi itu jauh sekali.
Ya, berarti yang lainnya!
Bertanyalah kepada orang!
Tak ada orang di sini. Dan jangan membentakku!
- Pasti ada orang! - Tunggu dulu!
Sialan!
Baik. Jangan ditutup, ya?
Ibu lupa mencuci bajumu lagi?
Ini finalnya… Final tahun ke-12…
Aku menari…
Anak tampanku.
Aku di Altona!
Kol, kau di sana?
Aku di Altona. Jemput aku!
Halo!
Caranya bagaimana, Ebony?
Jangan membentakku!
Kurasa kita harus menelepon ibumu.
Altona satu jam jauhnya!
Jangan berani-berani kau, Kol Denic! Demi Tuhan!
Ebony, ini pukul 07.35 pagi.
Aku harus berpakaian. Kau harus berpakaian!
Kita akan pikirkan alasan.
Telepon ibuku, aku tak akan menari di mana pun.
Tidak di Balai Kota hari ini, tak di mana pun!
- Aku tak tahu… - Jangan berani kau, Kol Denic!
- Apa? - Aku tak tahu bagaimana bisa sempat!
Baik, kau kenal siapa?
Kau tak membantu. Kau kenal siapa?
Aku tak hafal nomor orang lain.
Ini mustahil terjadi.
Pasti ada yang punya mobil.
Jika punya mobil, pasti mereka sibuk.
Berengsek.
Tunggu dulu.
Tunggu, aku tahu yang tidak sibuk.
Siapa?
Kau masih di sana?
Bisakah kau biarkan aku konsentrasi?
Baik, ini yang harus kau lakukan.
Kau dengar?
Tari?
Dia masih tidur!
Kau kakaknya Tari, benar?
Ya, Romeo, dia masih tidur.
Ini, ambil. Kau yang bicara.
- Halo? - Hai, ada Adam?
Ya, sebentar.
Terima kasih.
- Lihat, apa yang sulit? - Ibunya hafal suaraku.
Dia harus pikir ini orang lain.
- Halo? - Hei, Adam, ya?
Ya?
- Ini Jaya. - Siapa?
Sepertinya kita sama-sama di SMA Watsonia.
Aku tak tahu apa yang terjadi,
tapi sepertinya ada sesuatu dengan adikmu.
Ada bocah gay menggedor rumahku,
dan akan kuserahkan kepadanya agar dia bisa jelaskan.
Sebenarnya aku tidak gay.
Apa kaitan itu dengan apa pun?
- Hai, Adam? - Hai.
Ini Nikola. Ini Kol.
Kita bertemu di pertunjukan Macbeth Ebony?
Jangan beri tahu ibumu.
Bersikaplah seperti semua beres.
Tapi aku dan adikmu, kami dalam masalah besar.
Aku harus ke mana?
Aku ke mana? Aku tak tahu harus ke mana.
- Kamar yang mana? - Yang itu.
Hei.
- Tari? - Astaga.
Tari.
Bung.
Itu punya Ebony?
Itu punya Ebony!
Bung.
Hei.
Tenang, Bung.
Di mana gaunnya?
- Gaunnya! - Tak tahu. Tenang!
- Burgundi. - Pelan-pelan saja.
- Dengan rumbai. - Tak masalah.
Apa kau lihat gaun burgundi dengan rumbai?
Tidak. Aku tak lihat.
Bagus!
Astaga.
Baiklah.
Dia tak pernah terlihat dengan siapa pun.
Dia terpilih sebagai Yang Paling Mungkin Mengebom Sekolah.
Itu kategori yang kau pilih? Tentu saja.
Tapi tiga temanku berusaha menidurinya.
Aku pun berusaha menidurinya.
SMA Watsonia, Bung.
Pilihannya sangat sedikit.
Itu saja yang bisa kukatakan.
Adam?
Terima kasih, Jaya. Terima kasih, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.