Release info

My Husband, Mr Oh! E01-E24(END)
A Commentary by panjik92
Kredit ke penerjemah asli

Tags

other
Published on: 2018-07-20
Downloads: 37
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Saat Oh Jak Doo tidak mengatakan apa pun

dan kabur ke perdesaan,

saat itulah kita harus menonton film.

Kamu tidak akan membuatku menunggu lagi?

Tidak akan!

Tidak akan pernah!

Aku bertemu dengan Gyeong Sook dan suaminya di stasiun penyiaran.

Jae Hyung bilang, kita harus mentraktir mereka

karena dokumenternya sukses.

Kita harus bagaimana?

Kita bisa menonton film besok.

Kamu ingin aku datang?

"Kamu ingin aku datang?"

Tidak usah.

"Episode 23, Pernikahan adalah memiliki orang yang kamu pedulikan"

Kukira kamu akan datang nanti malam.

Muridku tidak memiliki tangan yang sensitif.

Jadi, aku khawatir.

Bukankah kamu kemari karena tidak menemui Seung Joo lagi?

Kenapa menatapku seperti itu?

Entah harus kumulai dari mana.

Astaga.

Aku ke stasiun penyiaran tadi pagi

dan tahu kamu tidak akan bisa menonton film bersamanya malam ini.

Aku tahu dia akan mencampakkanmu.

Kamu bertemu dengan Seung Joo?

Tidak, aku hanya mendengar kabar dari stasiun penyiaran.

Kabar apa?

Dokumenternya sukses.

Tentu saja, itu kabar bagus.

Masalahnya, kamu tidak tahu apa yang kuketahui.

Jangan bertele-tele dan membingungkan.

Bisakah kamu tidak kembali ke perdesaan?

Bisakah kamu tinggal di Seoul saja?

Hanya Han Seung Joo yang bisa menyarankan itu kepadaku.

Kamu tidak bisa melakukan itu.

Tampaknya dia tidak bisa mengatakan itu meskipun ingin.

- Jadi, kukatakan ini kepadamu. - Kami bisa

membicarakan apa pun.

Lantas kenapa tidak tahu dia ditawari kerja di stasiun penyiaran?

Kamu tahu dia sangat ingin bekerja di stasiun penyiaran.

- Tentu saja, aku tahu. - Kini dia bisa melakukannya.

Tapi dia harus pergi ke perdesaan bersamamu.

Pasti itu sebabnya dia ragu untuk membahasnya.

Karena itulah aku memberitahumu lebih dahulu.

Memangnya kamu Seung Joo?

Jika ada kabar bagus, dia akan memberitahuku lebih dahulu.

Begitu pula jika dia mencemaskan sesuatu.

Apa hakmu memikirkan kami?

Aku hanya...

Kamu tahu kamu harus fokus semaksimal mungkin.

Itu bahkan belum cukup untuk menjadi lebih baik lagi.

Pikirmu kamu bisa membuat satu gayageum layak sebelum mati

jika semudah itu teralihkan dengan hal lain?

Pegang kayunya dan pikirkan tentang dirimu.

Biarkan kuangkat dahulu teleponnya.

Halo?

Bu Park!

Kamu sudah menyelesaikan dokumennya?

Permisi.

Begitu rupanya.

Benarkah? Jika kamu mengamati failnya...

Sampai bertemu di kantor.

- Sampai jumpa. - Sampai jumpa, Pak.

Sampai jumpa, Pak!

Jae Hyung, aku harus pergi.

Kami akan minum kopi. Kamu mau ikut?

Lain kali saja. Aku permisi!

Tapi...

Dia bisa mengambil pekerjaan itu untuk proyek baru kita.

Kita belum tahu apakah dia akan bekerja dengan kita.

Siapa yang bisa menolak posisi di stasiun penyiaran?

Itu alasannya selalu meminta kepastian atas pekerjaannya.

Kita bisa membuat tim baru untuk proyek barunya.

Haruskah?

Pak!

Ya, Han Seung Joo?

Permisi.

Aku tidak bisa memberi tahu Anda

saat di restoran karena ada orang lain.

Aku sudah memikirkannya berulang kali.

Tapi aku kemari karena kurasa akan lebih baik

jika kusampaikan pendapatku.

Katakanlah.

Pertama, aku berterima kasih kepada Anda karena memberikan

kesempatan yang luar biasa kepadaku.

Kudengar kamu melamar pekerjaan di stasiun penyiaran kami.

Tapi situasinya

agak berubah sejak saat itu.

Jadi...

Anda mungkin menganggapku tidak sopan,

tapi bisakah aku bekerja dengan kontrak untuk tiap program?

Ada beberapa sutradara yang bekerja dengan kontrak seperti itu.

Jika Anda bisa mempertimbangkan situasiku,

aku bisa bekerja lebih keras daripada siapa pun.

Alasanku mencoba merekrutmu dan mempekerjakanmu adalah

karena organisasi kami membutuhkanmu.

Aku mengerti.

Entah apa yang membuatmu menolak

kesempatan sebesar itu, jadi, selesaikanlah dahulu.

Akan kutunggu kabar baiknya.

Pikirkan soal itu, lalu hubungi kami.

- Baiklah. - Sampai jumpa.

Kamu di mana?

Rumah.

"Rumah"

"Maafkan aku karena..."

Maafkan aku

karena tidak bisa menepati janji untuk menonton film.

Tidak apa-apa. Aku juga pernah melanggar janjiku.

Sepertinya aku akan pulang agak larut hari ini.

Akan kutunggu.

Baiklah.

Seperti apakah dunia ini?

Dunia ini?

Menyebalkan.

Dunia ini

memberiku label

begitu aku meninggalkan rumah.

Wanita,

lahir dari keluarga miskin,

dan lulusan universitas kelas tiga.

Kamu tahu betapa sulitnya

menghapus satu saja label itu?

Kamu harus menjadi pengecut setidaknya seribu kali

dan menyingkirkan harga dirimu 10 ribu kali.

Tapi kamu tetap tidak yakin apakah itu akan cukup.

Tapi

jika aku bekerja dengan baik di proyek ini,

aku akan menyembunyikan

semua label itu di balik namaku, Han Seung Joo.

Ternyata ada hikmahnya

Seung Joo tidak mendapat pekerjaan itu tempo hari.

Tentu saja.

Merekrut dan mempekerjakan, bukankah itu terdengar spesial?

Ingatlah Produser Jeong menyusahkan kita

saat kita meminta kepastian.

Tunjukkan betapa hebatnya dirimu dan kalahkan dia.

Pikirmu aku masuk stasiun penyiaran untuk membalas dendam?

Kali terakhir kamu melamar pekerjaan itu, Produser Jeong

mengkritikmu agar kamu tidak mengerjakan dokumenter.

Kamu mengatasinya.

Dunia ini berada di tanganmu.

Tentu saja. Kita sebaiknya makan apa?

Ini bukan perayaan biasa.

Aku memutuskan akan pergi ke perdesaan bersamanya.

Apa?

Setelah dokumenter itu,

kami akan tinggal bersama di perdesaan.

Kamu akan bekerja apa di desa?

Aku bisa datang ke Seoul sesekali

jika seseorang menawarkan pekerjaan.

Jadi, kamu menolak tawaran itu?

Belum.

Terus terang, aku menjadi tamak.

Itu bukan tamak.

Jika orang tahu betapa keras kerjamu untuk bertahan di bidang ini,

mereka tidak akan memintamu untuk menepati janjimu.

Maka aku harus berpisah darinya.

Minta dia tinggal di Seoul bersamamu.

Setelah menonton dokumenternya, aku bahkan tidak bisa bilang begitu.

Penawaran yang kuterima itu

adalah impianku,

tapi aku ingin melakukan lebih karena alasan realistis.

Alasan realistis macam apa?

Jika memiliki dua sampai tiga tahun pengalaman kerja

di stasiun penyiaran, akan lebih baik

bekerja lepas di desa.

Akan lebih mudah mendapatkan acara juga.

Jika pemikirannya seperti itu,

dia pasti berniat tinggal di desa sampai mati.

Astaga. Kita harus bagaimana?

Hyuk belum mengetahuinya?

Ya.

Aku tidak yakin bisa hidup terpisah darinya.

Aku serakah jika memintanya

tetap tinggal di Seoul.

Aku belum bisa melihat wajahnya

karena tekadku belum bulat.

Mana bisa aku memberitahunya?

Kamu harus memutuskannya dengan kepalamu, bukan hatimu.

Jangan terus merelakan semua pekerjaanmu

dan tinggal di desa hanya karena Hyuk.

Dia tidak merelakannya.

Aku berharap Seung Joo lebih sering bersamanya

daripada bekerja.

Mimpi saja tidak cukup. Memangnya tidak butuh uang?

Kamu tidak ingat betapa bahagianya Seung Joo saat bersamanya?

Aku tahu, tapi situasinya tidak memungkinkan bagi dia

hanya untuk bersama Oh Hyuk.

Tetap saja...

Inilah beritanya.

Ini adalah berita tentang resital piano.

Kamu sudah pulang?

Ya.

- Tidak. - Belum cukup.

Makanannya belum cukup.

- Ada masalah? - Tidak.

Kita makan sekarang?

Ini enak sekali.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left