The first 200 lines.
Hai, Ayah.
Kapan kau datang?
Barusan. Aku naik kapal feri.
Kau baik-baik saja?/ Ya.
Dia terlihat senang melihatku.
Jangan konyol.
Kau ke mana saja?
Kau tahu?
Ini sudah lama. Kami khawatir denganmu.
Aku paham, aku berengsek./ Itu benar.
Ini akan baik saja.
Masuklah.
Terima kasih Tuhan,
Atas anugerah yang akan kami terima ini.
Berkati rumah ini, makanan ini, serta semua yang kami miliki.
Amin./ Amin.
Lily dan aku sudah bicara.
Kau bisa tinggal di sini jika mau.
Aku akan tinggal bersama Bobby.
Saudaramu punya keluarga.
Kau tak bisa tinggal di sofanya.
Selama disini, kau akan bayar sewa.
Kita akan pikirkan sesuatu yang masuk diakal.
Patty mungkin bisa memberimu sif di restoran.
Bagaimana?
Terima kasih.
Terima kasih banyak./ Ini akan baik saja.
Dia tak mau aku di sini./ Apa yang kau harapkan?
Kau menginginkan parade? Ini sudah 5 tahun.
Kenapa kau tak beri sedikit waktu?/ Aku pikir sudah melakukan itu.
Kau lucu.
Tunggu. Bisa kita pergi ke tempat lain sebentar berdua saja?
Aku tak bisa. Aku harus menidurkan anakku.
Dia hampir 6 tahun sekarang.
Wow./ Wow, ya.
Kau tak mengubah apapun.
Kau tahu bagaimana ayahmu.
Apa semuanya baik?
Ya, baik.
Harga sedang turun. Kau tahu itu?
Orang yang sudah lama melakukan ini akan bangkrut.
Itu sangat disayangkan.
Situasi sedikit berat di sini.
Ini akan baik saja.
Sebentar.
Itu tidak bagus.
Aku dengar kau di sini.
Aku berpikir untuk menyapa.
Beth.
Mari ketemu kapan-kapan.
Kenapa aku ingin melakukan itu?
Karena kau merindukanku? Kau bisa mengatakannya.
Hanya kau yang aku pikirkan.
Aku tahu, aku mengerti. Tunggu, Beth.
Bisa kau isikan gelasku sebentar?
Kau tahu aku berpikir tentangmu sesekali.
Berbaring di ranjang saat malam.
Aku teringat tentang pertama kali membiarkanmu mencumbuku.
Lalu aku janji pada diriku,
Aku takkan pernah merendahkan diriku lagi.
Apa yang kau lakukan, Dicky?/ Tidak ada.
Kau akan membayar untuk itu.
Aku tak menyentuhnya. Itu hanya gelas./Keluar.
Pergilah./ Orang ini pelakunya.
Berikan dia uang./ Keluar.
Oke. Kau akan bantu Ibu?
Ya.
Ya, aku mendengarmu.
Tom.
Aku mengerti...
Apa dia meminta uang?
Aku mengerti./ Tom.
Kau mau ke mana?/ Keluar.
Pergilah tidur.
Apa yang kalian bicarakan?
Apa kau tulis?
Apa, kau tak bisa gunakan pintu depan?
Lewat jam malamku.
Kami tak kembali satu bulan setengah.
Orang ini, Nance, dia mencuri perangkap kami.
Aku tahu itu.
Kau beritahu polisi?
Mereka takkan melakukan apa-apa...
...kecuali kami menangkap dia dengan perangkap di tangannya.
Maka lakukan itu.
Wow.
Kenapa aku tak memikirkan itu? Cukup lakukan saja.
Tinggal di kota, itu membuatmu sangat cerdas.
Saat kau ke sana, kau mulai berpakaian dan berbicara berbeda.
Berhenti berkomunikasi dengan keluargamu, dan...
Terdengar tempat yang menakjubkan.
Kau tidak minum?
Kenapa tidak?/ Hanya tidak ingin.
Kau akan beritahu Ayah?
Sesuatu terjadi kepadamu?/ Seperti?
Entahlah. Dengar, itu bukan pertanyaan yang gila.
Maksudku, kau kembali.../ Aku butuh rehat, oke?
Entahlah, aku tak tahu harus ke mana lagi.
Apa kau akan lama di sini?/ Astaga.
Apa? Bajingan.
Maaf.
Kau ingin tahu apa yang terjadi?
Semuanya luar biasa. Lalu...
...kemudian kau lahir.
Dasar bajingan...
Dasar bodoh.
Apa itu?
Hei.
Tunggu!
Menurutmu itu apa?
Aku tidak tahu.
Mereka tidak memancing di sini.
Dengar, hei, cukup...
Cukup berikan kesempatan.
Dia berbeda belakangan ini.
Aku pernah dengar itu sebelumnya.
Kau tahu sekarang jam berapa?
Aku pergi jalan.
Dengan siapa?
Sendirian.
Kemari.
Kau minum-minum?
Kenapa, itu ilegal?/ Kau memakai narkoba?
Tidak./ Jangan bohongi Ayah.
Ayah mau aku tes narkoba?
Ayah tak ingin khawatir tentang kau dari mana,
Atau apa yang kau lakukan. Paham?
Aku bukan anak 15 tahun./ Maka berhenti bertingkah seperti itu.
Apa yang Ayah inginkan dariku?
Ayah mau aku memohon untuk pengampunanmu?
Kau sudah diampuni. Ayah melepasmu dari dosa-dosamu.
Pergilah tidur.
Aku sama sekali tak ingat.
Tunggu, biar aku lihat yang ini.
Setelan yang bagus.
Pagi.
Dia membawa donat.
Baju tidur yang lucu.
Itu dia./ Wow. Aku ingat ini.
Astaga...
Apa-apaan itu?
Kau tak mau donat?
Dicky, jangan terlambat kerja lagi.
Ya, oke, Ibu.
Ibumu tahu kau masih menjual narkoba?
Siapa yang beritahu itu padamu? Aku tak menjual apa-apa.
Tidak? Aku rasa itu kesalahan.
Aku rasa begitu. Mungkin pergilah tanyakan Bibimu.
Ya, apa yang aku pikirkan?
Kau hanya pecundang yang tinggal bersama Ibunya.
Ya? Bagaimana denganmu?
Kau kembali tinggal di rumah, sama sepertiku.
Dicky, waktunya pergi!
Tak ada yang sama dengan kita.
Temui aku malam ini./ Aku sibuk.
Ayolah, temui aku pukul 23:00. Kau tahu di mana.
Kenapa aku harus melakukan itu?
Karena ada sesuatu yang ingin kutunjukkan kepadamu.
Kita lihat nanti.
Dicky?
Dicky! Cepat!
Astaga, Ibu!
Aku datang.
Ini pasar ikan.
Ini takkan mengubah dunia.
Dia mengambil hasil tangkapan kita./ Atau orang lainnya.
Dan apa, Ayah akan menerimanya begitu saja?
Kau ingin kerja di kapal lainnya? Silakan.
Dicky?
Dicky?
Dasar sialan.
Hei. Kau dari mana?
Kau pikir ini lucu?
Sedikit./ Hei, ini Beth.
Beth, siapa yang mengizinkanmu kembali masuk?
Dia hanya berkunjung.
Hei, Beth, kau tahu yang harus kau lakukan?
Minumlah.
Ya, ayo, duduklah./ Persetan denganmu.
Jadi apa, kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk melihatku?
Kau memintaku menemuimu.
Tidak, aku bilang ingin tunjukkan kau sesuatu.
Terserah.
Kau melihatnya sekarang?
Aku tak melihat apa-apa.
Lihat betapa sebenarnya kau tidak istimewa?
Beth?
Beth!
Ayolah. Sial.
Beth!/ Mereka pergi.
Pas ketika lonceng, itulah Dicky.
Ayolah, Beth. Aku hanya bercanda.
Kau mau ke mana?
Sudah kubilang agar kau menutup mulutmu.
Aku tak tahu apa maksudmu./ Diamlah.
Aku tak mengatakan apa-apa./ Dengarkan aku.
Bisa kau rileks?
Apa masalahmu?/ Rileks, bokongku.
Beth, tunggu.
Lalu bagaimana mereka tahu?/ Aku tidak tahu.
No comments yet. Be the first to leave one.