The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"Park Yoon Jae"
"Kang Tae Sung"
"Seo Hyo Rim"
"Jin Ye Sol"
"It's My Life"
"Episode 39"
Kamu menangis?
Tidak.
Kantung matamu selalu bengkak setelah menangis.
Aku tidak menangis.
Aku mengusap mataku karena lelah.
Semoga kamu tidak perlu menangis lagi.
Ya, semuanya baik-baik saja.
Aku sangat bahagia belakangan ini.
Impianku selama ini terwujud. Aku menikmati hidupku.
Bisakah kita bicara setelah kontes pertama?
Soal apa?
Aku ingin memeriksa sesuatu denganmu.
Apa yang ingin kamu periksa?
Masa lalu yang telah kamu hapus.
Bisakah aku menghapusnya dari benakku juga?
Apa aku tidak perlu lagi hidup di dalam kenangan itu?
Haruskah aku menerima
bahwa kini kamu memiliki kekasih?
Itulah yang ingin kuperiksa.
Haruskah kamu memeriksa hal itu?
Dengan begitu, aku bisa hidup bebas.
Ayo kita bicara lain kali.
Aku akan mengabarimu.
Baiklah, akan kutunggu.
Aku baru keluar sebentar, dan kamu sudah bermalas-malasan?
Aku tidak bermalas-malasan.
Aku hendak ke auditorium untuk memeriksa pencahayaan.
Kamu mau ikut?
"Memeriksa pencahayaan"?
Kamu suka sekali memeriksa sesuatu.
Haruskah kamu memeriksa semuanya untuk mengetahuinya?
Kalau begitu, apa tidak perlu kuperiksa?
Kenapa tidak? Periksalah.
Tapi belikan aku sekaleng soda ukuran besar sebelum kita pergi.
Soda? Kenapa?
Aku merasa seperti tersedak seratus ubi.
Astaga, apa yang kamu makan?
Kamu akan membelikannya atau tidak?
Tentu saja kubelikan.
- Ayo pergi. - Apa?
Kenapa kamu bolak-balik ke toilet seharian?
Kamu salah makan?
Kurasa begitu. Perutku agak sakit.
Tapi kamu bahkan tidak makan siang.
Apa kamu gugup karena kontes besok?
Kurasa begitu.
Kamu pasti gugup.
Menunjukkan desainmu untuk kali pertama pasti menegangkan.
Mari kita akhiri pekerjaan hari ini.
Secepat ini?
Kita sudah sangat siap untuk kontes.
Ayo pulang lebih awal agar kita bisa cukup beristirahat untuk besok.
Ayo kita pulang bersama, Si Woo.
Maaf, aku harus mampir ke suatu tempat.
Pak Jang, bisakah Anda mengantar ibuku pulang?
Untuk Bu Choi, kapan pun aku bisa.
- Yeon Ji, ayo kita pulang bersama. - Baiklah.
Rumah kalian searah?
Sepertinya kamu tidak tahu. Kami tinggal serumah.
Kalian tinggal serumah?
Aku menyewakan kamar adikku karena dia mengikuti wajib militer,
dan Jin Ah menjadi teman serumahku.
Kurasa Jin Ah dan aku ditakdirkan bertemu.
Benar.
Pak Jo, rumah kita searah.
Bisakah kamu mengantarku pulang?
Apa maksudmu?
Jika mengantarmu, aku akan tiba di rumah 30 menit lebih lama.
- Jadi, tidak bisa? - Aku permisi.
Ayolah, jangan sekejam itu. Tolong antar aku.
- Pencahayaannya sudah diperiksa? - Ya.
Aku memeriksa semua pencahayaan dengan Seung Joo sebagai modelnya.
Aku memasang stiker bersinar dalam gelap untuk para model.
Jadi, mereka tinggal mengikutinya saat latihan besok.
Sebenarnya, aku khawatir.
Mereka bukan model profesional. Akankah mereka bekerja dengan baik
setelah latihan dua jam?
Jangan khawatir.
Aku pasti akan melatih mereka dengan baik.
Itu membuatku lega, Nona Han.
Mereka anggota klub tari, jadi, akan bekerja dengan baik.
Anak muda zaman sekarang memiliki banyak bakat.
Baiklah. Kita sudah memeriksa semuanya, bukan?
Kita akan bekerja lebih pagi besok, jadi, kita sudahi untuk hari ini.
- Baiklah. - Baiklah, ayo pulang.
Tunggu, Nona Han. Kamu mau makan malam denganku?
Aku akan mentraktirmu.
Makan malam?
Aku terlalu kenyang untuk makan malam.
Ayo kita makan bersama lain kali.
Jangan berubah pikiran.
Baiklah. Kalau begitu, kita makan bersama lain kali.
Apa? Kalian berdua makan tanpa kami?
Astaga. Bisa-bisanya.
Bukan begitu.
Aku minum sebotol soda karena orang yang menyebalkan,
jadi, aku sangat kenyang sekarang.
Orang yang menyebalkan? Siapa?
Ada orang yang sangat menyebalkan
dan menyusahkan.
Apakah maksudmu aku?
Aku tidak bilang begitu. Kenapa kamu salah tingkah?
Mereka bertengkar lagi. Aku muak sekali.
Ayo pergi.
- Ayo pergi. - Cobalah bersikap baik kepadanya.
- Sampai besok. - Ayo pergi.
Dia direktur utama di perusahaan besar.
Dia tidak akan menarik kembali ucapannya, bukan?
Jika dia menutup kafe ini,
akan kuadukan dia kepada ibu dan ayahku.
Dae Sik.
Astaga. Ibu, Ayah.
Aku baru saja memikirkan kalian. Ini luar biasa.
- Benarkah? - Ada apa kalian kemari?
- Ayo duduk. - Ya. Silakan duduk.
Kami mampir ke sini sepulang dari pernikahan sepupumu, Seong Sik.
Ini pernikahan keduanya.
Orang lain mudah sekali menikah dua kali.
Tapi kenapa Dae Sik sulit sekali menikah sekali saja?
Benar.
Dia tampan dan kaya.
Dia baik hati.
Aku tidak mengerti kenapa Jin Ah
tidak menyukainya.
Dia tidak bilang begitu.
Dia hanya tidak ingin menikah denganku.
Itu sama saja, dasar anak nakal.
Jangan bicarakan Jin Ah.
Tiap mendengar namanya, jantungku berdebar sangat kencang.
Benar. Membicarakan dia hanya membuat kita marah.
- Ayo pergi. - Tunggu. Kita pergi sekarang?
Kita sudah lama tidak bertemu dengan Dae Sik.
Ibu benar. Menginaplah malam ini.
Ibu, aku sangat mengidamkan
masakan Ibu.
Kamu mau ibu masakkan?
Astaga. Ada apa denganmu?
Kenapa kita tidur di apartemennya yang kecil, bukannya di rumah kita?
Aku merasa lebih nyaman di rumah.
Anak kesayangan kita, Dae Sik, sangat menginginkan masakanku.
Kamu bilang kamu merindukannya tiap hari.
Tentu saja aku selalu merindukannya
karena dia anak kesayangan kita.
Pergilah ke apartemenku lebih dahulu.
Aku akan menutup kafe lebih awal, lalu pulang.
Carilah pekerja paruh waktu.
Jadi, kamu bisa mengurus yang lain
dan punya waktu untuk makan.
Pekerja paruh waktu?
Itu ide bagus.
Aku akan memasang poster lowongan kerja besok.
Benar juga. Undang gadis itu juga.
Siapa? Yeon Ji?
Benar. Kita bisa makan bersamanya selagi dia di sini.
Katamu, dia temanmu.
Baiklah. Aku akan pulang bersamanya.
Baiklah.
Kamu melewati rintangan untuk bergabung ke perusahaan ini.
Sayang sekali jika kamu dipecat dan diusir dari industri ini, bukan?
Aku akan menunggumu di Green Bar.
Aku tidak akan pergi sampai kamu datang.
Jadi, terserah kamu.
Kalian berdua menjenguk seseorang di rumah sakit?
Jin Ah, kamu mau ke mana selarut ini?
Jin Ah.
Maafkan aku.
Dia mengabaikanku lagi.
Dasar wanita jahat. Aku tidak bisa menyukainya.
Ya, Dae Sik.
Sekarang?
Baiklah.
- Makanlah. - Baiklah.
Aku mengundangmu karena ingin membuatkanmu makan malam.
Terima kasih, Ibu. Aku akan menikmatinya.
Astaga, dia memanggilku "Ibu".
Yeon Ji, kamu ramah sekali, dan aku sangat menyukaimu.
Tapi Ibu dan Ayah tidak akan makan bersama kami?
Ayah dan ibu sudah makan.
Aduh. Sakit. Apa ini? Astaga.
Dae Sik, kenapa ada anting wanita di sini?
- Anting? Biar kulihat. - Ini menyakitkan.
Itu milikku.
Pantas saja. Kukira ini hilang.
Kenapa antingmu ada di bawah bantal Dae Sik?
Ini bukan seperti yang kalian pikirkan.
Kami hanya tidur bersama.
Tidak terjadi apa-apa. Sungguh.
Ayah percaya kepadamu.
Apakah hubungannya sudah sampai sejauh itu?
- Bukan seperti itu. - Sayang, hentikan.
Kenapa kamu mengatakan itu dan membuat Yeon Ji merasa malu?
Jangan khawatir.
No comments yet. Be the first to leave one.