The first 200 lines.
DRAMA INI KARYA FIKSI TAK BERKAITAN
DENGAN TOKOH, PERISTIWA, ORGANISASI, ATAU LOKASI ASLI
AWAS...
AWAS, ADA PENJAHAT MEMBAWA PISAU
DARI YOON HEE-JAE
Sebaiknya kau lakukan sekaligus.
Kau punya satu kesempatan
menusukku di tempat yang benar.
Sialan, kau tak mau diam juga, ya?
Kau bukan lawanku.
Mati!
Mati saja!
AWAS, ADA PENJAHAT MEMBAWA PISAU
Sudah kubilang, kau bukan tandinganku, Wanita Gila.
Sudah kubilang, kau bukan tandinganku, Wanita Gila!
Tolong...
kirimkan petugas kemari.
Astaga.
Kau pasti punya banyak musuh.
PENGACARA JUNG GEUM-JA
Kau pasti akan bilang ini bela diri.
Kau boleh pergi.
Siapa korban sebenarnya?
Pria yang sampai UGD tadi harus dirawat delapan pekan.
Pergilah ke dokter.
Aku harus ke suatu tempat.
Kau bisa dianggap sebagai hantu kota di media sosial.
Taksinya masih menunggu, ayolah.
Harganya sudah naik drastis.
Menyebalkan sekali, 'kan?
Awas, ada penjahat membawa pisau.
Ini dia.
Mau minum segelas?
Ini bagus.
Aku tak tahu kau pandai memasak.
Lezat.
MEREKAM TANPA IZIN ITU ILEGAL
HUKUM ADA DI PIHAK SIAPA?
HUKUM HWANG MI-RA YANG BERUSAHA MEMBUNUHKU!
Kau Park Hae-suk, 'kan?
Tahu namaku dari mana?
Aku Jung Geum-ja.
Aku mewakili Bu Hwang Mi-ra.
Aku tak mau bicara. Pergilah.
Yang salah bukan sopirnya, tetapi Bu Hwang, 'kan?
Namun, yang memukulimu adalah sopirnya, Pak Seo.
Bukan Bu Hwang.
Jalang bernama Hwang Mi-ra itu yang menyuruhnya.
Pak Seo...
menangis saat memukuliku, bahkan meminta maaf.
Jadi, kau tak dendam kepada Pak Seo.
Dia sama menyedihkannya dengan aku.
Sayangnya,
persidangan ini akan menghukumnya.
Bukan itu yang jaksa bilang. Hwang Mi-ra yang menyuruh,
jadi, kantornya takkan menuntut Pak Seo.
Tindakan yang dilakukan seseorang yang takut menerima balasan
takkan dihukum karena situasi yang meringankan.
Ya, benar.
Namun, bagaimana...
bisa membuktikannya?
Bagaimana bisa membuktikan Hwang Mi-ra yang menyuruh?
Dengan perkataan?
Dengan pengakuanmu?
Kami punya cukup bukti tak langsung
yakni kebencianmu terhadap Bu Hwang.
Kami dapat pengakuan tetangga.
Namun, Pak Seo juga ada di sana!
Baik. Akan kuberi tahu apa yang telah berubah.
Pak Seo bilang...
bahwa Bu Hwang tak menyuruh apa pun.
Dia bertindak atas kemauannya.
Dia akan bersaksi begitu.
Namun, kenapa dia mau...
disalahkan atas semua itu?
Kau pasti pernah dengar lotre.
Dia kini mempunyai rumah sendiri. Satu dari 40 pyeong .
Kalian sungguh bajingan.
Pengacara?
Kalian bahkan lebih buruk!
Kau menjual jiwamu demi mendapatkan uang!
Seluruh dunia akan mengetahui betapa liciknya kalian.
Jika kau menuntut,
Pak Seo yang malang akan dipenjara.
Lalu bagaimana denganku?
Bagaimana denganku?
Kenapa ini disebut adil?
Bukankah seseorang
seharusnya diadili?
Akan kupenuhi tuntutanmu.
Putramu sangat cerdas.
Dialah
harapanmu.
Nilainya cukup tinggi untuk bisa belajar di kampus Ivy League.
Anggaplah semua biaya kuliah dan kehidupannya terjamin.
Kau juga bisa tinggal di rumah yang lebih besar dan lebih baik.
Kata siapa kau tak bisa mendapatkan lotre itu juga?
Hukum
tak mendukungmu.
Jika kau tak menarik tuntutanmu,
kami menuntut balik atas dasar tuduhan palsu.
Jaksa yang tampaknya saat ini mendukungmu
akhirnya akan menginterogasimu.
Apa...
Apa jadinya dunia ini?
Jangan pura-pura tak tahu.
Aku yakin kau tahu dunia seperti apa dari pekerjaanmu.
Ini kesempatan sekali seumur hidup.
Raihlah selagi bisa.
Buang harga dirimu dan pilih masa depan cerah anakmu.
Itu caramu bisa menang.
Lain kali kita bertemu,
kau akan serasa di neraka.
Dan kau akan terjebak
di tempat buruk itu selamanya.
Aku akan segera menarik tawaranku.
Setidaknya, beri aku waktu berpikir...
Ya, ide bagus.
Aku tak punya banyak waktu.
Berjanjilah
kepadaku.
Kau harus tanda tangani ini.
Kita pindah?
Kau bisa buang ini.
Kemari.
PENGACARA REKANAN SONG PIL-JUNG
Kau ingin Pengacara Yoon tetap memegang Kasus Issume?
Kenapa? Kau keberatan?
Jika kau finalisasi kesepakatan,
kita pasti sudah mengikuti kemauan Lee Seo-u.
Pak Yoon yang ambil kesepakatan absurd ini.
Tetap saja, Pak, timku mengerjakan kasus ini...
- Pak Ma. - Ya?
Jangan anak emaskan mereka yang lulus dari kampusmu.
Publik sudah bergunjing.
- Maaf? - Janganlah
membentuk geng dalam kantor.
Kau pasti salah paham mengenaiku.
Alih-alih bilang begitu, tunjukkan bahwa itu tak benar
dengan bersikap baik pada Pak Yoon.
- Semoga aku belum terlambat. - Ya.
- Gelasku kosong. - Pak,
bukankah sudah banyak minum?
Tak perlu bersikap formal saat kita di luar kantor.
Kau bisa panggil aku paman.
Memanggilmu Paman atau Pil-jung terkesan aneh.
Selamat ulang tahun, Chung-yeon.
Menurutku, kita harus pesan makanan.
- Ulang tahunku hanyalah alasan. - Kita bisa rayakan apa lagi?
Sebenarnya ini senjata rahasiaku,
tetapi kemungkinan ayahmu akan jadi Ketua Mahkamah Agung.
Ada kemungkinan besar
dia akan putuskan mengenai pewarisan perusahaan.
Jadi, di hukum pajak akhir-akhir ini...
Kau tahu, akan lebih baik jika kita tak membahas pekerjaan.
Astaga, maaf.
Itu tak nyaman, Hakim Yoon?
Apa yang lebih pribadi daripada pajak?
Hakim kepala dan direktur rekanan firma hukum membahas pajak
bukan masalah pribadi.
Bukankah kau berlebihan? Kita bersenang-senang.
Aku khawatir karena kau tak merasa ini salah.
Kalau begitu, jangan ikut kami
karena aku pengacara, dan kau hakim.
- Jangan bahas pekerjaan. - Itulah maksudku.
Di mana batasan antara membicarakan pekerjaan dan berbasa-basi?
Hentikan. Kalian sedang apa?
Maaf jika aku merusak hari kalian.
Mari kita ke dalam dan ambil minuman lagi.
Jangan khawatir.
Itu akibat alkohol.
Dia yang merekomendasikan Ayah?
Lantas? Apa yang dia inginkan?
Bukan begitu sama sekali.
Abaikan saja jika tak nyaman dibahas.
Hee-jae,
pengacara bisa jatuh jadi kelas bawah.
Bertarif besar tak menjadikanmu kelas atas.
Apa? "Kelas bawah"?
Baik, aku akan pergi, Pak Hakim Kelas Atas.
Astaga, maaf.
Sedang apa kau di sini?
Bukankah ini hari ulang tahun ayahmu?
Kenapa di sini, bukan merayakan dengan keluargamu?
Kenapa kau kemari?
Kau tak ingat aku mengatakan soal reuni Lembaga Pendidikan Yudisial?
Benarkah?
Kau tak peduli, ya?
Senior, junior, bahkan kolega kita bukan masalahmu.
Syukurlah.
Kalau begitu, lepaskan penat di tempat lain.
Haruskah kau kemari untuk mengabaikannya?
Mereka akan berpikir apa soal dirimu?
Bahwa aku bajingan sombong.
Kau sangat sadar diri.
Hee-jae, tahu saat bersikap politis itu penting dalam hidup.
Aku tahu. Aku hanya sudah muak.
Kukira ini reuni. Kenapa ada Pak Ma?
Agar aku bisa menjilatnya sehingga membuatmu jijik.
Lingkaran menjemukan tak putus.
No comments yet. Be the first to leave one.