The Third Charm

The Third Charm (제3의 매력)

Download Indonesian Subtitle

Specials

Release info

제3의 매력ㅡThe Third Charm E02 180929 HDTV H264-NEXT
A Commentary by Artha Regina
IDFL™ SubsCrew

Tags

HDTV
hdtv
HD
Published on: 2018-09-29
Downloads: 29
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Dah!

Keramaslah kalau sudah sampai rumah, kalau tidak nanti rambutmu rontok.

Ya.

Besoknya, jangan dikeramas rambutnya.

Kalau keramas, nanti keritingnya tak bagus.

Sana.

Anu.

Kau tak pulang?

Aku harus beres-beres dulu.

Aku pulang.

Ayamnya sudah kusisakan buatmu.

Tak usah./ Lee Young Jae.

Kenapa?/ Sepertinya ada yang mencurigakan.

Mencurigakan apaan? Aku cuma tak lapar saja.

Apa yang kau lakukan sampai selarut ini? Aku sampai heran kau tak kelaparan.

Aku tadi latihan menata rambut.

Siapa kau beraninya membohongiku?

Kau itu sudah berada di telapak tanganku.

Rambut siapa yang kautata?

Apa?/ Ya.

Dia mempercayakan rambutnya padamu saja, berarti kalian berdua sangat dekat.

Siapa dia? Cepat katakan.

Siapa lagi? Dia cuma pelanggan.

Ahjumma, kau siapa?

Ibu?

Lihatlah kau.

Sekarang jam 01:25.

Ini pertama kalinya kau nginap di luar semalaman.

Dik.

Aku tidak nginap semalaman.

Sekaranglah aku mau tidur.

Ini 'kan sudah lewat tengah malam, jadi hari sudah berganti.

Dan itu artinya kau nginap keluar semalam.

Kenapa kau...

...senyum begitu?

Kenapa memang?

Bukannya aku mirip Lee Jung Jae?

Kau pulang dengan rambut anehmu...

...dan otak yang aneh pula.

Hei, bangunlah.

Apa?

Semuanya, makanlah yang banyak.

Jurusan kita menyelenggarakan bar satu hari untuk mengetahui reaksi kimia...

...antara pria dan wanita. Kalian harus datang, ya.

Siapa tahu kalian benar-benar jadi pasangan.

Oke. Pasangan?

Aku pulang.

Apa-apaan ini? Bukannya tadi sudah kukunci pintunya?

Memangnya aku tak tahu kunci cadangan ada dimana?

Kenapa pintunya kaukunci?

Jangan-jangan kau nonton film porno gay, ya?

Keluar kau!

Jangan kunci pintunya. Karena aku akan menerobos masuk dan mengecek kegiatanmu.

Keluar!

Ya, Young Jae. Ada apa?

Kau sendiri tadi yang meneleponku.

Kenapa kaututup teleponnya?

Oh, iya. Aku yang meneleponmu.

Jadi begini...

Semalam, aku sampai rumah dengan aman...,

...jadi apa kau juga pulang dengan aman kemarin?

Karena itu kau menelepon?

Tidak.

Jadi begini...

Aku tak yakin entah karena keritingnya atau apa...,

...tapi penggunaan sampoku jadi lebih banyak daripada biasanya.

Jadi aku ingin bertanya apa ini normal.

Bukan maksudku ini tidak normal. Karena menurutku ini normal.

Besok kau ada waktu?

Kau sangat kuat sekali.

Lihatlah kakimu. Seperti kaki pegulat.

Hanya inilah pesonaku.

Pacarku jatuh cinta padaku karena pahaku.

Anak muda memang selalu bersemangat.

Cepat selesaikan. Biar kita makan.

Makanlah duluan. Nanti aku menyusul.

Maksudku, dia tiba-tiba tersenyum tanpa alasan.

Dan gaya bicaranya beda sekali sekarang.

Entah dia sakit...

...atau dia punya cowok.

Tapi mana mungkin dia sakit.

Maksudku dia saja ibarat bisa mengunyah besi.

Sudah saatnya dia punya pacar.

Young Jae itu jarang dandan, tapi dia sangat cantik.

Pria macam apa yang suka sama cewek tomboy seperti dia?

Dia setidaknya harus berpakaian seperti wanita.

Aku tahu itu memang tak cocok buatnya...,

...tapi belikanlah dia pakaian tercantik dan suruh dia pakai baju itu,

Aku sudah mengenalnya selama 20 tahun...,

...dan dia tidak pernah beli baju mahal.

Nanti kau kukasih uang, jadi jangan khawatir soal harganya.

Tapi aku tak mau.

Kenapa?

Karena aku yang akan membelikannya sendiri.

Young Jae sudah datang. Dah.

Katanya kau punya pacar.

Dasar tukang gosip dia itu.

Tidak, dia bukan pacarku.

Yang ini cantik, 'kan?

Aku cuma lihat-lihat saja kok.

Mau kaucoba?/ Tidak.

Aku ini mau kasih hadiah buatmu.

Karena itu kau menyuruhku ke sini?

Tak usah.

Tak bisakah kau mencobanya?

Ini mahal sekali.

Tidak. Ini terlalu mahal.

Ini tidak gratis.

Aku ini ingin kau menghargai usahaku.

Kita mungkin sudah dekat sekarang...,

...tapi kau bisa saja berubah menjadi adik ipar yang jahat setelah aku menikah.

Tak usah, Unni.

Cobalah dulu.

Tak usah, kubilang.

Ibu Ibu!

Ibu, baju denim baruku ada dimana?

Kau menaruhnya di keranjang cucian.

Ada di mesin cuci.

Kenapa Ibu mencuci baju ini sekarang?

Kalau begitu pakai saja baju putih.

Aku 'kan sudah pakai itu waktu itu.

Mana bisa aku pakai baju yang sama lagi.

Memangnya kalau kau sudah makan malam, kau jadi tak makan siang?

Kenapa dia itu?

Cantik sekali.

Lihatlah.

Sangat canggung sekali.

Pacarmu pasti tambah suka kalau kau berdandan juga.

Dia bukan pacarku.

Hari ini, aku akan mengajaknya makan spageti di Fugili...

...dan baca buku dengannya di Toko Buku Teman.

Terus kita minum kopi di Coffee Brings Love...

...dan menonton "Pride and Prejudice" di Life Theatre.

Film itu mungkin film sedih.

Nanti aku akan kasih hadiah ini.

Dan tepat sebelum busnya datang...,

...aku akan menanyakan soal bar satu hati padanya.

Oke. Perfect.

Kenapa?

Rambutmu cocok juga.

Kau 'kan yang menatanya. Jadi, terima kasih.

Aku tidak terlambat, 'kan?

Ya.

Tapi kenapa kau datang lebih cepat dan menungguku?

Aku jadi kelihatan seperti orang yang kurang ajar.

Tapi kenapa kau ingin menemuiku?

Sebenarnya...,

...ada yang ingin kukatakan padamu.

'Kan bisa dikatakan lewat telepon.

Tetap saja, lebih tepat mengatakannya secara langsung begini.

Karena aku sudah datang, jadi katakan saja.

Tidak, nanti aku akan memberitahumu.

Terus kita sekarang mau apa?

Sebenarnya...,

...aku sudah buat rencana.

Kata siapa?

Makanya...

Aku akan bertanya padamu lebih dulu./ Tanyakanlah.

Jadi begini...

...rencanaku...

Aku tak suka rencana itu.

Aku saja sudah makan siang terlambat hari ini.

Dan kau ingin membaca buku di toko buku? Kau gila apa?

Dan aku cuma bisa minum kopi instan manis.

Kalau aku minum kopi pahit, nanti aku tak bisa tidur.

Kalau ke bioskop, tak masalah.

Ya, 'kan?

Tapi "Pride and Prejudice" tidak bagus.

Judulnya saja sudah membosankan.

Begitu, ya?

Hei, ada film gila yang baru saja dirilis.

Film apa?

Padahal kau pria, kenapa kau penakut sekali?

Namanya prasangka kalau menganggap pria tidak bisa merasa takut.

Kau bisa jadi PNS, tapi jangan jadi polisi.

Polisi? Aku tidak akan pernah mau jadi polisi.

Bukan karena kau tak mau. Tapi kau pasti tidak bisa.

Kau itu penakut. Mana bisa menangkap penjahat.

Bukannya aku tidak bisa. Tapi aku takkan mau.

Baiklah, anggaplah kau tidak mau.

Tapi bukannya ada yang ingin kaukatakan?

Katakan saja.

Jadi begini...

Yang ingin kukatakan...

Apa kau ingin datang ke bar satu hari dari jurusanku...

...sebagai partner-ku?/ Partner?

Tapi kalau kau sibuk, kau tak perlu datang.

Berarti aku takkan datang.

Karena pekerjaan sambilanmu?

Bukan, cuma itu agak tidak nyaman.

Bukannya kita pacaran, ya?

Apa?/ Kita 'kan sudah ciuman.

Memangnya kalau ciuman, artinya pacaran?

Baiklah.

Aku membawakan ini buatmu.

Ada lagu-lagu terbaik Sung Si Kyung di sini.

Tapi aku tidak suka Sung Si Kyung.

Tapi aku akan menerimanya karena kau memberikannya untukku.

Busnya datang.

Dah.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left