지금은맞고그때는틀리다
The first 200 lines.
Subtitle Indonesia oleh XTNN Subtitles
Diproduksi oleh Jeonwonsa Film Co.
Pemain: Jung Jae-young, Kim Min-hee, Youn Yuh-jung, Gi Ju-bong,
Choi Hwa-jeong, Yoo Jun-sang, Seo Young-hwa, Go Ah-sung.
Salah lalu benar
Ini pertama kalinya aku ada di Suwon.
Aku berjalan di alun-alun pasar di depan Istana Haenggung.
Ada kedai kopi di seberang jalan, jadi aku membeli segelas kopi.
Wow, dia benar-benar cantik!
Wanita itu... Sangat ramping dan muda.
Aku harus berhati-hati. Dia terlalu cantik.
- Kau tidak lelah? - Tidak...
- Kau baik-baik saja? - Ya, aku baik-baik saja.
- Itu tempat seluncuran es? - Yang itu? Ya, benar.
- Aku juga boleh merokok? - Silakan.
Menakjubkan ada arena seluncuran es di tempat seperti ini.
Kau lapar tidak?
Aku sedikit merasa lapar, tapi aku ingin ke sana.
Aku tidak percaya ada tempat seluncuran es di sini.
Benar.
*Gamdoknim, aku boleh jadi Asisten Sutradara?
Tentu saja, aku akan merasa berterima kasih.
Tapi kau sudah tiga kali jadi Asisten Sutradara.
Kau masih belum percaya diri?
Aku tidak yakin apa kau percaya padaku atau tidak, tapi...
Apa?
Bagiku kau adalah sutradara film yang paling penting.
Itu benar, meskipun kau tidak percaya padaku.
Aku bukan tipe orang yang sering menerima pujian.
Tapi aku menghargai pujianmu.
Sama-sama. Saat aku kesepian, kau memberiku kekuatan.
Saat menonton film-filmmu, aku berpikir:
"Hidupku layak untuk dijalani berkat film-film ini."
Itulah yang kupikirkan.
Cuacanya cukup hangat hari ini.
- Tidak terasa seperti musim dingin bukan? - Benar. Cuaca ini...
Benar-benar terasa hangat.
- Mau ke sana? - Ya.
Maaf!
- Kau tidak apa-apa. - Ya, jangan khawatir.
Mau naik lagi?
Menyenangkan bukan?
Mungkin karena aku berdiri tanpa bergerak, tapi kali ini semua berjalan dengan lancar.
- Berapa? - 1500 Won.
- Semoga hari anda menyenangkan. - Terima kasih.
Kami berpisah setelah makan Kalguksu.
Aku bilang padanya aku sedikit lelah dan butuh istirahat.
Aku berjanji mengajaknya ke Suwon's Chicken Alley kalau aku merasa bosan malam ini.
Tapi meskipun aku merasa bosan, kurasa aku tidak akan meneleponnya.
Aku harus berhati-hati. Ini hanya satu hari.
Bok-Nae-Dang
Tulisannya terdiri dari kata "Nasib baik" dan "Dalam."
"Nasib baik berasal dari dalam?"
Nasib baik muncul dari...
Aku tidak yakin.
- Pencet tombol ini. - Baik.
Siap.
Satu, dua...
Sekali lagi.
Satu, dua...
Setelah berjalan-jalan, aku kembali ke Boknaedang.
Itu adalah tempat yang paling indah di sekitar sini.
Wanita ini masih ada di sini?
Enak tidak?
Ya, enak.
Ini susu rasa pisang.
Sedang apa kau di sini?
Memangnya kelihatannya aku sedang apa?
- Kau sedang minum susu. - Ya, pengamatan yang bagus.
Kau sendiri sedang apa?
Aku sedang duduk di sini.
Aku datang dari Suwon untuk pemutaran film.
Aku juga harus memberikan presentasi secara oral.
Kau kemari untuk memberikan ceramah?
Setelah pemutaran film, aku akan bicara dengan para penonton.
Jadi bukan sebuah ceramah.
- Kau punya film sendiri? - Ya.
- Kau seorang sutradara film? - Ya, benar.
- Jadi begitu. - Kau sendiri melakukan apa?
Aku tidak melakukan apa-apa.
- Aku hanya sedang minum susu. - Jadi kau tidak melakukan apa-apa.
Benar.
Kau seorang sutradara yang terkenal? Mungkin seseorang yang kukenal?
Namaku adalah Ham Chun-soo.
- Benarkah? - Ya.
Aku mengenalmu! Kau seorang sutradara yang terkenal!
Aku merasa tersanjung.
Jadi begitu! Pantas kau terlihat tidak asing!
Senang bertemu denganmu!
- Kau benar-benar sutradara Ham Chun-soo? - Tentu saja.
Silakan minum susumu.
- Jadi apa pekerjaanmu? - Aku?
Saat ini aku seorang pelukis. Aku belum lama melukis,
tapi akhir-akhir ini aku hanya menjalani hidup sambil melukis.
- Bahkan sampai ada bekas cat di jaketmu! - Ya.
Kau cantik.
Terima kasih...
Aku dulu punya beberapa pekerjaan yang berbeda. Tapi saat ini aku hanya melukis.
- Jadi begitu. - Ya.
Mau minum kopi denganku?
Di kedai kopi dekat sini. Kopi hangat.
- Kopi? - Ya, kurasa itu akan menyenangkan.
- Kopi? - Sejujurnya...
Tadi aku melihatmu.
Saat kau masuk aku sempat melihatmu sekilas.
- Benarkah? - Ya.
Aku tadi terkejut melihatmu masih di sini!
- Aku tinggal cukup lama di tempat ini. - Ya.
Boleh kubelikan kau kopi? Di kedai kopi dekat sini.
Ayo!
Ok, baiklah.
Sebuah kehormatan bisa minum kopi dengan seorang sutradara yang hebat.
Terima kasih. Aku yang berterima kasih.
- Mari kita berdiri. - Ya.
Biar kubawakan ini untukmu.
Terima kasih.
Kelihatannya enak! Itu Teh Jujube?
Ya, mereka membuatnya di sini. Ini masih panas, mau coba?
Tidak, terima kasih banyak.
Kau tidak pernah minum kopi?
Saat aku minum kopi aku merasa lelah. Aku sedikit sensitif.
Memang terlihat seperti itu. Kau sepertinya orang yang sensitif.
Benarkah?
- Kau juga sensitif, Gamdoknim. - Aku?
Aku juga sedikit sensitif.
Tapi kau terlihat jauh lebih sensitif.
Tidak, kurasa kau lebih sensitif dariku.
Benarkah?
Mungkin itu sebabnya kau bisa membuat film-film yang bagus.
Terima kasih. Kau pernah menonton film-filmku?
- Belum. - Oh, begitu.
- Aku biasanya tidak suka menonton film. - Aku mengerti.
Tapi kudengar banyak orang memuji film buatanmu.
Itu bukan apa-apa.
Kau pasti seorang sutradara yang hebat.
Tidak mudah membuat orang melontarkan pujian.
Dan pujian-pujian itu bukan hanya tentang popularitasmu saja.
Terima kasih banyak.
Aku hanya berusaha sebisaku, jadi aku menghargai setiap komentar.
Aku merasa belum bisa melakukan banyak hal.
- Benarkah? - Tapi...
Aku berharap suatu hari aku akan bisa menciptakan...
...sesuatu yang indah dan luar biasa.
Aku bisa mengerti perasaan itu. Aku melukis untuk alasan yang sama.
Ya, kurasa juga begitu.
Sekarang aku penasaran tentang tipe lukisan yang kau lukis.
Kalau kau benar-benar tertarik, akan kuperlihatkan padamu nanti.
Ya, terima kasih.
Apa rencanamu hari ini?
Aku? Tidak ada yang istimewa. Aku tiba satu hari lebih awal seperti orang bodoh.
Hari ini aku harus ke studio.
Kau akan ke studio?
Apa ada masalah?
Tidak, aku berjanji pada diri sendiri tidak akan melewatkan satu hari tanpa melukis.
Aku bisa mengerti itu.
Kau harus melakukannya.
Ini bukan hal yang sangat penting, tapi ini rutinitas yang tidak ingin kuabaikan.
- Kuharap kau mengerti. - Tentu saja. Rutinitas itu sangat penting.
Kalau kau tidak mengikutinya, seolah-olah semua akan runtuh.
Para pelukis punya kemungkinan lebih besar merasa seperti itu.
Saudara iparku juga seorang pelukis, dan dia juga sama seperti itu.
Itu benar.
Melakukan sesuatu secara rutin menurutku adalah hal yang baik.
Melakukan kegiatan rutin sambil menenangkan pikiran.
Aku iri pada gaya hidup yang seperti itu.
Kalau aku...
Kalau aku tidak menepati janji ini, aku merasa hidupku akan berantakan.
Itulah yang kurasakan.
Aku merasa takut. Itu sebabnya aku harus menepati janji ini.
Aku mengerti.
Tadi aku bilang kalau aku pernah punya beberapa pekerjaan bukan?
Ya.
- Aku pernah punya karir sebagai model. - Kau dulu seorang model?
Ya.
Aku menghasilkan cukup banyak uang...
Tapi kemudian aku sadar aku tidak ingin menjalani hidupku seperti itu.
Kurasa aku tahu perasaan itu.
Entah bagaimana dulu aku bisa tahan melakukan pekerjaan seperti itu.
Aku dulu tidak punya masa depan, selalu merasa gelisah...
Pekerjaan seperti itu sepertinya terasa tidak bernilai.
Aku membencinya.
Aku tahu maksudmu.
Kau melakukan sesuatu yang tidak cocok denganmu.
Aku suka melukis sejak kecil.
Tidak ada yang mendorongku untuk mulai melukis.
Tapi setelah aku memegang kertas putih dan alat melukis,
hatiku jadi berdebar-debar, aku selalu merasa seperti itu.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Setelah aku memegang kertas dan pensil, aku tiba-tiba merasa lebih baik.
- Benarkah? - Ya.
Aku...
Tanpa motivasi melakukan hal-hal yang bisa kulakukan secara polos...
Itulah yang kusukai.
Jadi begitu.
Untuk bisa merasakannya sambil menjalani hidupku.
Memenuhi janji pada diri sendiri setiap harinya...
Aku ingin menjalani hidupku seperti itu saat ini.
- Menurutku itu menakjubkan. - Ya.
Aku selalu ingin melakukan lebih banyak hal.
Kau mengerti perasaan seperti ini?
No comments yet. Be the first to leave one.